As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

28 Agustus 2017

Mengambil Ibrah dari Kisah Qurban terhadap Kesalehan Sosial

Hikmah Qurban, Ash-Shaffat 100-113
Kajian Historis tentang Peristiwa yg dialami Ibrahim As dan Putranya Isma'il As.
1. Ibrahim seorang Nabi dan Rasul, memiliki istri bernama Sarah.
2. Ibrahim As sangat menginginkan keturunan untuk menruskan perjuangannya.
3. Umur Ibrahim As, dan Sarah semakin Udzur masih belum mendapatkan keturunan. (sehingga kecil kemungkinan memiliki keturunan)
4. Sarah meminta agar Ibrahim As untuk menikahi budaknya bernama Hajar.
5. Dari Siti Hajar, Ibrahim mendapatkan Putra Pertamanya bernama Isma'il As.
6. Sifat manusiawi seorang perempuan muncul dari Sarah, cemburu dan meminta agar Ibrahim As membawa mereka pergi.
7. Sampai lah Isma'il dan Hajar di Makkah, dan turunlah Perintah penyembelihan tersebut dst. (anda bisa baca Surat Ash-Shaffat 100-113.
................
Pemikiran
1. Kondisi psikologis seorang ayah yg sudah sangat tua, yg sangat merindukan seorang anak, dan mendapatkan anugerah terbesar tersebut. (sungguh tak dapat dilukiskan kegembiraannya)
2. Dalam kondisi seperti itu Justru diuji Allah SWT, Untuk menyembelih anaknya yg bertahun2 ia nantikan.
3. Betapa berat ujian tersebut. Tapi Ibrahim melaksanakan perintah Allah dengan Ikhlas semata-mata bentuk/wujud kepatuhannya pada perintah Allah.
4. Ibrahim As, mengofirmasi perihal perintah tersebut pada Isma'il (yg sudah beranjak remaja), dan Isma'il ikhlas untuk itu. (maka Isma'il As termasuk Nabi yg mendapat gelar Shabirin setelah Idris As dan Zulkifli As)-(baca Al-Anbiya': 85)
..............
Hikmah yg dapat dijadikan pelajaran
1. Sebagai manusia dgn berbagai kesibukan dunia dan berbagai macam aktifitas, hendaknya melakukannya dgn sabar dan ikhlas.
2. Allah pasti mengganti/mebalas/memberi imbalan segala usaha yg dilandasi kesabaran dan keikhlasan.
3. Allah menepati janjiNya, pasti atas org2 yang menggantungkan hidupnya semata-mata pada Allah Azza wajal.
4. (agak keluar dari pembahasan) Jika takut untuk menikah (ibadah) karena takut tidak makan, maka pipertanyakan keimanannya, sedangkan Allah menjanjikan rizki bagi mereka yg menikah.
وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (٣٢)
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(Qs. an-Nur : 32)
...........
Bagaimana jika yg takut justru orang tua atau calon mertua?
:-) Hehehehehe.....
Takut kalau di"sana" susah cari kerja
Kalau disini gampang.
Kalau belum mapan mau kasih makan apa.
Dan masih banyak alasan lainnya, mulai dari yg harus PNS lah, harus anggota polisi atau TNI, harus punya ini dan itu dsb.
.....
Hendaknya orangtua memberi pemahaman sesuai keimanannya, berserah diri, sabar, dan meletakkan segalanya pada Allah seperti Ibrahim As.
Bagi anak, hendaknya meluruskan niat menikah semata-mata untuk beribadah, mendekatkan diri pada Allah, taqarrub (qurban) ilallah.
........
PR besar buat saya adalah:
Menjelaskan ini pada orangtua dan calon mertua!
WKwkwkwkwk..
(sei. Baung, 28 Agustus 2017)

Mengambil Hikmah dari yang namanya "SEJARAH"

Mata udah sepet baca sejarah Peradaban islam asia tenggara, mulai dari siapa yg membawa, daerah mana yg disinggahi, siapa penerusnya, pada masa siapa, kapan, De eL eL, Tapi rasa penasaran (kepo) adalah bawaan alamiah manusia.. :-D
Mulai dari Dr. Badri, prof. Musyrifah sampai Prof. Azyumardi Azra. 
Okeh... 
Yang ingin saya katakan disini, tidak ada hubungannya dengan sejarah, tapi mengambil hikmah dari "sejarah" it self. 
..... 
Contoh: 
Saya bercerita pengalaman pribadi saya bahwa dulu saya pernah jajan dikantin sekolah (SD) tidak membayar jajanan yg saya ambil, kemudian saya pernah saat masih usia Sekolah Dasar mencret atau terkencing di celana, karena tidak berani mengutarakan "hajat" pada guru yg sedang menjelaskan pelajaran di dalam kelas. 
20 tahun kemudian saya menjadi dosen dan memiliki mahasiswa, apakah sejarah saya bisa berubah.? Justru saya tidak akan berada disini tanpa sejarah tersebut. 
...... 
1. Respon anak kecil
Ketika anak kecil yg mendengarkan cerita tersebut, pertama kali yg mereka lakukan adalah tertawa dan mencela. 
Yg mereka tahu bahwa orang seperti saya pernah mencret dan kencing di celana. YG mereka tahu pengalaman saya adalah sesuatu yg memalukan. 
Betapapun kerasnya saya menjelaskan tentang usia saya saat itu, nalar anak2 seusia saya saat itu, kondisi psikologis saya saat itu, siapa guru yg sedang menjelaskan di kelas saat itu dst.. 
Tetap, "MEMALUKAN" (baca pakai gaya Rhoma) :-D
2. Respon mahasiswa (akademisi)
Mungkin jika mahasiswa/akademisi punya respon yg sama seketika, namun mereka akan berfikir tentang kebenarannya, dan memahami penjelasan saya tentang usia saya saat itu, nalar anak2 seusia saya saat itu, kondisi psikologis saya saat itu, siapa guru yg sedang menjelaskan di kelas saat itu, kondisi alam sekolah saya saat itu, isu "penculikan anak" yg berkembang saat itu dst..
.........
KESIMPULAN
Bagaimanapun, wilayah nusantara yg kita diami saat ini yg bernama INDONESIA, memiliki sejarah panjang. Lika liku sejarah kelam dan kejayaan. Bagaimanapun semua telah terjadi. Mulai dari ilmu pelet hingga rawarontek, mulai kisah GEmblak nya Suromenggolo hingga perang diponegoro, mulai Sekolah Rakyat hingga Universitas, mulai Sarekat Islam sampai Partai Komunis, mulai wali songo sampai kisah syeh sitijenar dsb.. (lanjutkan sendiri)
...... 
Ketika kita yg hidup jauh setelah semua itu terjadi, dimana kita tidak tahu persis tentang konflik yg terjadi, kondisi psikologis masyarakat, penguasa kala itu baik militer, ekonomi, pendidikan, budaya, agama, pemahaman masyarakat saat itu dst.. 
Terus kita bisanya Mencela tanpa memahami yg terjadi saat itu, apa bedanya dengan Anak Kecil. 
Apa bedanya Alim dan Jahil (bhs arab)
Apa bedanya Berilmu dan bodoh. 
......... 
Hehehe.. Keep Calm jernihkan hati sucikan jiwa. 
Perbanyak إقرأ "Baca"
قل هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون
Budayakan baca dengan tanda baca dan Ekspresi yg benar. 

16 Agustus 2017

Syeikh Nawawi Al-Bantani

Nama Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani sangat terkenal di kalangan masyarakat pesantren di Jawa. Beliau juga dikenal sebagai gurunya para Ulama Indonesia dan merupakan tokoh Ulama besar yang hasil karyanya menjadi rujukan utama berbagai pesantren di tanah air, bahkan di luar negeri. Beliau adalah seorang Ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab dalam bidang-bidang yang meliputi fiqih, tauhid, tasawuf , tafsir, dan hadits. Nama beliau sering di nisbahkan al Bantani karena beliau berasal dari daerah Banten, Indonesia.
Masa kecil dan Pendidikannya.
Nama lengkap beliau adalah Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi. Beliau lahir pada tahun 1230 H atau 1815 M di Kampung Tanara, kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten (Sekarang Kampung Pesisir, desa Pedaleman Kecamatan Tanara depan Mesjid Jami’ Syaikh Nawawi Bantani). Beliau merupakan keturunan ke 12 Sultan Banten, Maulana Hasanuddin Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Nasab beliau melalui jalur ini juga sampai kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Sejak kecil, dibawah didikan sang ayah, Umar bin Arabi, seorang ulama di Banten, Imam Nawawi hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Semenjak kecil beliau memang terkenal kecerdasannya, sehingga dengan mudah beliau dapat menyerap pelajaran yang telah diberikan ayahnya sejak umur 5 tahun. Ketika berusia 8 tahun, ayahnya mengirimkan beliau untuk berguru kepada temannya yang juga seorang ulama Banten, KH Sahal, dan seorang ulama di Purwakarta, KH Yusuf. Konon di usianya yang belum lagi mencapai 15 tahun, Syaikh Nawawi telah mengajar banyak orang. Beliau mencari tempat di pinggiran pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Pada usia yang ke 15 tahun, beliau berangkat menunaikan haji ke Makkah dan berguru kepada sejumlah ulama terkenal di sana.
Guru - Gurunya.
Selain berguru langsung kepada ayahnya, Syaikh Umar bin Arabi serta KH Sahal dari Banten, dan KH Yusuf dari Purwakarta, di tanah suci Makkah beliau juga berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Makkah, seperti Syaikh Khâtib al-Sambasi, Syaikh Abdul Ghani Bima, Syaikh Yusuf Sumbulaweni, Syaikh Abdul Hamîd Daghestani, Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Muhammad Khatib Hambali, dan Syaikh Junaid Al-Betawi. Di antara guru-guru yang paling berpengaruh dalam terbentuknya karakter beliau adalah Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Junaid Al-Betawi dan Syaikh Ahmad Dimyati, Ketiganya merupakan Ulama terkemuka di Mekah. Selain itu ada juga dua ulama lain yang berperan besar mengubah alam pikirannya, yaitu Syaikh Muhammad Khatib dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, ulama besar di Madinah.
Kepulangannya ke Tanah Air.
Setelah tiga tahun lamanya beliau menggali ilmu dari Ulama-ulama Makkah, beliau memutuskan kembali ke tanah air. Namun setibanya di tanah air, beliau menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan penindasan dari Pemerintah Hindia Belanda. Kondisi seperti ini juga tidak menguntungkan pengembangan ilmunya, karena hampir semua ulama Islam pada saat itu juga mendapat tekanan dari penjajah Belanda. Hal itu membuat Syaikh Nawawi akhirnya terpaksa menyingkir kembali ke Negeri Makkah dan meneruskan menuntut ilmu di sana. Namun selama masih di tanah air, beliau juga sempat ikut mengobarkan gelora jihad melawan penindasan penjajah Belanda. Beliau juga menularkan semangat Nasionalisme dan Patriotisme di kalangan Rakyat Indonesia.
Kembali ke Makkah.
Begitu sampai di Makkah, beliau segera kembali memperdalam ilmunya kepada guru-gurunya. Beliau tekun belajar selama 30 tahun, sejak tahun 1830 hingga 1860 M. Sampai akhirnya beliau memantapkan hati untuk mukim di tanah suci dan menetap di Syi'ib Ali, Makkah. Beliau mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula muridnya cuma puluhan, tetapi makin lama jumlahnya kian banyak. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Di Makkah, Syaikh Nawawi juga giat menghadiri majelis ilmu di Masjidil Haram. Hingga kemudian seorang imam masjid utama tersebut, Syaikh Ahmad Khatib Sambas Al-Minangkabawi meminta Syaikh Nawawi untuk menggantikan posisinya sebagai Imam Masjidil Haram. Sejak itulah beliau dikenal dengan nama Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi, artinya Nawawi dari Banten, Jawa.

Nama Syaikh Nawawi di Makkah semakin dikenal sebagai ulama yang piawai dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih, tafsir, dan tasawwuf. Bahkan tidak hanya di kota Makkah dan Madinah saja nama beliau dikenal, bahkan di negeri Mesir nama beliau masyhur di sana. Syaikh Nawawi bahkan mendapat gelar al-Sayyid al-‘Ulama al-Hijâz (Tokoh Ulama Hijaz). Selain itu, kalangan Intelektual masa itu juga menggelarinya sebagai al-Imam wa al-Fahm al-Mudaqqiq (Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam). Kefaqihannya dalam ilmu agama pun membuatnya dijuluki Nawawi kedua, maksudnya penerus dari Ulama dunia terkenal, Imam an-Nawawi, seorang Ulama besar dari Damaskus, Syria. Sementara para Ulama Indonesia menggelarinya sebagai Maha Guru Ulama Indonesia dan Bapak Kitab Kuning Indonesia.
Disamping menjadi Imam Masjidil Haram, Syaikh Nawawi juga menjadi pengajar dan membuka majelisnya sendiri di Masjidil Haram. Selain itu, beliau juga menyelenggarakan halaqah (diskusi ilmiah) bagi murid-muridnya yang datang dari berbagai belahan dunia. Ketawadhuan Syaikh Nawawi yang disertai dengan kedalaman ilmunya membuat setiap pengajian beliau selalu ramai dipenuhi oleh para pelajar. Bahkan tercatat ada sekitar 200 pelajar yang setia untuk menghadiri majlis ilmunya di Masjidil Haram. Beberapa di antara muridnya merupakan pemuda asal Indonesia, Salah satu muridnya, yakni KH Hasyim Asy'ari pendiri Nadlatul Ulama (NU).
Meskipun bermukim di Makkah, Syaikh Nawawi masih tetap mengobarkan nasionalisme dan patriotisme di kalangan para muridnya yang biasa berkumpul di perkampungan Jawa di Makkah. Di sanalah beliau menyampaikan perlawanannya lewat pemikiran-pemikirannya. Kegiatan ini tentu saja membuat pemerintah Hindia Belanda berang. Tak ayal, Pemerintah Belanda pun mengutus Snouck Hourgronje ke Makkah untuk menemui beliau. Dari beberapa pertemuan dengan Syaikh Nawawi, Orientalis Belanda itu mengambil beberapa kesimpulan. Menurutnya, Syaikh Nawawi adalah Ulama yang ilmunya dalam, rendah hati, tidak congkak, bersedia berkorban demi kepentingan agama dan bangsa.

Murid - Muridnya.
Murid-murid Syaikh Nawawi datang dari berbagai penjuru dunia. Banyak diantara murid-muridnya yang berasal dari Indonesia kemudian hari juga menjadi ulama besar, di antaranya yaitu K.H. Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdhatul Ulama), K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), K.H. Khalil Bangkalan, K.H. Asnawi Kudus, Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri Sempur, Plered, Purwakarta, K.H. Arsyad Thawil, dan lain-lainnya. 
Karya - Karyanya.
Syekh Nawawi mengabdikan hidupnya untuk mengajar. Beliau terkenal giat menulis dan menghasilkan banyak karya. Sampai-sampai, banyak manuskripnya disebarkan bebas kemudian diterbitkan tanpa royalti. Sedikitnya, 34 tulisannya juga masuk dalam Dictionary of Arabic Printed Books. Syaikh Nawawi sangat produktif menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih, meliputi berbagai disiplin ilmu. Selain itu banyak pula karya beliau yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab-kitab klasik. Sebagian dari karya-karya Syaikh Nawawi di antaranya adalah sebagai berikut:

1. al-Tsamâr al-Yâni’ah syarah al-Riyâdl al-Badî’ah
2. al-‘Aqd al-Tsamîn syarah Fath al-Mubîn
3. Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh
4. Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf
5. al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb
6. Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn
7. Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah
8. Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd
9. Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄
10. Qâmi’u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu’bu al-Imân
11. al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd
12. Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah
13. Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah
14. Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm
15. Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts
16. Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid al-Barzanji
17. Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî
18. Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah Maulid Syarif al-‘Anâm
19. Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd
20. Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry
21. Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb
22. Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq
23. Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ
24. al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Îmâniyyah
25. ‘Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain
26. Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits
27. Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd
28. al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-‘Aqîdah
29. Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah
30. Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman
31. al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah
32. al-Riyâdl al-Fauliyyah
33. Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm
34. Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd
35. al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny
36. Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm
37. al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah
38. Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân.

Dari sekian banyak karyanya, tidak sedikit yang kemudian diterbitkan di Timur Tengah. Universitas Al Azhar Kairo juga pernah mengundang syaikh Nawawi karena karya-karyanya juga digemari kalangan akademisi. Buku-bukunya memang tersebar di Mesir. Di Universitas Islam tertua itu, Syaikh Nawawi menjadi pembicara dalam sebuah diskusi ilmiah.

Di Nusantara, Karya-karya beliau menjadi buku wajb di pesantren-pesantren. Bagi komunitas santri, Syaikh Nawawi merupakan mahaguru yang banyak memberikan ilmu mengenai landasan beragama. Apalagi, ia juga merupakan guru dari sang pendiri NU. Sehingga, tak sedikit yang menyebut Syaikh Nawawi sebagai akar tunjang tradisi intelektual ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Karamah-Karamahnya.

Konon, pada suatu waktu pernah beliau mengarang kitab dengan menggunakan telunjuknya sebagai lampu. Saat itu beliau dalam sebuah perjalanan. Karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yakni rumah-rumahan di punggung unta, sementara aspirasi tengah kencang mengisi kepalanya, maka Syaikh Nawawi kemudian berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu menerangi jari kanannya yang untuk menulis. Kitab yang kemudian lahir dengan nama Marâqi al-‘Ubudiyyah syarah Matan Bidâyah al-Hidayah itu harus dibayar beliau dengan cacat pada jari telunjuk kirinya. Cahaya yang diberikan Allah pada jari telunjuk kirinya itu membawa bekas yang tidak hilang.

Karamah beliau yang lain juga diperlihatkannya yaitu saat beliau masih muda sedang mengunjungi salah satu masjid di Jakarta yakni Masjid Pekojan. Masjid yang dibangun oleh salah seorang keturunan cucu Rasulullah saw Sayyid Utsmân bin ‘Agîl bin Yahya al-‘Alawi, Ulama dan Mufti Betawi (sekarang ibukota Jakarta), itu ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat bagi mesjid itu adalah Sayyid Utsmân sendiri.

Tak ayal, saat seorang remaja yaitu Imam Nawawi yang belum dikenalnya menyalahkan penentuan kiblat, kagetlah Sayyid Utsmân. Diskusipun terjadi dengan seru antara mereka berdua. Sayyid Utsmân tetap berpendirian kiblat Mesjid Pekojan sudah benar. Sementara Syaikh Nawawi remaja berpendapat arah kiblat mesti dibetulkan. Saat kesepakatan tidak bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Syaikh Nawawi remaja menarik lengan baju lengan Sayyid Utsmân. Dirapatkan tubuhnya agar bisa saling mendekat. Kemudian Imam Nawawi berkata :

''Lihatlah Sayyid!, itulah Ka΄bah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Ka΄bah itu terlihat amat jelas? Sementara Kiblat masjid ini agak kekiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat menghadap ke Ka΄bah". Ujar Syaikh Nawawi remaja.''

Sayyid Utsmân termangu. Ka΄bah yang ia lihat dengan mengikuti telunjuk Syaikh Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsmân merasa takjub dan menyadari, remaja yang bertubuh kecil di hadapannya ini telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah. Dengan karamah itu, di manapun beliau berada Ka΄bah tetap terlihat. Dengan penuh hormat, Sayyid Utsmân langsung memeluk tubuh kecil beliau. Sampai saat ini, jika kita mengunjungi Masjid Pekojan akan terlihat kiblat digeser, tidak sesuai aslinya.

Karamah beliau yang lain terjadi pada saat terjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut.

Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tidak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasadnya pun tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.

Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah melarang membongkar makam tersebut. Jasad beliau kemudian dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang makam beliau tetap berada di Ma΄la, Makkah.

Demikianlah di antara karamah Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Tanah organisme yang hidup di dalamnya sedikitpun tidak merusak jasadnya. Kasih sayang Allah Ta’ala berlimpah padanya. Karamah Syaikh Nawawi yang paling tinggi akan kita rasakan saat kita membuka lembar demi lembar Tafsîr Munîr yang beliau karang. Kitab Tafsir fenomenal ini menerangi jalan siapa saja yang ingin memahami Firman Allah SWT. Begitu juga dari kalimat-kalimat lugas kitab fiqih, Kâsyifah al-Sajâ, yang menerangkan syariat. Begitu pula ratusan hikmah di dalam kitab Nashâih al-‘Ibâd. Serta ratusan kitab lainnya yang akan terus menyirami umat dengan cahaya abadi dari buah tangan beliau.

Wafatnya Beliau.

Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Banten dan dikaruniai 3 anak: Nafisah, Maryam, Rubi’ah. Sang istri lebih dahulu wafat mendahuluinya.  Pengabdian beliau sebagai guru Umat Islam selama kurang lebih 69 tahun telah memberikan pandangan-pandangan cemerlang atas berbagai masalah umat Islam. Syaikh Nawawi wafat di Makkah pada tanggal 25 syawal 1314 H/ 1897 M atau ada pula yang mencatat tahun wafatnya pada tahun 1316 H/ 1899 M. Makamnya terletak di pekuburan Ma'la di Makkah. Makam beliau bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq. Hingga kini, masyarakat Nusantara, terutama masyarakat Banten, selalu memperingati haul hari wafatnya setiap tahun.

04 Agustus 2017

Biografi Ibnu Hajar Al-Asqalani 773-852 H


Ilustrasi
Siapa yang tak kenal Kitab Fathul Bari dikalangan Ahli Hadits dan Bulughul Marram di kalangan pesantren. Kitab ini salah satu kitab Hadits yang seolah-olah menjadi pegangan wajib para santri.
Ibnu Hajar al-'Asqalani (773 H/1372 M - 852 H/1449 M) adalah seorang ahli hadits dari mazhab Syafi'i yang terkemuka. Nama lengkapnya adalah Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar, namun lebih dikenal sebagai Ibnu Hajar al-Asqalani dikarenakan kemasyhuran nenek moyangnya yang berasal dari Ashkelon, Palestina. Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab Fathul Bari (Kemenangan Sang Pencipta), yang merupakan penjelasan dari kitab shahih milik Imam Bukhari dan disepakati sebagai kitab penjelasan Shahih Bukhari yang paling detail yang pernah dibuat.
Nama dan Nasabnya
Nama sebenarnya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar, al Kinani, al ‘Asqalani, asy Syafi’i, al Mishri. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar, dan gelarnya “al Hafizh”. Adapun penyebutan ‘Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

Kelahirannya

Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya’ban 773 H, namun tanggal kelahirannya diperselisihkan. Beliau tumbuh di sana dan termasuk anak yatim piatu, karena ibunya wafat ketika beliau masih bayi, kemudian bapaknya menyusul wafat ketika beliau masih kanak-kanak berumur empat tahun.

Ketika wafat, bapaknya berwasiat kepada dua orang ‘alim untuk mengasuh Ibnu Hajar yang masih bocah itu. Dua orang itu ialah Zakiyuddin al Kharrubi dan Syamsuddin Ibnul Qaththan al Mishri.

Perjalanan Ilmiah Ibnu Hajar


Perjalanan hidup al Hafizh sangatlah berkesan. Meski yatim piatu, semenjak kecil beliau memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Beliau masuk kuttab (semacam Taman Pendidikan al Qur’an) setelah genap berusia lima tahun. Hafal al Qur’an ketika genap berusia sembilan tahun. Di samping itu, pada masa kecilnya, beliau menghafal kitab-kitab ilmu yang ringkas, sepeti al ‘Umdah, al Hawi ash Shagir, Mukhtashar Ibnu Hajib dan Milhatul I’rab.

Semangat dalam menggali ilmu, beliau tunjukkan dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir saja, tetapi beliau melakukan rihlah (perjalanan) ke banyak negeri. Semua itu dikunjungi untuk menimba ilmu. Negeri-negeri yang pernah beliau singgahi dan tinggal disana, di antaranya:

1. Dua tanah haram, yaitu Makkah dan Madinah. Beliau tinggal di Makkah al Mukarramah dan shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Yaitu pada umur 12 tahun. Beliau mendengarkan Shahih Bukhari di Makkah dari Syaikh al Muhaddits (ahli hadits) ‘Afifuddin an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makki Rahimahullah. Dan Ibnu Hajar berulang kali pergi ke Makkah untuk melakukah haji dan umrah.

2. Dimasyq (Damaskus). Di negeri ini, beliau bertemu dengan murid-murid ahli sejarah dari kota Syam, Ibu ‘Asakir Rahimahullah. Dan beliau menimba ilmu dari Ibnu Mulaqqin dan al Bulqini.

3. Baitul Maqdis, dan banyak kota-kota di Palestina, seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah. Beliau bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil manfaat.

4. Shana’ dan beberapa kota di Yaman dan menimba ilmu dari mereka.

Semua ini, dilakukan oleh al Hafizh untuk menimba ilmu, dan mengambil ilmu langsung dari ulama-ulama besar. Dari sini kita bisa mengerti, bahwa guru-guru al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqlani sangat banyak, dan merupakan ulama-ulama yang masyhur. Bisa dicatat, seperti: ‘Afifuddin an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makki (wafat 790 H), Muhammad bin ‘Abdullah bin Zhahirah al Makki (wafat 717 H), Abul Hasan al Haitsami (wafat 807 H), Ibnul Mulaqqin (wafat 804 H), Sirajuddin al Bulqini Rahimahullah (wafat 805 H) dan beliaulah yang pertama kali mengizinkan al Hafizh mengajar dan berfatwa. Kemudian juga, Abul-Fadhl al ‘Iraqi (wafat 806 H) –beliaulah yang menjuluki Ibnu Hajar dengan sebutan al Hafizh, mengagungkannya dan mempersaksikan bahwa Ibnu Hajar adalah muridnya yang paling pandai dalam bidang hadits-, ‘Abdurrahim bin Razin Rahimahullah –dari beliau ini al Hafizh mendengarkan shahih al Bukhari-, al ‘Izz bin Jama’ah Rahimahullah, dan beliau banyak menimba ilmu darinya. Tercatat juga al Hummam al Khawarizmi Rahimahullah. Dalam mengambil ilmu-ilmu bahasa arab, al Hafizh belajar kepada al Fairuz Abadi Rahimahullah, penyusun kitab al Qamus (al Muhith-red), juga kepada Ahmad bin Abdurrahman Rahimahullah. Untuk masalah Qira’atus-sab’ (tujuh macam bacaan al Qur’an), beliau belajar kepada al Burhan at-Tanukhi Rahimahullah, dan lain-lain, yang jumlahnya mencapai 500 guru dalam berbagai cabang ilmu, khususnya fiqih dan hadits.

Jadi, al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani mengambil ilmu dari para imam pada zamannya di kota Mesir, dan melakukakan rihlah (perjalanan) ke negeri-negeri lain untuk menimba ilmu, sebagaimana kebiasaan para ahli hadits.

Makam Ibn Hajar Al-Asqalani
Layaknya sebagai seorang ‘alim yang luas ilmunya, maka beliau juga kedatangan para thalibul ‘ilmi (para penuntut ilmu, murid-red) dari berbagai penjuru yang ingin mengambil ilmu dari beliau, sehingga banyak sekali murid beliau. Bahkan tokoh-tokoh ulama dari berbagai madzhab adalah murid-murid beliau. Yang termasyhur misalnya, Imam ash-shakhawi (wafat 902 H), yang merupakan murid khusus al Hafizh dan penyebar ilmunya, kemudian al Biqa’i (wafat 885 H), Zakaria al-Anshari (wafat 926 H), Ibnu Qadhi Syuhbah (wafat 874 H), Ibnu Taghri Bardi (wafat 874 H), Ibnu Fahd al-Makki (wafat 871 H), dan masih banyak lagi yang lainnya.


Karya-Karyanya

Kepakaran al Hafizh Ibnu Hajar sangat terbukti. Beliau mulai menulis pada usia 23 tahun, dan terus berlanjut sampai mendekti ajalnya. Beliau mendapatkan karunia Allah Ta’ala di dalam karya-karyanya, yaitu keistimewaan-keistimewaan yang jarang didapati pada orang lain. Oleh karena itu, karya-karya beliau banyak diterima umat islam dan tersebar luas, semenjak beliau masih hidup. Para raja dan amir biasa saling memberikan hadiah dengan kitab-kitab Ibnu hajar Rahimahullah. Bahkan sampai sekarang, kita dapati banyak peneliti dan penulis bersandar pada karya-karya beliau Rahimahullah.

Di antara karya beliau yang terkenal ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.

Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).

 
Mengemban Tugas Sebagai Hakim


Beliau terkenal memiliki sifat tawadhu’, hilm (tahan emosi), sabar, dan agung. Juga dikenal banyak beribadah, shalat malam, puasa sunnah dan lainnya. Selain itu, beliau juga dikenal dengan sifat wara’ (kehati-hatian), dermawan, suka mengalah dan memiliki adab yang baik kepada para ulama pada zaman dahulu dan yang kemudian, serta terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, baik tua maupun muda. Dengan sifat-sifat yang beliau miliki, tak heran jika perjalanan hidupnya beliau ditawari untuk menjabat sebagai hakim.

Sebagai contohya, ada seorang hakim yang bernama Ashadr al Munawi, menawarkan kepada al Hafizh untuk menjadi wakilnya, namu beliau menolaknya, bahkan bertekad untuk tidak menjabat di kehakiman. Kemudian, Sulthan al Muayyad Rahimahullah menyerahkan kehakiman dalam perkara yang khusus kepada Ibnu Hajar Rahimahullah. Demikian juga hakim Jalaluddin al Bulqani Rahimahullah mendesaknya agar mau menjadi wakilnya. Sulthan juga menawarkan kepada beliau untuk memangku jabatan Hakim Agung di negeri Mesir pada tahun 827 H. Waktu itu beliau menerima, tetapi pada akhirnya menyesalinya, karena para pejabat negara tidak mau membedakan antara orang shalih dengan lainnya. Para pejabat negara juga suka mengecam apabila keinginan mereka ditolak, walaupun menyelisihi kebenaran. Bahkan mereka memusuhi orang karena itu. Maka seorang hakim harus berbasa-basi dengan banyak fihak sehingga sangat menyulitkan untuk menegakkan keadilan.

Setelah satu tahun, yaitu tanggal 7 atau 8 Dzulqa’idah 828 H, akhirnya beliau mengundurkan diri.

Pada tahun ini pula, Sulthan memintanya lagi dengan sangat, agar beliau menerima jabatan sebagai hakim kembali. Sehingga al Hafizh memandang, jika hal tersebut wajib bagi beliau, yang kemudian beliau menerima jabatan tersebut tanggal 2 rajab. Masyarakatpun sangat bergembira, karena memang mereka sangat mencintai beliau. Kekuasaan beliau pun ditambah, yaitu diserahkannya kehakiman kota Syam kepada beliau pada tahun 833 H.

Jabatan sebagai hakim, beliau jalani pasang surut. Terkadang beliau memangku jabatan hakim itu, dan terkadang meninggalkannya. Ini berulang sampai tujuh kali. Penyebabnya, karena banyaknya fitnah, keributan, fanatisme dan hawa nafsu.

Jika dihitung, total jabatan kehakiman beliau mencapai 21 tahun. Semenjak menjabat hakim Agung. Terakhir kali beliau memegang jabatan hakim, yaitu pada tanggal 8 Rabi’uts Tsani 852 H, tahun beliau wafat.


Selain kehakiman, beliau juga memilki tugas-tugas:
- Berkhutbah di Masjid Jami’ al Azhar.
- Berkhutbah di Masjid Jami’ ‘Amr bin al Ash di Kairo.
- Jabatan memberi fatwa di Gedung Pengadilan.

Di tengah-tengah mengemban tugasnya, beliau tetap tekun dalam samudra ilmu, seperti mengkaji dan meneliti hadits-hadits, membacanya, membacakan kepada umat, menyusun kitab-kitab, mengajar tafsir, hadits, fiqih dan ceramah di berbagai tempat, juga mendiktekan dengan hafalannya. Beliau mengajar sampai 20 madrasah. Banyak orang-orang utama dan tokoh-tokoh ulama yang mendatanginya dan mengambil ilmu darinya.

Kedudukannya

Ibnu Hajar Rahimahullah menjadi salah satu ulama kebanggaan umat, salah satu tokoh dari kalangan ulama, salah satu pemimpin ilmu. Allah Ta’ala memberikan manfaat dengan ilmu yang beliau miliki, sehingga lahirlah murid-murid besar dan disusunnya kitab-kitab.

Seandainya kitab beliau hanya Fathul Bari, cukuplah untuk meninggikan dan menunjukkan keagungan kedudukan beliau. Karena kitab ini benar-benar merupakan kamus Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaii wasallam. Sedangkan karya beliau berjumlah lebih dari 150 kitab.

Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan, Adalah merupakan kedzaliman jika mengatakan mereka (yaitu an-Nawawi dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani) dan orang-orang semacam mereka termasuk ke dalam golongan ahli bid’ah. Menurut Syaikh al Albani, meskipun keduanya beraqidah Asy’ariyyah, tetapi mereka tidak sengaja menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Anggapan mereka, aqidah Asy’ariyyah yang mereka warisi itu adalah dua hal: Pertama, bahwa Imam al Asy’ari mengatakannya, padahal beliau tidak mengatakannya, kecuali pada masa sebelumnya, (lalu beliau tinggalkan dan menuju aqidah Salaf,). Kedua, mereka menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak.

Wafatnya

Ibnu Hajar wafat pada tanggal 28 Dzulhijjah 852 H di Mesir, setelah kehidupannya dipenuhi dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, menurut sangkaan kami, dan kami tidak memuji di hadapan Allah terhadap seorangpun. Beliau dikuburkan di Qarafah ash-Shugra. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas, memaafkan dan mengampuninya dengan karunia dan kemurahanNya.

26 Juli 2017

Pantai Kata, Pantai Cermin, Pantai Gondoria dan Makam Syeikh Burhanudin Pariaman, Sumatera Barat


Pariaman salah satu kabupaten di Wilayah Sumatera Barat menyimpan berbagai macam keindahan alam, budaya dan situs-situs bersejarah yang tak mungkin untuk dilewatkan bagi kawan-kawan pencinta Touring. (Yang penting Gass... hehehe..)
Pantai Kata, Pantai Cermin, dan pantai Gondoria juga ikut menghiasi keindahan alam kota kecil Pariaman. Nah... Jika kita kesini pada bulan Muharram atau dalam bahasa Jwanya Bulan Suro, kita akan melihat budaya Tabuik yang pesertanya lebih dari Ribuan orang yang berasal darai berbagai macam Daerah, baik Domestik maupun Tourist Luar Negeri. Mereka ada yang bertujuan mengikuti Tabuik, dan ada pula yang hanya meliput. 
Situs bersejarah, makam Syeikh Burhanudin. Burhanuddin Ulakan Pariaman atau dikenal dengan sebutan Syeikh Burhanuddin Ulakan (lahir tahun 1646 di Sintuk, Sintuk Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman - meninggal 20 Juni 1704 pada umur 58 tahun) adalah ulama yang berpengaruh di daerah Minangkabau sekaligus ulama yang menyebarkan Islam di Kerajaan Pagaruyung. Selain itu ia terkenal sebagai pahlawan pergerakan Islam melawan penjajahan VOC. Ia juga dikenal sebagai ulama sufi pengamal (Mursyid) Tarekat Shatariyah di daerah Minangkabau, Sumatera Barat (id.wikipedia.org.
Syekh Burhanuddin telah banyak dikenal dan diperbincangkan para ilmuwan, baik dalam literatur, maupun dari laporan bangsa Eropah lainnya. Salah satu sumber utama yang menjelaskan dari perkembangan surau-surau dan lahirnya pembaruan Islam di Minangkabau berasal dari sebuah naskah kuno tulisan Arab Melayu. Naskah itu berjudul, Surat Keterangan Saya Faqih Saghir Ulamiyah Tuanku Samiq Syekh Jalaluddin Ahmad Koto Tuo, yang ditulis pada tahun 1823. Buku ini menjelaskan peranan surau dalam menyebarkan agama Islam di pedalaman Minangkabau yang dikembangkan oleh murid-murid Syekh Burhanuddin Ulakan.
Di samping itu, riwayat ulama ini telah diterbitkan dalam tulisan Arab Melayu oleh Syekh Harun At Tobohi al Faryamani (1930) dengah judul Riwayat Syekh Burhanuddin dan Imam Maulana Abdul Manaf al Amin dalam Mubalighul Islam. Buku ini menerangkan dengan jelas mengenai diri Pono, yang kemudian bergelar Syekh Burhanuddin. Diceritakan dengan jelas kehidupan keluarga, masa mengenal Islam dengan Tuanku Madinah kemudian berlayar ke Aceh untuk menimba ilmu kepada Syekh Abdurrauf al Singkli.
Syekh Burhanuddin adalah salah seorang dari murid Syekh Abdur Rauf al Singkli yang dikenal juga dengan panggilan Syekh Kuala. Sekembali dari Aceh, Syekh Burhanuddin membawa ajaran Tharikat Syattariyah ke Ulakan pada bagian kedua abad ke-17. Dari Ulakan ajaran tarikat menyebar melalui jalur perdagangan di Minang-kabau terus ke Kapeh-kapeh dan Pamansiangan, kemudian ke Koto Laweh, Koto Tuo, dan ke Ampek Angkek. Di sebelah barat Koto Tuo berdiri surau-surau tarikat yang banyak menghasilkan ulama. Daerah ini dikenal dengan nama Ampek Angkek, berasal dari nama empat orang guru yang teruji kemasyhurannya. Sumber: (www.facebook.com/MinangkabauPages)
Naah...
Buat kawan-kawan, sambil touring bisa sedikit mengenang dan mempelajari sejarah negeri dimana kaki kita menginjak, di bumi dimana kita mencari makan, di tanah dimana kita bertempat tinggal...
sekian dulu untuk Touring Religi kita saat ini, semoga akan tetap sehat dan dapat Eksplor tempat-tempat indah lainnya di seluruh nusantara. Aamiiin...