As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

14 Januari 2016

SUBJEK DAN OBJEK PENDIDIKAN

A. Pentingnya Pendidik
1. Pendidik sebagai perencana dan pengatur proses pendidikan, seperti yang dicontohkan Rasulullah dalam shalat
 عن أنس بن مالك ، عن النبي - صلى الله عليه وسلم - ، قالَ : ((سَوُّوا صُفُوفَكُمْ، فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاةِ)) . (البخاري)
Dari Anas bin Malik, dari Nabi saw bersabda: “Luruskan dan rapatkan (barisan shalat kalian), karena ketertiban barisan dalam shalat merupakan bagian dari mendirikan (kesesmpurnaan) salat”. (H.R Bukhari) 
2. Pendidik sebagai pelaksana kegiatan pendidikan
 وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ - رضي الله عنه - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.
(رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ)
Dari Malik bin Huwairis r.a berkata: Rasululah saw bersabda: “Salatlah kalian sebagaimana kalian lihat aku salat”. (H.R Bukhari) 
3. Pendidik sebagai pengevaluasi proses pendidikan
 عن عبد الله ، رضي الله عنه قال : قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : « اقرأ علي » ، فقلت : أقرأه عليك وعليك أنزل ؟ ، قال : إني أحب أن أسمعه من غيري ، فقرأت عليه حتى إذا بلغت فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء شهيدا .......................(أحمد)
Dari Abdullah r.a, rasulullah saw bersabda: rasul bersabda kepadaku: “Bacalah al-Quran untukku. ”saya berkata: ”apakah aku akan membacakan al-quran untukmu, sedangkan al-quran ini turun kepadamu?” Beliau bersabda: “sesungguhnya aku senang mendengarkan (bacaan al-quran) dari orang lain. “saya pun membacanya sampai ketika tiba pada ayat: Fakaifa ‘idzaa ji’naa min kulli ummatin bisyahidiin waji’na bika ‘alaa haa-‘ulaai syahiida” ia berkata: saya melihat kedua mata beliau bercucuran air mata. (H.R Ahmad) 
 Dalam keterangan lain:
 قال عمر بن الخطاب : « حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا ، 
“Umar berkata: Hisablah (ealuasi) dirimu sebelum engkau dihisab. Pendidik atau guru merupakan komponen terpenting pendidikan. Tanpa adanya pendidik, maka ilmu yang akan disampaikan tidak mungkin pernah sampai kepada peserta didik. 
Pentingnya peranan seorang pendidik dalam proses pengajaran terangkup dalam tiga tugas pokoknya, yaitu merencanakan dan mengatur dalam proses pendidikan, melaksanakan proses pendidikan, dan mengealuasi hasil pembelajran sebagai umpan balik (stimulus) perbaikan. Dalam perencanaan dan pengaturan (manajamen) pendidikan, Rasulullah saw mencontohkan bahwa ketika akan melakukan kegiatan pembelajaran harus ditata sedemikian rupa, agar proses pembelajaran bisa berjalan dengan tertib. Rasul mencontohkan perlunya tertib dan manajamen yang baik dalam pendidikan dalam praktek shalat berjama’ah (dalam hadis pertama). Kenapa shalat berjama’ah yang merupakan praktek ibadah langsung dikaitkan dengan pendidikan?. Alasannya karena Nabi saw lebih paham bagaimana praktek shalat yang benar, sehingga memperhatikan Beliau artinya mempelajari bagaimana shalat yang benar. Nilai filosofis dalam shalat berjamaah tersebut juga mencerminkan bahwa segala sesuatu harus tertata dengan baik, sehingga dicontohkan sebelum melaksanakan shalat perlu menertibkan barisan shalat terlebih dahulu. Jika nilai perlunya tertib dalam barisan shalat telah dipahami, maka setiap perbuatan seorang muslim akan termanage pula dengan baik. Dan Rasul adalah sebaik-sebaiknya manusia dalam hal mengatur dan merencanakan sesuatu, hal itu ditandai bahwa Rasul mencotohkan bagaimana harus memulai shalat berjama’ah yang baik dan bukan sekedar memerintah. Kaitannya dengan pendidikan bahwa Rasul juga sebagai pelaksana pengajaran kepada umatnya, karena beliau langsung mencontohkan suatu amal yang sesuai syari’at (hadis kedua). Selain sebagai konseptor dan eksekutor dalam kegiatan pendidikan, satu lagi fungsi seorang pendidik yaitu sebagai evaluator. 
Fungsi evaluasi adalah hal terpenting dari seorang pendidik, karena dari sinilah dapat diketahui tercapai tidaknya tujuan pendidikan. Selain itu evaluasi juga sebagai stimulus bagaimana memperbaiki kesalahan-kesalah dalam proses pembelajaran. Namun perlu diingat bahwa evaluasi bukanlah ujian yang hanya berorientasi pada nilai (angka), itu hanya salahsatu bagian dari teknik evaluasi. Hadis nomor tiga di atas adalah indikasi bahwa Rasulpun melakukan evaluasi dalam mengajarkan al-Qurân kepada umatnya (termasuk anak-anak). Hadis nomor tiga tersebut merupakan sebuah metode yang ditempuh oleh Rasulullah saw untuk menguji kemampuan bacaan al-Qurân pada seorang anak (Abdullah), metode evaluasi yang diterapkannya adalah dengan menyuruhnya membacakan al-Qurân tersebut. Jika bacaan anak kecil saja dievaluasi oleh Rasul maka apalagi bacaan sahabat yang telah baligh. B. Sifat-Sifat Pendidik 
 1. Bertakwa
 عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال:اتَّقِ الله حَيثُمَا كُنْتَ ، وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمحُهَا ، وخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍحَسَنٍ . (رواه التِّرمِذيُّ وقال : حَديثٌ حَسنٌ ، وفي بعضِ النُّسَخِ : حَسَنٌ صَحيحٌ ) 
 Dari Mu’adz bin Jabal, dari Rasulullau saw bersabda: “Bertakwalah dimanapun kamu berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan yang baik maka (perbuatan buruk itu) akan terhapus. Dan beakhlaklah kepada manusai dengan akhlak yang baik”. (H.R Turmudzi, dikatakan bahwa hadis ini hasan dan ada juga yang menyatakan sahih) 
2. Berakhlak yang baik, karena Rasul diutus untuk menyempurnakan (mengajarkan) akhlak yang mulia.
 عن أبي هريرة ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنِّمَا بُعِثْتُ لأُتمِمَّ مَكارِمَ الأَخْلاَقِ 
Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (H.R. Al-Bazzar) 
 3. Menyayangi anak didiknya, dan menjauhi kekerasan
 وقد روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : عَلّمُوْا وَلاَ تُعَنّفُوْا فَإِنّ المُعَلّمَ خَيْرٌ مِنَ المُعَنّفِ (البخاري( 
Telah diriwayatkan dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda: “Jadilah pengajar dan janganlah (hindarilah) menjadi orang yang kejam, karena pengajar itu lebih baik daripada orang yang kejam (berbuat kekerasan)”. (H.R Bukhari) 
 4. Ikhlas dalam mengajar
 عُمَرَ بنُ الخطاب رَضِيَّ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ: إِنَّمَا الأعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ » (الْبُخَارِيّ وَمُسْلِم وَالتِّرْمِذِيّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْن مَاجَهْ( 
Dari ‘Umar bin Khatab r.a: Saya mendengat Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung apa yang diniatkannya, barang siapa yang berhijrah (niatnya) karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya itu akan mencapai (ridha) Allah dan Rasulnya. Namun barang siapa yang hijrahnya karena (menginginkan) kehidupan dunia dan wanita yang ingin dinikahinya, maka dia hanya akan sekedar mendapat apa yang diniatkannya”. (H.R Bukhari, Turmudzi, al-Nasai, dan Ibnu Majah) 
5. Berkompeten sebagai pendidik, artinya sebelum mengajar seorang pendidik pernah belajar apa yang akan diajarkannya
 عن عثمان أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: خَيْركُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآن وَعَلَّمَهُ )الْبُخَارِيُّ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ ( 
Dari Usman, bahwasannya Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar al- Qurân dan mengajarkannya”. (H.R Bukhari, Turmudzi, al-Nasai, dan Ibnu Majah) Dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (PP 19 th. 2005 tentang SNP) Bab VI bagian kesatu tentang pendidik, bahwa guru sebagai agen pembelajaran harus memiliki empat kompetensi. 
Yang dimaksud dengan empat kompetensi tersebut adalah: Pertama, kompetensi pedagogik. Secara sederhana yang dimaksud kompetensi pedagogik adalah bahwa seorang guru menguasai keilmuan yang akan diajarkannya. Atau dengan kata lain, guru tersebut punya pengalaman belajar tentang ilmu yang akan diajarkannya. Hal ini sesuai dengan hadis nomor lima yang dijelaskan Rasulullah, bahwa sebelum mengajarkan al-Qurân seseorang harus melalui tahap belajar al-Qurân terlebih dahulu. Kedua, kompetensi kepribadian. Artinya bahwa seorang guru mesti berkepribadian yang baik dan sesuai dengan ajaran islam. Yaitu baik hubungan secara vertikal maupun horizontal. Hadis kesatu tentang takwa merupakan sifat baik secara vertikal antara hamba dengan khalik yang seharusnya dimiliki oleh pendidik. Sedangkan hadis kedua merupakan kepribadian yang baik secara horizontal dengan sesama mahluk. 
Kepribadian yang terpuji secara vertikal dan horizontal adalah modal besar yang harus dimiliki pendidik, karena tujuan pendidikan dalam islam dalam rangka mendukung tugas manusia di dunia untuk beribadah. Ibadah sendiri terkait dengan ibadah secara vertikal dan horizontal. Ketiga, kompetensi profesional. Profesional artinya menghargai profesinya sendiri. Dalam isilah islam profesional bisa dikaitkan dengan sikap ikhlas. Ikhlas memang melakukan suatu aktivitas dalam rangka menggapai ridha Allah, namun maknanya sering dikaitkan dengan sedikit banyak upah (balasan) yang diterima seseorang dari perbuatannya. Opini yang berkembang di masyarakat bahwa seseorang yang melakukan sesuatu dengan cuma-cuma (gratis) baru disebut ikhlas, padahal sekali lagi tidak ada kaitannya dengan hal tersebut. Ikhlas dalam lapangan pekerjaan dapat diartikan dengan mengerahkan segenap potensi agar bisa melakukan tugasnya secara maksimal. Suatu aktivitas akan maksimal jika didasari tekad (niat) yang kuat pula. Hadis nomor empat tentang niat merpakan dasar profesionalisme bagi setiap orang (terutama pengajar), bahwa sikap profesional akan menghasilkan hasil yang diharapkan dan hal itu harus dimulai dengan niat/ tekad yang bulat. 
Namun semua itu tetap dalam rangka menggapai ridah Allah swt. Salahsatu bentuk aplikasi profesionalisme guru adalah mendidik dengan penuh kasihsayang dan bukan dengan kekerasan seperti halnya dalam hadis nomor tiga. Keempat, kompetensi sosial. Maksud kompetensi ini, bahwa seorang pendidik mesti memiliki peran aktif dalam masyarakat. Pendidik mampu mewarnai masyarakat sekitarnya untuk diarahkan kepada hal yang bermanfat. Orang yang dianggap berpengaruh dimasyarkat adalah orang yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Indikasi seseorang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya adalah seorang pendidik mampu memberikan contoh ahlak yang baik seperti yang tercantum dalam hadis nomor dua tentang ahlak mulia. 

 C. Orang Tua Sebagai Pendidik Utama Dan Pertama 
1. Orang tua yang menentukan anaknya nanti
 عن أبى هُرَيْرَةَ رَضِيَّ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (الْبُخَارِيّ وَمُسْلِم( 
 Dari Abu Hurairah berkata: Nabi saw bersabda: “Setiap yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka orang tuanyalah yang menentukan apakan dia menjadi seorang Yahudi, Nasrani, atau Najusi” (H.R Bukhari dan Muslim) 
2. Orang tua memberikan contoh untuk memenuhi hak dan kewajiban
 عن أبى هُرَيْرَةَ رَضِيَّ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم:مِنْ حَقِّ الْوَلَدِ عَلَى الْوَالِدِ ثَلاَثَةٌ أَن يُحَسَّنَ اِسْمَهُ إِذَا وَلَدَ وَأَنْ يُعَلِّمَهُ الْكِتَابَةَ إِذَا عَقَلَ وَأَنْ يُزَوَّجَهُ إِذَا أَدْرَكَ (الحاكم( 
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda:”Diantara kewajiban orang tua terhadap anaknya ada tiga, yaitu: memberinya namay yang baik jika lahir, mengajarkan kitab (al-Qur’ân) kepadanya jika telah mampu (mempelajarinya), dan menikahkannya jika telah dewasa”. (H.R. Hakim) 
3. Orang tua mendidik anaknya untuk beribadah
 عنْ ابْنِ عُمَروَابْنِ العْاَصِ قال: قال رَسولُ الله ص.م: مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ باِلصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاء سَبْعَ سِنِيْنِ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاء عَشْر وَفَرقوُاْ بَيْنَهُمْ فىِ المَضَاجِعِ (أبو داود) 
 Dari Ibnu ‘Amr bin Ash, ia berkata: Rasulullah bersabda “Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan pukullah mereka ketika berumur 10 tahun. Pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya” (H. R Abu Daud) 
4. Orang tua mendidik anak untuk mencintai Nabi dan keluarganya
 قال رسول الله ص.م: أَدّبُوْ أَوْلاَدَكُمْ عَلىَ ثَلاَثِ خِصَالٍ حُبّ نبَيِّكُمْ وحبّ اَلِ بَيْتِهِ وَتِلاَوَةِ القُرْأَنِ (الطبراني) 
“Rasulullah bersabda, didiklah anak-anak kalian atas 3 perkara; mencintai nabi, mencintai keluarga nabi, dan mencintai membaca Al-Qur’an”. (H.R. al- Tabrani) 
5. Orang tua harus mengajarkan keberanian kepada anaknya
 قال عمر ابن الخطاب: عَلِّمُوْا أَوْلاَدَكُمْ السِّبَاحَةَ وَالرّمَايَةَ ومُرُوْهُمْ فَليثيبُوْا عَلىَ ظُهُوْرِالخَيلِ وَثبًا )البيهقي( 
“Umar bin Khatab berkata “Ajarkanlah anak-anak kalian berenang, memanah, dan perintahlah mereka agar pandai menunggang kuda” (H.R Baihaqi) 
Anak adalah amanat dari Allah swt. Konsekuensinya bahwa amanat itu mesti di jaga. Salahsatu bentuk menjaga dan memelihara anak sebagai amanat Allah adalah mendidiknya. Ironisnya, sekarang para orang tua menilai bahwa pendidikan anaknya adalah tanggungjawab guru di sekolah. Padahal pertemuan anak didik dengan pendidiknya di sekolah terbatas oleh waktu. Oleh karena itu dalam islam, orang tua tidak bisa berlepas tangan dari tanggungjawab mendidik anaknya. Orang tua adalah pendidik pertama. Hal ini dicontohkan ketika anak dalam kandungan islam mengajarkan agar banyak membacakan surat Yusuf misalnya, atau ketika lahir diadzani dan diqomati. Bagaimana masa depan seorang anak akan terkait dengan pendidikan yang diberikan orang tuanya. Anak bisa menjadi orang yang saleh atau salah tergantung perhatian orang tua terhadap pendidikan yang diberikan kepada anaknya.
Hal ini senada dengan hadis nomor satu. Realisasi orang tua sebagai pendidik utama dan pertama bagi anaknya adalah melalui cara mendidik anaknya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat, yaitu: 
1. Pendidikan tentang ibadah, yang diwakili oleh hadis nomor tiga 
2. Sejarah dan kecintaan terhadap Rasulullah, yang diwakili oleh hadis nomor empat 
3. Pendidikan tentang akidah yang benar, diwakili oleh hadis nomor satu 
4. Pendidikan tentang tanggungjawab untuk melaksanakan kewajiban dan menghargai hak orang lain, nomor dua 
5. Pendidikan yang menumbuhkan keberanian dan kesehatan, diwakili oleh hadis nomor lima. Tentu bukan hanya sekedar itu, karena cakupan ilmu itu luas. Namun jika kita perhatikan, kelima hadis tersebut bersentuhan langsung dengan kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya. Indikasinya, dalam hadis tesebut menyinggung-nyinggung kata أَوْلاَدَ atau َأَبَوَاه . dan kelima hadis tersebut nampaknya sudah mewakili tiga komponen jenis pendidikan yang dikembangkan pakar pendidikan barat bernama Bloom, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. 

D. Peserta Didik Harus Dihormati 
1. Memberikan kemudahan kepada peserta didik
 البخارى) ) عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِ ص.م قال: يَسَّرُوْا وَلاَ تُعًسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا 
Dari Anas, dari Nabi saw beliau bersabda:” mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka takut”. (H.R Bukhari) 
2. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bisa mengulang pelajaran
 عَنْ أَنَسٍ عَنِ النّبي ص.م: أَنّهُ كان إِذا سَلّمَ سَلّمَ ثلاثاً وِإذَا تَكَلّمَ بِكَلِمَةٍ أعادها ثَلاَثًا )البخارى( 
 Dari Anas, dari Nabi saw: ” apabila beliau mengucapkan salam, beliau mengucapkan salam tiga kali, dan apabila beliau mengucapkan satu kalimat, maka beliau mengulangnya tiga kali”.( HR Bukhari) 
3. Memperlakukan peserta didik dengan penuh kasih sayang
 عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: قال رسول الله ص.م:……….ياَعَائِشَةُ عَلَيْكِ باِلرِّفْقِ وَإيّاك (البخاري) وَالْعَنْفَ وَالْفَحْشَ 
Dari ‘Aisyah r.a: Rasulullah saw bersabda: …..Ya ‘Aisyah hendaklah kamu bersikap kasih sayang dan hati-hatilah terhadap sikap kejam dan keji”. (H.R Bukhari) 
 4. Peserta didik harus diarahkan kepada kebenaran jika melakukan kesalahan
 قال رسول الله ص.م:ياَغُلاَمُ سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِيْكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ (البخاري والمسلم) 
Rasulullah saw bersabda: “Hai anak, sebutlah nama Allah (sebelum makan) dan makanlah dengan tangan kanan serta makanlah dulu apa yang ada di dekatmu”. (H.R Bukhari dan Muslim) 
5. Peserta didik harus didik sesuai usia dan kemampuan mereka
 قال رسول الله ص.م: اَدِّبُوْا اَوْلاَدَكُمْ بِقَدْرِ عُقُوْلِهِمْ ((الحديث 
Rasulullah saw bersabda: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan kemampuan akal mereka”. (al-Hadis) 
Faktor keberhasilan pendidikan atau pembelajaran, salahsatunya ditentukan oleh kesiapan anak didik dalam menerima materi. Peserta didik mampu menerima materi pembelajaran apabila suasana dan kondisi anak siap menerima materi. Untuk menyiapkan peserta didik agar bisa menerima materi ini, perlu dibangun suasana yang membuat peserta didik nyaman dan merasa dihargai. Dan hal itu akan terkait dengan metode dan prinsip penyampaikan bahan ajar yang diunakan oleh pendidik. 
Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam rangka menciptakan kondisi nyaman bagi peserta didik, sehinga pembelajaran bisa efektif.  
Pertama, hendaknya guru memberikan kemudahan kepada murid agar mereka dapat memahami materi yang disampaikan. Hal ini termaktub dalam hadis kesatu.  
Kedua, memberikan kesempatan kepada peserta didik agar bisa mengulangi pelajaran. Seperti yang dijelaskan dalam hadis ketiga.
Ketiga, jika ada kesalahan atau kekurangan pada peserta didik, hendaklah guru tersebut mengarahkannya kepada hal yang benar. Hal ini seperti yang dikisahkan dalam hadis nomor empat. Pada saat itu ada seorang anak yang hendak makan tangannya kesana-kemari dan tidak sopan, Rasul yang saat itu hadir disana menegurnya, kemudian memerintahkan kepada anak tersebut untuk makan dengan tangan kanan dan dimulai dari makanan yang paling dekat dengannya. 
Kelima, materi yang diberikan sesuai dengan tingkatan usia atau daya nalar peserta didik. Hal ini diterangkan dalam hadis kelima. 

E. Pendidikan Merupakan Tanggungjawab Bersama 
1. Semua orang wajib menuntut ilmu
 عن أبي هريرة ، رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (ابن ماجه)
Dari Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap Muslim”. (H.R Ibnu Majah) 
2. Semua pihak harus saling membantu dalam pelaksanaan pendidikan
 عَنِ النُّعمانِ بن بشيرٍ ، عنِ النَّبيِّ - صلى الله عليه وسلم - ، قال : مَثَلُ المُؤْمِنِيْنَ فيِ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الجَسَدِ ، إذا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ ، تَدَاعَى لَهُ سَاَئرُ الجَسَدِ باِلحُمَّى وَالسَّهْرِ . ( لمسلم)
Dari Nu’man bin Basyir, dari Nabi saw bersabda: “perumpamaan orang-orang mu’min dalam saling menyayangi, saling mengasihi, dan berlemah lembut, seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka bagian yang lainnya merasakan sakit dengan panas dan demam”. (H.R Muslim) 
3. Semua pihak bisa terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai kapasitasnya
 عن ابن مسعود, عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:اغد عالما أو متعلما أو محبا أو مستمعا ولا تكن الخامس فتهلك (الحديث)
Dari Ibnu Masud, dari Rasulullah saw bersabda: “Jadilah pengajar, ataupun pelajar, pendengar, dan pencinta (ilmu) tetapi janganlah menjadi yang kelima, maka nanti kamu bisa celaka”. (al-Hadis)
4. Masyarakat bisa berperan dalam pendidikan sebagai seorang pengajar walaupun hanya dengan meluruskan sebuah kesalahan
 عَنْ أَبِي سَعِيد الْخُدْرِيِّ قَالَ : سَمِعْت رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول " مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَف الْإِيمَان " (مُسْلِم)
Dari Abu Sa’id Khudriyi berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang melihat sebuah kemungkaran, maka rubahlah dengan tangan (kekuasaan)nya, jika tidak mampu, rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu, rubahlah dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman”. (H.R Muslim) 
5. Masyarakat bisa berperan dalam pendidikan dengan berperan sebagai donatur
 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: جاَهِدُواالمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ (النسائ)
Rasulullah saw bersabda: “Berjihadlah kamu melawan kemusyrikan (termasuk kebodohan) dengan harta, jiwa, dan lidahmu”. (H.R an-Nasai) 

Pendidikan adalah ujung tombak pemberdayaan sumber daya manusia. Baik tidaknya penyelenggaraan pendidikan akan berpengaruh terhadap kemajuan sebuah negara. Konsekuensi dari hal tersebut bahwa semua pihak bertanggungjawab atas pendidikan. Hadis pertama di atas tentang kewajiban menuntut ilmu bagi setiap pribadi muslim merupakan indikasi akan hal ini. Begitu sentralnya peran masyarakat dalam pendidikan sehingga Rasul memberikan opsi pilihan sejauhmana potensi kita terlibatdalam penyelenggaraan pendidikan. Nabi saw menyataan kita bisa terlibat sebagai pengajar, peserta didik, pendengar atau mungkin pencinta ilmu yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. 

 Masyarakat bisa terlibat dalam dunia pendidikan sebagai pendidik walaupun hanya membenarkan kesalahan yang dilakukan seseorang atau kelompok, dan itupun sesuai potensi dan kemampuan kita baik dengan cara diplomasi, aksi atau bahkan dengan nurani. Keterlibatan masyarkat sebagai peserta didik juga merupakan bagian dari dukungan terhadap dunia pendidikan. Dan peran ini yang mutlak bisa dilakukan oleh setiap muslim yang diindikasikan dengan perintah kewajiban untuk mencari ilmu bagi setiap orang. Jika tidak bisa berperan lansung dalam proses pembelajaran, maka masyarakat bisa berperan sebagai pendudukang kegiatan pendidikan. Perannya bisa sebagai pendegar, dalam hal ini penulis istilahkan pendengar dalam hadis tesebut sebagai pengawas dalam proses pendidikan. Hal ini sesuai dengan hadis Rasul nomor dua yang menyatakan gambaran keindahan kehidupan mastarakat muslin adalah saling tolong (banu) dalam setiap kegiatan mereka, terutama dalam hal pendidikan. Atau mungkin bisa berperan sebagai donatur. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa permasalahan dana juga sangat berpengaruh dalam pendidikan.

Oleh karena itu Rasul menyatakan sumbangan dana bagi pendidikan juga bisa dinilai sebagai jihad melawan kemusyrikan, sebab kemusyrikan muncul dikarenakan kebodohan tentang ajaran islam. Kelima hadis sejalan dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU SNP) Bab XV yang menyebutkan: Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi perseorangan, kelompok, keluarga, oranisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.

F. Pendidikan Agama Harus Diperhatikan 
1. Pentingnya pendidikan shalat (ibadah)
 عنْ ابْنِ عُمَروَابْنِ العْاَصِ قال: قال رَسولُ الله ص.م: مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ باِلصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاء سَبْعَ سِنِيْنِ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاء عَشْر وَفَرقوُاْ بَيْنَهُمْ فىِ المَضَاجِعِ )أبو داود( 
Dari Ibnu ‘Amr bin Ash, ia berkata: Rasulullah bersabda “Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan pukullah mereka ketika berumur 10 tahun. Pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya” (H. R Abu Daud)
2. Pentingnya pendidikan al-Qurân عن عثمان أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: خَيْركُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآن وَعَلَّمَهُ )الْبُخَارِيُّ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ ( Dari Usman, bahwasannya Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar al- Qurân dan mengajarkannya”. (H.R Bukhari, Turmudzi, al-Nasai, dan Ibnu Majah) 
 3. Pentingnya pengetahuan agama islam untuk menjaga fitrah manusia
 عن أبى هُرَيْرَةَ رَضِيَّ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (الْبُخَارِيّ وَمُسْلِم)

Dari Abu Hurairah berkata: Nabi saw bersabda: “Setiap yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka orang tuanyalah yang menentukan apakan dia menjadi seorang Yahudi, Nasrani, atau Najusi” (H.R Bukhari dan Muslim) 
4. Pentingnya pendidikan tentang etika pergaulan
 عن أَنَسِ بنِ مالك قال : جَاءَ شَيْخٌ يُرِيْدُ النَِّبيَّ صلى الله عليه و سلم فَأَبْطَأَ القَوْمُ عَنْهُ أَنْ يُوَسِّعُوْا لَهُ لَيْسَ ِمنّا مَنْ لمَ ْيَرْحَمْ صَغِيْرَنا وَيُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا (التِّرْمِذِيُّ) 
 Dari Anas bin Malik berkata: Seorang laki-laki tua ingin bertemu dengan Rasul, tetapi orang-orang tidak mau melapangkan jalan baginya. Maka Rasulpun bersabda: “Bukan termasuk umat kami, orang yang tidak mencintai yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua”. (H.R Turmudzi) 
5. Pentingnya ilmu agama tentang keindahan dan kebersihan
 عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِنّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الجَمَالَ (رواه مسلم) 
 Dari abdullah bin mas’ud berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “sesungguhnya Allah itu maha indah dan menyukai keindahan”. (H.R. muslim) 
6. Ilmu agama merupakan kunci kesuksesan dunia dan akhirat
 من اراد الدّنيا فعليه بالعلم و من اراد الاْخرة فعليه بالعلم ومن اراد هما فعليه بالعلم (الحديث) 
“Barang siapa yang mengiginkan dunia (kebagiaan hidup di dunia), maka hendakalah ia menguasai ilmunya, dan barang siapa yang menghendaki akhirat (kebahagiaan hidup di akhirat), hendakalah ia menguasai ilmunya, dan barang siapa yang menghendaki keduanya (dunia dan akhirat), hendakalah ia menguasai ilmunya”. (hadits Nabi) 

Sebenarnya tidak ada istilah ilmu agama dan ilmu umum dalam islam, sebab semua ilmu sumbernya dari Allah yang ditulis dalam al-Qurân, digambarkan di alam, dan dijelaskan oleh Sunah Nabi saw. Tetapi pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan barat membuat manusia terlena dan cenderung melupakan ilmu yang sifatnya petunjuk ibadah, baik ibadah secara vertikal maupun horizontal. Padahal tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada penciptanya.
Pentingnya pendidikan agama ini, terkait dengan apa yang harus diajarkan dan apa hikmahnya harus diajarkan. Terakit dengan apa yang harus diajarkan tentu tidak lepas dari sifat ibadah yang dilakukan manusia itu sendiri. Pertama, yang diajarkan tentu ilmu agama yang sifatnya ‘ubudiyah (ibadah vertikal). Hadis tentang perintah mengajarkan shalat dan belajar al- Qurân di atas merupakan bagian dari ilmu yang harus diajarkan dalam rangka mendukung tugas manusia di dunia ini. Sehingga begitu pentingya mengajarkan salat, usia 10 tahun harus diberi sanksi jikaxsi anak masih main-main dengan salatnya. Pentingnya belajar tentang al- Qurân ditandai dengan keharusan untuk mengajarkannya, bahkan orang yang mempelajari kitab suci kita ini disebut sebagai sebaik-baiknya orang muslim. Kedua, tentu terkait dengan ilmu agama masalah mu’amalah secara umum atau ibadah secara horizontal. Hal ini diisyaratkan dengan hadis nomor empat dan lima, yang terkait dengan etika pergaulan dan perlunya menjaga kebersihan dan keindahan. Pemberian pendidikan agama sebenarnya untuk kebaikan umat muslim sendiri, karena ilmu agama dalam rangka menjaga fitrah manusia dalam seperti yang disebutkan hadis nomor tiga, dan dalam rangka mengantarkan mausia untuk mencapai cita-citanya seperti digambarkan hadis keenam di atas. 
 G. Ulama/ Ilmuan Berperan Penting Dalam Pendidikan 
1. Ulama adalah pewaris para nabi
 عن أبي الدَّرْدَاء ، قال :سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ صلّى الله عليه وسلم يَقولُ......إنّ الْعُلَمَاءَ لَهُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءَ ، إِنّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوْرثُوْا دِيْنارا ولا دِرْهَما ، وَلَكِنَّهُمْ وَرثُوْا الْعِلْم. (أبو داود) 
 Dari Abu Darda berkata, Rasulullah saw bersabda: “........Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, para nabi tidak mewariskan dinar ataupu dirham (harta), tetapi mereka mewariskan ilmu”. (H.R Abu Dawud) 
2. Ilmu akan hilang jika ulama wafat
 عن عبد الله بن عمرو ، عن النَّبيِّ - صلى الله عليه وسلم - ، قال : إنَّ الله لايقبِضُ العلمَ انتزاعاً ينتزعُه مِنْ صُدورِ الناسِ ، ولكن يقبضُه بقبض العُلماء ، فإذا لم يَبقَ عالِمٌ ، اتَّخذ الناسُ رؤساءَ جُهّالاً ، فسئِلوا ، فأفتَوا بِغيرِ عِلمٍ، فضلُّواوأضلُّوا . (متفق عليه) 
dari Abdullah bin Amr, dari Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan ilmu dengan mengangkatnya, tetapi dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak lagi tersisa orang yang alim. Dengan demikian orang-orang akan mengangkat para pemimpin yang dungu lalu ditanya dan mereka (pemimpin dungu) memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan”. (H.R Mutafa Alaih) 
 3. Ilmu yang dimiliki ulama adalah amanat yang harus disampaikan
 عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَّ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ أَبُو (أبو داود) 
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu kemudian dirahasiakannya, maka dia akan sempal (mulutnya) dari api neraka”. (H.R Abu Dawud) 

Pengetahuan memang berkembag pesat, apalagi jika dikaitkan dengan pengetahuan manusia tentang sains. Namun kita juga menyadari bahwa ilmu tidak akan pernah berkembang jika tidak ada pengetahuan yang datang sebelumnya. 
Oleh karena itu jika menyinggung peranan ulama dalam pendidikan, terutama pendidikan islam, peranannya sangatlah besar. Ada tiga alasan yang mendasari hal ini, yaitu: Pertama, ulama adalah pewaris para nabi. Syari’at islam (tauhid) dari Nabi saw dan nabi lainnya, tidak mungkin pernah sampai jika tidak ada ulama yang mempelajarinya kemudian menyampaikannya kepada umat (sesuai hadis pertama). Kedua, dalam hadis selanjutnya di atas, bahwa wafatnya ulama akan mengurangi ilmu yang ada di dunia ini. Dengan wafatnya seorang ulama, artinya akan hilang satu figur yang mampu memberikan penjelasan disaat umat membutuhkannya, bahkan lebih menghawatirkan akan menimbulkan banyak bid’ah ataupun kesesatan. Namun hal ini bisa cegah, asalkan kita sebagai generasi islam memiliki keinginan yang kuat untuk belajar (terutama belajar agama). Ketiga, Rasul mengingatkan bahwa ilmu yang ada pada ulama adalah amanat yang harus disampaikan kepada umat. sehingga dalamhadis ketiga ulama uang menyembunyikan ilmu dari yang membutuhkan konsekuensinya sangat berat. 
H. Pendidik Adalah Pekerjaan Yang Istimewa 
1. Pengajar dalam Islam dipandang memiliki kedudukan yang terhormat
 عن أبي الدَّرْدَاء ، قال :سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ صلّى الله عليه وسلم يَقولُ : « فَضْلُ الْعالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَة الْبَدْرِ علَى سائِرِ الْكَواكِبِ (أبو داود) 
Dari Abu Darda berkata, Rasulullah saw bersabda: “keutamaan seorang yang berilmu (pengajar) atas seorang ‘abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan purnama atas semua bintang”. (H.R Abu Dawud) 
2. Imu yang diajarkan akan menjadi amal yang terus mengalir pahalanya
 عن أبي هريرة ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « إِذَا مَاتَ اِبْن آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ» (مُسْلِمٌ) 
 Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Jika manusia mati, terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal, yaitu: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat (diamalkan/ diajarkan), dan anak saleh yang selalu mendo’akannya”. (H.R Muslim) 
3. Pendidik akan mendapatkan nilai kebaiakan (pahala) dari ilmu yang diamalkan peserta didikknya 
 مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْر مِثْل أُجُور مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصذَلِكَ مِنْ أُجُورهمْ شَيْئًا (مُسْلِم وَالتِّرْمِذِيّ وَابْن مَاجَهْ) 
 “Barang siapa yang menyeru pada kebenaran, maka dia akan mendapat pahala dari orang yang mengikuti kebenaran darinya tanpa mengurangi nilai pahala orang yang mengikutinya tersebut”. (H.R Muslim, Turmudzi, dan Ibnu Majah) 
4. Semua yang dipakai (dikeluarkan) pendidik untuk memperlancar proses pendidikan akan diperhitungkan di hari kiamat seperti darahnya syuhada.
 عن أبي الدرداء قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « يُوْزَنُ يَوْمَ الْقِيامَةِ مِدَادُ الْعُلَمَاءَ وَدَم الشُّهَدَاءَ » (أبو داود) 
Dari Abu Darda berkata: Rasulullah saw bersabda: “Akan ditimbang pada hari kiamat nanti, tinta ‘ulama (pendidikan) dengan darah syuhada”. (H.R Abu Dawud) 

Tahun 2005, dengan disyahkannya Undang-undang nomor 14 tentang guru dan dosen, muncul harapan bahwa profesi guru akan dihargai. Namun hal ini tidak mutlak berlaku bagi semua guru. Bagaimanapun di Indonesia penghargaan terhadap guru disesuaikan dengan golongan yang dimilikinya. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap gaji yang mereka terima, semakin tinggi golongannya, maka akan semakin tinggi upah yang diterima dan begiru sebaliknya. Di luar penghargaan dengan materi, jauh sebenarnya seorang pendidik harus bangga dengan profesinya, karena islam sangatlah menghargai profesi ini. 
Dalam hadis-hadis di atas disebutkan beberapa penghargaan islam terhadap pendidik melalui hadis yang disampaikan Rasulullah saw, antara lain: 
1. Derajat seorang pendidik lebih tinggi dari hamba. Rasul mentasybihkan (mengumpamakan) bahwa perbandingan kelebihan seorang ahli ilmu (pengajar) dengan ahli ibadah seperti dalam hadis petama, seperti bulan purnama atas semua bintang di langit. Bulan purnama walaupun satu tetapi begitu dinantikan karena mampu menerangi bumi, sedangkan ribuan bintang belum tentu mampu menerangi bumi seterang bulan. 
2. Mengajar berarti berinfestasi untuk menabung pahala, karena hadis kedua menyebutkan ilmu yang bermanfaat (diajarkan) pahalanya tidak terputus walaupun telah meninggal. 
3. Jika ilmu yang diberikan seorang pendidik mendatangkan manfaat walaupun orang lain yang mengamalkan diaakan mendapat tambahan pahala atas ilmu yang member manfaat tersebut. Bahkan setiap yang digunakannya dalam mengajar akan ditimbang dengan darah para syuhada (hadis ketiga dan keempat).
RASULULLAH SAW SEBAGAI PELOPOR PENDIDIKAN
Rasulullah saw. merupakan pelopor yang berhasil dalam pendidikan, terutama pendidikan islam. Bukti kongkrit keberhasilan beliau sebagai pelopor pendidikan adalah keberhasilannya dalam mendidik para sahabat. Pendidikan ala Rasulullah mampu menghasilkan sumber daya manusia sehandal Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, dan dengan potensi para sahabat tersebut islam mampu meraih masa keemasan. Hadis-hadis yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya juga merupakan bukti sahih keberhasilan beliau dalam dunia pendidikan. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan Nabi saw. dalam mendidik para sahabat dan umatnya pada zaman itu. Sebagai umat muslim semestinyalah keberhasilan Rasul dalam edukasi ini menjadi inspirasi yang diterapkan saat ini. Dari sekian faktor yang mempengaruhi keberhasilan Nabi saw. dalam bidang pendidikan, ada satu hal yang menarik yang bisa kita teladani dan terapkan dalam dunia pendidikan yang kita geluti. Hal yang dimaksud adalah terkait metode yang diterapkan Rasul dalam mendidik sahabat, yaitu metode pendidikan (pengajaran) dengan keteladanan. Kita mungkin saja dapat menemukan suatu system pendidikan yang sempurna, menggariskan tahapan-tahapan yang serasi bagi perkembangan manusia, menata kecenderungan dan kehidupan psikis, emosional, maupun cara-cara penuangannya dalam bentuk perilaku, serta pemanfaatan potensinya sesempurna mungkin. 

Akan tetapi semua ini masih memerlukan realisasi edukatif yang dilaksanakan oleh seorang pendidik. Pelaksanaanya itu memerlukan seperangkat metode dan tindakan pendidikan, dalam rangka mwujudkan asas yang melandasinya, metode yang merupakan patokannya dalam bertindak serta tujuan pendidikannya yang diharapkan dapat dicapai. Ini semua hendaknya ditata dalam suatu system pendidikan yang menyeluruh dan terbaca dalam seperangkat tindakan dan perilaku yang kongkrit. Oleh karena itu Allah swt. mengutus Nabi Muhammad saw. agar menjadi teladan bagi seluruh manusia dalam merealisasikan system pendidikan tersebut. Dalam sebuah keterangan disebutkan: Aisyah r.a. pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw. kemudian Aisyah menjawab: كان خلقه القرأن”Akhlaknya (Rasulullha) adalah al-Quran” Para sahabat telah mempelajari berbagai urusan agama mereka dengan mengikuti teladan yang senagaja diberikan Rasulullah saw. umpamanya, 
Beliau bersabda kepada mereka:
 وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ - رضي الله عنه - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي. رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ 
Dari Malik bin Huwairis r.a berkata: Rasululah saw bersabda: “Salatlah kalian sebagaimana kalian lihat aku salat”. (H.R Bukhari) Juga dalam melaksanakan ibadah haji, Beliaupun menyuruh mereka mencontohnya:
 عن جابر ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال : « خذوا عني مناسككم». رَوَاهُ المسْلِم 
Dari Jabir, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ambillah dariku cara-cara mengerjakan haji kalian.” (H.R Muslim) 
Sebagai contoh bahwa teladan Rasulullah sangat diperhatikan, seorang sahabat bertanya kepada tabi’in: “Apakah aku tidak shalat seperti shalat Rasulullah saw. sebagai contoh bagi kalian?”. Demikianlah Rasulullah saw. peletak pendidikan Islam, mengajarkan kepada kita agar pendidik mengajar para pelajarnya dengan perbuatan-perbuatannya; menarik nperhatian mereka agar mencotohnya, karena dia sendiri mencotoh Rasulullah saw. Metode dengan teladan yang sukses diterapkan Rasul tersebut, mungkin sebuah jawaban untuk menyelesaikan benang kusut permasalahn pendidikan di Indonesia. 
DAFTAR PUSTAKA 
Imam al-Ghazali. Ihya Ulumuddin. Bandung: cv. Bintang Pelajar. Al-Nahlawi, Abdurrahman. 1989. 
Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam. Bandung: cv. Bintang Pelajar. Faiz Almaz, Muhammad. 1991. 
1001 Hadis Terpilih. Jakarta: Gema Insani Press. Rosyidin, Dedeng. 2007. 
Makalah Tafsir Tarbawi. Jurusan Pendidikan Bahasa Arab UPI Bandung. Thalib, Muhammad. 2001. 
Praktek Rasulullah saw. Mendidik Anak. Bandung: Irsyad Baitus Salam. Samarqandi, Abu laits. 1986. 
Tanbihul Ghafilin. Surabaya: Mutiara Ilmu. 
Al-Hasyimi, Abdul Mun’im. Akhlak Nabi Dalam Shahih Bukhari Muslim. Tim Redaksi Fokusmedia. 2005. 
Standar Nasional Pendidikan. Bandung: Fokusmedia. Ali, Muhammad. 1992. 
Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

12 Januari 2016

Hadits Tentang Menuntut Ilmu


حَدَ ثَنَا هِشَاُمِ بِنْ عَمّاَرٍحَفْصُ بِنْ سُلَيْمَانَ.كَثِيْرُ بِنْ شِنْظِيْرِ,عَنْ مُحَمَّدْ بِنْ سِيْرِ يْنَ,عَفْ أَئَفْسِ بن ما لك.قال:قال رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم (طَلَبُ اْلِعلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ. وَوَاضِعُ اْلعِلمِ عِنْدَغَيْر اَهْلِهِ كَمُقَلِّهِ اْلَخفَازِيْرِ الْجَوْهَرَوَالُّلؤْلُؤُ وَالذَّهَبَ). (رواه ابن مجاه)[1]
“Rosulullah Saw. Telah bersabda : Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim dan orang yang meletakkan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya (orang yang enggan untuk menerimanya dan orang yang menertawakan ilmu agama) seperti orang yang mengalungi beberapa babi dengan beberapa permata, dan emas. (H.R. Ibnu Majah)
A. Tafsir Mufrodat Hadist Tentang Menuntut Ilmu
وَ وَضِعُ الْعِلْمِ      : Dan orang yang meletakkan ilmu, maksudnya orang yang menempatkan ilmu
عِنْدَ غَيْرِ اَهْلِهِ      : Kepada orang yang bukan ahlinya, orang yang bukan faknya
كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيْرِ   : Seperti babi yang dikalungi emas( sesuatu yang tidak pantas untuk dilakukan dan akhirnya tidak ada gunanya )

B. Tafsir Nahwu Shorof
طَلَبُ اْلِعلْمِ             : Mubtada’ (Mubtada’nya terdiri dari mudhof dan mudhof ilaih)
فَرِيْضَةٌ                 : Khabar
عَلَى كُلِّ                : Susunan Jar Majrur, karena diawali dengan huruf jar “Ala”
كُلِّ مُسْلِمٍ                : Susunan Idhofah, yaitu mudhof dan mudhof ilaih dan mudhof
                              ilaih dibaca majrur (kasroh).
وَ وَضِعُ الْعِلْمِ      : Wawunya bwrupa wawu athof, وَضِعُ الْعِلْمِ menjadi mubtada’
                      (terdiri dari susunan Idhofah, yaitu mudhof dan mudhof ilaih    dan mudhofilaih  dibaca 
                        majrur (kasroh).
عِنْدَ                       : Khabar Syibhul Jumlah (bentuknya dharaf)
غَيْرِ اَهْلِ                : Susunan Idhofah, yaitu mudhof dan mudhof ilaih dan mudhof
ilaih dibaca majrur (kasroh).
اَهْلِهِ                      : Susunan Idhofah, yaitu mudhof dan mudhof ilaih dan mudhof
ilaih dibaca majrur (kasroh).
كَمُقَلِّدِ                  : Susunan Jar Majrur, karena diawali dengan huruf jar “Kaf”
مُقَلِّدِ الْخَنَازِيْرِ        : Susunan Idhofah, yaitu mudhof dan mudhof ilaih dan mudhof
ilaih dibaca majrur (kasroh).
الْجَوْهَرَ                : Maf’ul Bih
وَ                       : Wawu athof
الُّلؤْلُؤُ                  : Ma’tuf awal (Diathofkan kepada Ma’tuf alaih berupa lafadz
                              الْجَوْهَرَ    
وَ                     : Wawu athof
الذَّهَبَ               : Ma’tuf awal (Diathofkan kepada Ma’tuf alaih berupa lafadz

C Sanad
اِنّيِ رَسُوْلُ الله ص.م

عَفْ أَئَفْسِ بن ما لك

مُحَمَّدْ بِنْ سِيْرِ يْنَ

كَثِيْرُ بِنْ شِنْظِيْرِ

حَفْصُ بِنْ سُلَيْمَانَ

هِشَاُمِ بِنْ عَمّاَرٍ

ابن مجاه


D.  Penjelasan Hadits
Hadits diatas menunjukkan bahwa fardhu bagi setiap orang muslim mencari ilmu, dan orang yang memberikan ilmu bagi selain ahlinya adalah seperti orang yang mengalungkan babi dengan mutiara, permata dan emas. Orang yang mempunyai ilmu agama yang mengamalkannya dan mengajarkannya orang ini seperti tanah tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberikan manfaat bagi dirinya dan memberi manfaaat bagi orang lain, dan Allah juga akan memudahkan bagi orang-orang yang selama hidupnya hanya untuk mencari, dipermudahkan baginya jalan menuju kesurga. Dengan ilmu derjat orang tersebut tinggi dihadapan Allah, Allah pun akan meninggikan derajatnya di dunia maupun diakhirat nanti, seorang muslim memperbanyak mengamalkan ilmu kepada orang lain, maka semakin tinggi pula derajatnya dihadapan Allah, dibawah ini salah satu hadits yang menunjukkan bahwa seseorang yang menempuh suatu jalan dalam hidupnya untuk mencari ilmu, maka Allah akan mempermudahkan baginya jalan menuju surga. Selain Allah memberikan derajat/kedudukan yang tinggi di dunia maupun di akhirat bagi orang muslim yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya kepada orang yang belum tahu. Allah juga : Seorang yang keluar dari rumahnya dalam mencari ilmu, maka para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya untuk orang tersebut. Jadi sangat mulai orang yang berniat hanya untuk mencari ilmu semasa hidupnya.
Hadist tersebut merupakan penjelasan tentang hukum mencari ilmu bagi setiap orang Islam laki laki maupun perempuan, yang telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan lain lain. Akan tetapi hadist tersebut diberi tanda lemah oleh imam Syuyuti.
Adapun hukum menuntut ilmu menurut hadist tersebut adalah wajib. Karena melihat betapa pentingnya ilmu dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Manusia tidak akan bisa menjalani kehidupan ini tanpa mempunyai ilmu. Bahkan dalam kitab taklimul muta’allim dijelaskan bahwa yang menjadikan manusia memiliki kelebihan diantara makhluk-makhluk Allah yang lain adalah karena manusia memilki ilmu. Dan janganlah memberikan ilmu kepada orang yang enggan menerimanya, karena orang yang  enggan menerima ilmu tidak akan mau untuk mengamalkan ilmu itu bahkan mereka akan menertawakannya.
Ilmu sebagai suatau pengetahuan, yang diperoleh melalui cara-cara tertentu. Karena menuntut ilmu dinyatakan wajib, maka kaum muslimin menjalankannya sebagai suatu ibadah, seperti kita menjalankan sholat,puasa. Maka orang pun mencari keutamaan ilmu. Disamping itu, timbul pula proses belajar-mengajar sebagai konsekuensi menjalankan perintah Rasulullah itu proses belajar mengajar ini menimbulkan perkembangan ilmu, yang lama maupun baru, dalam berbagai cabangnya. Ilmu telah menjadi tenaga pendorong perubahan dan perkembangan masyarakat. Hal itu terjadi, karena ilmu telah menjadi suatu kebudayaan. Dan sebagai unsur kebudayaan, ilmu mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam masyarakat Muslim dan dihadapak Allah. Jadi ilmu juga bisa diartikan atau dijadikan sebagai pusat dari perubahan dan perkembangan di dalam suatu masyarakat. Kaitannya dengan hadits diatas tersebut bahwasannya ilmu telah diibaratkan dengan keutamaan atau kelebihan Nabi yg diberikan Allah kepadanya. Begitu tingginya derajat orang yang berilmu disisi Allah dan manfaatnya ataupun pentingnya sangat banyak untuk perubahan-perubahan dalam masyarakat. “Sungguh mulia orang yang berilmu, dan semasa hidupnya hanya untuk mencari ilmu adalah agar dimudahkan dalam masuk surga Allah, Allah pun juga akan juga akan mempermudah baginya masuk surga”.[2]
“Ibnu munir menyatakan, bahwa keutamaan ilmu dalam hadits ini dapat dilihat dimana ilmu telah diibaratkan dengan keutamaan atau kelebihan Nabi yang diberikan Allah kepadanya”.[3] Dengan mengetahui pentingnya ilmu pengetahuan maka dengan ilmu tersebut hukum. Hukum Allah dapat diamalkan, ditegakkan dan dikembangkan. Tanpa ilmu sangat mustahil, karena  salah satu kewajiban islam yang sejajar dengan semua kewajiban lainnya adalah mencari dan menuntut ilmu. Mencari ilmu ialah wajib hukumnya bagi setiap muslim, tidak hanya dikhususkan satu kelompok dan tidak bagi kelompok lain seperti kewajiban sholat, puasa, zakat.
Keutamaan orang yang berilmu sehingga melebihi orang yang ahli ibadah. Karena ibadah tanpa ilmu tidak benar dan tidak diterima, dan untuk membuktikan keutamaan ahli ilmu ini Allah bersama malaikat dan seluruh penghuni langit dan bumi sampai semut dan ikan bershalawat untuk orang yang mengajari kebaikan. Keutamaan ilmu tidak terletak beberapa ilmu yang yang didapat tetapi pada pengembangan dan pengalamannya dalam kehidupan ataupun masyarakat.tujuan akhir seorang mu’min adalah surga. Untuk itu seluruh ilmu yang mereka miliki diamalkan. Caranya adalah mencari dan mengamalkan semua kebijakan tanpa merasa lelah atau capek. Seorang mu’min itu tak akan merasa puas dan lelah dalam mencari maupun mempelajari ilmu, karena dengan ilmu semua kebajikan dapat diraih. Selain Allah memberikan derajat/kedudukan yang tinggi di dunia maupun di akhirat bagi orang muslim yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya kepada orang yang belum tahu. “Seorang yang keluar dari rumahnya dalam mencari ilmu, maka para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya untuk orang tersebut. Jadi sangat mulai orang yang berniat hanya untuk mencari ilmu semasa hidupnya”.[4] Keutamaan orang yang berilmu sehingga melebihi orang yang ahli ibadah. Karena ibadah tanpa ilmu tidak benar dan tidak diterima, dan untuk membuktikan keutamaan ahli ilmu ini Allah bersama malaikat dan seluruh penghuni langit dan bumi sampai semut dan ikan bershalawat untuk orang yang mengajari kebaikan. Keutamaan ilmu tidak terletak beberapa ilmu yang yang didapat tetapi pada pengembangan dan pengalamannya dalam kehidupan ataupun masyarakat.tujuan akhir seorang mu’min adalah surga. Untuk itu seluruh ilmu yang mereka miliki diamalkan. Caranya adalah mencari dan mengamalkan semua kebijakan tanpa merasa lelah atau capek. Seorang mu’min itu tak akan merasa puas dan lelah dalam mencari maupun mempelajari ilmu, karena dengan ilmu semua kebajikan dapat diraih. “Allah tidak pernah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk mencari sesuatu kecuali menuntut ilmu syari’at, yang berfungsi untuk menjelaskan apa-apa yang wajib bagi seorang mukallaf”.[5]

E. Analisa Kependidikan
Dari hadis diatas rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya, agar  menuntut ilmu, terutama sekali adalah ilmu agama kepada orang yang menguasai ilmu tersebut, dan dalam hal ini yang disebut ulama, sebab ada hadis lain yang mengatakan bahwa rasulullah itu wafat beliau seolah- olah beliau berkata kepada para ulama, hai para ulama, aku meninggalkan kalian semua, aku tidak tinggalkan emas, berlian, kepada kalian semua tapi aku tinggalkan ilmu kepada kalian, kalian lah pewarisku, maka orang yang telah mengambilnya berarti ia telah mengambil keuntungan yang banyak. Karena allah akan mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama, sehingga makin banyak ulama wafat maka ilmu semakin banyak ditarik,sehinggga kalau bukan generasi muda kita yang akan bangkit mempelajari ilmu itu, maka akan celakanya umat nantinya akibatnya umat akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh, yang akan memberikan fatwa  menyesatkan.
Begitu Pentingnya Ilmu bagi diri sendiri dan orang lain, dan bagi perubahan dan perkembangan masyarakat. Tanpa ilmu kita juga tidak akan mengetahui hukum-hukum syariat yang wajib dilakukan oleh orang mukallaf tentang urusan Agama yang meliputi Ibadah, Mualamalah, Ilmu tentang Allah dan sifat-sifatnya baik yang wajib maupun yang mustahil baginya. Dari hadits dan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa menuntut itu wajib bagi setiap muslim, dan manfaatnya begitu banyak baik bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain, lebih banyak lagi bagi perubahan dan perkembangan dalam suatu masyarakat. Dan Allah pun akan meninggikan derajat yang tinggi di dunia maupun di akhirat nanti bagi bagi orang yang berilmudan mengamalkan serta mengajarnya kepada orang lain yang belum mengetahui. Orang yang mengamalkan ilmu terus menerus maka Allah juga akan menambah derajatnya di dunia dan akhirat. Ilmu sebagai suatu pengetahuan yang diperoleh melalui cara-cara tertentu. Dengan adanya proses belajar mengajar ini menimbulkan perkembangan dan sebagai tenaga pendorong perubahan masyarakat. Oleh karena itu peran ilmu dalam kehidupan sangat utama. Orang yang keluar dan berniat mencari ilmu, maka malaikat akan meltakkan sayap-sayapnya sebagai rasa senang atas apa yang dilakukan orang tersebut, dan semua apa-apa yang dilangit dan dibumi pun juga akan mendo’akannya, ikan di air pun ikut mendo’akan.

Dari penjelasan hadist – hadist diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa : Menuntut ilmu agama adalah wajib bagi setiap muslim dan jangan memberikan ilmu agama kepada orang yang enggan menerima ilmu. Ilmu akan musnah jika sudah tidak ada lagi para ulama sehingga banyak para pemimpin yang memberi fatwa tanpa menggunakan ilmu pengetahuan, sehingga mereka saling menyesatkan satu sama lain. Bahwa dengan ilmu manusia akan mendapatkan kebahagiaan didunia maupun diakherat. Orang yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu sama dengan orang yang sedang menempuh perjalanan menuju surga, Hal ini merupakan kemuliaan yang diberikan Allah kepada orang yang mencari ilmu. Ilmu mempunyai peranan sangat penting dalam dunia pendidikan, yang mana pendidikan adalah Universal, ada keseimbangan  antara aspek intelektual dan spiritual, antara sifat jasmani dan rohani. Dengan pendidikan  yang benar dan akhlak yang kuat, maka akan tumbuh generasi penerus bangsa yang beradab dan bermartabat.

Kita sebagai golongan terpelajar jangan hanya menjadikan kitab- kitab hadist sebagai buku hiasan saja atau buku pelengkap referensi, tetapi hendaklah kita baca, maknai, dan ditafsiri dengan baikdan selanjutnya di amalkan dengan segenap kemampuan. Dan kiranya makalah kami ini sangat jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan demi meningkatkan kesempurnaan makalah yang kami tulis ini.

DAFTAR PUSTAKA


Al-Mundiri Hafidz, Terjemah Attarghib wat tarhib. (Surabaya: Al-Hidayah Al Qur’an Al Karim, 2000)
As Shobuni, Muhammad ‘Ali, Min Kunuz As Sunnah. (Jakarta: Dar Al Kutub Al Islamiyah, 1999)
Az-zarnuzi. Ta’limul Muta’allim. (Surabaya: Al-Hidayah, tt)
Hadits Riwayat Sunan Ibnu Majah, Kitab Al-ilmi. (Beirut: Dar Al-Fikri, 2001) Jilid 3
Ibnu Hajar Al-asqani, Al Imam Al Hafidz, Fathul Baari Syarah. (Jakarta : Pustaka Azzam, 2002) Jilid 5.
Muhammad Zuhri, Terjemah Jawahirul Bukhari. (Indonesia: Darul Ihya’, 1993)
M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-qur’an. (Jakarta: Paramida, 1996)
Sunan Ibnu Majah, Kitab al-ilmi. Bab Keutamaan Ulama’ dan anjuran mencari ilm. (ttp: Dar Al Fikri, 2001) Jilid 1



________________________________________
[1] Hadits Riwayat Sunan Ibnu Majah, Kitab al-ilmi, Bab Keutamaan Ulama’ dan anjuran mencari ilmu (Bentuk-bentuk Dar Al Fikri 2001) Jilid 1. Hal 183.
[2] M. Dawam Rahardjo, SE, Ensiklopedi Al-qur’an (Jakarta : Paramida 1996) hal 530.
[3] Ibnu Hajar Al asqalani, Al-iman Al hafidzh, Fathul Baari syarah (jakarta : pustaka Azzam, 2002) jilid 5, hal 345.
[4] Hadits Riwayat Sunan Ibnu Majah, Kitab Al-ilmi (Beirut : Dar Al-Fikri, 2001) Jilid 3, hal 184.
[5] Ibnu Hajar Al-asqani, Al Imam Al Hafidz, Fathul Baari Syarah (Jakarta : Pustaka Azzam : 2002) Jilid 5. Hal 263.

30 Desember 2015

Analisis kajian teologia : Salafiyyah doktrin dan historis

Dalam sejarah teologi islam muncul berbagai aliran-aliran, mapun dokrin yang mewarnai perkembangan keilmuan teologis itu. Antara lain Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Maturiddiyah, Asy‘ariyah, Wahabbi dan lain sebagainya, termasuk aliran Salaffiyah; aliran Salaf terdiri dari orang-orang Hanabilah yang muncul pada abad ke-4 Hijriyah dengan mempertalikan dirinya dengan pendapat-pendapat Imam Ahmad bin Hambal (169-241 H), yang dipandang oleh mereka telah menghidupkan dan mempertahankan pendirian ulama salaf. Karena pendapat para ulama salaf ini menjadi motif berdirinya, maka orang-orang Hanabilah menamakan dirinya “aliran Salaf” atau yang lebih familiar dengan sebutan Salafiyah. 
Terjadinya persaingan dan konflik antara orang-orang Hanabilah dengan golongan Asy’ariyah secara fisik, bahkan golongan Hanabilah memandang mereka sebagai kafir. Masing-masing melakukan truth claim bahkan dirinyalah yang lebih berhak mewarisi ulama salaf. 
 Pada abad VII Hijriayah, gerakan salaf memperoleh kekuatan baru, dengan munculnya Ibnu Taimiyah (661-728 H) di Syiria dan gerakan Wahabi (1115-1201 H) di Saudi Arabia. Menjadi suntikan semangat baru atau power injektion dalam gerakan dan doktrinal meraka yang memantapkan keyakinan mereka tentang dogma yang diusung (dibawa) golongan hanabilah sejak abad IV H silam, sebagai penyelamat dan pewaris ulama salaf yang berusaha terus menghidupkan dan mempertahankan pendirian ulama salaf. Bahkan banyak orientalis dewasa ini mengadopsi pemikiran para imam Salafiyyah, bahkan Ibn Taimiyyah belakangan disebut sebagai bapak doktrinal tajdid al-Islamy, seperti yang di utarakan oleh Nurchalis Madjid dalam disertasinya, maupun Fazlur Razi.[1] 
Aliran Salafiyyah ini menarik untuk diamati melalui semboyan kembali kepada ulama salaf atau sekarang diadopsi lewat tajdid mereka bisa berkembang hingga sekarang walaupun tidak berbentuk sebagai golongan atau ormas namun lebih pada pemikiran dan doktinalnya, yang dulu digunakan sebagai respon atas proses mihnah (iquisition) oleh muktazilah atau lebih mengrucut pada persoalan akidah yang di sebarkan muktazilah (yang terlalu rasional). Untuk itu dalam makalah ini akan dijelaskan secara mendetail mengenai karakteristik, doktrinal, dan histories singkatnya melalui sudut pandang deduktif, supaya lebih menyeluruh dalam memberikan pemahaman. 

PEMBAHASAN
2.1 Asal Usul Berdirinya Golongan Salaf 
Paham atau golongan salaf pertama kali muncul pada abad ke-4/IV H yang kesemuanya adalah pengikut mazhab Hambali (Hanabilah). Mereka beranggapan bahwa Imam Ahmad ibn Hambal (169-241 H) telah menghidupkan dan mempertahankan pendirian ulama-ulama salaf. Karena pemikiran keagamaan ulama-ulama salaf menjadi motivasi gerakannya, maka golongan Hanabilah itu menamakan gerakannya sebagai paham atau aliran salaf. 

Terjadinya persaingan dan konflik antara golongan hanabilah dengan golongan Asy’ariyah secara fisik, bahkan orang-orang Hanabilah memandang mereka sebagai kafir. Masing-masing melakukan klaim kebenaran bahwa dirinyalah yang lebih berhak mewarisi ulama salaf. Pada abad VII Hijriyah, gerakan salaf memperoleh kekuatan baru, dengan munculnya Ibnu Taimiyah (661-728 H) di syiria dan gerakan Wahabi (1115-1201 H) di Saudi Arabia. 

 Selain itu, pada masa khalifah al-Ma’mun dari bani Abbas yang dimana aliran mu’tazilah mencapai puncaknya, pada masa itu aliran mu’tazilah mengkampanyekan pemikiran “Al-Qur’an adalah makhluk”, semua rakyat dan ulama’ dipaksa untuk mengikuti pemikiran tersebut melalui Inquisition kepada mereka. Namun ada salah satu ulama’ yang menentang dengan tegas pendapat tersebut, dia adalah imam Ahmad ibn Hanbal. Akibat penentangan tersebut, beliau kerap kali disiksa dan masuk penjara. Pemikiran-pemikiran imam Ahmad Ibn Hanbal kemudian melahirkan sebuah aliran teologi baru yaitu aliran Salaf. Aliran salaf merupakan aliran yang muncul sebagai kelanjutan dari pemikiran Imam Ahmad ibn Hanbal yang kemudian pemikirannya diformulasikan secara lebih lengkap oleh imam Ahmad Ibn Taimiyah. Sebagaimana aliran Asy’ariyah, aliran Salaf memberikan reaksi yang keras terhadap pemikiran-pemikiran ekstrim Mu’tazilah 
2.1.1 Pengertian Salaf Kata salaf secara etimologi dapat diterjemahkan menjadi "terdahulu" atau "leluhur". Menurut Thablawi Mahmud Sa’ad, Salaf artinya ulama terdahulu. Salaf terkadang dimaksudkan untuk merujuk generasi sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in, para pemuka abad ke-3 H.[2] Dan para pengikutnya pada abad ke-4 yang terdiri dari atas para muhadditsin dan lainnya. Salaf berarti pula ulama-ulama saleh yang hidup pada tiga abad pertama Islam (masa tabiit-tabi’in).[3] 


Sedangkan menurut terminologi terdapat banyak difinisi yang dikemukakan oleh para pakar mengenai arti salaf, diantaranya adalah: Menurut As-Syahrastani, ulama salaf adalah yang tidak menggunakan ta’wil (dalam menafsirkan ayat-ayat mutasabbihat) dan tidak mempunyai faham tasybih.[4] 
Mahmud Al-Bisybisyi menyatakan bahwa salaf sebagai sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in yang dapat diketahui dari sikapnya menampik penafsiran yang mendalam mengenai sifat-sifat Allah yang menyerupai segala sesuatu yang baru untuk mengagungkan dan mensucikan Allah.[5] 
Asal penamaan Salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah sabda Nabi Muhammad S.A.W kepada putrinya Fatimah az-Zahra: فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَك Artinya: “karena sesungguhnya sebaik-baik salaf bagimu adalah saya”.[6]
 Pada zaman modern, kata Salaf memiliki dua makna (definisi) yang kadang kala berbeda. Seperti yang digunakan akademisi dan sejarawan, merujuk pada “aliran pemikiran yang muncul pada paruh kedua abad XIX sebagai reaksi penyebaran ide-ide dari Eropa,” dan “orang-orang yang mencoba memurnikan kembali ajaran yang telah dibawa Rasulullah serta menjauhi berbagai ke bid’ahan, khurafat, syirik dan tahayul dalam agama islam”.[7] 
 2.1.2 Karakteristik Aliran Salaf Berbeda dengan aliran mu’tazilah yang cenderung menggunakan metode pemikiran rasional, aliran salaf menggunakan metode tekstual yang mengharuskan tunduk dibawah naql dan membatasi wewenang akal pikiran dalam berbagai macam persoalan agama termasuk didalamnya akal manusia tidak memiliki hak dan kemampuan untuk menakwilkan dan menafsirkan al-Qur’an. Kalaupun akal diharuskan memiliki wewenang, hal ini tidak lain adalah hanya untuk membenarkan, menela’ah dan menjelaskan sehingga tidak terjadi ketidak-cocokan (ambiguitas) antara riwayat yang ada dengan akal sehat.[8] 
Namun dalam penerapannya di kalangan para tokoh aliran ini sendiri, metode ini tidak selalu membuahkan hasil yang sama. Hal ini disebabkan mereka tidak luput dari pengaruh situasi kultural dan struktural pada masanya. Misalnya, di kalangan aliran salaf ada golongan yang disebut al-Hasyawiyah, yang cenderung kepada anthropomorfisme dalam memformulasikan sifat-sifat Tuhan, seperti mereka berpandangan bahwa ayat-ayat al-Qur’an dan hadits yang bersifat mutasyabbihat harus difahami menurut pengertian harfiyahnya. Akibatnya ada kesan bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat seperti bertangan, bermuka, datang, turun, dan sebaginya.[9] 
 W. Montgomery Watt menyatakan bahwa gerakan salafiyah berkembang terutama di Bagdad pada abad ke-13. Pada masa itu terjadi gairah menggebu-gebu yang diwarnai fanatisme kalangan kaum Hanbali. Sebelum akhir abad itu terdapat sekolah-sekolah Hanbali di Jerusalem dan Damaskus. Di damaskus, kaum Hanbali makin kuat dengan kedatangan para pengungsi dari Irak yang disebabkan serangan Mongol atas Irak. Diantara para pengungsi itu terdapat satu keluarga dari Harran, yaitu keluarga Ibn Taimiyah. Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama’ besar penganut imam Hanbali yang ketat.[10] 
Aliran salaf mempunyai beberapa karakteristik seperti yang dinyatakan oleh Ibrahim Madzkur sebagai berikut; 
1. Mereka lebih mendahulukan riwayat (naqli) daripada dirayah (aqli). 
2. Dalam persoalan pokok-pokok agama dan persoalan cabang-cabang agama hanya bertolak dari penjelasan al-Kitab dan as-sunnah 
 3. Mereka mengimani Allah tanpa perenungan lebih lanjut (Dzat Allah) dan tidak mempunyai faham anthropomorphisme (menyerupakan Allah dengan makhluk). 
 4. Mengartikan ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan makna lahirnya dan tidak berupaya untuk mentakwilnya. Apabila melihat karakteristik yang dikemukakan Ibrahim Madzkur di atas, tokoh-tokoh berikut ini dapat dikatagorikan sebagai ulama salaf, yaitu Abdullah bin Abbas (68 H), Abdullah bin Umar (74 H), Umar bin Abdul Al-Aziz (101 H), Az-Zuhri (124 H), Ja’farAhs-Shadiq (148 H), dan para imam mazhab yang empat (Imam Hanafi, Maliki, Syafi,i, dan Ahmad bin Hanbal).[11] 
Menurut Harun Nasution, secara kronologis salafiyah bermula dari Imam Ahmad bin Hanbal. Lalu ajarannya dikembangkan Imam Ibn Taimiyah, kemudian disuburkan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab, dan akhirnya berkembang di dunia Islam secara sporadis.[12] 
Bila Salafiyah muncul pada abad ke-7 H, hal ini bukan berarti tercampuri masalah baru. Sebab pada hakikatnya mazhab Salafiyah ini merupakan kelanjutan dari perjuangan pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal. Atau dengan redaksi lain, mazhab Hanbalilah yang menanamkan batu pertama bagi pondasi gerakan Salafiyah ini. Atas dasar inilah Ibnu Taimiyah mengingkari setiap pendapat para filosof Islam dengan segala metodenya. Pada akhir pengingkarannya Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa tidak ada jalan lain untuk mengetahui aqidah dan berbagai permasalahannya hukum baik secara global ataupun rinci, kecuali dengan Al-Qur’an dan Sunnah kemudian mengikutinya. Apa saja yang diungkapkan dan diterangkan Al-Qur’an dan Sunnah harus diterima, tidak boleh ditolak. Mengingkari hal ini berarti telah keluar dari agama.[13] 
 2.2 Tokoh-tokoh Aliran Salaf Dalam literatur ketokohan aliran Salafiyyah umumnya selalu merujuk kepada dua ulama besar beda generasi yaitu; Ahmad ibn Hanbal (169-241 H) dan Ibnu Taimiyah (661-728 H) sebelum akhirnya di teruskan oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1115-1201 H) dengan gerakan tajdid-nya yang dikenal gerakan Wahabi di Saudi Arabia.[14] 
Disini akan kami jelaskan riwayat singkat ke-dua ulama yang pertama disebut, karena pengaruhnya yang mendasar sehingga disebut sebagai landasan mindset-nya gerakan Salaf, bahkan Ibnu taimiyah disebut sebagai bapak doktrinal ulama dan orientalis modern.[15] 
2.2.1 Ahmad ibn Hanbal Ia dilahirkan di Baghdad pada tahun 164 H/780 M dan meninggal pada tahun 241 H/855 M. Ia sering dipanggil Abu Abdillah karena salah satu anaknya bernama Abdillah, namun ia lebih dikenal dengan nama Imam Hanbali karena merupakan pendiri madzhab Hanbali. Ibunya bernama Shahifah binti Maimunah binti Abdul Malik bin Sawadah bin Hindur Asy-Syaibani, bangsawan Bani Amir. Ayahnya bernama Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Anas bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasit bin Mazin bin Syaiban bin Dahal bin Akabah bin Sya’ab bin Ali bin Jadlah bin Asad bin Rabi Al-Hadis bin Nizar. Di dalam keluarga Nizar Imam Ahmad bertemu keluarga dengan nenek moyangnya Nabi Muhammad Saw.[16] 
 Ilmu yang pertama beliau kuasai adalah al-Quran sehingga beliau hafal pada usia 15 tahun. Lalu beliau mulai berkonsentrasi belajar Ilmu Hadits pada awal usia 15 tahun pula. Pada usia 16 tahun ia memperluas wawasan ilmu al-Quran dan ilmu agama lainnya kepada ulama-ulama Baghdad. Lalu mengunjungi ulama-ulama terkenal di Khufah, Basrah, Syam, Yaman, Mekah dan Madinah.[17] 
Diantara guru-gurunya ialah Hammad bin Khalid, Ismail bin Aliyyah, Muzaffar bin Mudrik, Walid bin Muslim, Muktamar bin Sulaiman, Abu Yusuf Al-Qadi, Yahya bin Zaidah, Ibrahim bin Sa’id, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Abdur Razaq bin Humam dan Musa bin Tariq. Dari guru-gurunya Ibnu Hanbal mempelajari ilmu fiqh, hadits, tafsir, kalam, ushul dan bahasa Arab.[18] 
Ibnu Hanbal dikenal sebagai seorang yang zahid, teguh dalam pendirian, wara’ serta dermawan. Karena keteguhannya, ketika khalifah Al-Makmun mengembangkan madzhab Mu’tazilah, Ibnu Hanbal menjadi korban mihnah (inquisition).[19] 
Karena tidak mengakui bahwa Al-Quran adalah makhluk. Akibatnya pada masa pemerintahan Al-Makmun, Al-Mu’tasim dan Al-Watsiq ia harus mendekam dipenjara. Namun setelah Al-Mutawakkil naik tahta Ibnu Hanbal memperoleh kebebasan, penghormatan dan kemuliaan.[20]
 A. Pemikiran teologi Imam Ahmad ibn Hanbal 
1. Tentang Ayat-ayat Mutasyabihat dan status Al-Qur’an Dalam memahami ayat Al-Quran Ibnu Hanbal lebih suka menerapkan pendekatan lafdzi (tekstual) daripada pendekatan ta’wil. Dengan demikian ayat Al-Quran yang mutasyabihat diartikan sebagaimana adanya, hanya saja penjelasan tentang tata cara (kaifiat) dari ayat tersebut diserahkan kepada Allah SWT. Ketika beliau ditanya tentang penafsiran surat Thaha ayat 5 berikut ini : 

Artinya: yaitu yang Maha Pengasih Yang Bersemayam di atas Arsy (Q.S. Thaha:5)[21] 

Dalam hal ini, Ibn Hambal menjawab; إِسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ كَيْفَ شَآءَ وَكَمَا شَآءَ بِلاَ حَدٍّ وَلاَصِفَةٍ يُبْلِغُهَا وَاصِفٌ Artinya: Istiwa di atas Arasy terserah kepada Allah dan bagaimana saja Dia kehendaki dengan tiada batas dan tiada seorang pun yang sanggup menyifatinya.[22]
 Salah satu persoalan teologis yang dihadapi Ibn Hanbal, yang kemudian membuatnya dipenjara beberapa kali, adalah tentang status al-Qur’an, apakah diciptakan (mahluk) yang karenanya hadits (baru) ataukah tidak diciptakan yang karenanya qodim? Faham yang diakui oleh pemerintah, yakni Dinasti Abbasiyah dibawah kepemimpina khalifah Al-Makmun, al-Mu’tasim, dan al-Watsiq, adalah faham Mu’tazilah, yakni al-Qur’an tidak bersifat qodim, tetapi baru dan diciptakan. 
Faham adanya qodim disamping Tuhan, berarti menduakan Tuhan, sedangkan menduakan Tuhan adalah Syirik dan dosa besar yang tidak diampuni Tuhan. Ibn Hanbal tidak sependapat dengan faham tersebut di atas. Oleh karena itu, ia kemudian diuji dalam kasus mihnah oleh aparat pemerintah. Pandangan tentang status Al-Qur’an dapat dilihat dari dialognya dengan Ishaq bin Ibrahim, gubernur irak: Ishaq bertanya: Bagaimana pendapatmu tentang Al-Qur’an? Ahmad ibn Hanbal : Ia adalah kalam Allah. Ishaq : Apakah ia makhluk? Ibn Hanbal : Ia dalah kalam Allah, aku tidak menambahnya lebih dari itu. Ishaq : Apakah arti bahwa Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat? Ibn Hanbal : Itu seperti apa yang Dia sifatkan kepada diri-Nya. Ishaq : Apakah maksudnya? Ibn Hanbal : Aku tidak tahu, Dia seperti apa yang dia sifatkan kepada diri-Nya.[23]
Ibn Hanbal, berdasarkan dialog diatas, tidak mau membahas lebih lanjut tentang status Al-Qur’an. Ia hanya mengatakan Al-Qur’an tidak diciptakan. Hal ini sejalan dengan pola pikirnya yang menyerahkan ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat Allah kepada Allah dan Rasul-Nya.[24]
 Bagi Ahmad bin Hanbal, iman adalah perkataan dan perbuatan yang dapat berkurang dan bertambah, dengan kata lain iman itu meliputi perkataan dan perbuatan, iman bertambah dengan melakukan perbuatan yang baik dan akan berkurang bila mengerjakan kemaksiatan.[25] 
2.2.2 Ibnu Taimiyah Nama lengkap beliau adalah Ahmad Taqiyudin Abu Abbas bin Syihabuddin Abdul Mahasin Abdul Halim bin Abdissalam bin Abdillah bin Abi Qasim Al Khadar bin Muhammad bin Al-Khadar bin Ali bin Abdillah, Nama Taimiyah dinisbatkan kepadanya karena moyangnya yang bernama Muhammad bin Al-Khadar melakukan perjalanan haji melalui jalan Taima’.[26]
lahir di Haman, wilayah Irak, 10 Rabiul Awal 661 H/22 Januari 1263 M dan meninggal pada 20 Dzul Qa’dah 728 H/26 September 1328 M. Dia dibesarkan oleh keluarga yang taat beragama dan berguru kepada Syaikh Ali Abd. Al-Qawi, ulama terkenal pada zamannya. Beliau mempelajari Al-Qur’an, al-Hadist, bahasa dan sastra arab, matematika, sejarah kebudayaan, logika, filsafat dan hukum. Keluarga dan leluhurnya merupakan tokoh terkemuka dalam mazhab Hambali. Ibn Taimiyah hidup di era kemunduran Islam, ketika Baghdad dihancurkan oleh tentara Mongolia dibawah panglima Hulako (1258 M). Pada saat berusia tujuh belas tahun , kegiatan ilmiahnya sudah mulai tampak, dan ketika berusia 21 tahun ia mulai mengarang dan mengajar. Karena keberanian mengeluarkan pendapat-pendapatnya, serta terkenal oleh ilmu dan amal, sifat-sifatnya yang baik, pada tahun 691 H beliau di beri gelar “Muhyis sunnah” (Pembangun/penghidup as-Sunnah), padahal umurnya belum genap 30 tahun.[27] 
Pemikiran-pemikiran ibnu Taimiyah memang terkesan radikal dalam karya-karya yang ia tulis dengan tujuan berusaha membersihkan masyarakat dari akidah dan kepercayaan yang sesat, memperbaiki kehidupan sosial masyarakat, dan memurnikan kehidupan beragama. Yang mana pada masanya pemikira Ibnu taimiyah seringkali bersebrangan mazhab resmi pemerintah, pada waktu itu yang berkuasa adalah Bani Buwaihi yang terkenal bermazhab Syafi’i dalam fiqh dan Asy’ariyah dalam lapangan kalam. 
A. Pemikiran teologis ibn Taimiyah Pemikiran Ibn Taimiyah seperti dikatakan Ibrahim Madzkur, adalah sebagai berikut: 
1. Sangat berpegang teguh pada Nash (Al-Qur’an dan Al-Hadits). 
 2. Tidak memberi ruang gerak kepada Akal (Ra’y). 
3. Berpendapat bahwa Al-Qur’an mengandung semua ilmu agama. 
 4. Di dalam Islam yang diteladani hanya tiga generasi saja (sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in). 
5. Allah memiliki sifat yang tidak bertentangan dengan tauhid dan tetap mentanzihkan-Nya. Ibnu Taimiyah mengkritik Imam Hanbali yang mengatakan bahwa kalamullah itu qadim, menurut Ibnu Taimiyah jika kalamullah qadim maka kalamnya juga qadim. Ibnu Taimiyah adalah seorang tekstualis oleh sebab itu pandangannya oleh Al-Khatib Al-Jauzi sebagai pandangan tajsim Allah (antropomorpisme) yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Oleh Karena itu, Al-Jauzi berpendapat bahwa pengakuan ibn Taimiyah sebagai Salaf perlu ditinjau kembali.[28] 
 Berikut ini merupakan pandangan Ibnu Taimiyah tentang sifat-sifat Allah :[29] 
1. Percaya sepenuh hati terhadap sifat-sifat Allah yang disampaikan oleh Allah sendiri atau rasul-Nya. Sifat-sifat dimaksud adalah: 
 a. Sifat Salabiyyah, yaitu qidam, baqa’, mukhalafatul lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi dan wahdaniyyat. 
 b. Sifat Ma’ani, yaitu : qudrah, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashar dan kalam. 
 c. Sifat khabariah (sifat yang diterangkan Al-Qur’an dan Al-Hadits walaupun akal bertanya-tanya tentang maknanya), seperti keterangan yang menyatakan bahwa Allah ada di langit; Allah di Arasy; Allah turun ke langit dunia; Allah dilihat oleh orang yang beriman di surga kelak; wajah tangan, dan mata Allah. 
d. Sifat Idhafiah, yaitu sifat Allah yang disandarkan (di-Idhafat-kan) kepada makhluk seperti rabbul ‘alamin, khaliqul kaun dan lain-lain. 
2. Percaya sepenuhnya terhadap nama-nama-Nya, yang Allah dan rasul-Nya sebutkan seperti Al-Awwal, Al-Akhir dan lain-lain. 
3. Menerima sepenuhnya sifat dan nama Allah tersebut dengan: 
a. Tidak merubah maknanya kepada makna yang tidak dikehendaki lafadz (min ghoiri tashrif [tekstual]). 
 b. Tidak menghilangkan pengertian lafadz (min ghoiri ta’thil). 
 c. Tidak mengingkarinya (min ghoiri illhad) 
 d. tidak menggambar-gambarkan bentuk Tuhan, baik dalam fikiran atau hati, apalagi dengan indera (min ghairi takyif at-takyif). 
 e. tidak menyerupakan (apalagi mempersamakan) sifat-sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya (min ghairi tamtsili rabb ‘alal ‘alamin).[30]
Berdasarkan alasan diatas, Ibn Taimiyah tidak menyetujui penafsiran ayat-ayat Mutasyabihat. Menututnya, ayat atau hadits yang menyangkut sifat-sifat Allah harus diterima dan diartikan sebagaimana adanya, dengan catatan tidak men-tajsim-kan, tidak menyerupakan-Nya dengan Makhluk., dan tidak bertanya-tanya tentangnya. Dalam masalah perbuatan manusia Ibnu Taimiyah mengakui tiga hal: 
1. Allah pencipta segala sesuatu termasuk perbuatan manusia. 
2. Manusia adalah pelaku perbuatan yang sebenarnya dan mempunyai kemaun serta kehendak secara sempurna, sehingga manusia bertanggung jawab atas perbuatannya. 
3. Allah meridhai perbuatan baik dan tidak meridlai perbuatan buruk. Dikatakan oleh Watt bahwa pemikiran Ibn Taimiyah mencapai klimaksnya dalam masalah sosiologi politik yang mempunyai dasal teologi. Masalah pokoknya terletak pada upayanya untuk membedakan antara manusia dengan Tuhan yang mutlak, oleh sebab itu masalah Tuhan tidak dapat diperoleh dengan metode rasional, baik metode filsafat maupun teologi. Begitu juga keinginan mistis manusia untuk menyatu dengan Tuhan adalah suatu hal yang mustahil.[31] 
 2.3 Pemikiran dan Doktrin Aliran Salaf Pokok ajaran dari ideologi dasar Salafi adalah bahwa Islam telah sempurna dan selesai pada waktu masa Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya, oleh karena itu tidak dikehendaki inovasi yang telah ditambahkan pada abad nanti karena material dan pengaruh budaya. Paham ideologi Salafi berusaha untuk menghidupkan kembali praktik Islam yang lebih mirip agama Muhammad selama ini.[32] 
 Salafi sangat berhati-hati dalam agama, apalagi urusan aqidah dan fiqh. Salafi sangat berpatokan kepada as salafus sholeh. Bukan hanya masalah agama saja mereka perhatikan, tetapi masalah berpakaian, salafi sangat suka mengikuti gaya berpakaian seperti zaman as salafus sholeh seperti memakai sorban atau gamis bagi laki-laki atau memakai celana-celana menggantung, dan juga memakai cadar bagi kebanyakan wanita salafi. Ibnu Taimiyyah dalam bukunya Minhaj as-sunnah dengan tegas menolak metode rasional Mu’tazilah yang menetapkan adanya harmoni (kesesuaian) naql (transferensi) dengan ‘aql (nalar). Apabila terjadi kontroversi antara keduanya, maka yang digunakan adalah nalar dengan melakukan interpretasi alegoris (ta’wil) terhadap naql (transferensi). Ibnu Taimiyyah menawarkan metode alternatif, yaitu harmonitas rasional yang jelas dengan periwayatan yang valid. Maka, jika terjadi kontraversi diantara nalar dan naql, ia menyerahkan (penyelesaian) pada naql karena yang mengetahuinya hanyalah Allah semata. Epistemologi Ibnu Taimiyyah tidak mengizinkan terlalu banyak intelektualisasi, termasuk menolak interpretasi (ta’wil), sebab baginya dasar ilmu pengetahuan manusia terutama ialah fitrahnya. Dengan fitrah-nya itu manusia mengetahui tentang baik dan buruk, dan tentang benar dan salah. Fitrah yang merupakan asal kejadian manusia, yang menjadi satu dengan dirinya melalui intuisi, hati kecil, hati nurani, dan lain-lain, diperkuat oleh agama yang disebut sebagai fitrah yang diturunkan, maka metodologi kaum kalam baginya adalah sesat. Adapun 3 pokok Ajaran Salaf seperti yang di jelaskan berbagai sumber sebagai berikut: 
 1. Keesaan dzat dan sifat Allah, Salaf menegaskan bahwa sifat-sifat, nama-nama, perbuatan dan keadaan Allah adalah seperti yang tersebut dalam Al-qur’an dan hadis dimaknai sebagaimana arti lahiriyahnya (tapi menghindari penafsiran secara indrawi) dengan batasan, keadaan-Nya berbeda dengan makhluk-Nya (mukhalafatu lil khawaditsi ), karena Tuhan itu suci dari sesuatu yang ada pada makhluknya. Dengan arti lain, bahwa pemahaman yang digunakan ialah diantara “ta’thil” (peniadaan sifat) sama sekali dan “tasybih” (penyerupaan Tuhan dengan makhluknya). 
2. Keesaan penciptaan oleh Allah, bermakna bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah itu merupakan karya Allah mutlak, tanpa sekutu dalam penciptaannya, tiada yang merecoki kekuasaannya, segala sesuatu datang dari pada-Nya, dan segala sesuatu kembali kepada-Nya. Dari kajian ini, maka timbul persoalan baru apakah perbuatan manusia itu “jabbar” (determinasi) yang merupakan produk naql dan menolak atas praksis akal, atau “ikhtiari” (liberasi) yang merupakan produk akal dan interpretasi alegotis-metaforis terhadap naql (wahyu). Mereka mengambil sikap dan pemahaman antara paham mu’tazilah dan asy’ariyah . 
3. Keesaan ibadah kepada Allah, dimaksudkan adalah bahwa ibadah tidak dihadapkan serta dilaksanakan kecuali kepada Allah, dengan secara ketat mengikuti ketentuan syara’ dan tidak didorong oleh tujuan lain, kecuali untuk dan sebagai sikap taat serta pernyataan syukur kepada-Nya. Kajian ibadah tidak dimasudkan untuk melihat sah-batalnya dan tidak pula dalam tinjauan rukun dan syaratnya, tetapi yang dikehendaki adalah ada tidaknya jiwa tauhid didalam ibadah (ritual) itu. Konsekwensi dimasukkan ibadah dalam kajian teologi kaum salaf melahirkan tindakan praksis yaitu: pelarangan mengangkat manusia (hidup atau mati) sebagai perantara (wasilah) kepada Tuhan atau dengan kata lain dilarang bertawassul, larangan memberi nazar kepada kuburan atau penghuninya atau penjaganya, dan larangan ziarah kubur orang saleh dan para nabi.[33] 
2.4 Perkembangan Salafiyyah di Indonesia Perkembangan salafiyah di Indonesia di awali oleh gerakan-gerakan persatuan Islam (persis), atau Muhammadiyah. Gerakan-gerakan lainnya, pada dasarnya juga dianggap sebagai gerakan ulama salaf, tetapi teologinya sudah di pengaruhi oleh pemikiran yang dikenal dengan istilah logika. Sementara itu, para ulama yang menyatakan diri mereka sebagai ulama salaf, mayoritas tidak menggunakan pemikiran dalam membicarakan masalah teologi (ketuhanan). Dalam perkembangan berikutnya, sejarah mencatat bahwa salafiyah tumbuh dan berkembang pula menjadi aliran (mazhab) atau paham golongan, sebagaimana Khawarrij, Mu’tazilah, Maturidiyah, dan kelompok-kelompok Islam klasik lainnya. Salafiyah bahkan sering dilekatkan dengan ahl-sunnah wal jama’ah, di luar kelompok syiah.[34]
Selain itu, Salafi di Indonesia banyak dipengaruhi oleh ide dan gerakan pembaruan yang dilancarkan oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab di kawasan Jazirah Arabia. Menurut Abu Abdirrahman al-Thalibi, ide pembaruan ibn ‘Abd al-Wahhab diduga pertama kali dibawa masuk ke kawasan Nusantara oleh beberapa ulama asal Sumatra Barat pada awal abad ke-19. Inilah gerakan salafiyah pertama di tanah air yang kemudian lebih dikenal dengan gerakan padiri. Yang salah satu tokoh utamanya adalah Tuanku Imam Bonjol. Gerakan ini sendiri berlangsung dalam kurun waktu 1803 hingga sekitar 1832.
Tapi, Ja’far Umar Thalib mengklaim, dalam salah satu tulisannya, bahwa gerakan ini sebenarnya telah mulai muncul bibitnya pada masa Sultan Aceh Iskandar Muda (1603-1673). Ditahuan 80-an, dengan maraknya gerakan kembali kepada islam di berbagai kampus di Tanah air- mungkin dapat dikatakan sebagai tonggak awal kemunculan gerakan Salafi di Indonesia. Adalah Ja’far Umar Thalib salah satu tokoh utama yang berperan dalam hal ini. Disamping Ja’far Thalib, terdapat beberapa tokoh lain yang dapat dikatakan sebagai penggerak awal gerakan salfi di Indonesia, seperti: Yazid Abdul Qadir Jawwaz (Bogor), Abdul Hakim Abdat (Jakarta), Muhammad Umar As-Sewed (Solo), Ahmad Fais Asifuddin (solo), dan Abu Nida (Yogyakarta). Nama-nama ini bahkan kemudian tergabung dalam dewan redaksi Majalah As-Sunnah majalah gerakan Salafi Modern pertama di Indonesia, sebelum mereka kemudian mereka berpecah beberapa tahun kemudian. 
 KESIMPULAN 
 Dalam perkembangan teologi Islam Salafiyyah termasuk aliran yang mempunyai andil besar dalam sejarah kalamiyyah juga sebagai tonggak pemisah antara ulama ra’y (menempatkan rasio lebih dulu, walaupun tidak meninggalkan nas secara menyeluruh) dengan ulama tekstual yang mereka sebut Salafiyyah ini, walaupun pada saat yang sama juga ada aliran yang lebih moderat (As’ariyyah). Berdirinya salafiyyah karena para pengikut mazhab Hanabilah atau pengikut imam Ahmad ibn Hanbal mengembalikan pemikiran salaf dalam hal ini sebagai respon terhadap perkembangan aliran rasional yang digawangi Muktazilah. Perkembangan selanjutnya, aliran salaf lebih berkiblat pada pemikiran Ahmad Taqiyuddin bin Abbas (Ibn Taimiyyah) 661 H-728 H dan seterusnya di Arab Saudi oleh Muhammad ibn Abdul Wahab (1115-1201 H). Paham ideologi Salafi berusaha untuk menghidupkan kembali praktik Islam yang lebih mirip agama Muhammad selama ini. Dalam mindset paham salafi doktrinal mereka dapat di rumuskan sebagai berikut: 
 1. Kemutlakan akidah dan wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw, dan menganggap metode ahli filsafat yang mengedepankan logika sebagai hal yang salah dan sesat. 
 2. Apa yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Sunnah Nabi harus diterima dan tidak boleh ditolak. 
 3. Akal pikiran tidak mempunyai kekuasaan untuk menakwilkan Al-Qur’an atau menafsirkannya ataupun menguraikannya, kecuali dalam batasan-batasan yang diizinkan oleh kata-kata (bahasa) dan dikuatkan pula oleh hadits-hadits. Selain itu, salafiyyah juga melarang ziarah kubur bilamana dengan tujuan untuk meminta berkah atau mendekatkan diri kepada Allah, yang boleh dan bahkan dianjurkan bila dengan tujuan mencari keteladanan (al-‘idhah) dan nasihat (i’tibar), yang terakhir mereka mengharamkan tawassul.

RUJUKAN
[1] Ahmad baso, “NU Studies”, (Jakarta: PENERBIT ERLANGGA, 2006) hal. 176-180.
 [2] http://id.wikipedia.org/wiki/Salaf, di akses tanggal 13 April 2014
 [3] Thablawy mahmud Saad, At-Tashawwuf fi Turasts Ibn Taimiyah, (Mesir: Al-hai Al-Hadis Al-Mishriyah Al-Ammah li Al-Kitab, 1984), hal. 11-38
 [4] Abdur Razak dan Rosihan Anwar , Ilmu Kalam, (Bandung: Puskata Setia, 2006), cet ke-2, hal. 109
 [5] Ibid
[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Salaf, diakses pada tanggal 13 April 2014
 [7] http://id.wikipedia.org/wiki/Salafiyah#cite_note-KepelJihad-7, diakses pada tanggal 13 April 2014
 [8] Adeng Muhtar Ghazali, Perkembangan Ilmu Kalam dari Klasik Hingga Modern, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2003), hal. 101
[9] Ibid., hal. 101-102
 [10] Rozak, Ilmu Kalam, Op.cit., hal. 109
[11] Ibid, hal. 110
 [12] Ibid
 [13] Mustofa Muhammad Asy Syak’ah, Islam Tidak Bermazhab, (Jakarta: Gema Insani, 1994), hal. 390
 [14] Shalihun A. Natsir, pemikiran ilmu kalam (Jakarta: Rajawali Pers, 2007), hal 278-279
 [15] Ahmad Baso, NU Studies (Jakarta: PENERBIT ERLANGGA 2006) hal. 187-188
 [16] Rozak, Ilmu Kalam, Op.cit,. hal.111
 [17] Ibid,
 [18] Hafisz Dasuki, Ensiklopedi Islam, Jilid.V cet. 1, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993), hal. 82
 [19] Dalam sejarah Islam, mihnah dijalankan oleh pemerintahan Al-Ma’mun untuk menguji keyakinan para ulama Hadits mengenani hakikat Al-Qur’an, apakah diciptakan (makhluk), atau bukan. Menurut Watt, mihnah adalah kebijakan politis yang muncul dari ketegangan antara blok-blok otokratik dan konstitusionalis. Yang dimaksud dua kelompok yang bertetangan itu adalah tokoh-tokoh ortodoksi yang menyatakan keqadiman Al-Qur’an dan kelompok Mu’tazilah-dengan dukungan khalifah yang berkuasa- yang menyatakan terciptanya Al-Qur’an. Namun, Watt keliru karena hanya melihat kasus mihnah dari sisi politik saja, satu pennilaian yang menditkriditkan Mu’tazilah tanpa melihat sisi lain yang lebih penting, yaitu doorongan misi suci untuk melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Lihat W. Montgomerry Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis. Terj. Hartono Hadi Kusumo, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), hal. 61-62
 [20] Rozak, Ilmu Kalam,Op.cit,. hal.112
[21] Depad RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya Al-Hikmah, (Bandung: Diponegoro, 2007), hal. 312 [22] Rozak, Ilmu Kalam, Op.cit,. hal. 113
 [23] Sahilun A. Nasir. Pemikiran Kalam (Teology Islam ), (Jakarta: Rajawali Pers. 2010). hal. 126-127
 [24] Abdul Rozak, Rosihon Anwar. Ilmu Kalam, Op.cit,. hal. 114

[25] Ahmad fauzi, Ilmu Kalam (sebuah pengantar), (Cirebon: STAIN Press), hal. 99
 [26] Ibid
 [27] Shahilun A. Natsir, Pemikiran Ilmu Kalam, Op.cit., hal 279
 [28] Rozak, Ilmu Kalam, Op.cit,. hal. 116
[29] Abdullah Yusuf, Pandangan Ulama tentang Ayat-ayat Mutasyabihat, (Bandung: Sinar Baru, 1993), hal. 58-60
 [30] Rozak, Ilmu Kalam, Op.cit,. hal. 115
 [31] Ibid,hal.117
 [32] Http://www.hunter.blogspot.com di akses tgl. 13 April 2014
 [33] http://id.wikipedia.org/wiki/Salafiyah#cite_note-KepelJihad-7, diakses pada tanggal 13 April 2014
 [34] http://id.wikipedia.org/wiki/Salaf, diakses pada tanggal 13 April 2014