Home » » Mengambil Ibrah dari Kisah Qurban terhadap Kesalehan Sosial

Mengambil Ibrah dari Kisah Qurban terhadap Kesalehan Sosial

Posted by As'ad Collection on 28 Agustus 2017

Hikmah Qurban, Ash-Shaffat 100-113
Kajian Historis tentang Peristiwa yg dialami Ibrahim As dan Putranya Isma'il As.
1. Ibrahim seorang Nabi dan Rasul, memiliki istri bernama Sarah.
2. Ibrahim As sangat menginginkan keturunan untuk menruskan perjuangannya.
3. Umur Ibrahim As, dan Sarah semakin Udzur masih belum mendapatkan keturunan. (sehingga kecil kemungkinan memiliki keturunan)
4. Sarah meminta agar Ibrahim As untuk menikahi budaknya bernama Hajar.
5. Dari Siti Hajar, Ibrahim mendapatkan Putra Pertamanya bernama Isma'il As.
6. Sifat manusiawi seorang perempuan muncul dari Sarah, cemburu dan meminta agar Ibrahim As membawa mereka pergi.
7. Sampai lah Isma'il dan Hajar di Makkah, dan turunlah Perintah penyembelihan tersebut dst. (anda bisa baca Surat Ash-Shaffat 100-113.
................
Pemikiran
1. Kondisi psikologis seorang ayah yg sudah sangat tua, yg sangat merindukan seorang anak, dan mendapatkan anugerah terbesar tersebut. (sungguh tak dapat dilukiskan kegembiraannya)
2. Dalam kondisi seperti itu Justru diuji Allah SWT, Untuk menyembelih anaknya yg bertahun2 ia nantikan.
3. Betapa berat ujian tersebut. Tapi Ibrahim melaksanakan perintah Allah dengan Ikhlas semata-mata bentuk/wujud kepatuhannya pada perintah Allah.
4. Ibrahim As, mengofirmasi perihal perintah tersebut pada Isma'il (yg sudah beranjak remaja), dan Isma'il ikhlas untuk itu. (maka Isma'il As termasuk Nabi yg mendapat gelar Shabirin setelah Idris As dan Zulkifli As)-(baca Al-Anbiya': 85)
..............
Hikmah yg dapat dijadikan pelajaran
1. Sebagai manusia dgn berbagai kesibukan dunia dan berbagai macam aktifitas, hendaknya melakukannya dgn sabar dan ikhlas.
2. Allah pasti mengganti/mebalas/memberi imbalan segala usaha yg dilandasi kesabaran dan keikhlasan.
3. Allah menepati janjiNya, pasti atas org2 yang menggantungkan hidupnya semata-mata pada Allah Azza wajal.
4. (agak keluar dari pembahasan) Jika takut untuk menikah (ibadah) karena takut tidak makan, maka pipertanyakan keimanannya, sedangkan Allah menjanjikan rizki bagi mereka yg menikah.
وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (٣٢)
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(Qs. an-Nur : 32)
...........
Bagaimana jika yg takut justru orang tua atau calon mertua?
:-) Hehehehehe.....
Takut kalau di"sana" susah cari kerja
Kalau disini gampang.
Kalau belum mapan mau kasih makan apa.
Dan masih banyak alasan lainnya, mulai dari yg harus PNS lah, harus anggota polisi atau TNI, harus punya ini dan itu dsb.
.....
Hendaknya orangtua memberi pemahaman sesuai keimanannya, berserah diri, sabar, dan meletakkan segalanya pada Allah seperti Ibrahim As.
Bagi anak, hendaknya meluruskan niat menikah semata-mata untuk beribadah, mendekatkan diri pada Allah, taqarrub (qurban) ilallah.
........
PR besar buat saya adalah:
Menjelaskan ini pada orangtua dan calon mertua!
WKwkwkwkwk..
(sei. Baung, 28 Agustus 2017)

Thanks for reading & sharing As'ad Collection

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar

Sample Text

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya.

Cari Di Blog Ini

Translate


Follow by Email

Arsip Blog

Followers Google+