As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

20 Agustus 2016

Workshop Kurikulum Berbasis KBK merujuk KKNI, Kopertais wilayah XII Riau Kepri

Workshop Kurikulum Berbasis KBK merujuk KKNI, Kopertais wilayah XII Riau Kepri
20-21 Agustus 2016, Alpha Hotel, jl. Harapan Raya, Pekanbaru.
Narasumber: Prof. Dr. H. Raihani, M.Ed, Ph.D


Berlandaskan UU Repupublik Indonesia No. 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi dan UU no 20 tahun 2003 Sisdiknas, perubahan PP 19 menjadi PP 32 tentang SNP, peraturan menteri nomor 49 2014, standar nasional pendidika tinggi DIKTI No. 49 2014, mengarahkan kurikulum pendidikan tinggi agar mampu menjawab dan membentuk lulusan yang menjawab kebutuhan pengguna, yag membutuhkan tenaga profesional.
Outcome Based Curriculum melandasi terbentuknya KKNI yang mana kurikulum lebih condong pada hasil atau product yang dilahirkan dari lembaga pendidikan.

Pada dasarnya setiap satuan pendidikan memiliki sistem untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas. Sistempendidikan tinggi di Indonesia memiliki empat tahapan pokok, yaitu (1) Input; (2)Proses; (3)Output; dan (4)Outcomes. Input Perguruan Tinggi (PT) adalah lulusan SMA, MA, dan SMK sederajat yang mendaftarkan diri untuk berpartisipasi mendapatkan pengalaman belajar dalam proses pembelajaran yang telah ditawarkan. nput yang baik memiliki beberapa indikator, antara lain nilai kelulusan yang baik, namun yang lebih penting adalah adanya sikap dan motivasi belajar yang memadai. Kualitas input sangat tergantung pada pengalaman belajar dan capaian pembelajaran calon mahasiswa.
Semenjak tahun 2000, paradigma yang digunakan dalam mengembangkan kurikulum di Pendidikan Tinggi Indonesia telah mengalami perubahan. Dimulai dengan diterbitkannya SK Mendiknas 232/U/2000 yang menyatakan penggantian kurikulum nasional dengan kurikulum inti dan institusional. Pada tahun 2014 telah terbit aturan yang mengatur Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNDIKTI) berdasarkan Permendikbud no 49 tahun 2014.
Pada beberapa dekade lalu, sebelum tahun 2000 proses penyusunan kurikulum disusun berdasarkan tradisi 5 tahunan (jenjang S1) atau 3 tahunan (jenjangD3) yang selalu menandai berakhirnya tugas satu perangkat kurikulum. Selainitu, disebabkan pula oleh rencana strategis PT yang memuat visi danmisi PT juga telah berubah. Sebagian besar alasan perubahan kurikulum berasal dari permasalahan internal PT sendiri.
Hal ini bukan suatu kesalahan. Namun pada situasi global seperti saat ini, dimana percepatan perubahan terjadi di segala sektor, maka akan sulit bagi masyarakat untuk menahan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Pada masa sebelum tahun 1999 (premilleniumera) perubahan IPTEKS yang terjadi mungkin tidak sedahsyat pascamillennium. Jika dipahami dengan lebih dalam berdasarkan sistem pendidikan yang telah dijelaskan di atas, maka jika terjadiperubahan pada tuntutan dunia kerja sudah sewajarnyalah proses di dalam PT kita juga perlu untuk beradaptasi. Alasan inilah yang seharusnya dikembangkan untuk melakukan perubahan kurikulum PT di Indonesia.

PARADIGMA KURIKULUM PENDIDIKAN TINGGI
1. KKNI dalam Kurikulum Pendidikan Tinggi
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia atau disingkat KKNI merupakan kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor. Pernyataan ini ada dalam Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Sangat penting untuk menyatakan juga bahwa KKNI merupakan perwujudan mutu dan jati diri BangsaIndonesia terkait dengan sistem pendidikan nasional dan pelatihan yang dimiliki negara Indonesia. Maknanya adalah, dengan KKNI ini memungkinkan hasil pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, diperlengkapi dengan perangkat ukur yang memudahkan dalam melakukan penyepadanan dan penyejajaran dengan hasil pendidikan bangsa lain di dunia. KKNI juga menjadi alat yang dapat menyaring hanya orang atau SDM yang berkualifikasi yang dapat masuk ke Indonesia. Dengan fungsi yang komprehensif ini menjadikan KKNI berpengaruh pada hampir setiap bidang dan sektor di mana sumber daya manusia dikelola, termasuk di dalamnya pada sistem pendidikan tinggi, utamanya pada kurikulum pendidikan tinggi. 
2. KKNI Sebagai Tolok Ukur
Pergeseran wacana penamaan kurikulum pendidikan tinggi dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) ke penamaan Kurikulum Pendidikan Tinggi (K-DIKTI) memiliki beberapa alasan yang penting untuk dicatat, diantaranya :
a) Penamaan KBK tidak sepenuhnya didasari oleh ketetapan peraturan, sehingga masih memungkinkan untuk terus berkembang. Hal ini sesuai dengan kaidah dari kurikulum itu sendiri yang terus berkembang menyesuaikan pada kondisi terkini dan masa mendatang. 
b) KBK mendasarkan pengembangannya pada kesepakatan penyusunan kompetensi lulusan oleh perwakilan penyelenggara program studi yang akan disusun kurikulumnya. Kesepakatan ini umumnya tidak sepenuhnya merujuk pada parameter ukur yang pasti, sehingga memungkinkan pengembang kurikulum satu menyepakati kompetensi lulusan yang kedalaman atau level capaiannya berbeda dengan pengembang kurikulum lainnya walaupun pada program studi yang sama pada jenjang yang sama pula. 
c) Ketiadaan parameter ukur dalam sistem KBK menjadikan sulit untuk menilai apakah program studi jenjang pendidikan yang satu lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Artinya, tidak ada yang dapat menjamin apakah kurikulum program D4 misalnya lebih tinggi dari program D3 pada program studi yang sama jika yang menyusun dari kelompok yang berbeda. 
d) Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) memberikan parameter ukur berupa jenjang kualifikasi dari jenjang 1 terendah sampai jenang 9 tertinggi. Setiap jenjang KKNI bersepadan dengan level Capaian Pembelajaran (CP) program studi pada jenjang tertentu, yang mana kesepadannya untuk pendidikan tinggi adalah level 3 untuk D1, level 4 untuk D2, level 5 untuk D3, level 6 untuk D4/S1, level 7 untuk profesi (setelah sarjana), level 8 untuk S2, dan level 9 untuk S3. Kesepadanan ini diperlihatkan pada Gambar berikut
e) CP pada setiap level KKNI diuraikan dalam diskripsi sikap dan tata nilai, kemampuan, pengetahuan, tanggung jawab dan hak dengan pernyataan yang ringkas yang disebut dengan deskriptor generik. Masing masing deskriptor mengindikasikan kedalaman dan level dari CP sesuai dengan jenjang program studi. 
f) K-DIKTI sebagai bentuk pengembangan dari KBK menggunakan level kualifikasi KKNI sebagai pengukur CP sebagai bahan penyusun kurikulum suatu program studi. 
g) Perbedaan utama K-DIKTI dengan KBK dengan demikian adalah pada kepastian dari jenjang program studi karena CP yang diperoleh memiliki ukuran yang pasti.

19 Agustus 2016

Pembagian Hadits Dari Segi Kuantitas dan Kualitas Sanad

1.1 Latar Belakang
Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagai pedoman hidup, sumber hukum danajaran Islam, tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Al-Qur’an sebagaisumber pertama memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum dan global, sedangkanhadistt sebagai sumber ajaran kedua tampil untuk menjelaskan keumuman isi Al-Qur’an tersebut.Allah SWT menurunkan Adz-Dzikr, yaitu Al-Qur’an bagi umat manusia.Agar Al-Qur’an ini dapat dipahami oleh manusia, maka Allah SWTmemerintahkan Rasullullah SAW untuk menjelaskannya. Hadist sebagai penjelasn Al-Qur’an itu memiliki bermacam-macamfungsi. Salah satunya yaitu macam-macam hadist dilihat dari segi kualitas dan kuantitas. Disini kami akan membahas tentang kualitas dan kuantitas hadist. 
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pembagian hadist dari segi kuantitas ?
2. Bagaimana Pembagian hadist dari segi kualitas ?
1.3 Tujuan 
1. Untuk mengetahui mengenai bagaimana pembagian hadist dari segi kuantitas sanad
2. Untuk mengetahui mengenai bagaimana pembagian hadist dari segi kualitas sanad
1.4 Manfaat
Manfaat dalam pembuatan makalah ini yaitu untuk memgetahui dan memahami tentang pembagian hadis dari segi kuantitas dan kualitas sanadnya

BAB II Pembahasan
2.1 Pembagian Hadist dari segi Kuantitas
Para ulama berbeda pendapat tentang pembagian hadist yang ditinjau dari segi kuantitas atau jumlah rawi yang menjadi sumber berita. Di antara mereka ada yang mengelompokkan menjadi tiga bagian, yakni hadist mutawatir, masyhur, dan ahad, dan ada juga yamg membaginya menjadi dua, yakni hadist mutawatir dan ahad. Ulama golongan pertama, yang menjadikan hadist masyhur berdiri sendiri dan tidak termasuk bagian dari hadist ahad dianut oleh sebagian ulama ushul, diantaranya adalah Abu Bakar Al-Jashshah (305-370 H). Adapun ulama kalam. Menurut mereka, hadist masyhur bukan merupakan hadist yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari hadist ahad. Itulah sebabnya mereka membagi hadist menjadi dua bagian, yaitu mutawatir dan ahad.
1. Hadist Mutawatir
a. Pengertian Hadist Mutawatir
Mutawatir menurut bahasa bararti mutatabi, yakni sesuatu yang datang berikut dengan kita atau yang beriring-iringan antara satu dengan lainnya tanpa ada jaraknya. Adapun pengetian hadist mutawatir menurut istilah, sebagai berikut:
 ماَرَوَا جَمْعٌ عضنْ جَمْعٍ تَحِىْلُ الْعاَدَةُ تَوَا طُؤُ هُمْ عَلَ الْكَذِبِ 
Artinya : “Hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang menurut adat mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta.”. [1] 

b. Contoh hadist mutawatir :
 حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ زُهَيْرِ بْنِ حَرْبٍ ، نا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ ، نا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلَةَ ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا ، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ فِي النَّارِ 
Artinya : “Barang siapa berbuat dusta terhadap diriku (yang mengatakan sesuatu yang tiada aku katakan atau aku kerjakan), hendaklah ia menempati neraka”.

 2. Hadist Ahad 
a. Pengertian Hadist Ahad
Kata ahad atau wahid berdasarkan segi bahasa berarti satu, maka khabar ahad, atau khabar wahid berarti yang disampaikan oleh satu orang. Adapun yang dimaksud dengn hadist ahad menurut istilah yaitu sebagai berikut :
 ماَ لَمْ تَبْلُغُ نَقْلُتُهُ ف الْكَثْرَةِ مَبْلَغَ الْخَبَرِ الْمُتَوَاتِرِ سَوَاءٌ كَانَ الْمُخْبِرُ وَاحِدًا أوْاِثْنَيْنِ أَوثَلاَثاً اَوْأَرْبَعَةً أَوخَمْسَةً اَوْغَيْرَذٰ لِكَ مِنَ الأَعضدَادِالَّتىِل لاَ تَشْعُرُ بأَنَّ الْخَبَرَ دَ خَلَ بِهاَ فىِ خَبَرِالْمُتَوَاتِرِ 
Artinya : “Khabar yang jumlah perawinya tidak sebanyak junlah perawi hadist mutawatir, baik perawinya itu satu, dua, tiga, empat, lima, dan seterusnya yang memeberikan pengertian bahwa jumlah perawi tersebut tidak mencapai jumlah perawi hadist mutawatir”. 
Contoh hadis ahad yaitu sebagai berikut :
 حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ أَخْبَرَهُ 
Artinya : “BUKHARI - 6) Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi' dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin 'Abbas telah mengabarkan kepadanya bahwa Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya; bahwa Heraclius” 
Para ulama membagi hadis ahad menjadi dua, yaitu masyhur dan gairu masyhur, sedangkan ghairu masyhur terbagi lagi menjadi dua, yaitu aziz dan gharib. 
1. Hadist Masyhur 
a. Pengertian Hadist Masyhur Menurut bahasa ialah al-intisyar wa az-zuyu’ (sesuatu yang sudah tersebar dan populer). Menurut istilah hadist masyhur adalah :
 ماَرَوَاهُ مِنَ الصَّابَةِ عَدَ دٌل لاَيَبْلُغُ حَدَّ التَّوَاتُرِ ثُمَّ تَوَاتُرَبَعْدَ الصَّحاَبَةِ وَمَنْ بَعْدَ هُمْ 
Artinya : “Hadist yang diriwayatkan dari sahabat, tetapi bilangannya tidak mencapai ukuran bilang mytawatir, kemudian baru mutawatir setelah sahabat dan demikian pula setelah mereka”. [2] 
b. Contoh Hadist Masyhur : حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ وَإِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَاعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ يَدِهِوَ لِسَانِهِ 
Artinya : “Seorang muslim adalah seorang menyelamatkan muslim lainnya dari tangannya dan lisannnya”. [3] 
2. Hadist Ghairu Masyhur 
Para ulama ahli hadis menggolongkan hadis gairu masyhur menjadi aziz dan gharib. 
a. Hadis Aziz 
Kata aziz berasal dari azza-ya’izzu berarti la yakadu yajadu atau qalla wanandar (sedikit atau jarang adanya) atau berasal dari azza-ya’azzu berarti qawiya (kuat). Adapun kata aziz menurut istilah yaitu, hadis yang perawinya kurang dari dua orang dalam semua thabaqat sanad. Contoh hadis aziz adalah sebagai berikut :
 أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ 
Artinya : (DARIMI - 2623) : Telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dari Anas ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. 
b. Hadis Gharib 
Gharib menurut bahasa berarti al-munfarid (menyendiri) atau al-ba’id an aqaribihi (jauh dari kerabatnya). Ada juga yang menyatakan bahwa hadis gharib adalah hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang menyendiri dalam periwayatannya, tanpa ada orang lain yang meriwayatkan. [4] Contoh hadis gharib adalah sebagai berikut :
 حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ هُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ 
Artinya : (BUKHARI - 3609) : Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Hammad, putra dari Zaid, dari Yahya dari Muhammad bin Ibrahim dari 'Alqamah bin Waqash berkata, aku mendengar 'Umar radliallahu 'anhu berkata, aku mendengar Rasululah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:; "Setiap amal tergantung dengan niat. Maka siapa yang hijrahnya untuk dunia uang ingin didapatkannya atau untuk seorang wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan, dan barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya". [5] 

2.2 Pembagian Hadist dari segi kualitas 
 Dilihat dari kualitasnya, hadist terbagi menjadi tiga, yaitu Shahih, Hasan dan Dhaif. 
1. Hadist Shahih 

a. Pengertian Hadist Shahih 
Dari segi bahasa Shahih berarti dhiddus saqim, yaitu lawan kata dari sakit.Sedangkan dari segi istilahnya, hadistt shahih adalah hadistt yang sanadnyabersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabit dari sejak awalhingga akhir sanad, tanpa adanya syadz dan illat.
 اَماَّ الْحَدِ ىْتُ الصَّحِىْحُ فهُوَ الْحَدِ ىْثُ الْمُسْنَدُ اَلَّذِىْ ىَتصِلُاِسْناَدُهُ بِنَقْدِلِ الْعضدْلِ الضَّا بِطِ عَنِ الْعَدْ لِ الضَّا بِطِ اِلَ مُنْتحاَ هُ وَلاَ ىَكُوْنُ شاَذًا وَلاَ مُعلَّلاَ 
Artinya : “Adapun hadist shahih ialah hadist yang sanadnya bersambung (sampai kepada Nabi), diriwayatkan oleh (perawi) yang adil dan dhabit sampai akhir sanad, tidak ada kejanggalan dan berillat”. [6]

b. Contoh hadist shahih : contoh hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari:
 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ شُبْرُمَةَ ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي ؟ قَالَ : أُمُّكَ . قَالَ : ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : ثُمَّ أُمُّكَ . قَالَ : ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : ثُمَّ أُمُّكَ . قَالَ : ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : ثُمَّ أَبُوك 
Contoh lain dari hadis shahih :
 حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص.م قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّوْرِ "(رواه البخاري) 
Artinya : " Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin yusuf ia berkata: telah mengkhabarkan kepada kami malik dari ibnu syihab dari Muhammad bin jubair bin math'ami dari ayahnya ia berkata: aku pernah mendengar rasulullah saw membaca dalam shalat maghrib surat at-thur" (HR. Bukhari, Kitab Adzan).” 
Analissi dari hadis tersebut adalah : 
1. Sanadnya bersambung karena semua rawi dari hadits tersebut mendengar dari gurunya. 
2. Semua rawi pada hadits tersebut dhobit 
3. Tidak syadz karena tidak ada pertentangan dengan hadits yang lebih kuat serta tidak cacat. [7] 

2. Hadist Hasan 
a. Pengertian Hadist Hasan
 الحَدِ يْثُ الحَسَنُ هُوَالحَدِيْثُ الَّذِى اِتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقْلِ عَدْلٍ خَفَّ ضَبْطُهُ غَيْرُ شاَذٍّ وَلاَ مُعَلَّلٍ 
Artinya : “Hadis hasan adalah hadis yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh rawiyang adil, yang rendah tingkat kekeuatan daya hafalnya, tidak rancu dan tidak bercacat”. 
Dari definisi-definisi tersebut di atas dapat dikatakan bahwa hadist hasan hampir sama dengan hadist shahih, hanya saja terdapat perbedaan dalam soal ingatan perawi. 
Pada hadist shahih, ingatan atau daya hafalannya harus sempurna, sedangkan pada hadist hasan, ingatan atau daya hafalannya kurang sempurna. Dengan kata lain bahwa syarat-syarat hadist hasan dapat dirinci sebagai berikut : 
a. Sanadnya bersambung 
b. Perawinya adil 
c. Perawinya dhabit, tetapi ke dhabit-tanyaa di bawah ke dhabitan perawi hadist hasan 
d. tidak terdapat kejanggalan (syadz) 
e. tidak ada illat (illat) [8] 

b. Contoh hadist hasan :
 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ عَلَى الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَغْتَسِلُوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلْيَمَسَّ أَحَدُهُمْ مِنْ طِيبِ أَهْلِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَالْمَاءُ لَهُ طِيبٌ 
Artinya: “Berkata Ali ibn Hasan Al Kufiy, berkata Abu Yahya Isma’il ibn Ibrahim At Taimiy, dari Yazid ibn Abi Ziyad, dari Abdurrahim ibn Abi Laila, dari Al Bara’i ibn Ngazib berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Adalah hak bagi orang-orang Muslim mandi di hari Jum’at. Hendaklah mengusap salah seorang mereka dari wangi-wangian keluarganya. Jika ia tidak memperoleh, airpun cukup menjadi wangi-wangian.” [9] 

3. Hadist Dhaif 
a. Pengertian Hadist 
Dhaif Kata dhaif menurut bahasa bararti lemah, sebagai lawan dari kata kuat. Maka sebutan hadist dhaif dari segi bahasa berarti hadist yang lemah atau hadist yang tidak kuat. Secara istilah, diantara para ulama terdapat perbedaan rumusan dalam mendefinisikan hadist dhaif ini. Akan tetapi, pada dasarnya, ini isi dan maksudnya adalah sama.
 ماَ لمْ ىُوْ جَدْ فِىْهِ شُرُ وْطُ الصَّحَّةِ وَلاَ شُرُوْطُ الْحسَنِ 
Artinya : “hadist yang didalamya tidak terdapat syarat-syarat hadist shahih dan syarat-syarat hadist hasan”. [10] 
b. Contoh hadist dhaif :
 مَنْ ناَمَ بَعْدَاْلعَصْرِ فَآجْتَلَسَ عَقْلُهُ فَلاَ يَلُوْ مَنَّ اِلاَّ نَفْسَهُ 
Artinya : “Barangsiapa tidur sesudah ashar kemudian akalnya terganngu maka jamgan menyalakan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri”. [11] 
Hadis ini merupakan hadis dha’if. Karena perawinya tidak adil, tidak dhabit, dan ada kejanggalan dalam matan. 

 BAB III PENUTUP

 3.1 Simpulan .
Pembagian hadits bila ditinjau dari kuantitas sanadnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad. Sedangkan hadis bila di tinjau dari kualitas sanadnya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu hadits shahih, hadits hasan, dan hadits dhaif. 
3.2 . Saran
Setelah penulis menguraikan kesimpulan diatas maka penulis sangat membutuhkan saran-saran dari pembaca, yang mana dari saran tersebut dapat membantu adanya perbaikan makalah ini. Dan disarankan kepada semua pembaca untuk mencari informasi-informasi mengenai pembagian hadits baik dari segi kuantitas maupun kualitas. 
DAFTAR PUSTAKA
Mudasir.Ilmu Hadist.Bandung:CV Pustaka Setia.1999
Dr.Nuruddin ‘Itr.Ulumul Hads.Bandung.PT Remaja Rosdakarya.2012
M.Nashiruddin Al-Albani.Silsilah Hadts Dhaif dan Maudhu’.Jakarta:Gema Insani.1995
http://mugnisulaeman.blogspot.com/2013/03/makalah-hadits-shahih-hasan-dan-dhaif.html
http://muslimdaf.blogspot.com/2012/03/contoh-macam-hadist-ahad.html ________________________________________
1) Drs.H.Mudasur.Ilmu Hadist.Bandung: CV Pustaka Setia.1999.hal 113
2) Drs.H.Mudasir.Ilmu Hadis.Bandung:CV.Pustaka Setia.1999.Hal127
3) Blog academia.edu.Pembagian hadis berdasarkan sanadnya.
4) Dr.H.Mudasir.Ilmu Hadis.Bandung:CV.Pustka Setia.1999 hal 127
5) http://muslimdaf.blogspot.com/2012/03/contoh-macam-hadist-ahad.html
6) Ibid hal 144
7) http://mugnisulaeman.blogspot.com/2013/03/makalah-hadits-shahih-hasan-dan-dhaif.html
8) Dr.Nuruddin ‘Itr.Ulumul Hadis.Bandung:PT.RemajaRosdakarya.2012.hal 266
9) Blog academia.edu.Pembagian Hadis dari segi kuantitas dan kualitas sanad
10) Drs.H.Mudasir.Ilmu Hadis.Bandung:CV.Pustaka Setia.1999 Hal 156
11) M.Nashiruddin al-Albani.Silsilah Hadts Dhaif dan Maudhu’.Jakarta:Gema Insani.1995 hal 57

Studi Al-quran Nuzul Al-Quran dan Sejarah Pemeliharaan Al-Quran

Allah SWT telah menurunkan al-Qur’an sebagai satu mukjizat yang membuktikan kerasulan Nabi Muhammad SAW dan kewujudan Allah SWT dengan segala sifat-sifat kesempurnaannya. Membaca al-Qur’an serta menghayati dan mengamalkannya adalah satu ibadat. Al-Qur’an menurut bahasa ialah bacaan atau yang dibaca. Al-Qur’an adalah “mashdar” yang diartikan dengan arti isim maf’ul, yaitu “maqru = yang dibaca.” Menurut istilah ahli agama (‘uruf Syara’), ialah “Nama bagi kalamulloh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w yang ditulis dalam mashaf”. Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab yang dipelajari, dibaca dengan berbagai macam lirik dan lagu serta diriwayatkan oleh banyak orang yang menurut adat mustahil mereka sepakat berbohong. Dengan demikian Al-Qur’an telah terpelihara keotentikannya, tidak ada satu surat, satu ayat atau satu huruf pun yang berubah dari redaksi aslinya sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., sampai sekarang. Meskipun semua kitab Al-Qur’an terbakar, ataupun hilang, ayat-ayat Al-Qur’an tidak akan ikut hilang karena redaksi Al-Quran telah dihafal oleh ribuan umat muslim di seluruh dunia. Al-Qur’an adalah sebuah keajaiban yang luar biasa yang diberikan Allah SWT., kepada Nabi-Nya yang mulia. Kemudian diteruskan kepada umat yang beriman untuk dijadikan pedoman yang abadi dalam kehidupan. Oleh karena itu menjadi tanggung jawab umat Islam untuk senantiasa memelihara Al-Qur’an. 
Rumusan Masalah 
1. Apa yang dimaksud dengan Nuzul Al-Qur’an ? 
2. Apa saja Tahap dan Fase Nuzul Al-Qur’an ? 
3. Apa hikmah dari Nuzul Al-Qur’an 
4. Apa yang dimaksud dengan Pemeliharaan Al-Qur’an ? 
5. Bagaimana Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Rasulullhah, Sahabat, Tabi’in sampai dengan sekarang ?
A. Pengertian Nuzulul Qur’an 
Dari segi bahasa, perkataan ‘Nuzul’ berarti menetap di satu tempat atau turun dari tempat yang tinggi. Kata perbuatannya ‘nazala’ membawa maksud ‘dia telah turun’ atau ‘dia menjadi tetamu’. Pengertian Nuzulul Qur’an adalah ”Peristiwa diturunkannya wahyu Allah SWT (AL-Qur’an) kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril as secara bertahap”. 
B. Tahap dan Fase Nuzulul Qur’an 
        Tahap Pertama 
Tahap Pertama, Al-qur’an diturunkan / ditempatkan ke Lauh Mahfudh. Yakni, suatu tempat dimana manusia tidak bisa mengetahuinya secara definitif / pasti. Dalil yang mengisyaratkan bahwa Al-qur’an itu ditempatkan di Lauh mahfudh itu ialah keterangan Firman Allah SWT:
 بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَّجِيْدٌ۞ فِيْ لَوْحٍ مَحْفُوْظٍ ۞ 
 ” Bahkan ( Yang didustakan mereka ) itu ialah al-Qur’an yang mulia yang tersimpan di lauh mahfudh.” ( QS. Al Buruj : 21 – 22 ) 
Tetapi mengenai sejak kapan Al-quran ditempatkan di Lauh mahfudh, dan bagaimana caranya adalah merupakan hal-hal ghaib tidak ada yang mampu yang mengetahuinya, selain dari Allah SWT, Dzat Yang Maha Mengetahui segala hal yang tersembunyi. Namun, mengenai bagaimana cara turunnya Al-qur’an itu ke lauh mahfudh dapat di sistematiskan secara sekaligus keseluruh al-Qur’an itu. 
Tahap Kedua 
Tahap kedua, Al-Qur’an turun dari Lauh Mahfudh ke Baitul Izzah di Langit dunia.Jadi, setelah berada di Lauh Mahfudh, Kitab Al-Qur’an itu turun ke Baitul Izzah di Langit Dunia atau Langit terdekat dengan bumi ini. 
Tahap Ketiga
 Tahapan Ketiga, Al-Qur’an turun dari Baitul Izzah dilangit dunia langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Artinya, baik melalui perantaraan Malaikat Jibril, atau pun secara langsung ke dalam hati sanubari Nabi Muhammad SAW.[1] 
Peristiwa Nuzul al-Qur’an terjadi pada malam Jum’at, 17 Ramadhan, di Gua Hira tahun ke-41 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an merupakan mukjizat yang paling besar yang dikurniakan kepada Nabi Muhammad SAW. Kita hendaklah beriman dan mempercayai isi kandungan al-Qur’an. Beriman dengan al-Qur’an merupakan salah satu dalam Rukun Iman. Sejarah al-Qur’an: Salah satu peristiwa agung dalam sejarah umat Islam ialah turunnya kitab suci al-Qur’an atau disebut Nuzul al-Qur’an. Peristiwa itu dikisahkan dalam Al-Qur’an. 
1. Hiknah Nuzul Al-Qur’an
a. Memantapkan hati
Nabi Ketika menyampaikan dakwah, Nabi sering berhadapan dengan penentang. Turunnya wahyu yang berangsur-angsur itu merupakan dorongan tersendiri bagi Nabi untuk terus menyampaikan dakwah. 
b. Menetang dan melemahkan para penetang Al-Qur’an
Nabi sering berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan sulityang dilontarkan orang-orang musyrik dengan tujuan melemahkan Nabi. Turunnya wahyu yang berangsur-angsur itu tidak sajamenjawan pertanyaan itu, bahkan menetang mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an. Dan tidak ketika mereka tidak mampu memenuhi tantangan itu, hal itu sekaligus merupakan salah satu mukjizat Al-Qur’an.
c. Memudahkan untuk dihapal dan dipahami
Al-Qur’an pertama kali turun ditengah-tengah mayarakat Arab yang ummi,yakni yang tidak memiliki pengetahuan tentang bacaan dan tulisan. Turunnya wahyu seara berangsur-angsur memudahkan mereka untuk memahami dan menghapalkannya.
d. Mengikutu setiap kejadian (yang karenanya ayat-ayat Al-Qur’an) dan melakukan penahapan dalam penetapan syari’at.
e. Membuktikan dengan pasti bahwa Al-Qur’an turun dari Allah Yang Maha Bijaksana. Walaupun Al-Qur’an turun secara berangsur=angsur dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari, secara keseluruhan , terdapat keserasian di antara satu bagian dengan bagian Al-Qur’an yang lainnya. Hal ini tentunya hanya dapat dilakukan Allah yang Maha Bikasana.[2] 
2. Pengertian Pemeliharaan Al-Qur’an 
Pemeliharaan Al-Qur’an terdiri atas dua kata yaitu pemeliharaan dan Al-Qur’an. Pemeliharaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses pembuatan, penjagaan dan perawatan. Sedangkan Al-Qur’an adalah : Kitab suci umat islam yang berisi firman-firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dengan perantaraan Malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan sebagai petunjuk dan pedoman hidup umat manusia. Dari pengertian itu dapat dipahami bahwa yang dimaksud pemeliharaan Al-Qur’an adalah penjagaan kemurnian al-qur’an baik lafadz maupun maknanya mulai dari pertama kali al-qur’an diturunkan sampai masa sekarang dan yang akan dating. Sebenarnya pemeliharaan kemurnian al-qur’an adalah lewat pengumpulannya.[3] 
3. Pemeliharaan AlQur’an pada masa Rasulullah
Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Rasulullah SAW. dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu : 
a. Pemeliharaan Al-Qur’an dalam dada.
Pemeliharaan Al-Qur’an dalam dada sering juga disebut pengumpulan Al-Qur’an dalam arti hifzuhu atau menghafalnya dalam hati. kondisi masyarakat arab yang hidup pada masa turunnya Al-Qur’an adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis karena itu satu-satunya andalan mereka adalah hafalan, mereka juga dikenal sebagai masyarakat yang sederhana dan bersahaja. Kesederhanaan ini yang membuat mereka memiliki waktu luang yang cukup yang digunakan unrtuk menambah ketajaman pikiran dan hafalan. Masyarakat arab waktu itu sangat gandrung lagi membanggakan kesusastraan, mereka membuat ratusan ribu syair kemudian dihafalnya diluar kepala, mereka bahkan melakukan perlombaan-perlombaan dalam bidang ini pada waktu-waktu tertentu. Akan tetapi ketika Al- Qur’an datang dengan langgam bahasa yang sangat memukau, pemberiataan gaib yang terbukti, isyarat ilmiah yang mantap serta keseimbangan bahasa yang jelas mampu mengalahkan syair-syairnya, sehingga mereka mengalihkan perhatian kepada kitab yang mulia ini dengan sepenuh hati menghafal ayat-ayat dan surat-suratnya, kemudian secara perlahan-lahan mereka meninggalkan syair-syairnya karena telah menemukan cahaya kehidupan dalam Al-Qur’an.
Al-Quran diturunkan kepada Nabi yang ummi, maka otomatis untuk memelihara apa yang yang diturunkannya kepadanya haruslah di hafal. Usaha keras Nabi Muhammad SAW., untuk menghafal Al-Qur’an terbukti setiap malam beliau membaca Al-Qur’an dalam shalat sebagai ibadah untuk merenungkan maknanya. Rasulullah sangat ingin segera menguasai Al-Qur’an yang diturunkan, kepadanya belum selesai Malaikat Jibril membacakan ayatnya, beliau sudah menggerakkan lidahnya untuk menghafal apa yang sedang diturunkan, karena takut apa yang turun itu terlewatkan sehingga Allah SWT., menurunkan firman-Nya sebagaimana yang terdapat dalam Q.S. al-Qiyamah (75) : 16-19 sebagai berikut:
 لا تحرك به لسا نك لتعجل به (١٦ إن علينا جمعه و قر ءا نه (١٧ فاء ذا قرءا نه فا تبع قر ءا نه (١٨ ثم إ ن علينا بيا نه(١٩ 
Terjemahnya : Janganlah kamu menggerakkan lidahmu untuk membaca Qur’an karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai mebacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian atas tanggungna kamilah penjelasannya. (Q.S. al-Qiyamah (75) : 16-19).[4] b. Pemeliharaan Al-Qur’an dengan tulisan.
Walaupun Nabi Muhammad SAW., dan para sahabat menghafal ayat-ayat Al-Qur’an secara keseluruhan, namun guna menjamin terpeliharanya wahyu Ilahi beliau tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga tulisan. Sejarah menginformasikan bahwa setiap ada ayat yang turun Nabi Muhammad SAW., memanggil sahabat-sahabat yang dikenal pandai menulis. Rasulullah mengangkat beberapa orang penulis (kuttab) wahyu seperti Ali, Muawiyah, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Ayat-ayat Al-Qur’an mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit-kulit atau tulang-tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga sahabat yang menuliskan ayat-ayat tersebut secara pribadi. Namun karena keterbatasan alat tulis dan kemanpuan sehingga tidak banyak yang melakukannya. Hal lain yang menjadi bukti bahwa Penulisan Al-Qur’an telah ada sejak zaman Rasulullah SAW. 
c. Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Sahabat 
1. Pemeliharaan Al-Qur’an pada Masa Abu Bakar Ketika Abu Bakar menjabat khalifah menggantikan Rasulullah setelah wafatnya, dia menghadapi beberapa kemelut, diantaranya yang terkenal adalah menghadapi orang murtad dimana mereka ingkar untuk membayat zakat. Menghadapi mereka tidak bisa tanggung-tanggung dan bahkan emghadapi mereka ini terpaksa dengan angkat senjata. Dalam menghadapi penduduk Yaman yang ingkat zakat itu perang tidak dapat dielakkan lagi. Peristiwa itu terjadi pada tahun 12 H. Akibat daripertempuran tersebut gugur 70 orang hafiz qur’an dari kalangan umat islam. Kejadian tersebut membuat Umaar khawatir akan kehilangan lebih banyak lagi dari kalanga qari dan huffaz,maka Umar membicarakan hal tersebut kepada khalifah Abu Bakar. Umarberharap agar khalifah memerintahkan umtuk mengumpulkan Al-Qur’an. Dengan alasan tersebut khalifah menyetujui usulan Umar itu. Menanggapi usulan tersebut maka Zaud bin Tsbit ditugaskan oleh Abu Bakar untuk mengumpulkan dan menulis Al-Qur’an. Maka Al-Qur’an yang semula ditulis di tulang-tulang, pelepah pohon kurma, daun kayu, dan lain sebagainya dikumpulkan dan disalin kembali oleh Zaid bin Tsabit. Hasil salinan itu disebut dengan mushaf. Mushaf tersebut diserahkan oleh Zaid bin Tsabit kepada Kalifah Abu Bakar. Oleh Abu Bakar mushaf tersebut disimpannya.[5] 
2. Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Umar bin Khattab
Setelah Abu Bakar wafat, Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah. Demikian juga halnya mushaf, yang dahulunya disimpan oleh Abu Bakar, setelah Umar menjadi khalifah maka mushaf itu disimpan oleh Umar. Pada masa Umar ini tidak sibuk membicarakan Al-Qur’an,tapi lebih difokuskan pada pembangunan ajaran Islam dan wilayah kekeuasaan Islam. Jadi, pada masa ini dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an tidak ditulis lagi, tapi ajaran Al-Qut’an yang lebih dikedepankan. Oleh karena itu,setiap ada masalah Umar selalu mengajak kembali kepad aAl-Qur’an,dengan maksud memperhatikan secara lebih teliti pesan apa yang yang dibawa Al-Qur’an tersebut. Maka rasio manusia mulai berkembang pada masa ini. Al-Qur’an tidak dipahami secara tekstual saja, tapi lebih jauh lagi dipahami secara kontekstual.[6]
3. Pemeliharaan pada masa Usman bin Affan
Pada masa pemerintahan Usman, wilayah Negara Islam telah meluas sampai ke Tripoli Barat, Armenia dan Azarbaijan. Pada waktu itu Islam sudah masuk wilayah Afrika, Syiriah dan Persia. Para hafidz pun tersebar, sehingga menimbulkan persoalan baru, yaitu silang pendapat mengenai qiraat Al-Qur’an. Ketika penyerbuan Armenia dan Azerbaijan dari penduduk Irak, termasuk Hudzaifah bin Al- Yaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara-cara membaca Al-Qur’an. Sebagian bacaan itu bercapur dengan ketidakfasihan, masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaanya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan puncaknya mereka saling mengafirkan. Melihat kenyataan itu, Hudzaifah segera menghadap Utsman dan melaporkan kepadanya apa yang telah di lihatnya Usman segara mengundang para sahabat bermusyawarah mencari jalan keluar dari masalah serius tersebut. Akhirnya dicapai suatu kesepakatan agar Mushaf Abu Bakar disalin kembali menjadi beberapa mushaf untuk dijadikan rujukan apabila terjadi perselisihan tentang cara membaca Al-Qur’an.
Untuk terlaksananya tugas tersebut Usman menunjuk satu tim yang terdiri dari empat orang sahabat, yaitu Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdul Rahman bin Haris bin Hisyam. Hasil kerja tersebut berwujud empat mushaf Al-Qur’an standar. Tiga diantaranya dikirm ke Syam, Kufah dan Basrah, dan satu mushaf ditinggalakan di Madinah untuk pegangan khalifah yang kemudian dikenal dengan al-Mushaf al-Imam. Agar persoalan silang pendapat mengenai bacaan dapat diselesaikan dengan tuntas maka usman memerintahkan semua mushaf yang berbeda dengan hasil kerja panitia yang empat ini untuk dibakar. Dengan usahanya itu usman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga Qur’an dari perubahan dan penyimpangan sepanjang zaman. mushaf yang ditulis dimasa usman inilah yang kemudian menjadi rujukan sampai sekarang.[7] 
d. Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Tabi’in sampai dengan sekarang
Kemutawatiran al-Qur’an (keberuntunan) al-Qur’an itu terjadi dari generasi ke generasi. Nabi menghafal dan membacakan al-Qur’an dihadapan Jibril, kemudian para sahabat ra. Menghafal al-Qur’an sebagaimana yang mereka terima dari Nabi SAW. Pemeliharaan al-Qur’an selanjutnya dilakukan para tabi’in. Para tabi’in mempunyai semangat yang kuat untuk menghafal dan menerima al-Qur’an secara langsung dari para sahabat, meskipun pada masa sahabat al-Qur’an telah ditulis. Hal ini terjadi pada setiap generasi setelah zaman sahabat dan tabi’in. Ini bukti nyata firman Allah:
 إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ 
 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”(QS. Al-Hijr: 9) 
Kemutawatiran itu telah menjadikan al-Qur’an yang qath’I (pasti). Sementara itu setiap sanad mutawatir (berjalan secara beruntun) sehingga tidak mungkin diragukan lagi keabsahannya. Pemeliharaan Al-Qur’an di Masa Sekarang Meskipun Al-Qur’an telah dibukukan pada masa Usman bin Affan dan semua umat islam menyakini bahwa di dalamnya tidak ada perubahan dari apa yang telah diturunkan kepada Rasulullah SAW pada 14 abad yang lalu. 

 PENUTUP 
 Simpulan 
Dari segi bahasa, perkataan ‘Nuzul’ berarti menetap di satu tempat atau turun dari tempat yang tinggi. Kata perbuatannya ‘nazala’ membawa maksud ‘dia telah turun’ atau ‘dia menjadi tetamu’. Pengertian Nuzulul Qur’an adalah ”Peristiwa diturunkannya wahyu Allah SWT (AL-Qur’an) kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril as secara bertahap”.
Pemeliharaan Al-Qur’an adalah proses pengumpulan, penulisan dan pembukuan serta perawatan ayat-ayat Al-Qur’an sehingga menjadi sebuah kitab seperti yang kita baca sekarang. pada dasarnya istilah-istilah yang digunakan mempunyai maksud yang sama, yaitu proses pemeliharaan Al-Qur’an yang dimulai pada turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw., kemudian disampaikan kepada para sahabat untuk dihafal dan ditulis sampai dihimpunnya catatan-catatan tersebut dalam satu mushaf yang utuh dan tersusun secara tertib.
Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Rasulullah SAW. dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu : 
 1. Pemeliharaan Al-Qur’an dalam dada. Pemeliharaan Al-Qur’an dalam dada sering juga disebut pengumpulan Al-Qur’an dalam arti hifzuhu atau menghafalnya dalam hati. kondisi masyarakat arab yang hidup pada masa turunnya Al-Qur’an adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis karena itu satu-satunya andalan mereka adalah hafalan, mereka juga dikenal sebagai masyarakat yang sederhana dan bersahaja. Kesederhanaan ini yang membuat mereka memiliki waktu luang yang cukup yang digunakan unrtuk menambah ketajaman pikiran dan hafalan. 
2. Pemeliharaan Al-Qur’an dengan tulisan.
Walaupun Nabi Muhammad SAW., dan para sahabat menghafal ayat-ayat Al-Qur’an secara keseluruhan, namun guna menjamin terpeliharanya wahyu Ilahi beliau tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga tulisan.
Sejarah menginformasikan bahwa setiap ada ayat yang turun Nabi Muhammad SAW., memanggil sahabat-sahabat yang dikenal pandai menulis. Rasulullah mengangkat beberapa orang penulis (kuttab) wahyu seperti Ali, Muawiyah, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Ayat-ayat Al-Qur’an mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulit-kulit atau tulang-tulang binatang.
Sebagian sahabat ada juga sahabat yang menuliskan ayat-ayat tersebut secara pribadi. 
1. Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar
Tragedi berdarah di peperangan Yamamah yang menggugurkan 70 orang sahabat yang hafidz Qur’an dicermati secara kritis oleh Umar bin Khattab, sehingga muncullah ide brilian dari beliau dengan mengusulkan kepada Abu Bakar agar segera mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an yang pernah ditulis pada masa Rasulullah SAW.
2. Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Umar bin Khattab pada masa ini dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an tidak ditulis lagi, tapi ajaran Al-Qut’an yang lebih dikedepankan. Oleh karena itu,setiap ada masalah Umar selalu mengajak kembali kepad Al-Qur’an,dengan maksud memperhatikan secara lebih teliti pesan apa yang yang dibawa Al-Qur’an tersebut.
3. Pemeliharaan Al-Qur’an Pada masa Usman bin Affan
Wilayah Negara Islam telah meluas sampai ke Tripoli Barat, Armenia dan Azarbaijan. Pada waktu itu Islam sudah masuk wilayah Afrika, Syiriah dan Persia. Para hafidz pun tersebar, sehingga menimbulkan persoalan baru, yaitu silang pendapat mengenai qiraat Al-Qur’an.
4. Pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Tabi’in sampai dengan sekarang 
Mempunyai semangat yang kuat untuk menghafal dan menerima al-Qur’an secara langsung dari para sahabat, meskipun pada masa sahabat al-Qur’an telah ditulis. Hal ini terjadi pada setiap generasi setelah zaman sahabat dan tabi’in. Masa sekarang senantiasa memelihara dan menjaga keotentikan al-Qur’an dengan cara berusaha menghafal, mempelajari dan mengkaji Al-Qur’an, serta memahami makna yang sebenarnya berdasarkan kaidah tafsir, sehingga setiap perubahan isi Al-Qur’an serta adanya upaya untuk menafsirkan tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya dapat diketahui. Dengan mengetahui secara mendalam tentang pengumpulan al-Qur’an, serta memeliharanya dengan menghafal dan memahami maknanya, maka kita akan menjadikannya pedoman yang diyakini kebenarannya karena sebuah kitab suci harus dipertanggung jawabkan keotentikannya sehingga tetap bisa dianggap sebagai kitab suci dan untuk membuktikan keotentikan sebuah kitab suci salah satu caranya adalah dengan mengetahui sejarah turun ataupun cara pengumpulannya serta untuk mengetahui sampai dimana usaha para sahabat setelah Rasululllah saw. wafat, dalam memelihara dan melestarkan Al-Qur’an.
Saran
Setelah membaca dan mengerti tentang isi makalah ini kami menyarangkan agar dapat diaplikasikan dilingkungan masyarakat dengan baik dan dan benar, dan dengan makalah ini semoga dapat menjadi motivasi agar dapat menimbulkan pemikiran-pemikiran yang lebih baik lagi. 
DAFTAR PUSTAKA
Al Qaththan Syaikh Manna’, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar,2006).
Kholis Nur, Pengantar Studi Al-Qur’an Dan Al-Hadits,(Yogyakarta: Penerbit Teras, 2008).
Anwar, Abu, Ulumul Qur’an, Pekanbaru:Amzah, 2002
Yusuf, Kadar,Studi Al-Qur’an, Jakarta:Amzah, 2012
Anwar, Rosihan.Ulumul Al-Qur’an.Bandung:CV Pustaka Setia.20012
[1] Kadar M.Yusuf Studi Al-Qur’an Jakarta:Amzah, 2012, hlm16
[2] Prof.Dr. Rosihan Anwar,ulumul al-qur’an.Bandung:CV.Sustaka Setia.2012.hlm36-37
[3] Kholis Nur, Pengantar Studi Al-Qur’an Dan Al-Hadits,Yogyakarta: Penerbit Teras, 2008, hal. 75
[4] Kholis Nur, Pengantar Studi Al-Qur’an Dan Al-Hadits,Yogyakarta: Penerbit Teras, 2008,hal. 76
[5]Abu Anwar Ulumul Qur’an Pekanbaru:Amzah, 2002, hal 25
[6]Ibid, hal 26
[7]Al Qaththan Syaikh Manna’, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar ,2006, hal.162 dan 163

11 Agustus 2016

Peningkatan Akreditasi PTKIS Riau

Dalam upaya meningkatkan daya saing PTKIS wilayah riau, Kopertais wilayah XII riau Kepri yang menaungi PTKIS seluruh riau mengadakan workshop peningkatan akreditasi prodi PTKIS yang berlangsung pada 8-10 Agustus 2016 yang bertempat di Hotel winstar, Jl. Moh. Ali Pekanbaru.
Sebagai pembicara pada acara tersebut Prof, Akhmad Mujahidin, Asesor yang juga sebagai Guru besar UIN Suska Pekanbaru.
Ada 76 prodi yg berada dibawah naungan kopertais 12 riau kepri, 13 prodi terakreditasi B 31 prodi akreditasi C,  31 prodi masih belum jelas dan 14 prodi yang masa akreditasinya telah habis masa berlakunya.
Diharapkan dengan adanya workshop tersebut akan memacu seluruh prodi untuk meningkatkan kualitas akreditasi mereka.
Disamping itu, prodi harus menata kembai sistem pengelolaan dan pendataan administrasi secara lengkap. Untuk PTAIS yang selalu mendapatkan akreditasi C diperbolehkan melakukan pendampingan dari pihak BAN PT.

29 Mei 2016

Masjid Pelalawan

Sambil menunaikan Shalat dhuhur, Singgah sebentar menikmati indahnya Masjid yang berada di Pelalawan. karena satu arah perjalanan ke Pekanbaru kalau dari Arah Indragiri Hulu. pilih rute yang melewati kanttor bupati pelalawan ya...
 Pelalawan merupakan salah satu Kabupaten di provinsi Riau. Kabupaten yang belum lama terbentuk namun menunjukkan perkembangan pembangunan yang cukup impresif. Termasuk pembangunan dibidang ke agamaan. Kabupaten Pelalawan beribukota di Pangkalan Kerinci, Kawasan yang dikembangkan menjadi pusat pemerintahan kabupaten termasuk pusat kegiatan aktivitas Islam di kabupaten tersebut dengan proyek pembangunan islamic Center di Pangkalan Kerinci. Islamic center Kabupaten Palalawan sudah mulai dibangun sejak tahun 2007-2008 dengan anggaran proyek senilai Rp. 6,1 miliar pada tahun 2007-2008. Dalam perjalanannya, pembangunannya tak kunjung selesai. Bahkan pada tahun 2009, anggarannya kembali ditambah sekitar Rp3,6 miliar. Pembangunan proyek pembangunan Islamic Center ini sudah dimulai sejak masa pemerintahan Bupati Asmun namun belum juga usai hingga masa pemerintahan bupati berikutnya, HM. 
Buat yang pengen menikmati indahnya Masjid Pelalawan silahkan, yang dari arah pekanbaru tepat berada di kanan jalan, sedangkan jika dari arah Indragiri Hulu pas di sebelah Kiri jalan. gak nyesel deh..