As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

02 Maret 2017

Temu kangen dengan Sahabat di Pondok Pesantren Tebuireng

Berawal dari keinginan untuk mengenyam pendidikan diluar pulau sumatera, sekitar tahun 2001 setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah Negeri Pekanheran, Kec. Rengat Barat, Kab. INHU RIAU, saya memberanikan diri untuk mengais ilmu di Pondok Pesantren yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang Jawa Timur. Beliau juga pendiri organisasi Islam Terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama.
Sejak saat itu hingga 2015 masih sangat enggan untuk meninggalkan tempat yang penuh berkah itu (Menurut saya). Sehingga pulang kampung pun ke Sumatera sangat berat rasanya. Sehingga akhirnya tahun 2015 saya harus pulang karena banyak hal.
2017 adalah kali pertama saya berkunjung ke tempat dimana saya dibesarkan (didewasakan) secara keilmuan. Hanya satu tahun berasa sangat lama dan begitu memuncak kerinduan di atas ubun-ubun.
Kehidupan disekitar pesantren yang beragam dan masih dalam selimut keislaman, membuat kerinduan ini begitu membara.
Pendewasaan pola pikir tidak dapat dipisahkan oleh proses yang mendewasakannya, sehingga tidak ada hal yang terlalui kecuali memiliki hikmahnya masing-masing. 








GROUNDED THEORY APPROACH

A.   LATAR BELAKANG MASALAH
Penelitian pada hakekatnya adalah suatu kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang suatu masalah. Pengetahuan yang diperoleh dari penelitian terdiri dari fakta, konsep, generalisasi dan teori yang memungkinkan manusia dapat memahami fenomena dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Masalah penelitian dapat timbul karena adanya kesulitan yang mengganggu kehidupan manusia atau semata-mata karena dorongan ingin tahu sebagai sifat naluri manusia.
Baik untuk masalah penelitian yang timbul karena adanya kesulitan yang dihadapi manusia maupun karena ingin tahu, diperlukan jawaban yang dapat diandalkan berdasarkan pengetahuan yang benar. Kebenaran yang dipegang teguh dalam penelitian adalah kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang bersifat relatif atau nisbi, bukan kebenaran yang sempurna dan bersifat mutlak. Penelitian berusaha memperoleh pengetahuan yang memiliki kebenaran ilmiah yang lebih sempurna dari pengetahuan sebelumnya, yang kesalahannya lebih kecil daripada pengetahuan yang telah terkumpul sebelumnya.
Kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar sebagai penyempurnaan pengetahuan sebelumnya telah dilaksanakan oleh para peneliti dan ilmuwan dalam ilmunya masing-masing. Secara akumulatif, pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori yang telah dihasilkan dari berbagai penelitian itu merupakan sumbangan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang.
Di samping itu, Tanzeh mengemukakan, “hasil penelitian juga memungkinkan menjadi metode yang lebih baik dalam memecahkan, menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah praktis yang dihadapi manusia dalam hidupnya.”
Secara garis besar dibedakan dua macam penelitian yaitu, penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Keduanya memiliki asumsi, karakteristik dan prosedur penelitian yang berbeda. Pembahasan yang akan dikaji di dalam makalah ini adalah penelitian kualitatif grounded theory.
Penelitian Grounded Theory adalah metode penelitian kualitatif yang menggunakan sejumlah prosedur sistematis yang diarahkan untuk mengembangkan teori berorientasi tindakan, interaksi, atau proses dengan berlandaskan data yang diperoleh dari lapangan. Grounded Theory atau teori dasar merupakan salah satu model pendekatan yang sedang berkembang sangat pesat beberapa tahun terakhir ini, baik dari sisi kuantitas maupun bidang studi  yang menggunakannya, dari yang semula di bidang sosiologi saja sekarang sudah berkembang ke bidang-bidang lain, seperti pendidikan, ekonomi, antropologi, psikologi, bahasa, komunikasi, politik, sejarah, agama dan sebagainya.
Penelitian jenis ini (grounded) dikembangkan pada tahun 1967 oleh Barney G. Glaser dan Anselm L. Strauss dengan diterbitkannya buku berjudul The Discovery of Grounded Theory. Tetapi di Indonesia mulai dikenal sekitar tahun 1970. Kehadirannya menghebohkan para ahli penelitian kualitatif  sebelumnya yang selalu berangkat dari teori untuk menghasilkan teori baru. Teori dipakai sebagai alat untuk memahami gejala atau fenomena hingga data yang diperoleh. Asumsinya, tanpa teori sebagai sebuah perspektif, peneliti tidak akan mampu memahami gejala untuk memperoleh makna (meaning), sehingga bisa jadi gejala yang penting  pun untuk menjawab masalah penelitian terlewatkan  begitu saja karena peneliti  memiliki kelemahan atau kekurangan wawasan mengenai tema yang diteliti, baik  secara teoretik atau yang disebut sebagai perspektif teoretik maupun wawasan empirik yang diperoleh dari pelacakan studi atau penelitian sebelumnya.
Di dalam makalah ini penulis akan membahas konsep-konsep pokok tentang Penelitian Grounded Theory, yang diawali dengan mengemukakan pengertian, ciri-ciri penelitian grounded theory, prinsip-prinsip grounded teori, metode pengumpulan data pada grounded theory, kelebihan dan kelemahan penelitian grounded theory, proses analisis data dalam grounded theory dan diakhiri dengan kesimpulan yang didasarkan pada pemaparan-pemaparan sebelumnya.
B.   RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengertian penelitian Grounded Theory ?
2. Bagaimana ciri-ciri penelitian Grounded Theory?
3. Apa saja prinsip-prinsip Grounded Theory?
4. Bagaimana metode pengumpulan data pada Grounded Theory?
5. Bagaimana proses analisis data dalam Grounded Theory?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Ingin mengetahui pengertian penelitian grounded theory.
2. Ingin mengetahui ciri-ciri penelitian grounded theory.
3. Ingin mengetahui prinsip-prinsip grounded theory.
4. Ingin mengetahui metode pengumpulan data pada grounded theory.
5. Ingin mengetahui kelebihan dan kekurangan penelitian grounded theory.

1.    PENGERTIAN PENELITIAN GROUNDED THEORY
        Istilah Grounded Theory pertama kali diperkenalkan oleh Glaser & Strauss pada tahun 1967. Glaser adalah seorang sosiolog sekaligus dosen di Colombia University dan University of California School of Nursing. Sedangkan Strauss juga seorang sosiolog yang bekerja sebagai Direktur Social Science Research, Institute for Psychiatric and Psychosomatic Research and Training.
        Glaser & Straus dalam bukunya The Discovery of Grounded Theory Strategies for Qualitative Research menyatakan “We believe that the discovery of theory from data-which we call grounded theory-is a major task confronting sociology today, for, as we shall try to show, such theory fits empirical situations, and is understanable to sociologistsand layman alike.
        Inti dari pernyataan tersebut kurang lebih adalah: “Kami meyakini bahwa penemuan teori dari data yang kami sebut grounded theory adalah tugas utama yang dihadapi ilmu sosiologi saat ini, untuk itu kami berusaha menunjukkan teori tersebut sesuai dengan situasi empiris dan dapat dimengerti oleh para sosiolog dan orang awam sekalipun. Ini merupakan pertama kali istilah grounded theory (GT) diperkenalkan.
        Dalam karya monumental mereka tersebut, glaser dan strauss berupaya mengenalkan suatu corak penelitian untuk menemukan teori berdasarkan data. Menemukan teori berdasarkan data tersebut merupakan barang baru yang berlawanan dengan pendekatan klasik (clasical approach) yang telah berlangsung sedemikian mapan di dunia ilmu pengetahuan.
        Pada pendekatan klasik, suatu penelitian menggunakan logika deduktiko-hipotetiko-vertifikatif. Dalam penerapan logika tersebut, penelitian dirancang untuk memverifikasi benar salahnya hipotesis yang diderivasi dari suatu teori. Penelitian berpola demikian lazim disebut dengan istilah penelitian verifikatif atau studi verifikatif.
        Sebagai sebuah pendekatan riset, grounded theory memiliki posisi yang sama dengan beberapa orientasi lain, seperti studi kasus. Grounded Theory adalah sebuah pendekatan yang refleksif dan terbuka, di mana pengumpulan data, pengembangan data, pengembangan konsep teoritis, dan ulasan literatur berlangsung dalam proses siklus (berkelanjutan).[1]
        Pendekatan grounded theory bergerak dari level empirikal menuju ke level konseptual-teoritikal atau penelitian untuk menemukan teori berdasarkan data. Pada pendekatan ini, dari datalah suatu konsep dibangun. Dari datalah suatu hipotesis dibangun, dan dari datalah suatu teori dibangun.
Menurut Glaser dan Strauss, Grounded Theory adalah teori umum dari metode ilmiah yang berurusan dengan generalisasi, elaborasi, dan validasi dari teori ilmu sosial. Menurut mereka penelitian Grounded Theory perlu menemukan aturan yang dapat diterima untuk membentuk ilmu pengetahuan (konsistensi, kemampuan reproduksi, kemampuan generalisasi dan lain-lain), walaupun pemikiran metodologis ini tidak untuk dipahami dalam suatu pengertian positivisme.
        Grounded Theory ini merupakan reaksi yang tajam dan sekaligus memberi jalan keluar dari “stagnasi teori” dalam ilmu-ilmu sosial, dengan menitik beratkan sosiologi.[2]
        Ungkapan grounded theory merujuk pada teori yang dibangun secara induktif dari satu kumpulan data. Bila dilakukan dengan baik, maka teori yang dihasilkan akan sangat sesuai dengan kumpulan data tadi.[3]
        Grounded theory berguna dalam situasi-situasi ketika sedikit sekali yang diketahui tentang topik atau fenomena tertentu, atau ketika diperlukan pendekatan baru untuk latar-latar yang sudah dikenal. Pada umumnya, tujuan grounded theory adalah membangun teori baru, walaupun sering juga digunakan untuk memperluas atau memodifikasi teori yang ada. Sebagai contoh, peneliti bisa mengembangkan grounded theory peneliti sendiri, atau grounded peneliti lain dengan meninjau kembali data yang sama dengan pertanyaan dan interprestasi yang berbeda.[4]
        Tujuan umum dari penelitian grounded theory adalah: (1) Secara induktif memperoleh dari data, (2) yang diperlukan pengembangan teoritis, dan (3) yang diputuskan secara memadai untuk domainnya dengan memperhatikan sejumlah kriteria evaluatif. Walaupun penelitiangrounded theory dikembangkan dan digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan sosial, penelitian grouded theory dapat secara sukses diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu. Ini termasuk ilmu pendidikan, studi kesehatan, ilmu politik dan psikologi. Glaser dan Strauss tidak memandang prosedur grounded theory sebagai disiplin khusus, dan mereka mendorong para peneliti untuk menggunakan prosedur ini untuk tujuan disiplin ilmu mereka.
        Grounded research melepaskan teori dan peneliti langsung terjun ke lapangan untuk mengumpulkan data. Dengan kata lain,  peneliti  model grounded bergerak dari data menuju  konsep. Data yang telah diperoleh dianalisis menjadi fakta, dan dari fakta diinterpretasi menjadi konsep. Jadi prosesnya adalah data menjadi fakta, dan fakta menjadi konsep. Bagi peneliti grounded,  dan semua peneliti kualitatif pada umumnya, data  selalu dianggap benar, walau bukan yang sebenarnya, dan karena itu untuk mengetahui atau  menjadikan data menjadi data yang sebenarnya ada proses keabsahan data yang disebut  triangulasi data. Karena itu, triangulasi wajib dilakukan untuk memperoleh data yang kredibel. Kredibilitas data sangat menentukan kualitas hasil penelitian.
        Karena tidak berangkat dari teori, sering disebut peneliti grounded ke lapangan dengan “kepala kosong”. Sayang, dalam kenyataannya istilah “kepala kosong” disalahpahami. Maksudnya “kepala kosong” adalah peneliti tidak berangkat dari kerangka teoretik tertentu, tetapi langsung terjun ke lapangan untuk mengumpulkan data. Dengan tanpa membawa kerangka teoretik  atau sebuah konsep, maka diharapkan peneliti dapat memotret fenomena dengan jernih tanpa harus  memaksakan data empirik untuk menyesuaikan diri dengan konsep teoretik. Atau dengan kata-kata lain, istilah “kepala kosong” artinya adalah  peneliti melepaskan sikap, pandangan, keberpihakkan pada teori tertentu Sebab, keberpihakkan semacam itu dikhawatirkan kegagalan peneliti menangkap fenomena atau data yang diperoleh secara jernih karena sudah dipengaruhi oleh pandangen sebuah teori yang dibawa.
        Grounded research menyajikan suatu pendekatan yang baru data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data, dan karena itu dinamakan grounded. Kategori-kategori dan konsep-konsep dikembangkan oleh peneliti di lapangan. Data yang bertambah dimanfaatkan untuk verivikasi teori yang timbul di lapangan yang terus menerus disempurnakan selama penelitian berlangsung.[5]
        Menurut Strauss dan Corbin,  grounded theory: “is one that inductively derived from the study of the phenomenon it represents. That is it discovered, develoved, and provisionally verified through systematic data collection and analysis data pertaining to that phenomenon. Therefore, data collection, analysis, and theory stand in reciprocal relationship with each other. One does not begin with a theory, than prove it. Rather, one begins with an area of study and what is relevant to that area is allowed to emerge”.
        Kutipan tersebut mempunyai arti: grounded theory adalah teori yang diperoleh dari hasil pemikiran induktif dalam suatu penelitian tentang fenomena yang ada. Grounded theory ini ditemukan, dikembangkan dan dibuktikan melalui pengumpulan data secara sistematis dan analisis data yang terkait dengan fenomena tersebut. Oleh karena itu kumpulan data, analisis dan teori saling mempengaruhi satu sama lain. Peneliti tidak mulai dengan suatu teori kemudian membuktikannya, tetapi memulai dengan melakukan penelitian dalam suatu bidang, kemudian apa yang relevan dengan bidang tersebut dianalisis.
        Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa grounded theory adalah suatu yang bersifat konseptual atau teori sebagai hasil pemikiran induktif dari data yang dihasilkan dalam penelitian mengenai suatu fenomena. Atau suatu teori yang dibangun dari data suatu fenomena dan dianalisis secara induktif, bukan hasil pengujian teori yang telah ada. Untuk menganalisis data secara induktif diperlukan kepekaan teori (theoretical sensitivity).

2.    SEJARAH GROUNDED THEORY
Penelitian Grounded Theory dikembangkan pertama kali pada tahun 1960-an oleh dua ahli sosiologi, Barney Glaser and Anselm Strauss, berdasarkan penelitian yang mereka lakukan pada pasien-pasien berpenyakit akut di Rumah Sakit Universitas California, San francisco.
Glaser dari Universitas Columbia yang desertasi doktornya (1961) tentang karir professional para ilmuan. Penelitian untuk desertasinya ini menggunakan pendekatan kualitatif  terhadap data sekunder. Glaser sangat terpengaruh oleh pola kerja pikiran induktif (baik kualitatif maupun kuantitatif) yang dikembangkan oleh Paul Lazarsfeld dan koleganya. Disertasi Gleser di bimbing oleh Robert K. Merton yang menjadi murid Talcott Persons. Setelah lulus program doktornya, Gleser bergabung dengan university of California Medical Center di San Fransisco, tempat ia kemudian bertemu dengan Anselm L. Strauss (sosiolog) yang menyelesaikan program doktornya (1945) di University of Cicago. Strauss cenderung untuk berkonsentrasi dalam menentukan prosedur dalam mengaplikasikan pendekatan. Sedangkan Gleser menentang perubahan apapun dari gagasan awalnya. Dua versi grounded theory kemudian muncul, straussian dan glaserian.[6]
Catatan-catatan dan metode penelitian yang digunakan dipublikasikan dan menarik minat banyak orang untuk mempelajarinya. Sebagai respon, Glaser dan Strauss menerbitkan The Discovery of Grounded Theory (1967), buku yang menjelaskan prosedur metode Grounded Theory secara terperinci. Hingga saat ini, buku ini diterima sebagai peletetak konsep-konsep mendasar Grounded Theory.

3.    CIRI-CIRI PENELITIAN GROUNDED THEORY
Ciri-ciri grounded theory sebagaimana penjelasan Strauss dan Corbin adalah sebagai berikut:
a.  Grounded theory dibangun dari data tentang suatu fenomena, bukan suatu hasil pengembangan teori yang sudah ada.
b.  Penyusunan teori tersebut dilakukan dengan analisis data secara induktif bukan secara deduktif seperti analisis data yang dilakukan pada penelitian kuantitatif.
c.  Agar penyusunan teori menghasilkan teori yang benar disamping harus dipenuhi 4 (empat) kriteria yaitu:
1.    Cocok (fit), yaitu apabila teori yang dihasikan cocok dengan kenyataan sehari-hari sesuai bidang yang diteliti.
2.    Dipahami (understanding), yaitu apabila teori yang dihasilkan menggambarkan realitas (kenyataan) dan bersifat komprehensif, sehingga dapat dipahami oleh individu-individu yang diteliti maupun oleh peneliti.
3.    Berlaku umum (generality), yaitu apabila teori yang dihasilkan meliputi berbagai bidang yang bervariasi sehingga dapat diterapkan pada fenomena dalam konteks yang bermacam-macam.
4.    Pengawasan (controll), yaitu apabila teori yang dihasilkan mengandung hipotesis-hipotesis yang dapat digunakan dalam kegiatan membimbing secara sistematik untuk mengambil data aktual yang hanya berhubungan dengan fenomena terkait.
Dalam teori ini juga diperlukan dimilikinya kepekaan teoretik (theoretical sensitivity) dari si peneliti. Kepekaan teori adalah kualitas pribadi si peneliti yang memiliki pengetahuan yang mendalam sesuai bidang yang diteliti, mempunyai pengalaman penelitian dalam bidang yang relevan. Dengan pengetahuan dan pengalamannya tersebut si peneliti akan mampu memberi makna terhadap data dari suatu fenomena atau kejadian dan peristiwa yang dilihat dan didengar selama pengumpulan data. Selanjutnya si peneliti mampu menyusun kerangka teori berdasarkan hasil analisis induktif yang telah dilakukan. Setelah dibandingkan dengan teori-teori lain dapat disusun teori baru.
Kemampuan peneliti untuk memberi makna terhadap data sangat dipengaruhi oleh kedalaman pengetahuan teoretik, pengalaman dan penelitian dari bidang yang relevan dan banyaknya literatur yang dibaca. Hal-hal tersebut menyebabkan si peneliti memiliki informasi yang kaya dan peka atau sensitif terhadap kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa dalam fenomena yang diteliti.

4.    PRINSIP-PRINSIP METODOLOGI GROUNDED THEORY
        Prinsip-prinsip grounded theory dikatakan sebagai metode ilmiah meliputi sebagai berikut:
a.    Perumusan masalah
Pemilihan dan perumusan masalah merupakan pusat terpenting dari suatu penelitian ilmiah. Dengan memasukkan semua batasan dalam perumusan masalah, masalah tersebut memungkinkan peneliti untuk mengarahkan penyelidikan secara efektif dengan menunjukkan jalan ke pemecahan itu sendiri. Dalam pengertian nyata, masalah adalah separuh dari pemecahan.
b.    Deteksi fenomena
Fenomena stabil secara relatif, ciri umum yang muncul dari dunia yang kita lihat untuk dijelaskan. Yang lebih menarik, keteraturan penting yang dapat dibedakan ini kadang-kadang disebut “efek”. Fenomena meliputi suatu cakupan ontologis yang bervariasi yang meliputi objek, keadaan, proses dan peristiwa, serta ciri-ciri lain yang sulit digolongkan.
c.    Penurunan teori (theory Generation)
Menurut Gleser dan Strauss, grounded theory dikatakan muncul secara induktif dari sumber data sesuai dengan metode “constant comparison” atau perbandingan tetap. Sebagai suatu metode penemuan, metode perbandingan tetap merupakan campuran pengodean sistematis, analisis data, dan prosedur sampling teoritis yang memungkinkan peneliti membuat penafsiran pengertian dari sebagian besar pola yang berbeda dalam data dengan pengembangan ide-ide teoritis pada level abstraksi yang lebih tinggi, daripada deskripsi data awal.
d.    Pengembangan teori
Gleser dan Strauss memegang suatu perspektif dinamis pada konstruksi teori. Ini jelas dari klaim mereka bahwa strategi analisis komparatif untuk pnurunan teori meletakkan suatu tekanan yang kuat pada teori sebagai proses; yaitu, teori sebagai satu kesatuan yang pernah berkembang, bukan sebagai suatu produk yang sempurna.
e.    Penilaian teori (Theory Appraisal)
Gleser dan Strauss menjelaskan bahwa ada yang lebih pada penilaian teori daripada pengujian untuk kecukupan empiris. Kejelasan, konsistensi, sifat hemat, kepadatan, ruang lingkup, pengintegrasian, cocok untuk data, kemampuan menjelaskan, bersifat prediksi, harga heuristik, dan aplikasi semua itu disinggung sebagai kriteria penilaian yang bersangkutan.
f.      Grounded theory yang direkonstruksi.
Sama halnya konstruksi suatu makalah yang merupakan kelengkapan suatu penelitian dibandingkan perhitungan naratif penelitian tersebut, maka rekonstruksi filosofis metode merupakan konstruksi yang menguntungkan.

5.    METODE PENGUMPULAN DATA
Permulaan pengumpulan data interpretif studi kualitatif biasanya dilakukan melalui interview atau observasi. Hasil interview atau pencatatan/ perekaman (audio atau video) interaksi dan atau kejadian dijelaskan atau dituliskan kembali (ditulis dalam format teks atau di tangkap dalam bentuk identifikasi yang jelas dari sub-element. Sebagai contoh video dapat dianalisis detik-per-detik. Elemen data kemudian diberi kode dalam kategori apa yang sedang diobservasi.
Dalam pengumpulan data dibedakan antara empiri dengan data. Hanya empiri yang relevan dengan obyek dan dikumpulkan oleh peneliti dapat disebut data. Maka diperlukan proses seleksi dalam kewajaran menangkap semua empiri. Seseorang yang sedang memperhatikan jenis mobil tertentu, pada saat berjalan-jalan pun akan memperhatikan jenis mobil itu yang dikendarai orang lain tanpa memperhatikan jenis mobil yang lain.
Sesudah melakukan observasi atau wawancara peneliti segera harus membuat catatan hasil rekaman observasi partisipan atau wawancara. Noeng Muhadjir sebagaimana dikutip Sudira menyarankan agar mencari peluang waktu di mana ingatan masih segar dan sedang tidak ada bersama dengan subyek responden.
Bogdan dikutip oleh Noeng Muhadjir membedakan catatan dalam dua hal yaitu catatan deskriptif dan catatan reflektif. Catatan deskriptif lebihmenyajikan rinci kejadian, bukan merupakan ringkasan dan juga bukan evaluasi. Bukan meringkas atau mengganti kata atau kalimat yang dikatakan. Ini penting karena sebuah kata atau kalimat maknanya akan bisa berbeda tergantung konteksnya. Karenanya perlu deskripsi yang riil tentang tampilan fisiknya (pakaian, raut wajah, perlengkapan, dsb), situasinya, interaksi yang terjadi, lingkungan fisik, kejadian khusus, lukisan aktivitas secara rinci, perilaku, pikiran dan perasaan peneliti juga perlu dideskripsikan. Sedangkan catatan reflektif lebih mengetengahkan kerangka fikiran, ide, dan perhatian peneliti, komentar peneliti, hubungan berbagai data, kerangka fikir.
Menurut Creswell pengumpulan data dalam studi grounded theory merupakan proses “zigzag”, keluar lapangan untuk memperoleh informasi, menganalisis data, dan seterusnya. Partisipan yang diwawancarai dipilih secara teoritis –dalam theoritical sampling- untuk membantu peneliti membentuk teori yang paling baik.
Ada tiga pola penyampelan teoritik, yang sekaligus menandai tiga tahapan kegiatan pengumpulan data. Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang ketiga penyampelan tersebut.
1.    Penyampelan terbuka bertujuan untuk menemukan data sebanyak mungkin berkenaan dengan rumusan masalah yang dibuat pada awal penelitian. Karena pada tahap awal itu peneliti belum yakin tentang konsep mana yang relevan secara teoritik, maka obyek pengamatan dan orang-orang yang diwawancarai juga masih belum dibatasi. Data yang terkumpul dari kegiatan pengumpulan data awal inilah kemudian dianalisis dengan pengkodean terbuka.
2.    Penyampelan relasional dan variasional berfokus pada pengungkapan dan pembuktian hubungan-hubungan antara kategori dengan kategori dan kategori dengan sub-sub kategorinya. Pada kedua penyampelan ini diupayakan untuk menemukan sebanyak mungkin perbedaan tingkat ukuran di dalam data. Hal pokok yang perlu pada penemuan perbedaan tingkat ukuran tersebut adalah proses dan variasi. Jadi, inti utama penyampelan di sini adalah memilih subyek, lokasi, atau dokumen yang memaksimalkan peluang untuk memperoleh data yang berkaitan dengan variasi ukuran kategori dan data yang bertalian dengan perubahan.
3.    Penyampelan pembeda berkaitan dengan kegiatan pengkodean terpilih. Oleh karena itu tujuan penyampelan pembeda adalah menetapkan subyek yang diduga dapat memberi peluang bagi peneliti untuk membuktikan atau menguji hubungan antar kategori.
Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian Grounded Theory berlangsung secara bertahap dan dalam rentang waktu yang relatif lama. Proses pengambilan sampel juga berlangsung secara terus menerus ketika kegiatan pengumpulan data. Jumlah sampel bisa terus bertambah sejalan dengan pertambahan jumlah data yang dibutuhkan.
      Berdasarkan paparan tentang prinsip penyampelan di atas, jelas bahwa pengambilan kesimpulan dalam penelitian Grounded Theory tidak didasarkan pada generalisasi, melainkan pada spesifikasi. Bertolak dari pola penalaran ini, penelitian Grounded Theory bermaksud untuk membuat spesifikasi-spesifikasi terhadap (a) kondisi yang menjadi sebab munculnya fenomena, (b) tindakan/interaksi yang merupakan respon terhadap kondisi itu, (c) serta konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari tindakan/i nteraksi itu.
      Jadi, rumusan teoritik sebagai hasil akhir yang ditemukan dari jenis penelitian ini tidak menjustifikasi keberlakuannya untuk semua populasi, seperti dalam penelitian kuantitatif, melainkan hanya untuk situasi atau kondisi tersebut.

6.    PROSES ANALISIS DATA
      Proses analisis data dalam penelitian grounded theory bersifat sistematis dan mengikuti format standar sebagai berikut:
a.    Dalam pengodean terbuka (open coding), peneliti membentuk kategori awal dari informasi tentang fenomena yang dikaji dengan pemisahan informasi menjadi segmen-segmen. Di dalam setiap kategori, peneliti menemukan beberapa propertics, atau sub kategori, dan mencari data untuk membuat dimensi (to dimensionalize), atau memperlihatkan kemungkina ekstrem pada kontinum properti tersebut.
b.    Dalam pengkodean poros (axial coding), peneliti merakit data dalam cara baru setelah open coding. Rakitan data ini dipresentasikan menggunakan paradigma pengodean atau diagram logika dimana peneliti mengidentifikasi fenomena sentran (yaitu kategori sentral tentang fenomena), menjajaki kondisi kausal (yaitu ketegori yang mempengaruhi fenomena), menspesifikasikan strategi (yaitu tindakan atau interaksi yang dihasilkan dari fenomena sentral), mengidentifikasi konteks dan kondisi yang menengahinya (yaitu kondisi luas dan sempit yang mempengaruhi strategi), dan menggambarkan konsekuensi (yaitu hasil dari strategi) untuk fenomena ini.
Dalam pengodean selektif (selective coding), peneliti mengidentifikasi “garis cerita” dan menulis cerita yang mengintegrasikan kategori dalam model pengodean poros. Dalam fase ini, proposisi bersyarat (coditional proposition) atau hipotesis biasanya disajikan.
d.    Akhirnya, peneliti dapat mengembangkan dan menggambarkan secara visual suatu matrik kondisional yang mejelaskan kondisi sosial, historis, dan ekonomis yang mempengaruhi fenomena sentral. Fase analisis ini tidak sering ditemukan dalam grounded theory.
Hasil proses pengumpulan dan analisis data ini adalah suatu teori, teori level subtantif subtantive level theory) yang ditulis oleh peneliti tertutup pada suatu masalah khusus atau populasi orang. Teori ini selanjutnya cenderung diuji secara empiris sekarang kita mengetahui variabel atau kategori data lapangan, meskipun studi ini dapat diakhiri pada poin ini karena penurunan suatu teori merupakan hasil studi yang sah/legitimate.
Menurut Strauss dan Corbin prosedur analisis dalam penelitian grounded theory yang disebutkannya sebagai proses pengodean (coding proces) dirancang sebagai berikut;
1.    Membangun daripada hanya mengetes teori
2.    Memberikan proses penelitian rigor ‘ketegasan’ yang diperlukan untuk membuat teori ilmu pengetahuan yang baik
3.    Membantu menganalisis untuk memecahkan melalui bias dan asumsi yang dibawa
4.    Melengkapi grounding, membangun pengungkapan, dan mengembangkan kepekaan serta integrasi yang diperlukan untuk melahirkan suatu yang besar, mempersempit jaringan, menjelaskan teori yang secara tertutup mendekati realitas yang mewakilinya.

7.    KELEMAHAN DAN KELEBIHAN GROUNDED THEORY
Berbagai kegiatan penelitian telah dilakukan dengan pendekatan grounded theory di berbagai disiplin ilmu telah dilakukan. Salah satunya adalah” Use of computer based qualitative data Analysis (QDA) software in Grounded Research Methodology”.
Dari penjelasan para peneliti yang terlibat, terkesan bahwa penggunaan metode grounded theory terlalu memakan waktu yang lama. Hal ini dikarenakan adanya tuntutan metodologinya yang mengharuskan para peneliti untuk bersikap sangat teliti, dan rajin.[7]
Kualitas grounded theory seperti pada penelitian lain, selain ditentukan validitas, reliabilitas dan kredibilitas dari data, juga ditentukan oleh proses penelitian di mana teori dihasilkan serta beralasan empiris dari temuan atau teori yang dihasilkan.
Proses grounded theory selama ini dituduh kelewat kompleks dan membingungkan. Banyak orang yang kesulitan mempraktikkannya, kecuali dalam kondisi yang longgar, tidak kaku, tidak terlalu dispesifikasi “.[8]
Ada tiga aspek yang membedakan Grounded Theory dengan pendekatan penelitian yang lain adalah sebagai berikut :
1.    Peneliti mengikuti prosedur analisis sistematik dalam sebagian besar pendekatan. Grounded theory lebih terstruktur dalam proses pengumpulan data dan analisisnya, dibanding model riset kualitatif lain. Meski strateginya sama (misalnya analisis tematik terhadap transkip wawancara, observasi dan dokumen tertulis)
2.    Peneliti memasuki proses riset dengan membawa sedikit mungkin asumsi. Ini berarti menjauhkan diri dari teori yang sudah ada.
3. Peneliti tidak semata-mata bertujuan untuk menguraikan atau menjelaskan, tetapi juga mengonseptualisasikan dan berupaya keras untuk menghasilkan dan mengembangkan teori.

Hal yang spesifik yang membedakan pengumpulan data pada penelitian Grounded Theory  dari pendekatan kualitatif lainnya adalah pada pemilihan fenomena yang dikumpulkan. Paling tidak, pada Grounded Theory sangat ditekankan untuk menggali data perilaku yang sedang berlangsung (life history) untuk melihat prosesnya serta ditujukan untuk menangkap hal-hal yang bersifat kausalitas. Seorang peneliti Grounded Theory selalu mempertanyakan "Mengapa suatu kondisi terjadi?", "Apa konsekwensi yang timbul dari suatu tindakan/reaksi?", dan "Seperti apa tahap-tahap kondisi, tindakan/reaksi, dan konsekwensi itu berlangsung?” "Apa konsekwensi yang timbul dari suatu tindakan/reaksi?", dan "Seperti apa tahap-tahap kondisi, tindakan/reaksi, dan konsekwensi itu berlangsung?”
BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Dari beberapa penjelasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya:
Grounded theory adalah suatu yang bersifat konseptual atau teori sebagai hasil pemikiran induktif dari data yang dihasilkan dalam penelitian mengenai suatu fenomena. Atau suatu teori yang dibangun dari data suatu fenomena dan dianalisis secara induktif, bukan hasil pengujian teori yang telah ada.
Ciri-cirinya adalah:
1.    Grounded theory dibangun dari data tentang suatu fenomena.
2.    Penyusunan teori tersebut dilakukan dengan analisis data secara induktif.
3.    Agar penyusunan teori menghasilkan teori yang benar disamping harus dipenuhi 4 (empat) kriteria yaitu: cocok, dipahami, berlaku umum, pengawasan, juga diperlukan dimilikinya kepekaan teoretik (theoretical sensitivity) dari si peneliti.
4.    Peneliti mempunyai wawasan yang luas
Prinsip-prinsip grounded theory meliputi:
Perumusan masalah, deteksi fenomena, penurunan teori, pengembangan teori, penilaian teori, dan grounded theory yang direkonstruksi.
Menurut Creswell pengumpulan data dalam studi grounded theory merupakan proses “zigzag”, keluar lapangan untuk memperoleh informasi, menganalisis data, dan seterusnya. Partisipan yang diwawancarai dipilih secara teoritis –dalam theoritical sampling- untuk membantu peneliti membentuk teori yang paling baik.
Proses analisis data dalam grounded theory meliputi: pengodean terbuka (open coding), pengodean poros (axial coding), pengodean selektif (selective coding), dan proposition.
                                                                                                            
[1] Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication, (2008. Yogyakarta: Bentang,hal 181
[2] Bungin,Burhan.Metodologi Penelitian Sosial, Format-format kuantitatif dan  kualitatif. 2001.Surabaya: Airlangga University Press, hal 8-9
[3] Agus Salim. Teori dan Paradigma penelitian Sosial. (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), hal 110
[4] Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang,hal 182
[5] Masri Singarimbun, Metode Penelitian Survei. 1989. Jakarta: LP3ES, hal 8-9

[6] Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang, hal 182.
[7] Salim, Agus. Teori dan Paradigma penelitian Sosial Agus Salim.2001. Yogyakarta: Tiara Wacana, hal 112

[8] Daymon, Cristin, dan Holloway, Immy. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication.2008. Yogyakarta: Bentang,hal 197

JENIS-JENIS METODE PENELITIAN KUALITATIF

Bab I 
PENDAHULUAN

Penelitian kualitatif (qualitative Research) adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas social, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Beberapa deskripsi digunakan untuk menemukan prinsip-prinsip dan menjelaskan yang mengarah pada penyimpulan. Penelitian kualitatif bersifat induktif,[1] peneliti membiarkan permasalahan-permasalahan muncul dari data atau dibiarkan terbuka untuk interpetasi. Data dihimpun dengan pengamatan yang seksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang mendetail disertai catatan-catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen dan catatan-catatan. 
Penelitian kualitatif adalah penelititan yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya prilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll.[2] Penelitian kualitatif mempunyai dua tujuan utama, yang pertama yaitu, menggambarkan dan mengungkap ( to describe and explore) dan kedua menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explaim).
Secara garis besar, penelitian dapat dikelompokkan menurut beberapa aspek. Beberapa aspek tersebut adalah aspek tujuan, aspek metode, dan aspek kajian. Berdasarkan pendekatan, secara garis besar dibedakan dua macam penelitian yaitu, penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Keduanya memiliki asumsi, karakteristik dan prosedur penelitian berbeda. Dalam unit ini pemakalah akan menyajikan salah satu dari dua pendekatan penelitian yaitu, penelitian kualitatif dan jenis-jenisnya yang mencakup penelitian kualitatif interaktif dan penelitian kualitatif non interaktif.

Bab II
PEMBAHASAN
JENIS-JENIS METODE PENELITIAN KUALITATIF

          Metode kualitatif secara garis besar dibedakan dalam dua macam, kualitatif interaktif dan non interaktif. Metode kualitatif interaktif, merupakan studi yang mendalam menggunakan teknik pengumpulan data langsung dari orang dalam lingakaran alamiahnya. Peneliti menginterpretasikan[3] fenomena-fenomena bagaimana orang mencari makna daripadanya. Para peneliti kualitatif membuat gambaran yang kompleks, dan menyeluruh dengan deskripsi detail dari kacamata para informan. Beberapa peneliti kualitatif mengadakan diskusi terbuka 
Kualitatif Interaktif Kualitatif Non Interaktif
Etnografis
Fenomenologis
Historis
Studi Kasus
Teori Dasar
Studi Kritis Analisis Konsep
Analisis Kebijakan
Analisis Historis
tentang nialai-nilai yang mewarnai narasi. Peneliti interaktif mendeskripsikan konteks dari studi, mengilustrasikan pandangan yang berbeda dari fenomena, dan secara berkelanjutan merevisi pertanyaan berdasarkan pengalaman di lapangan.

A.      Penelitian Kualitatif Interaktif
a.      Pengertian Penelitian Kualitatif Interaktif

Ada lima macam metode penelitian kualitatif interaktif, yaitu metode etnografis, biasa dilaksanakan dalam antropologi[4] dan sosiologi,[5] metode fenomenologis digunakan dalam psikologi[6] dan filsafat,  studi kasus digunakan dalama ilmu social dan kemanusiaan serta ikmu terapan, teori dasar (grounded theory) digunakan dalam sosiologi, dan studi kritis digunakan dalam berbagai bidang ilmu, metode-metode interaktif ini bisa difokuskan pada pengalaman hidup individu seperti dalam fenomenologi, studi kasus, teori dasar, dan studi kritis, bisa juga berfokus pada masyarakat dan budaya seperti dalam etnografi dan beberapa studi kritikal.
1.      Metode Etnografis[7]
Diantara model umum dari penelitan yang digunakan oleh ilmuan social, etnografi adalah sama dengan antropologi dan secara khusus dengan fungsi teori structural yang bersifat preskriptif. Etnografi terkait dengan konsep budaya (cultural concept). Dengan demikian etnograpi adalah analisis deskripsi atau rekonstruksi dari gambaran dalam budaya dan kelompok (reconstruction of intact cultural scenes and group).[8] Studi  Etnogarafis (ethnographic studies) yaitu mendeskripsikan dan menginter-pretasikan budaya, kelompok sosial atau system. Dalam pendidikan dan kurikulum, difokuskan pada salah satu kegiatan inovasi seperti pelaksanaan model kurikulum terintegrasi, berbasis kompetensi, pembelajaran kontekstual, dsb. Proses penelitian etnografi dilaksanakan di lapangan dalam waktu yang cukup lama, berbentuk observasi dan wawancara secara alamiah dengan para partisipan, dalam berbagai bentuk kesempatan kegiatan, serta mengumpulkan dokumen-dokumen dan bend-benda (artifak). Meskipun makna budaya itu sangat luas, tetapi studi etnografi biasanya dipusatkan pada pola-pola kegiatan, bahasa kepercayaan, ritual, dan cara-cara hidup. Hasil akhir akhir penelitian bersifat komperhensif,[9] suatu naratifdeskriptif[10] yang bersifat menyeluruh disertai interpretasi yang mengintergretasikan seluruh aspek-aspek kehidupan dan menggambarkan kompleksitas kehidupan tersebut. Beberapa peneliti juga melakukan penelitian mikro-etnografi penelitian difokuskan pada salah satu aspek saja.
2.      Metode Fenomenologis
Studi Fenomenologis mempunyai dua makna. Sebagai filsafat sains dan sebagai metode pencarian (penelitian). Studi fenomenologis mencoba mencari arti dari pengalaman dalam kehidupan. Peneliti menghimpun data berkenaan dengan konsep, pendapat, pendirian sikap, penilaian, dan pemberian makna terhadap situasi atau pengalaman dalam kehidupan. Tujuan dari penelitian fenomenologis adalah mencari atau menemukan makna dari hal-hal yang esensial atau mendasar dari pengalaman hidup tersebut, penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam yang lama dengan partisipan. Pemahaman tentang persepsi dan sikap-sikap informan terhadap pengalaman hidup subyek sehari-hari diperoleh dengan menggunakan wawancara.
Penggunaan pendekatan ini dimulai dengan sikap diam, ditunjukkan untuk menelaah apa yang sedang dipelajari. Cara fenomenologi menekankan berbagai aspek subjektif dari prilaku manusia, selanjutnya peneliti berusaha memahami bagaimana subjek meberi arti terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kehidupannya. Peneliti percaya bahwa berbagai cara manusia untuk menginpretasikan pengalamannya lewat interaksi orang lain.[11]
3.      Metode Historis
Studi Historis (historical studies) yakni,meneliti peristiwa-peristiwa yang telah berlalu. Peristiwa-peristiwa sejarah direka-ulang dengan menggunakan sumber data primer kesaksian dari pelaku sejarah yang masih ada, kesaksian yang tidak disengaja yang tidak dimaksudkan untuk disimpan, sebagai catatan atau rekaman, seperti peninggalan-peninggalan sejarah, dan kesaksian sengaja berupa catatan dan dokumen-dokumen. Penelitian historis menggunakan pendekatan metode dan materi yang mungkin sama dengan penelitian etnografis, tetapi dengan fokus, tekanan dan sistematika yang berbeda. Beberapa peneliti juga menggunakan pendekatan dan metode ilmiah (positivitis) seperti mengadakan pembatasan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan dan analisis data, uji hipotesis dan generalisasi, walaupun sudah tentu dalam keterbatasan-keterbatasan tertentu. Salah satu ciri khas dari penelitian historis adalah periode waktu: kegiatan, peristiwa, karakteristik, nilai-nilai kemajuan bahkan kemunduran dilihat dan dikaji dalam konteks waktu.

4.      Studi Kasus
Studi kasus (case study) merupakan satu penelitian yang dilakukan terhadap suatu “kesatuansistem”. Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh tempat, waktu, atau ikatan tertentu. Studi kasus adalah suatu penelitian yang diarahkan untuk menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari kasus tersebut. Kasus sama sekali tidak mewakili populasi dan tidak dimaksudkan untuk memperoleh kesimpulan dari populasi. Kesimpulan studi kasus hanya berlaku untuk kasus tersebut. Tiap kasus bersifat unik atau memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan kasus lainnya. Suatu kasus dapat terdiri atas satu unit atau lebih dari satu unit, tetapi merupakan satu kesatuan. Kasus dapat satu orang, satu kelas, satu sekolah, beberapa sekolah tetapi dalam satu kantor kecamatan, dsb. Dalam studi kasus digunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi, dan studi dokumenter, tetapi semuanya difokuskan kearah mendapatkan kesatuan dan kesimpulan.
5.      Teori Dasar
Penelitian teori dasar atau sering disebut juga penelitian dasar atau teori dasar (grounded theory) merupakan penelitian yang diarahkan pada penemuan atau minimal menguatkan terhadap suatu teori. Penelitian dilakukan dengan menggunkan kualitatif. Walaupun penelitian kualitatif memberikan deskripsi yang bersifat terurai, tetapi dari deskripsi tersebut diadakan abstraksi atau interensi sehingga diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang mendasar yang membentuk prinsip dasar, dalil atau kaidah-kaidah, kumpulan dari prinsip, dalil atau kaidah tersebut berkenaan dengan sesuatu hal dapat menghasilkan teori baru, minimal memperkuat teori yang telah ada dalam hal tersebut. Penelitian dasar dilaksanakan dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data, diadakan cek-ricek ke lapangan, studi pembandingan antar kategori, fenomena dan situasi melalui kajian induktif, deduktif dan verifikasi sampai pada titik jenuh. Pada titik ini peneliti memilih mana fenomena-fenomena inti dan mana yang tidak inti. Dari fenomena-fenomena inti tersebut dikembangkan “alur konsep” serta “matriks kondisi” yang menjelaskan kondisi sosial dan historis dan keterkaitannya dengan fenomena-fenomena.
Penyusunan teori dari bawah (TDB) menurut Pandit[12] yang dikutip oleh Moloeng, terlebih dahulu memahami tiga unsur dasar TDB yaitu: konsep, kategori, dan proposisi. Konsep adalah satuan kejadian dasar karena hal itu dibentuk dari konseptualisasi data, bukan data itu sendiri, yang berdasarkan hal itu teori itu disusun. Unsur kedua adalah kategori yang didefinisikan sebagai berikut: kategori adalah kumpulan yang lebih tinggi dan lebih abstrak dari konsep yang mereka wakili. Kategori itu diperoleh melalui proses analisis yang sama dengan jalan membuat perbandingan dengan melihat kesamaan atau perbedaan yang digunakan untuk menghasilkan konsep-konsep yang lebih rendah. Kategori adalah landasan dasar penyusunan teori. Kategori memberikan makna yang olehnya teori dapat diintegrasikan. Kita dapat menunjukkan bagaimana pengelompokkan konsep konsep membentuk kategori dengan jalan melanjutkan contoh yang dikemukakan diatas. Unsur ketiga dari TDB adalah proposisi yang menunjukkan hubungan-hubungan kesimpulan. Antara satu kategori dan konsep-konsep yang menyertainya dan diantara kategori-kategori yang diskrit, unsur ketiga ini dinamakan ‘hipotesis’.[13]
6.      Studi Kritis
Model penelitian ini berkembang dari teori kritis, feminis, ras dan pasca modern yang bertolak dari asumsi bahwa pengetahuan bersifat subjektif. Para peneliti kritis memandang bahwa masyarakat terbentuk oleh orientasi kelas, status, ras, suku bangsa, jenis kelamin, dll. Peneliti feniminis dan etnis memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah gender dan ras, sedang peneliti pasca modern dan kritis memusatkan pada institusi social dan kemasyarakatan. Dalam penelitian kritis, peneliti melakukan analisis naratif, penelitian tindakan, etnografi kritis, dan penelitian fenimisme. Ada hal yang perlu mendapat perhatian dalam penelitian kritis.

1.1.Pertama
       Penelitian-penelitian kritis tidak bersifat deskrit, meskipun masing--masing mempunyai implikasi metodelogis. Model studinya berbeda dalam tujuan, peranan teori, teknik pengumpulan data, pereanan peneliti, format laporan dan narasinya, meskipun juga ada yang tumpang tindih.
1.2.  Kedua
      Penelitan kritis menggunakan pendekatan studi kasus, kajian terhadap suatu kasus (kasus tunggal), kajian yang bersifat mendalam yang berbeda dengan kajian eksperimental atau kajian lain yang bersifat generalisasi maupun pembandingan. Dalam penelitian kualitatif kasus adalah satu kesatuan kasus atau fenomena yang diteliti secara mendalam dan utuh.

B.       Penelitian Kualitatif Non Interaktif
a.   Penelitian Kualitatif Non Interaktif
              Penelitian kualitatif non interaktif (non interactive inquiry) disebut juga penelitian analitis, mengadakan pengkajian berdasarkan analisis dokumen. Sesuai dengan namanya penelitian ini tidak menghimpun data secara interaktif melalui interaksi dengan sumber data manusia. Melainkan, Peneliti menghimpun, mengidentifikasi, menganalisis, dan mengadakan sintesis data untuk kemudian memberikan interpretasi terhadap konsep, kebijakan, peristiwa yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat diamati. Sumber datanya adalah dokumen-dokumen. Ada tiga macam penelitan analitis atau studi non interaktif, yaitu analisis: konsep, historis dan kebijakan.
1.      Analisis Konsep
       Analisis konsep merupakan kajian atau analisis terhadap konsep-konsep penting yang diinterpretasikan pengguna atau plaksana secara beragam, sehingga banyak menimbulkan kebingungan, contohnya: cara belajar aktif, kurikulum berbasis kompetensi, wajib belajar, belajar sepanjang hayat dan lain-lain.
2.      Analisis Historis
        Analisis historis menganalisis data kegiatan, program, kebijakan yang telah dilaksanakan pada masa yang lalu. Penelitian ini lebih diarahkan kepada menganalisis peristiwa kegiatan, program, kebijakan, keterkaitan dalam urutan waktu.
3.      Analisis Kebijakan
        Analisis kebijakan menganalisis berbagai dokumen yang berkenaan dengan kebijakan tertentu, kebijakan otonomi daerah dalam pendidikan, ujian akhir sekolah, pembiayaan pendidikan, dsb. Pengkajian diarahkan untuk menemukan kedudukan, kekuatan, makna dan keterkaitan Antar dokumen, dampak, dan konsekuensi-konsekuensi positif dan negatif dari kebijakan tersebut. Penelitian kebijakan memfokuskan kajiannya pada kebijakan yang lalu atau yang berlalu sekarang, dan diarahkan untuk:
(1)   Meneliti formulasi kebijakan, sasarannya siapa-siapa saja,
(2)   Menguji pelaksanaan suatu program terkait dengan suatu kebijakan,
(3)   Menguji keefektivan dan kefisienan kebijakan.

C.     Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data sebagai bahan penelitian ada beberapa metode,
a. Metode yaitu bersifat non interaktif dan interaktif.
Teknik non interaktif meliputi
1. Teknik pustaka, teknik ini adalah biasanya hanya mengkaji tentang dokumen dan arsip tentang hal-hal yang berkaitan dengan penelitian
2. Teknik simak dan catat, merupakan salah satu teknik penyediaan data, teknik simak dengan dasar cakap dan lanjutannya simak bebas libat cakap, rekam, catat
Teknik interaktif
1.      Wawancara mendalam (in-Depth interviewing), Walliman menyatakan “Interviews, because of their flexibility, are a useful method of obtaining information and opinions from expert during the early stages of the research project”. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada informan bersifat open ended dan mengarah kepada kedalaman informasi. Biasanya teknik ini dilengkapi dengan teknik cakap dengan dasar teknik pancing dan lanjutannya semuka.
2.      Diskusi kelompok (Focus Group Discussion)
3.      Pengamatan langsung (direct observation)

Bab III
Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah :
a.       Metode Kualitaif secara garis besar dibedakan dalam dua jenis yaitu, Kualitatif interaktif dan kualitatif non interaktif.
b.      Metode Penelitian kualitatif interaktif terdiri dari enam macam yakni, metode etnografis, fenomenologis, historis, studi kasus, teori dasar, studi kritis.
c.       Metode penelititan kualitatif non interaktif terdiri dari tiga macam yakni, analisis konsep, analisis historis, analisis kebijakan.

Penutup

Demikianlah makalah ini kami tulis sebagai pemenuhan serta bukti tanggung jawab kami dalam mengerjakan tugas. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua, dan semoga manfaat dari makalah ini menjadi ibadah bagi kami yang menyusun dan berkah bagi yang memanfaatkannya di sisi Allah Ta’ala.
Besar harapan kami agar teman-teman memaklumi jika ada kekeliruan kami dalam pengerjaan makalah ini, sebagai perbaikan untuk kedepannya kami harapkan agar memberikan kritik, saran yang mendukung.

Daftar Pustaka

Moleong, Lexy J, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012.
Salim & Syahrum, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Citapustaka Media, 2012.
Kamus Besar Bahasa Indonesia


[1] metode pemikiran yg bertolak dr kaidah (hal-hal atau peristiwa) khusus untuk menentukan hukum (kaidah) yg umum; penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan yg khusus untuk diperlakukan secara umum; penentuan kaidah umum berdasarkan kaidah khusus. Kamus Besar Bahasa Indonesia
[2] Lexy J. Moleong,Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2012), hlm. 6.
[3] pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoretis thd sesuatu; tafsiran;
[4] ilmu tentangt manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pd masa lampau;
[5] pengetahuan atau ilmu tt sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat; ilmu tt struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya
[6] ilmu yg berkaitan dng proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pd perilaku; ilmu pengetahuan tt gejala dan kegiatan jiwa;

[7] deskripsi tentang kebudayaan suku-suku bangsa yg hidup; 2 ilmu tentang pelukisan kebudayaan suku-suku bangsa yg hidup tersebar di muka bumi;
[8] Salim & Syahrum, Metodologi Penelitian Kualitatif,(Bandung: Citapustaka Media,2012), cet. 5, hlm. 100-101.
[9] bersifat mampu menangkap (menerima) dng baik
[10] menguraikan
[11] Salim & Syahrum, Metodologi Penelitian, Hlm. 87-88
[12] Naresh Pandith, The Creation Of Theory: A Recent Application of the Grounde Theory Methode, July 1996 (Internet)
[13] Moloeng, Metodologi Penelitian, hlm. 72-73 

Ingkar Sunnah, Sejarah dan pendapat para Ulama'

Dalam sejarah perkembangan Hadits, mulai pengumpulan hadits pada masa Nabi Muhammad hingga pembukuannya mengalami banyak kendala, diantaranya banyaknya hadits palsu yang diedarkan dengan alasan kepentingan baik pribadi maupun politik/kelompok. Sehingga filterasi perlu dilakukan oleh para Ulama' Hadits yang dapat dipertanggungjawabkan ke dhabitannya dan keadilannya. Dalam sejarah perkembangan Hadits juga terdapat beberapa kelompok yang menolak Hadits dengan Alasan mereka masing-masing.

Oleh beberapa komunitas dalam peradaban, terutama umat Islam, Hadits adalah segala perkataan Nabi, segala perbuatan beliau, segala taqrir (pengakuan) beliau dan segala keadaan beliau. Sebagai sebuah teks, Hadits merupakan penuntun umat Islam. Segala perkataan Nabi, segala perbuatan beliau, pengakuan dan segala keadaan beliau dicatatkan di dalamnya. Walaupun begitu, disamping berbahasa arab tidak dipungkiri kualitas Hadits ada tiga, yakni Hadits shahih, Hadits Hasan, dan Hadits Dha’if. Sehingga kita tidak bisa sembarangan dalam mengeluarkan Hadits, untuk itu bagi orang awam untuk memahaminya perlu memperhatikan terlebih dahulu apa Hadits tersebut Hadits Shahih atau malah Hadits Dha’if.
Dalam makalah ini kami akan memaparkan beberapa hal yang erat kaitannya untuk memahami Inkar Al-Sunnah. Yaitu kami akan memaparkan mengenai inkar Al-Sunnah, sejarahnya, argumen, dan bantahan ulama.
Dalam hal ini, penulis  Merumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
  1. Apakah yang dimaksud dengan Inkar Al-Sunnah?
  2. Bagaimana Sejarah perkembangan Inkar Al-Sunnah ?
  3. Bagaimana argumen dan bantahan para ulama tentang Inkar Al-Sunnah?
Pengertian Inkar Al-Sunnah
Inkar sunnah terdiri dari dua kata yaitu Inkar dan Sunnah. Inkar, menurut bahasa, artinya “menolak atau mengingkari”, berasal darikata kerja, ankara-yunkiru. Sedangkan Sunnah, menurut bahasa mempunyai beberapa arti diantaranya adalah, “jalan yang dijalani, terpuji atau tidak,” suatu tradisi yang sudah dibiasakan dinamai sunnah, meskipun tidak baik. Secara definitif Ingkar al-Sunnah dapat ddiartikan sebagai suatu nama atau aliran atau suatu paham keagamaan dalam masyarakat Islam yang menolak atau mengingkari Sunnah untuk dijadikan sebagai sumber san dasar syari’at Islam.
 Secara bahasa pengertian hadits dan sunnah sendiri terjadi perbedaan dikalangan para uama, ada yang menyamakan keduanya dan ada yang membedakan. Pengertian keduanya akan disamakan seperti pendapat para muhaditsin, yaitu suatu perkataan, perbuatan, takrir dan sifat Rauslullah saw. Sementara Nurcholis Majid berpendapat bahwa yang terjadi dalam sejarah Islam hanyalah pengingkaran terhadap hadits Nabi saw, bukan pengingkaran terhadap sunnahnya. Norcholis Majid membedakan pengertian hadits dengan Sunnah. Sunnah menurut beliau adalah pemahaman terhadap pesan atau wahyu Allah dan teladan yang diberikan Rasulullah dalam pelaksanaannya yang membentuk tradisi atau sunnah. Sedangkan hadits merupakan peraturan tentang apa yang disabdakan Nabi saw. atau yang dilakukan dalam praktek atau tindakan orang lain yang di diamkan beliau (yang diartikan sebagai pembenaran).
Kata “Ingkar Sunnah” dimaksudkan untuk menunjukkan gerakan atau paham yang timbul dalam masyarakat Islam yang menolak hadits atau sunnah sebagai sumber kedua hukum Islam.
Menurut Imam Syafi’I, Sunnah Nabi saw ada tiga macam:
  1. Sunnah Rasul yang menjelaskan seperti apa yang din ask-an oleh Alqur’an.
  2. Sunnah Rasul yang menjelaskan makna yang dikehendaki oleh Alqur’an. Mengenai kategori           kedua ini tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama.
  3. Sunnah Rasul yang berdiri sendiri yang tidak ada kaitannya dengan Alqur’an  
Sejarah, Argumen, dan Bantahan Ulama Inkar Al-Sunnah

1. Sejarah Inkar Al-Sunnah
 1) Ingkar Sunnah Pada Masa Periode Klasik

 Pertanda munculnya “Ingkar Sunnah” sudah ada sejak masa sahabat, ketika Imran bin Hushain (w. 52 H) sedang mengajarkan hadits, seseorang menyela untuk tidak perlu mengajarkannya, tetapi cukup dengan mengerjakan al-Qur’an saja. Menanggapi pernyataan tersebut Imran menjelaskan bahwa “kita tidak bisa membicarakan ibadah (shalat dan zakat misalnya) dengan segala syarat-syaratnya kecuali dengan petunjuk Rasulullah saw. Mendengar penjelasan tersebut, orang itu menyadari kekeliruannya dan berterima kasih kepada Imran.
Sikap penampikan atau pengingkaran terhadap sunnah Rasul saw yang dilengkapi dengan argumen pengukuhan baru muncul pada penghujung abad ke-2 Hijriyah pada awal masa Abbasiyah.
Di Indonesia, pada dasawarsa tujuh puluhan muncul isu adanya sekelompok muslim yang berpandangan tidak percaya terhadap Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dan tidak menggunakannya sebagai sumber atau dasar agama Islam. Pada akhir tujuh puluhan, kelompok tersebut tampil secara terang-terangan menyebarkan pahamnya dengan nama, misalnya, Jama’ah al-Islamiah al-Huda, dan Jama’ah al-Qur’an dan Ingkar Sunnah, sama-sama hanya menggunakan al-Qur’an sebagai petunjuk dalam melaksanakan agama Islam, baik dalam masalah akidah maupun hal-hal lainnya. Mereka menolak dan mengingkari sunnah sebagai landasan agama.
Imam Syafi’i membagi mereka kedalam tiga kelompok, yaitu :
  1. Golongan yang menolak seluruh sunnah Nabi SAW
  2. Golongan yang menolak sunnah, kecuali bila sunnah memiliki kesamaan dengan petunjuk Alquran
  3. Mereka yang menolak sunnah yang bersetatus Ahad dan hanya menerima sunnah yang bersetatus Mutawatir
Dilihat dari penolakan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kelompok pertama dan kedua pada hakekatnya memiliki kesamaan pandangan bahwa mereka tidak menjadikan Sunnah sebagai hujjah. Para ahli hadits menyebut kelompok ini sebagai kelompok Inkar Sunnah.
Argumen kelompok yang menolak Sunnah secara totalitas. Banyak alasan yang dikemukakan oleh kelompok ini untuk mendukung pendiriannya, baik dengan mengutip ayat-ayat al-Qur’an ataupun alasan-alasan yang berdasarkan rasio. Diantara ayat-ayat al-Qur’an yang digunakan mereka sebagai alasan menolak sunnah secara total adalah surat an-Nahl ayat 89 :
ﻮﻨﺰﻠﻨﺎ ﻋﻠﻳﻚ ﺍﻠﮑﺘﺎﺏ ﺘﺑﻴﺎﻨﺎ ﻠﮑﻞ ﺸﺊ
“Dan kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu….”
Kemudian surat al-An’am ayat 38 yang berbunyi:
...ﻤﺎﻓﺮﻄﻨﺎ ﻔﻰ ﺍﻠﺘﺎﺐ ﻤﻦ ﺷﺊ...
“…Tidaklah kami alpakan sesuatu pun dalam al-Kitab…Menurut mereka kepada ayat tersebut menunjukkan bahwa al-Qur’an telah mencakup segala sesuatu yang berkenaan dengan ketentuan agama, tanpa perlu penjelasan dari al-Sunnah. Bagi mereka perintah shalat lima waktu telah tertera dalam al-Qur’an, misalnya surat al-Baqarah ayat 238, surat Hud ayat 114, al-Isyra’ ayat 78 dan lain-lain.
Adapun alasan lain adalah bahwa al-Qur’an diturunkan dengan berbahasa Arab yang baik dan tentunya al-Qur’an tersebut akan dapat dipahami dengan baik pula.
Argumen kelompok yang menolak hadits Ahad dan hanya menerima hadits Mutawatir.
Untuk menguatkan pendapatnya, mereka menggunakan beberapa ayat al-Qur’an sebagai dallil yaitu, surat Yunus ayat 36:
ﻮﺍﻦ ﺍﻠﻈﻦ ﻻﻴﻐﻨﻰ ﻤﻦ ﺍﻠﺤﻖ ﺸﻴﺌﺎ
“…Sesungguhnya persangkaan itu tidak berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran”.
Berdasarkan ayat di atas, mereka berpendapat bahwa hadits Ahad tidak dapat dijadikan hujjah atau pegangan dalam urusan agama. Menurut kelompok ini, urusan agama harus didasarkan pada dalil yang qath’I yang diyakini dan disepakati bersama kebenarannya. Oleh karena itu hanya al-Qur’an dan hadits mutawatir saja yang dapat dijadikan sebagi hujjah atau sumber ajaran Islam.
      2)      Ingkar Sunnah pada Periode Modern (salah)
Pemikiran mengenai penolakan sunnah muncul kembali pada abad ke epat belas Hijriyah setelah pada abad ke tiga pemikiran seperti itu lenyap ditelan zaman. Mereka muncul dengan bentuk dan penampilan yang jauh berbeda dari inkar sunnah priode klasik, yang mana kemunculan mereka lebih terpengaruh pada pemikiran kolonialisme yang ingin menghancurkan dunia Islam. Inkar al-sunnah masa ini muncul dalam bentuk golongan yang terorganisi yang mempunyai pemimpin atau tokoh-tokoh dalam ajaran mereka, yang mana tokoh-tokoh mereka menyebut dirinya sebagai Mujtahid atau pembaharu. Bahkan saat mereka mengetahui bahwa ajaran mereka salah mereka tidak lantas sadar seperti inkar al-sunnah periode klasik, tetapi terus mempertahankan dan menyebarkan walaupun pemerintah setempat telah mengeluarkan larangan resmi atas ajaran mereka.
Menurut Mustafa Zami dalam buku yang ditulis Agus Solahudin menuturkan bahwa Inkar As-Sunnah modern lahir di Kairo, Mesir pada masa Syeikh Muhammad Abduh (1266-1323H). Dengan kata lain Dialah yang pertama kali melontarkan gagasan Inkar As-Sunnah pada masa modern. Salah satu yang menarik dari Syeikh Muhammad Abduh bahwa ia mengingkari eksistensi hadits ahad sebagai dalil ketauhidan. Namun masih menjadi perdebatan para ulama tentang apakah orang yang mengingkari hadits ahad sebagai dalil tauhid dapat dikatakan sebagai pengingkar sunnah (inkar as-sunnah) atau bukan.
Majalah Almanar nomor 7 dan 12 tahun IX memuat tulisan Thaufiq Shidqi yang berjudul “Islam adalah Al-Qur’an itu sendiri”, ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an  tidak membutuhkan sunnah. Begitulah golongan Inkar As-Sunnah terus menyebar ke berbagai belahan dunia dimana Islam berkembang sebagai wujud adanya kekuatan internal yang hendak melemahkan panji-panji kebesaran Islam, tak luputnya tanah air tercinta ini.
 
Argumen Inkar Al-Sunnah
Memang cukup banyak argumen yang telah dikemukakan oleh mereka yang berpaham inkar as-sunnah, baik oleh mereka yang hidup pada zaman al-Syafi’i maupun yang hidup pada zaman sesudahnya. Dari berbagai argumen yang banyak jumlahnya itu, ada yang berupa argumen-argumen naqli (ayat Al-Qur’an dan Hadits) dan ada yang berupa argumen-argumen non-naqli. Dalam uraian ini, pengelompokan kepada dua macam argumen tersebut digunakan.
      1.      Argumen- argumen Naqli
Yang dimaksud dengan argumen-argumen naqli tidak hanya berupa ayat-ayat Al-Qur’an saja, tetapi juga berupa sunnah atau Hadits Nabi. Memang agak ironis juga bahwa mereka yang berpaham inkar as-sunnah ternyata telah mengajukan sunnah sebagai argumen membela paham mereka.
       2.      Argumen-argumen Non-Naqli
Yang dimaksud dengan argumen-argumen non-naqli adalah argumen-argumen yang tidak berupa ayat Al-Qur’an dan atau Hadits-Hadits. Walaupun sebagian dari argumen-argumen itu ada yang menyinggung sisi tertentu dari ayat Al-Qur’an ataupun Hadits Nabi, namun karena yang dibahasnya bukanlah ayat ataupun matan Haditsnya secara khusus, maka argumen-argumen tersebut dimasukkan dalam argumen-argumen non-naqli juga.
Ternyata argumen yang dijadikan sebagai dasar pijakan bagi para pengingkar sunnah memiliki banyak kelemahan, misalnya :
     1)      Pada umumnya pemahaman ayat tersebut diselewengkan maksudnya sesuai dengan kepentingan mereka. Surat an-Nahl ayat 89 yang merupakan salah satu landasan bagi kelompok ingkar sunnah untuk maenolak sunnah secara keseluruhan. Menurut al-Syafi’I ayat tersebut menjelaskan adanya kewajiban tertentu yang sifatnya global, seperti dalam kewajiban shalat, dalam hal ini fungsi hadits adalah menerangkan secara tehnis tata cara pelaksanaannya. Dengan demikian surat an-Nahl sama sekali tidak menolak hadits sebagai salah satu sumber ajaran. Bahkan ayat tersebut menekankan pentingnya hadits.
      2)   Surat Yunus ayat 36 yang dijadikan sebagai dalil mereka menolak hadits ahad sebagai hujjan dan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan istilah zhanni adalah tentang keyakinan yang menyekutukan Tuhan. Keyakinan itu berdasarkan khayalan belaka dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Keyakinan yang dinyatakan sebagai zhanni pada ayat tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dan tidak da kesamaannya dengan tingkat kebenaran hasil penelitian kualitas hadits. Keshahihan hadits ahad bukan didasarkan pada khayalan melainkan didasarkan pada metodologi yang dapat dipertanggung jawabkan.

Bantahan Ulama Inkar Al-Sunnah
            Alasan pengingkar As-Sunnah mendapat bantahan karena meskipun kebenaran Al-Qur’an sudah diyakini sebagai kalamullah, namun masih ada ayat Al-Qur’an yang membutuhkan penjelasan karena belum pastinya hukum yang terkandung. Untuk membantah argumen dari kelompok Inkar As-Sunnah maka Abu Al Husain mengatakan,  “Dalam menerima Hadits-Hadits ahad, sebenarnya kita memakai dalil-dalil pasti yang mengharukan untuk menerima Hadits-Hadits itu”, jadi sebenarnya kita tidak memakai shann (dugaan kuat).
            Dalam ayat Al-Qur’an surah An-Nahl (16): ayat 44. Dari ayat tersebut jelas bahwa Allah membebankan kepada Nabinya untuk menerangkan isi dari Al-Qur’an. Maka suatu kekeliruan besar bagi golongan Inkar As-Sunnah saat mereka menolak penjelasan Nabi (sunnah Nabi). Mereka juga keliru dalam melakukan penafsiran atas ayat 38 Surat Al-An’am, sebab Allah menyuruh kita untuk menggunakan apa-apa yang dijelaskan Nabi SAW.
      Inkar As-Sunnah di Indonesia
Tokoh-tokoh “ Ingkar Sunnah “ yang tercatat di Indonesia antara lain adalah Lukman Sa’ad (Dirut PT. Galia Indonesia) Dadang Setio Groho (karyawan Inilever), Safran Batu Bara (guru SMP Yayasan Wakaf Muslim Tanah Tinggi) dan Dalimi Lubis (karyawan kantor Departemen Agama Padang Panjang).
Sebagaimana kelompok ingkar sunnah klasik yang menggunakan argumen baik dalil naqli maupun aqli untuk menguatkan pendapat mereka, begitu juga kelompok ingkar sunnah Indonesia. Diantara ayat-ayat yang dijadikan sebagai rujukan adalah surat an-Nisa’ ayat 87 :
َﻤﻦﺍﺼﺪﻖﻤﻦﺍﷲﺤﺪﻴﺜﺎ
Menurut mereka arti ayat tersebut adalah “Siapakah yang benar haditsnya dari pada Allah”.
Kemudian surat al-Jatsiayh ayat 6:
ﻓﺒﺄﻱ ﺤﺪﻴﺚ ﺒﻌﺪ ﺍﷲ ﻮﺍﻴﺎﺗﻪ ﻴﺆﻤﻨﻮﻦ
Menurut mereka arti ayat tersebut adalah “Maka kepada hadits yang manakah selain firman Allah dan ayat-ayatnya mereka mau percaya”.
Selain kedua ayat diatas, mereka juga beralasan bahwa yang disampaikan Rasul kepada umat manusia hanyalah al-Qur’an dan jika Rasul berani membuat hadits selain dari ayat-ayat al-Qur’an akan dicabut oleh Allah urat lehernya sampai putus dan ditarik jamulnya, jamul pendusta dan yang durhaka. Bagi mereka Nabi Muhammad tidak berhak untuk menerangkan ayat-ayat al-Qur’an, Nabi Hanya bertugas menyampaikan.
Kesimpulan
Inkar sunnah terdiri dari dua kata yaitu Inkar dan Sunnah. Inkar, menurut bahasa, artinya “menolak atau mengingkari”, berasal dari kata kerja, ankara-yunkiru. Sedangkan Sunnah, menurut bahasa mempunyai beberapa arti diantaranya adalah, “jalan yang dijalani, terpuji atau tidak,” suatu tradisi yang sudah dibiasakan dinamai sunnah, meskipun tidak baik.
Secara definitif Ingkar al-Sunnah dapat ddiartikan sebagai suatu nama atau aliran atau suatu paham keagamaan dalam masyarakat Islam yang menolak atau mengingkari Sunnah untuk dijadikan sebagai sumber san dasar syari’at Islam. Kata “Inkar Sunnah” dimaksudkan untuk menunjukkan gerakan atau paham yang timbul dalam masyarakat Islam yang menolak hadits atau sunnah sebagai sumber kedua hukum Islam.


Daftar Pustaka

Djamaluddin, Amin, Bahaya Ingkar Sunnah, Jakarta: Ma’had ad-Dirasati al-Islamiyah, 1986.
Ismail, Syuhudi, “Kaidah Kesahian Hadits”, Bulan Bintang, Bandung, 1995.
Ismail, Syuhudi, Pengantar Ilmu Hadits, Bandung: Angkasa, 1991.
Ismail, Syuhudi, Hadits Nabi Menurut Pembela, Pengingkar dan pemalsunya, Jakarta: Gema Insani Press.
Siba’I, Mustafa, Sunnah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam, diterjemahkan oleh Nurcholis Majid, Jakarta: Pustaka Pirdaus, 1993.
Sulaiman, Noor, Antologi Ilmu Hadits, Cet. I, Pnerbit. Gaung Persada Press, Jakarta, 2008.
Suyitno, Studi Ilmu-Ilmu Hadits, Cet. I, IAIN Raden Fatah Press, Palembang, 2006.
Solahuddin, Agus, Suryadi, “Ulumul Hadi”, Pustaka Setia, Bandung, 2009.
Drs. M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu HaditsAngkasa Bandung, Bandung, 1987.
Rasyid, Daud, “Sunnah di bawah ancaman: dari Snouck Hugronje Hingga Harun Nasution “. Syamil, Bandung, 2006.
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan terjemahannya. Mahkota Surabaya. 1998.