As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

As'ad Collection

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya. A2dcollection.blogspot.co.id

17 Maret 2016

Kedudukan Hadits Pendidikan Berenang, Memanah dan Mengendarai Unta

Islam bertujuan memelihara jiwa, akal dan jasmani umat manusia. Anggota badan manusia pada hakekatnya adalah milik Allah yang dianugerahkan-Nya untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, bukan untuk disalah gunakan. Maka, Islam pun mengajarkan kepada umat muslim untuk selalu menjaga kondisinya agar tetap prima, karena muslim yang kuat lebih lebih baik dan di cintai dari pada mukmin yang lemah, baik dari segi fisik maupun non fisik.
Islam memperhatikan apa saja yang menjadi kebutuhan manusia. Jasmaniah dan ruhiyahnya. Sebut saja misalnya, tentang fisik, sunnah banyak membahas juga tentang kesehatan dan olahraga. Rasulullah SAW menyebutkan dan melakukan beberapa macam olahraga.Untuk melatih kekuatan fisik dan non fisik,  maka Islam mengkontruksikan agar umatnya berlatih dalam berenang, berkuda, dan memanah.
Pada makalah ini kami akan sedikit memaparkan tentang menjaga kesehatan menurut Islam, yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, serta olahraga yang beliau anjurkan untuk memperkuat jasmaniah serta ruhiyah.
1.      Hadits Pertama
a.       Lafadz Hadits

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ الأَزْرَقِ ، قَالَ : كَانَ عُقْبَةُ بْنُ عَامِرٍ الْجُهَنِيُّ يَخْرُجُ فَيَرْمِي كُلَّ يَوْمٍ ، وَكَانَ يَسْتَتْبِعُهُ ، فَكَأَنَّهُ كَادَ أَنْ يَمَلَّ ، فَقَالَ : أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ؟ قَالَ : بَلَى ، قَالَ : سَمِعْتُهُ يَقُولُ : إِنَّ اللهَ ، عَزَّ وَجَلَّ ، يُدْخِلُ بِالسَّهْمِ الْوَاحِدِ ثَلاَثَةَ نَفَرٍ الْجَنَّةَ : صَاحِبَهُ الَّذِي يَحْتَسِبُ فِي صَنْعَتِهِ الْخَيْرَ ، وَالَّذِي يُجَهِّزُ بِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ ، وَالَّذِي يَرْمِي بِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ. وَقَالَ : ارْمُوا وَارْكَبُوا ، وَإِنْ تَرْمُوا خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا.

Artinya: "Sesungguhnya Allah 'azza wajalla memasukkan tiga orang ke dalam surga lantaran satu anak panah. Yaitu, orang yang membuatnya dengan mengharap kebaikan, dan orang yang menyiapkannya dijalan Allah orang yang meluncurkannya di jalan Allah.  Karena itu, memanah dan menunggang kudalah kalian. Jika kalian benar-benar memanah, maka itu lebih saya sukai dari pada kalian latihan berkuda.."
 ( HR. Ahmad )

b.      Tahrij Hadits
Diriwayatkan oleh Ahmad 4/144 dan 17433. Darimi 2405. Ibnu Majah 2811, Tirmidzi 1637.
c.       Penjelasan Hadits
Rasulullah suka memanah, karena memanah itu adalah kekuatan, seperti apa yang beliau tafsirkan (dari ayat Al Quran) dalam sabdaNya,

Allah berfirman dalam Surat Al Anfal ayat 60, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketauhilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.  Ketauhilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.  Ketauhilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim)

Sesungguhnya Islam telah menganjurkan untuk belajar memanah, mempraktikkannya, serta memperhatikannya dengan niat jihad di jalan Allah. Juga dianjurkan mempraktikkan olahraga perang serta mempergunakan berbagai macam alat perang, lomba balap kuda, dan lain sebagainya. Tujuan semua ini adalah latihan berperang serta mengambil pengalaman berperang dan olahraga hingga orang mukmin itu menjadi kuat dan mampu untuk berjihad di jalan Allah dan meninggikan kalimat Allah dalam upaya memerangi musuh-musuh agama serta mempertahankan negara Islam dalam memerdekakan tanah airnya. [1]

2.      Hadits Kedua
a.       Lafadz Hadits

عن ابن عمر ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « علموا أبناءكم السباحة والرمي ، والمرأة المغزل
Artinya:
Dari Ibnu ‘Umar, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Ajari anak-anak lelakimu renang dan memanah, dan ajari menggunakan alat pemintal untuk wanita”
(HR. Al-Baihaqi)

b.      Takhrij:
Syu’b al-Iman lil Baihaqi, at-Tasi’ wa Tsalatsun min Syu’b al-Iman, as-Situun min Syu’b al-Iman wa Huwa, Bab fi Huquq al-Auwlad wa al-Ahliin, Hadits nomor 8411[2]

c.       Penjelasan Hadits

Tentu ada alasan kuat mengapa Rasullah menyuruh para orang tua Muslim mengajari anak-anaknya dengan keterampilan-keterampilan khusus tersebut. Bagi masyarakat di padang pasir, berkuda dan memanah adalah barang yang lumrah. Naik kuda ataupun naik unta merupakan keseharian mereka. Binatang-binatang itulah yang menjadi tunggangan dan peliharaan masyarakat Arab.
Tetapi berenang ini yang agak mengherankan. Orang Arab tidak terlalu suka air. Kolam renang adalah hal yang sulit ditemukan. Kalaupun kolam, itu berbentuk oase atau wadi. Dan kebanyakan dipakai sebagai sumber minum. Air sangat sulit ditemukan di daerah padang pasir.
Inti dalam Olahraga Renang adalah pengaturan nafas. Dimana Fungsi nafas adalah untuk memasukan atau menghirup oksigen dari Alam  ke dalam tubuh kita melalui paru-paru. Oksigen yg kita hirup masuk ke paru-paru, lalu aliran darah dari jantung masuk ke paru-paru. Paru-paru adalah organ pada sistem pernapasan (respirasi) dan berhubungan dengan sistem peredaran darah (sirkulasi) yang bernapas dengan udara. Fungsinya adalah menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Prosesnya disebut "pernapasan eksternal" atau bernapas.
Dengan berenang, pernafasan menjadi kuat, dan ini amat besar pengaruhnya bagi kecerdasan manusia, dikarenakan asupan oksigen ke otak terdistribusi dengan cukup..

3.      Hadits Ketiga
a.       Lafadz Hadits

حديث أبى هريرةَ رضى الله عنه، أَنَّ النّبِىَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لَوْلَ أَنْ أَسُقَّ عَلَى أُمَّتٍى _اَوْ عَلَى النَّاسِ_ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ.
“Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. Bersabda: Andaikan aku tidak memberatkan pada umatku (atau pada orang-orang) pasti aku perintahkan (wajibkan) atas mereka bersiwak (gosok gigi) tiap akan shalat (HR. Bukhari Musllim)[3]

b.      Tahrij Hadits
Sunan Abu Daud, Kitab at-Thaharrah, Bab as-Syiwak, Hadits nomor 47. Al-Jami’ al-Kabir li at-Tirmidzi, Bab maa ja’a fi as-syiwak, Hadits nomor 22. Sunan Ibn Maajah, Kitab at-Thaharrah wa Sunanuha, Bab as-Syiwak, Hadist nomor 287. Ahmad bin Hanbal, musnad ‘Ali bin Abi Thaalib ra. Hadits nomor 607.

c.       Penjelasan Hadits

Syara’ melarang seseorang melakukan shalat sedang pada mulutnya masih terdapat sisa-sisa makanan, melainkan terlebih dahulu dibersihkan dan berkumur tiga kali. Gigi-gigi dibersihkan dan sisa-sisa makanan yang ada dikeluarkan, karena sisa-sisa makanan yang tertinggal dalam mulut akan membusuk, dan apabila masuk di antara gigi-gigi akan menimbulkan infeksi yang pada gilirannya menyebabkan kerusakan gigi, oleh karena itu dilarang menelannya. Apabila ditinggalkan begitu saja, akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan juga mengganggu kesehatan gigi. Itulah hikmah Rasulillah mendorong kita untuk menggunakan siwak (sikat gigi). Rasulullah bersabda:

اَلسِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
“siwak adalah membersihkan mulut dan mendapat keridhoan Tuhan.[4]
Bersiwak dianjurkan pada setiap waktu, tetapi lebih disunnahkan lagi ketika hendak wudhu, shalat membaca al quran, dan setelah bangun tidur, dan ketika rasa mulut berubah. Rasa mulut bisa berubah dikarenakan beberapa sebab, seperti karena tidak makan dan minum, mengkonsumsi makanan-makanan yang berbau tidak sedap.
Ibnu Daqiq Al-‘id berkometar, “rahasia disunnahkan bersiwak ketika hendak menuaikan shalat adalah karena kita diperintahan agar dalam setiap kondisi pendekatan diri (taqarrub kita kepada Allah) kita berada dalam keadaan yang prima dan bersih untuk menunjukkan kemuliaan ibadah. Zaid bin Kholid jika datang ke masjid untuk shalat berjamaah, siwaknya selalu terselip ditelinganya seperti pena yang terselip di telinga juru tulis. Setiap kali ia hendak menunaikan shalat, ia pasti menyikat giginya dengan siwak lalu menyelipkannya kembali ke daun telinganya. “[5]

4.      Hadits Keempat
a.       Lafadz Hadits

انَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ أَظْفَارِهِ وَشَارِبِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

Artinya : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi memotong kuku dan kumisnya pada hari Jum’at.”

b.      Tahrij Hadits
Hadits ini merupakan salah satu riwayat mursal dari Abu Ja’far Al-Baqir, sementara hadits mursal termasuk hadits dhaif.

“Tidak terdapat riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara memotong kuku dan hari tertentu untuk memotong kuku.” (Al-Maqasidul Hasanah, hlm. 163)

Kemudian, terdapat beberapa riwayat dari para sahabat dan tabi’in bahwa mereka memiliki kebiasaan memotong kuku di hari Jumat. Di antara riwayat tersebut adalah:

Disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3:244; dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma terbiasa memotong kuku dan memangkas kumis pada hari Jumat.

Disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 2:65; dari Ibrahim, bahwa beliau menceritakan, “Orang-orang memotong kuku mereka pada hari Jumat.”

Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf, 3:197; bahwa Muhammad bin Ibrahim At-Taimi–salah seorang tabi’in–mengatakan, “Siapa saja yang memotong kukunya pada hari Jumat dan memendekkan kumisnya maka dia telah menyempurnakan hari Jumatnya.”

Berdasarkan riwayat dari para sahabat di atas, sebagian ulama dari Mazhab Syafi’iyah dan Hanbali menganjurkan untuk memotong kuku setiap hari Jumat.[6]


c.       Penjelasan Hadits

Banyak bakteri yang hidup di bawah kuku yang panjang  dan kotor. Kondisi semacam ini dapat menularkan penyakit, yakni ketika setelah beraktifitas tidak mencuci tangan dengan bersih hingga bakteri yang ada pada tangan berpindah ke makanan. Penelitian-penelitian kedokteran mengungkapkan kepada kita bahwa kuku yang panjang dapat mengundang penyakit, karena jutaan kuman akan bersarang di bawahnya. Penemuan ini menjelaskan kepada manusia sebagian hikmah di balik hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu hadits tentang sunnah-sunnah fithrah yang diwasiatkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada manusia. Hadits ini adalah pondasi kebersihan individu.

“potonglah kukumu, sesungguhnya syetan duduk (bersembunyi) di bawah kukumu yang panjang” .

KESIMPULAN

Berkuda dalam hal ini adalah simbol dari hidup dan Pengendalian Diri, Rasa Percaya Diri dan Keberanian. Secara fisik kuda tentu lebih kuat dari penunggannya, namun sang penunggang tetap harus menguasai kuda tersebut agar dia bisa sampai ke tujuannya.  Demikian pula dalam kehidupan manusia.  Kita sering kali harus memimpin orang-orang yang lebih pintar, lebih kuat dan lebih banyak memiliki kelebihan dibanding kita.

Memanah, bermanfaat untuk melatih kepercayaan diri serta jiwa. Jadi, dengan memanah kita bisa belajar membidik sasaran-sasaran dalam hidup ini. Bahwa hidup harus mempunyai sasaran yang jelas dan lakukan usaha untuk mencapainya dengan keteguhan tangan, kekuatan hati dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan keadaan dunia ini. Sasaran bukanlah tujuan utama, tapi merupakan acuan kita melangkah dan fokus pada Ikhtiar/proses bukan pada hasil akhir.
Berenang, bermanfaat bagi ketahanan fisik. Seseorang yang mahir berenang akan kuat pernapasannya, dan ini amat besar pengaruhnya bagi kecerdasan otak. Olah raga renang melibatkan hampir seluruh otot, dan ini tentunya akan meningkatkan daya tahan tubuh dan stamina seseorang sehingga tetap bugar dan tidak mudah sakit.




DAFTAR PUSTAKA
Adnan Ath Tharsyah, Yang Disenangi Nabi dan Yang tidak Disukai, Gema Insani Press, Jakarta 2006
Ahmad Syauqi Al-Fanjari, Nilai Kesehatan dalam Syari’at Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996)
 M. Fu’ad ‘Abdul Baqi, al-Lu’lu’ wal Marjan,



[1] Adnan Ath Tharsyah, Yang Disenangi Nabi dan Yang tidak Disukai, Gema Insani Press, Jakarta 2006, hal. 387
[2] Dikutip dari http://www.anwafi.co.cc/2010/10/kumpulan hadits-hadits-kesehatan.html
[3]  M. Fu’ad ‘Abdul Baqi, al-Lu’lu’ wal Marjan, hal. 95

[4] Ahmad Syauqi Al-Fanjari, Nilai Kesehatan dalam Syari’at Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996),20-21.
[5] Adnan Ath Tharsyah, Yang Disenangi Nabi dan Yang tidak Disukai, Gema Insani Press, Jakarta 2006, hal. 572
[6] http://abunamira.wordpress.com/2011/07/15/adakah-anjuran-memotong-kuku-di-hari-jumat/
</div>

23 Februari 2016

HAKIKAT METODE DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

A. Pendahuluan
Dunia pendidikan saat ini masih dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari soal rumusan tujuan pendidikan yang kurang sejalan dengan tuntutan masyarakat, sampai kepada persoalan guru, metode, kurikulum dan lain sebagainya.
Filsafat pendidikan Islam secara umum akan mengkaji berbagai masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan. Misalnya berkaitan dengan masalah metode pendidikan seperti yang akan kita bahas dalam makalah ini. Untuk itu perlu untuk kita ketahui apa yang dimaksud dengan metode pendidikan Islam, serta metode-metode apa saja yang terdapat dalam dunia pendidikan.
Pendidikan Islam dalam pelaksanaannya membutuhkan metode yang tepauntuk menghantarkan kegiatan pendidikannya kearah tujuan yang dicita-citakan. Bagaimanapun baik dan sempurnanya suatu kurikulum pendidikan Islam, ia tidak akan berarti apa-apa manakala tidak memiliki metode atau cara yang tepat dalam mentransformasikannya kepada peserta didik. Ketidaktepatan dalam penerapan metode secara praktis akan menghambat proses belajar mengajar, karenanya metode adalah syarat untuk efisiennya aktivitas kependidikan Islam.
B. Pengertian Metode Pendidikan Islam
Ditinjau dari segi kebahasaan, kata metode berasal dari kata yunani “methodos”, yang terdiri dari kata “meta” yang berarti melalui dan “hodos” yang berarti jalan. Jadi metode berarti jalan yang dilalui (H.M. Arifin 1994:97). Secara lebih sederhana, metode dapat berarti cara kerja atau cara yang tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu.
Secara umum, metode berarti cara yang telah diatur dan berfikir baik-baik untuk mencapai sebuah maksud (W.J.S. Poerwadarminta 1976:9) bila dihubungkan dengan pendidikan, maka metode pendidikan adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.   
Secara literal metode berasal dari bahasa Greek (Yunani) yang terdiri dari dua kosa kata, yaitu “meta” yang berarti melalui dan “hodos” yang berarti jalan. Sedangkan pengertian menurut istilah metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.
Dalam Bahasa Arab metode dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan.1 Sedangkan dalam bahasa Inggris metode disebut method yang berarti cara dalam bahasa Indonesia.
Mohammad Athiyah al-Abrasy mendefinisikan metode sebagai jalan yang kita ikuti memberi paham kepada murid-murid dalam segala macam pelajaran, dalam segala mata pelajaran. Metode adalah rencana yang kita buat untuk diri kita sebelum kita memasuki kelas, dan kita terapkan dalam kelas selama kita mengajar dalam kelas itu. Kemudian Prof. Abd al-Rahim Ghunaimah menyebut metode sebagai cara-cara yang diikuti oleh guru untuk menyampaikan sesuatu kepada anak didik. Adapun Adgar Bruce Wesley mendefinisikan metode sebagai kegiatan yang terarah bagi guru yang menyebabkan terjadinya proses belajar mengajar, hingga pengajaran menjadi berkesan.
Dalam pandangan filosofis pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat itu mempunyai sifat ganda, yaitu bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Polipragmatis, bilamana metode itu mengandung kegunaan yang serba ganda (multipurpoce). Misalnya, suatu metode tertentu pada suatu situasi dan kondisi tertentu dapat dipergunakan untuk merusak, dan pada situasi dan kondisi yang lain dapat dipergunakan untuk memperbaiki dan membangun. Contohnya, penggunaan video cassete recorder (VRC) untuk merekam semua jenis film, baik fornografis maupun yang moralis, yang hal itu bila dipergunakan sebagai media pembelajaran, maka sasarannya dapat merusak disamping dapat memperbaiki atau membangun. Monopragmatis adalah alat yang hanya dapat dipergunakan untuk mencapai satu macam tujuan. Misalnya, laboratorium ilmu alam, hanya dapat dipergunakan untuk eksperimen-eksperimen bidang ilmu alam, tidak dapat dipergunakan untuk eksperimen bidang ilmu lain. 
C. Metode pengajaran dan metode pendidikan
Dalam masyarakat kita , masih terdapat pandangan yang membedakan antara pendidikan dan pengajaran.H.M. Arifin (1994:99) menegaskan bahwa secara teknis paedagodis pengerian kedua kata inin hamper tak dapat dibedakan karena pengertian pendidikan itu sendiri telah mencakup pengertian pengajaran.
Apabila dilihat dari segi aspek filisofis, terdapat pengertian yang berbeda dari istilah tersebut. Pendidikan lebih mengarahkan tugasnya kepada pembentukan sikap dan kepribadian manusia yang memiliki ruang lingkup pada proses mempengaruhi dan membentuk kemampuan kognitik, afektik dan psikomotor. Sedangkan pengajaran lebih menitik beratkan usahanya kea rah terbentuknya kemampuan maksimal intelektual dalam menerima, menghayati, dan menguasai serta mengembangkan ilmu pengetahuan yang diajarkan (H.M. Arifin 1994:99).
Dengan demikian dapat dibedakan pengertian pendidikan dan pengajaran secara filosofis. Proses pendidikan lebih menekankan pada usaha menginternalisasikan nilai-nilai, sedangkan proses pengajaran lebih menekankan pada usaha mengintelektualisasikan manusia dengan ilmu pengetahuan.
Adapun metode yang dapat dipergunakan dalam pengajaran/ pendidikan islam antara lain adalah metode teladan, metode cerita atau kisah, metode nasihat, metode pembiasaan, metode diskusi dan sebagainya (Abuddin Nata 1997:-107).
Dalam bab ini kita akan membahas tentang pengertian Metode Pendidikan Islam.Dimana setiap kata akan kita bahas satu persatu yaitu: metode, Pendidikan,  Pendidikan Islam, Metode Pendidikan, Dan metode Pendidikan Islam. Tujuannya agar pembaca lebih memahami secara mendalam tentang Metode Pendidikan Islam ini.
D. Pengertian Pendidikan Islam
Setelah kita membahas tentang metode, selanjutnya kita akan membahas tentang pendidikan Islam. Tetapi terlebih dahulu kita akan membahas tentang pendidikan. Banyak para pakar pendidikan yang mendefinisikan pendidikan secara berbeda-beda tetapi pada intinya sama.
Beberapa ahli pendidikan di Barat yang memberikan arti pendidikan sebagai proses antara lain: Menurut Mortimer J. Adler mengartikan pendidikan adalah proses dengan mana semua kemampuan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara artistik dibuat dan dipakai oleh siapapun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu kebiasaan yang baik.
Menurut Prof. Sugarda Purbakawaca, dalam "Ensiklopedi Pendidikan"nya, memberikan pengertian pendidikan, sebagai berikut: "Pendidikan dalam arti luas meliputi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta ketrampilannya (orang menamakan ini juga "mengalihkan" kebudayaan, dalam bahasa Belanda: Cultuurover dracht) kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani." 
Setelah membahas Pendidikan selanjutnya kita akan memaparkan tentang pendidikan Islam. Berikut ini adalah beberapa pengertian Pendidikan Islam secara terminologi yang diformulasikan oleh para ahli Pendidikan Islam, diantaranya adalah:
a. Menurut Al-Syaibaniy mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktifitas asasi dan profesi diantara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat.
b. Menurut Muhammad Fadhil al-Jamaly, mendefinisikan pendidikan Islam sebagai upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut, diharapkan bisa membentuk pribadi peserta didik yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan, maupun perbuatannya.
c. Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiannya yang utama (insan kamil).
d. Ahmad Tafsir mendefinisikan Pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang, agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.
e. Dari batasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. Melalui pendekatan ini, ia akan dapat dengan mudah membentuk kehidupan dirinya sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang diyakininya.
1. Metode Pendidikan Islam
Dari beberapa pengertian yang diformulasikan oleh para pakar diatas tentang pengertian Metode dan Pendidikan Islam. Kita dapat menyimpulkan tentang pengertian Metode Pendidikan. Seperti yang dikemukakan oleh al-Syaibaniy yaitu, segala segi kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang diajarkannya, ciri-ciri perkembangan peserta didiknya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan membimbing peserta didik untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka.
Ahmad Tafsir secara umum membatasi bahwa metode pendidikan adalah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik. Kemudian Abdul Munir Mulkan, mengemukakan bahwa metode Pendidikan adalah suatu cara yang dipergunakan untuk menyampaikan atau mentransformasikan isi atau bahan pendidikan kepada anak didik. 
Selanjutnya jika kata metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan Islam, dapat membawa arti sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga dapat terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi Islami.Selain itu metode pendidikan Islam dapat diartikan sebagai cara untuk memahami, manggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.
2. Asas-asas Umum Metode Pendidikan Islam
Dalam penerapannya, metode pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau social peserta didik dan pendidik itu sendiri. Untuk itu dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umummetode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada asas-asas/dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Asas metode pendidikan Islam itu diantaranya adalah: 
a. Asas Agamis, maksudnya bahwa metode yang digunakan dalam pendidikan Islam haruslah berdasarkan pada Agama. Sementara Agama Islam merujuk pada Al Qur’an dan Hadits. Untuk itu, dalam pelaksanannya berbagai metode yang digunakan oleh pendidik hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan yang muncul secara efektif dan efesien yang dilandasi nilai-nilai Al Qur’an dan Hadits.
b. Asas Biologis, Perkembangan biologis manusia mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Semakin dinamis perkembangan biologis seseorang, maka dengan sendirinya makin meningkat pula daya intelektualnya. Untuk itu dalam menggunakan metode pendidikan Islam seorang guru harus memperhatikan perkembangan biologis peserta didik.
c. Asas Psikologis. Perkembangan dan kondisi psikologis peserta didik akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap penerimaan nilai pendidikan dan pengetahuan yang dilaksanakan, dalam kondisi yang labil pemberian ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai akan berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh Karenanya Metode pendidikan Islam baru dapat diterapkan secara efektif bila didasarkan pada perkembangan dan kondisi psikologis peserta didiknya. Untuk itu seorang pendidik dituntut untuk mengembangkan potensi psikologis yang tumbuh pada peserta didik. Sebab dalam konsep Islam akal termasuk dalam tataran rohani.
d. Asas sosiologis. Saat pembelanjaran berlangsung ada interaksi antara pesrta didik dengan peserta didik dan ada interaksi antara pendidik dengan peserta didik, atas dasar hal ini maka pengguna metode dalam pendidikan Islam harus memperhatikan landasan atau dasar ini. Jangan sampai terjadi ada metode yang digunakan tapi tidak sesuai dengan kondisi sosiologis peserta didik, jika hal ini terjadi bukan mustahil tujuan pendidikan akan sulit untuk dicapai.
Keempat asas di atas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus diperhatikan oleh para pengguna metode pendidikan Islam agar dalam mencapai tujuan tidak mengunakan metode yang tidak tepat dan tidak cocok kondisi agamis, kondisi biologis, kondisi psikologis, dan kondisi sosiologis peserta didik.
Sementara dari sudut pandang pelaksanaannya, asas-asas pendidikan Islam dapat diformulasikan kepada:  
1. Asas Motivasi, yaitu usaha pendidik untuk membangkitkan perhatian peserta    didik kearah bahan pelajaran yang sedang disajikan.
2. Asas Aktivitas, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk ambil bagian secara aktif dan kreatif dalam seluruh kegiatan pendidikan yang dilaksanakan.
3. Asas Apersepsi, mengupayakan respon-respon tertentu dari peserta didik sehingga mereka memperoleh perubahan pada tingkah laku, pembendaharaan konsep, dan kekayaan akan informasi.
4. Asas Peragaan, yaitu memberikan variasi dalam cara-cara mengajar dengan mewujudkan bahan yang diajarkan secara nyata, baik dalam bentuk aslinya maupun tiruan.
5. Asas Ulangan, yaitu usaha untuk mengetahui taraf kemajuan atau keberhasilan belajar peserta didik dalam aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap.
6. Asas Korelasi, menghubungkan suatu bahan pelajaran dengan bahan pelajaran lainnya, sehingga membentuk mata rantai yang erat.
7. Asas Konsentrasi, yaitu memfokuskan pada suatu pokok masalah tertentu dari keseluruhan bahan pelajaran untuk melaksankan tujuan pendidikan serta memperhatikan peserta didik dalam segala aspeknya.
8. Asas Individualisasi, yaitu memperhatikan perbedaan-perbedaan individual peserta didik.
9. Asas Sosialisasi, yaitu menciptakan situasi sosial yang membangkitkan semangat kerjasama antara peserta didik dengan pendidik atau sesama peserta didik dan masyarakat, dalam menerima pelajaran agar lebih berdaya guna.
10. Asas Evaluasi, yaitu memperhatikan hasil dari penilaian terhadap kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai umpan balik pendidik dalam memperbaiki cara mengajar.
11. Asas Kebebasan, yaitu memberikan keleluasan keinginan dan tindakan bagi peserta didik dengan dibatasi atas kebebasan yang mengacu pada hal-hal yang positif.
12. Asas Lingkungan, yaitu menentukan metode dengan berpijak pada pengaruh lingkungan akibat interaksi dengan lingkungan.
13. Asas Globalisasi, yaitu memperhatikan reaksi peserta didik terhadap lingkungan secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, sosial dan sebagainya.
14. Asas Pusat-Pusat Minat, yaitu memperhatikan kecenderungan jiwa yang tetap ke jurusan suatu yang berharga bagi seseorang.
15. Asas Ketauladanan, yaitu memberikan contoh yang terbaik untuk ditiru dan ditauladani peserta didik.
16. Asas Kebiasaan, yaitu mambiasakan hal-hal positif dalam diri peserta didik sebagai upaya praktis dalam pembinaan mereka.
Metode pendidikan Islam harus digali, didayagunakan, dan dikembangkan dengan mengacu pada asas-asas sebagaimana yang dikemukakan diatas. Melalui aplikasi nilai-nilai Islam dalam proses penyampaian seluruh materi pendidikan Islam, diharapkan proses itu dapat diterima, difahami, dihayati, dan diyakini sehingga pada gilirannya memotivasi peserta didik untuk mengamalkannya dalam bentuk nyata.
E. Karakteristik Metode Pendidikan Islam
Diantara karakteristik metode pendidikan Islam:
Keseluruhan proses penerapan metode pendidikan Islam, mulai dari pembentukannya, penggunaannya sampai pada pengembangannya tetap didasarkan pada nilai-nilai asasi Islam sebagai ajaran yang universal.
Proses pembentukan, penerapan dan pengembangannya tetap tidak dapat dipisahkan dengan konsep al-akhlak al-karimah sebagai tujuan tertinggi dari pendidikan Islam.
Metode pendidikan Islam bersifat luwes dan fleksibel dalam artian senantiasa membuka diri dan dapat menerima perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang melingkupi proses kependidikan Islam tersebut, baik dari segi peserta didik, pendidik, materi pelajaran dan lain-lain.
Metode pendidikan Islam berusaha sungguh-sungguh untuk menyeimbangkan antara teori dan praktik.
Metode pendidikan Islam dalam penerapannya menekankan kebebasan peserta didik untuk berkreasi dan mengambil prakarsa dalam batas-batas kesopanan danakhlak karimah.
Dari segi pendidik, metode pendidikan Islam lebih menekankan nilai-nilai keteladanan dan kebebasan pendidik dalam menggunakan serta mengkombinasikan berbagai metode pendidikan yang ada dalam mencapai tujuan pengajaran.
Metode pendidikan Islam dalam penerapannya berupaya menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan bagi terciptanya interaksi edukatif yang kondusif .
Metode pendidikan Islam merupakan usaha untuk memudahkan proses pengajaran dalam mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. 
F. Macam-macam Metode dalam Pendidikan Islam
           Sebagai ummat yang telah dianugerahi Allah Kitab AlQuran yang lengkap dengan petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal sebaiknya menggunakan metode mengajar dalam pendidikan Islam yang prinsip dasarnya dari Al Qur’an dan Hadits. Diantara metode- metode tersebut adalah:
a. Metode Ceramah
        Metode ceramah adalah cara penyampaian informasi melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. 
Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. Yunus : 23)
b. .Metode Tanya Jawab
         Metode Tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca. Prinsip dasar metode ini terdapat dalam hadits Tanya jawab antara Jibril dan Nabi Muhammad tentang iman, islam, dan ihsan.
Selain itu ada juga hadits yang lainnya seperti hadits yang artinya: Hadits Qutaibah ibn Sa’id, hadits Lâis kata Qutaibah hadits Bakr yaitu ibn Mudhar dari ibn Hâd dari Muhammad ibn Ibrahim dari Abi Salmah ibn Abdurrahmân dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah Saw. Bersabda: Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sana lima kali sehari. Bagaimana pendapat kalian? Apakah masih akan tersisa kotorannya? Mereka menjawab, tidak akan tersisa kotorannya sedikitpun. Beliau bersabda:Begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa. (Muslim, I: 462-463)
c. .Metode Diskusi
        Metode diskusi adalah suatu cara penyajian/penyampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah. Abdurrahman Anahlawi menyebut metode ini dengan sebutan hiwar (dialog).
Prinsip dasar metode ini terdapat dalam Al Qur’an Surat Assafat : 20-23
Dan mereka berkata:”Aduhai celakalah kita!” Inilah hari pembalasan.Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya (kepada Malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang dzalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah Selain Allah. Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. (Q.S. Assafat : 20-23)
Selain itu terdapat juga dalam hadits yang artinya: Hadits Qutaibah ibn Sâ’id dan Ali ibn Hujr, katanya hadits Ismail dan dia ibn Ja’far dari ‘Alâ’ dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. bahwasnya Rasulullah saw. bersabda: Tahukah kalian siapa orang yang muflis (bangkrut)?, jawab mereka; orang yang tidak memiliki dirham dan harta. Rasul bersabda; Sesungguhnya orang yang muflis dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat,. Dia datang tapi telah mencaci ini, menuduh ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah (membunuh) ini dan memukul orang ini. Maka orang itu diberi pahala miliknya. Jika kebaikannya telah habis sebelum ia bisa menebus kesalahannya, maka dosa-dosa mereka diambil dan dicampakkan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke neraka.(Muslim, t.t, IV: 1997)
d.  Metode Pemberian Tugas
       Metode pemberian tugas adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh guru dan murid harus mempertanggung jawabkannya.
e.  Metode Demonstrasi
Metode demontrasi adalah suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya.    
f .  Metode Eksperimen
      Suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan.
g.  Metode Amsal/Perumpamaan
     Yaitu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau
      perumpamaan. Prinsip metode ini terdapat dalam Al Qur’an (Q.S. Albaqarah : 17)
h  .Metode Targhib dan Tarhib
Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.
Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits yang artinya: Hadits Abdul Aziz ibn Abdillah katanya menyampaikan padaku Sulaiman dari Umar ibn Abi Umar dari Sâ’id ibn Abi Sa’id al-Makbârî dari Abu Hurairah, ia berkata: Ya Rasulullah, siapakah yang paling bahagia mendapat syafa’atmu pada hari kiamat?, Rasulullah saw bersabda: Saya sudah menyangka, wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang bertanya tentang hadits ini seorangpun yang mendahului mu, karena saya melihat semangatmu untuk hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku ada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan ”Lâilaha illa Allah” dengan ikhlas dari hatinya atau dari dirinya.(al-Bukhari, t.t, I: 49)
i . Metode pengulangan (tikror)
      Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang disampaikan.
Prinsip dasarnya terdapat dalam hadits yang artinya: Hadits Musaddad ibn Musarhad hadits Yahya dari Bahzâ ibn Hâkim, katanya hadits dari ayahnya katanya ia mendengar Rasulullah saw bersabda: Celakalah bagi orang yang berbicara dan berdusta agar orang-orang tertawa. Kecelakaan baginya, kecelakaan baginya. (As-Sijistani, t.t, II: 716).
Hadits di atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah hafiz, şiqah sadũq. Rasulullah saw. mengulang tiga kali perkataan ”celakalah”, ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus dilaksanakan dengan baik dan benar, sehingga materi pelajaran dapat dipahami dan tidak tergolong pada orang yang merugi.
Satu proses yang penting dalam pembelajaran adalah pengulangan/latihan atau praktek yang diulang-ulang. Baik latihan mental dimana seseorang membayangkan dirinya melakukan perbuatan tertentu maupun latihan motorik yaitu melakukan perbuatan secara nyata merupakan alat-alat bantu ingatan yang penting. Latihan mental, mengaktifkan orang yang belajar untuk membayangkan kejadian-kejadian yang sudah tidak ada untuk berikutnya bayangan-bayangan ini membimbing latihan motorik. Proses pengulangan juga dipengaruhi oleh taraf perkembangan seseorang. Kemampuan melukiskan tingkah laku dan kecakapan membuat model menjadi kode verbal atau kode visual mempermudah pengulangan. Metode pengulangan dilakukan Rasulullah saw. ketika menjelaskan sesuatu yang penting untuk diingat para sahabat.
G. Dasar-Dasar Penyusunan Metode Peendidikan Islam
Dalam menyusun metode pendidikan islam, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Dasar Agama; maksudnya prinsip-prinsip, asas-asas, dan fakta-fakta umum,diambil dari teks
    agama islam dan syariat (al-Quran, hadis/sunnah, ijma, qiyas, dan lain lain.
2. Dasar  biologis- psikologi;
   a) Dasar biologis; yakni guru wajib mempertimbangkan kesesuain metode pengajaran dengan cirri-         ciri kebutuhan jasmaniah dan kematangan muridnya.
   b) Dasar psikologis; yaitu guru harus menjaga psikologis siswa (mencakup motivasi,              
        kebutuhan,emosi,minat,sikap,keinginan, serta bakat-bakat intelektuall.
3. Dasar social; dalam menetapkan metode mengajar, hendaknya ada kesesuain dengan nilai-nilai masyarakat dan tradisi-tradisinya yang baik, (al;-Syaibany 1979:586-591).
H. Penutup
Dari uraian singkat diatas dapat kami simpulkan beberapa hal, yaitu ternyata dalam dunia pendidikan memiliki banyak metode pendidikan. Karena dalam pendidikan seorang pendidikan tidak hanya mengenal satu karakter orang saja tetapi banyak karakter, hal ini menyebabkan ketika pendidik sedang mengajar akan menghadapi masalah yang berbeda-beda. Disamping itu metode pendidikan merupakan jembatan yang bisa menghubungkan pendidik dengan peserta didik, seandainya metode ini tidak ada pendidik akan kesulitan dalam menerapkan kurikulum dan tujuan yang ingin dicapainya.
Semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya generasi muda yang akan terjun dimasyarakat tentunya harus mempunyai bekal yang matang dan baik.
Metode pendidikan sangat penting dalam dunia pendidikan, untuk itu setiap pendidik hendaknya mengetahui tentang metode pendidikan. Bukan saja secara formal tetapi yang tidak formalpun harus diketahui. Banyak para ahli pendidikan dahulu maupun sekarang memformulasikan metode pendidikan, tetapi pada kenyataannya memiliki satu tujuan yaitu membentuk manusia yang terdidik.


DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin dan Usman Said. 1994 “filsafat pendidikan islam” Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Mulkhan, Abdul Munir. 1993 “Paradigma Intelektual’ (Yogyakarta: SI Pers
Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany. 1979” Falsafah Pendidikan Islam”  Jakarta: Bulan Bintang
Ramayulis. 2008 “Ilmu Pendidikan Islam” Jakarta : Kalam Mulia
Samsul Nizar. 2002 “Filsafat Pendidikan Islam, pendekatan historis dan praktis,  Jakarta: ciputat pers
Samsul Nizar. 2002” Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Pers

SOCRATES DAN APOLOGIA

Filsafat “Antroposentris” lahir dari rahim seorang buruk rupa yang bernama Socrates. Berkat dirinya, filsafat Yunani mengalami transformasi signifikan dari filsafat alam ke filsafat manusia. Bahkan, filsafatnya telah menjadi landasan bagi perkembangan filsafat selanjutnya, seperti filsafat yang diusung oleh murid-muridmya, Filsafat Barat, dan Filsafat Islam.  
Konon, dewa yang berada di tempat peribadatan bagi orang Yunani, di Delphi, menyatakan bahwa ia adalah orang yang arif di negeri Yunani.  Ia menafsirkan bisikan itu sebagai persetujuan atas cara acnoticism yang menjadi titik tolak di filsafatnya : “one thing only I know, and that is I know nothing”. Lebih lanjut ia menyatakan, “Aku disebut bijaksana, oleh karana mereka yang mendengarkan pernyataan-pernyataanku selalu mendapat kesan bahwa aku ini memiliki kebijksanaan yang tak dapat ditemukaan pada orang lain; akan tetapi, tun-tuan dari Athena, yang sebenarnyalah ialah bahwasanya  tuhanlah satu-satunya yang bijaksana. Oleh apa yang disabdakannya itu kiranya hendak ditunjukkan bahwa kebijaksanaan manusiawi itu sedikit atau sama sekali tidak ada harganya.” 
Meskipun kearifan dan kebijaksanaan Socrates tidak dapat disangsikan lagi oleh sebagian masyarakat Yunani, tetapi ia tidak pernah mengaku memiliki hal tersebut; hal itu tercermin dari kata-kata yang Socrates yang dipaparkan di atas. Ia hanya menyadari bahwa dirinya adalah penggemar kearifan atau amateur kebijaksanaan (pecinta kebijaksanaan). Pribadi Socrates sangat bertentangan dengan kaum sofis yang menganggap dirinya bijaksana, serta menjadikan kemahirannya dalah bermain kata-kata sebagai jalan untuk mencari kenikmatan duniawi.
Sayangnya, buah perenungan filosofis Socrates tidak tertuang dalam tulisan. Hal itu karena ia tidak pernah diketahui menuliskan pemikirannya dalam sebuah karya. Pada akhirnya, pemikiran Socrates yang sampai pada kita saat ini pada dasarnya berasal dari catatan-catatan Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya. Adapun karya mengenai Socrates yang fenomenal adalah “Apologia”. Buku ini berisi pidato pembelaan Socrates dimuka sidang pengadilan Athena yang mengantarkannya pada hukuman mati. Karya yang ditulis oleh Plato ini akan diulas sekilas oleh penulis dalam makalah ini.
A. RIWAYAT HIDUP SOCRATES
Socrates lahir dari rahim seorang bidan yang bernama Phaenarete, tepatnya di Athena (470 – 399 S.M). Ayahnya bukanlah keturunan bangsawan atau orang berkedudukan tinggi, melainkan seorang pemahat bernama Sophroniscus. Pada usia muda, Socrates mendapat pendidikan formal di bidang sains, musik dan gimnastik. Semua ini merupakan subyek pelajaran yang berlaku umum dalam periode Yunani klasik. Ia juga dikenal sebagai pemahat, melanjutkan pekerjaan ayahnya setelah wafat. Beberapa buah karyanya pernah ditampilkan di salah satu tempat di jalan menuju ke Acropolis di Athena.
Namun, Socrates mengambil langkah untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pemahat. Socrates dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan berkelilingi mendatangi masyarakat Athena berdiskusi soal filsafat. Dia melakukan ini, pada awalnya, didasari satu motif religius untuk membenarkan suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. 
Merasa diri tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut. Dia mendatangi orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu. Setelah itu, dia mengajak mereka berdiskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode berfilsafatnya inilah yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. 
Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana. Sepanjang sisa kehidupannya ia dibimbing oleh suara surgawi. Ia menggambarkan hubungannya dengan Tuhan secara demikian intim seperti hubungan yang diajarkan oleh beragama yang hidup di zaman modern. Socrates sangat meyakini “suara” tersebut dan tidak pernah menentangnya karena beranggapan bahwa suara tersebut selalu menunjukkan kepadanya segala kebenaran dan kebaikan.
Hampir pembicaraan biografis tentang Socrates dimulai dengan melukiskannya sebagai orang yang jelek penampilannya; rupa dan parasnya tidak selaras dengan ukuran ideal orang Yunani. Ia bak hantu yang sehari-hari berkeliaran menyusuri jalanan di kota Athena, dipasar-pasar, dan di alun-alun. Dimana saja ia bisa menemui manusia yang dapat diajak bercakap-cakap dengan caranya yang terkenal, yaitu bertanya-tanya tentang segala sesuatu sampai ke akar-akarnya, sekadar menguji sejauh dan sedalam mana pengetahuan mereka. 
Namun, di balik penampilan lahiriahnya yang tidak sempurna, ia memiliki bathin yang sempurna. Socrates adalah pemilik jiwa yang luhur, menusia pencari kebenaran sejati yang tak gentar oleh pendapatnya yang berbeda dengan khalayak ramai. Dialah manusia sederhana yang bertekad menerjang segala keangkuhan. Dengan kata lain, Socrates merupakan seorang manusia yang membawa pesan-pesan nubuwah atau profetis. 
Ia sebenarnya memiliki derajat dalam masyarakat meski ia menghindari politik karena dianggap akan mengganggu missi keruhaniannya. Dalam jabatan yang dipegangnya ia selalu bersikap berani dan terkadang berdiri sendiri mempertahankan apa yang dianggapnya sebagai tindakan yang benar. Contohnya antara lain saat ia menentang sendirian proposal terhadap para pemenang Arginusae pada tahun 406 s.M. Dua tahun kemudian ia menunjukkan pembangkangan terhadap Tirani Tigapuluh selama masa pemerintahan teror mereka.
Pada masa Socrates, kaum sofis menguasai panggung pemikiran Yunani. Mereka menganggap bahwa kebenaran itu relatif. Dengan kata lain, kaum sofislah penentu kebenaran dengan keahlian mereka bersilat lidah. Dengan sekuat tenaga Socrates menentang ajaran para sofis. Ia membela yang benar dan yang baik sebagai nilai obyektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang. Dalam sejarah umat manusia, Socrates bisa disebut sebagai figur teladan yang jujur dan berani menegakkan kebenaran.
Kejujuran, keberanian, serta cara berfilsafat Socrates telah mengancam eksistensi orang-orang yang dianggap bijak pada masa itu. Rasa sakit hati inilah yang nantinya akan berujung pada kematian Sokrates melalui peradilan dengan tuduhan resmi merusak generasi muda, sebuah tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dipatahkan melalui pembelaannya sebagaimana tertulis dalam Apologia karya Plato. Socrates pada akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting, 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya.
B. FILSAFAT SOCRATES
Peninggalan pemikiran Socrates yang paling penting ada pada cara dia berfilsafat dengan mengejar satu definisi absolut atas satu permasalahan melalui satu dialektika. Pengejaran pengetahuan hakiki melalui penalaran dialektis menjadi pembuka jalan bagi para filosof selanjutnya. Perubahan fokus filsafat dari pembicaraan mengenai alam beralih menjadi manusia juga merupakaan dari Socrates. Manusia menjadi objek filsafat yang penting setelah sebelumnya dilupakan oleh para pemikir hakikat alam semesta. Pemikiran tentang manusia ini menjadi landasan bagi perkembangan filsafat etika dan epistemologis di kemudian hari.
Selain itu, kebangkitan filsafat Socrates sebagai upaya untuk mengkritisi ajaran kaum Sofis. Socrates berusaha mendobrak keyakinan masyarakat Athena yang dipengaruhi oleh kaum sofis bahwa kebenaran itu relatif. Socrates berpandangan bahwa ada kebenaran umum yang dapat dipegang oleh semua orang, yakni kebenaran absolut. 
Menurut pendapat Socrates ada kebenaran obyektif, yang tidak bergantung pada saya atau pada kita. Ini memang pusat permasalahan yang dihadapi oleh Socrates. Untuk membuktikan adanya kebenaran obyektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan – percakapan. Ia menganalisis pendapat-pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat mengenai salah dan tidak salah, misalnya ia bertanya kepada negarawan, hakim, tukang, pedagang, dsb. Menurut Xenophon, ia bertanya tentang salah dan tidak salah, adil dan tidak adil, berani dan pengecut dll. Socrates selalu menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban–jawaban lebih lanjut dan menarik kensekuensi–konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban–jawaban tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil, maka hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain, lalu hipotesis kedua ini diselidiki dengan jawaba –jawaban lain, dan begitulah seterusnya. Sering terjadi percakapan itu berakhir dengan aporia (kebingungan). Akan tetapi, tidak jarang dialog itu menghasilkan suatu definisi yang dianggap berguna. Metode yang biasa digunakan Socrates biasanya disebut dialektika yang berarti bercakap – cakap atau berdialog. Metode Socrates dinamakan dialektika karena dialog mempunyai peranan penting di dalamnya. Selin itu, bagi Socrates sangat meneknkn pada penemuan definisi. Hal itu karena definisi sebagai alat untuk menghantam relativisme kaum sofis.
Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada orang sofis bahwa pengatahuan yang umum ada, yaitu definisi itu. Jadi, orang sofis tidak seluruhnya benar, yang benar ialah sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian bersifat khusus, yang khusus itulah pengetahuan yang kebenaranya relatif. Misalnya contoh ini :
Apakah kursi itu? kita periksa seluruh, kalau bisa seluruh kursi yang ada di dunia ini. Kita menemukan kursi hakim ada tempat duduk dan sandaran, kakinya empat, dari bahan jati. Lihat kursi malas, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya dua, dari besi anti karat begitulah seterusnya. Jadi kita ambil kesimpulan bahwa setiap kursi itu selalu ada tempat duduk dan sandaran. Kedua ciri ini terdapat pada semua kursi. Sedangkan ciri yang lain tidak dimilki semua kursi. Maka, semua orang akan sepakat bahwa kursi adalah tempat duduk yang bersandaran. Berarti ini merupakan kebenaran obyektif–umum, tidak subyektif–relatif. Jadi, memang ada pengetahuan yang umum, itulah definisi.
Adapun tujuan utama bagi Socrates adalah menciptakan suatu reformasi susila dalam tata hidup masyarakat Athena; ia bisa disebut sebagai ethikus. Selain itu, bagi Socrates pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan tentang diri sendiri. Semboyan yang paling digemarinya ialah tulisan yang tertera di kuil Delphi, yaitu: Kenalilah dirimu sendiri! Maka dijadikanlah diri manusia oleh Socrates menjadi sasaran filsafat, dengan mempelajari substansi dan sifat – sifat diri itu. Dengan demikian menurut Socrates filsafat hendaklah berdasarkan kemanusiaan, atau dengan kata lain, hendaklah berdasarkan akhlak dan budi pekerti.
Menurut filsafat Socrates segala sesuatu kejadian yang terjadi di alam adalah karena adanya “akal yang mengatur” yang tidak lalai dan tidak tidur. Akal yang mengatur itu adalah Tuhan yang pemurah. Dia bukan benda, hanya wujud yang rohani semata – mata. Pendapat Socrates tentang Tuhan lebih dekat kepada akidah tauhid. Dia menasehatkan supaya orang menjaga perintah–perintah agama, jangan menyembah berhala dan mempersekutukan Tuhan.
Kemudian, sumbangsih Socrates yang terpenting bagi perkembangan filsafat adalah metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat secara umum.
C. APOLOGIA
Dakwah Socrates yang dilakukan secara intensif dalam rangka mengkritisi pandangan kaum sofis ternyata malah dianggap sebagai ancaman. Selain itu, cara berfilsafat Socrates, dengan menggunakan metode dialektik, telah meruntuhkan harga diri orang-orang yang menganggap diri mereka bijaksana. Oleh karena itu, pada tahun 399 S.M. Socrates ditangkap oleh pengadilan tinggi Athena. Adapun orang-orang yang menjadi pendakwanya adalah Meletus (seorang penyair), Anytus (politisi) dan Lycon (orator). 
Adapun tuduhan yang ditujukan pada Socrates adalah “Socrates adalah seorang yang jahat, orang yang serba nau tahu, yang bermenung tentang hal-hal di balik awan dan di bawah bumi, serta menampilkan hal-hal yang sesat dalaam bentuk-bentuk yang lebih baik; dan ajaran-ajarannya ini diteruskan kepada orang lain.” Selain itu, Socrates juga dituduh sebagai pembuat kejahatan, yang merusak para pemuda, dan tak percaya terhadap tuhan-tuhan yang diabdi oleh Negara melainkan mempunyai tuhan-tuhannya sendiri.
Pengadilan sebagai penilai hukum memberi kesempatan bagi sokrates untuk melakukan pembelaan. Sokrates tidak ingin bersikeras membela dirinya, melainkan ia akan menghadapi tuduhan Meletus yang kontradiksi tersebut. Menurut penuturan Plato, Socrates menolak memberikan argumentasi rhetorikal untuk membela dirinya dan menggunakan cara yang lebih santun. Menurut apologi Plato, ia mengawali pembelaan dirinya dengan kata-kata berikut: Kalau begitu aku harus mengajukan pembelaan diri dan mencoba menjernihkan fitnah yang sudah berlangsung lama atas diriku. Dan dengan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan, sesuai dengan kepatuhan kepada hukum, aku sekarang akan mengajukan pembelaan diriku. 
Pada hari pengadilan yang dihadiri, setidaknya, duapertiga warga Athena, Socrates menyampaikan tiga buah pidato. Pada pagi hari, Socrates membacakan pledoi. Siang harinya, usai pemungutan suara yang memutuskan hukuman mati (280 suara meghukum Socrates dan 220 suara membebaskan) Socrates maju kembali menyampaikan pidato dan diijinkan meminta pengampunan atau alternatif hukuman. Dan sore harinya, setelah pemungutan suara yang kedua menolak alternatif hukuman yang diajukan Socrates, Socrates kembali maju menyampaikan pidato perpisahan.
Tiga buah pidato Socrates, yang ditulis ulang oleh Plato menjadi buku Apologia itu, merupakan salah satu rujukan intelektual paling tua dan sempurna.    Apologia disebut juga sebagai rujukan atas konsepsi the art of principle karena tiga buah pidato di hari terakhir Socrates. Pidato tersebut sebagai contoh teoritis sekaligus praksis dari laku memertahankan prinsip-prinsip secara lugas, benderang, dan berani.
Pembelaan pertama pada tuduhan Sokrates sebagai seorang koruptor atau perusak atau pengacau orang muda : Socrates tidak setuju dirinya dikatakan sebagai perusak orang muda. Kenyataan yang ada bahwa orang muda senang melihat Socrates menguji mereka yang menyebut dirinya bijak. Jika Sokrates mengajarkan yang tidak baik, maka kenyataan yang akan terjadi anak muda tersebut akan menjadi pekacau dan perusak. Adakah bukti bahwa anak muda yang senang mendengar ajaran kebijaksanaan Socrates itu perusak atau pengacau? Pembelaan kedua pada tuduhan Sokrates yang mengajarkan kaum muda untuk tidak percaya pada para dewa polis: tuduhan Meletus membingungkan Socrates. Meletus menuduh Sokrates tidak percaya pada dewa-dewa yang dipercaya oleh polis (dewa matahari dan dewa bulan) tetapi mengajarkan hal-hal spiritual ilahi yang lain. Matahari cuma batu dan bulan cuma tanah seperti yang pernah digagas oleh anxagoras. Socrates berpendapat bahwa kita harus beribadat menurut peraturan yang ditetapkan oleh polis bersangkutan. Socrates tidak menolak politeisme yang diterima umum dalam polis Yunani, biarpun ia kerapkali berbicara tentang Tuhan dengan cara menyerupai monoteisme. Sehingga bagi Socrates, perbedaan politeisme dan monoteisme bagi orang Yunani tidak dipermasalahkan dan tidak ada bukti apapun bahwa Socrates mendirikan suatu golongan religius yang baru. Dengan demikian Meletus nenunjukkan ketidaktahuannya dengan mengungkapkan suatu dakwaan kuno yang tidak relevan dengan kepercayaan atau perilaku Socrates.
Berbeda dengan beberapa kaum sofis yang diadili, yang menyampaikan pledoi seperti anak SD sedang berdeklamasi, penuh dengan kalimat yang mengharu-biru, kadang dengan rengekan, dengan gerak tangan dan mimik yang dramatik, terkadang dengan tetesan air mata, Socrates menyampaikan semua pembelaan dirinya dengan kalimat yang terus terang, menyebut nama lawannya tanpa inisial, menghantam lawannya (terutama Meletos) dengan lugas, dengan tanpa rasa takut sekaligus tanpa kehilangan sedikitpun cira rasa kerendah-hatian dirinya yang sudah dikenal di delapan penjuru Athena.
Socrates diadili oleh hakim Athena. Ia dijatuhi hukuman mati. Seandainya Socrates memilih hukuman dibuang keluar kota, tentu hukuman itu diterima oleh hakim tersebut, tetapi Socrates tidak mau meninggalkan kota asalnya. Socrates menawarkan hukuman denda 30 mina ( mata uang Athena waktu itu ). Pilihan itu ditolak oleh para hakim karena dianggap terlalu kecil, terutama Socrates didalam pembelaannya dirasakan menghina hakim – hakimnya. Biasanya hukuman mati dirasakan dalam tenggang waktu 12 jam dari saat diputuskannya hukuman itu akan tetapi, pada waktu itu ada satu perahu layar Athena yang keramat sedang melakukan perjalanan tahunan kekuil dipulau Delos, dan menurut hukum Athena hukuman mati baru boleh dijalankan bila perahu itu sudah kembali oleh karena itu, satu bulan lamanya Socrates tinggal didalam penjara sambil bercakap–cakap dengan para sahabatnya. Salah seorang diantara mereka yaitu Kriton, mengusulkan supaya Socrates melarikan diri, tetapi Socrates menolak. Dan pada waktu senja dengan tenang Socrates meminum racun, dikelilingi oleh para sahabatnya. Sekalipun Socrates mati, ajarannya tersebar justru dengan cepat karena kematiannya itu. Orang mulai mempercayai adanya kebenaran umum.
Socrates tidak gentar dalam menghadapi kematian. Ia berkata di depan pengadilan bahwa seorang yang benar-benar berbudi luhur tidak selaayaknya memperhitungkan soal hidup atau mati; dalma berbuat sesuatu hendaknya ia hanya mempertimbangkan baik atau buruknya perbuatan itu. Dia menambahkan bahwa sepatutnya manusia tidak berpikir tentang kematian atau perihal lainnya, melainkan semata-mata tentang kehormaatan dirinya. Inilah akhlak yang seluhur-luhurnya. Kata-kata inilah yang menjadi prinsip dalam hidupnya hingga akhir hayatnya. Pidato pembelaannya ditutup dengan sepenggal kalimat, “Tibalah kini saat kita berpisah: aku menjelang mati, dan kalian menempuh hidup. Mana yang lebih baik, hanya Tuhanlah mengetahui.” 
Bagi Socrates, dalam kematian jiwa dan tubuh terpisah, tubuh menjadi hancur dan jiwa meneruskan “perjalanannya”, karena jiwa bersifat langgeng. Seperti dikenal dalam legenda kuno Yunani, bahwa jiwa-jiwa orang mati akan kembali ke rumah Hades, dan kelak di kemudian hari akan dihidupkan lagi dari kematian. Menurutnya hal tersebut berarti orang-orang yang hidup adaalah mereka yang dibangunkan kembali dari kematiannya. Ini membuktikan bahwa jiwa memang benar-benar ada di sana, dan tak mungkin dihidupkan lagi apabila jiwa tersebut tidak ada. Hal ini sudah merupakan bukti bahwa orang-orang yang kini hidup datang dari mereka yang sebelumnya telah mati dan dibangunkan kembali. 
Jika drama Antigone karya Sophocles bisa disebut sebagai puncak warisan seni drama kebudayaan Athena, Apologia sebagai epilog kehidupan Socrates adalah versi lain dari semangat dramaturgi kebudayaan Athena dalam kehidupan nyata dan bukan semata di panggung Parthenon yang agung. Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Apologia karya Plato. Kematian Socrates dalam ketidakadilan peradilan menjadi salah satu peristiwa peradilan paling bersejarah.
KESIMPULAN
Seumur hidup Socrates melewati penghidupan yang berat, namun tetap memusatkan seluruh perhatiannya dengan melakukan penelitian ilmiah. Doktrin Socrates memiliki warna mistisisme. Dia menganggap, bahwa keberadaan pada hal ihwal di langit dan bumi, perkembangan dan kehancuran semuanya merupakan rencana Tuhan. Ia menentang riset naturalis, menganggap bahwa hal itu adalah menghina dewa. Ia mendorong orang-orang memahami logikanya sebagai manusia, hidup pada kehidupan yang bermoralitas. Riset utama filsafatnya adalah masalah etika moral.                          
Metode penyampaian pemikiran filosofis Socrates dengan melalui proses yang disebut “pembidanan.” Artinya membantu orang untuk “melahirkan” wawasan yang benar. Metode ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan (berdiskusi) kepada setiap orang yang ditemuinya di setiap pelosok kota Athena di mana ia lewat. Socrates acap kali berdebat dengan orang. Dalam perdebatan, ia menggunakan sindiran agar pihak lawan bertentangan sendiri, mengakui tidak tahu sama sekali terhadap pertanyaan tersebut. 
Dengan demikian orang akan dapat menangkap kebenaran filosofis dengan menggunakan rasionya sendiri. Menggunakan akal atau rasio ini berarti masuk ke dalam diri sendiri dan memanfaatkan apa yang ada di sana. Prinsip berpikir tiada henti, kritis, mempertanyakan segala sesuatu yang bertentangan dengan kekuasaan masyarakat dengan mengecam segala bentuk ketidakadilan inilah yang akhirnya mengakibatkan Socrates kehilangan nyawanya dengan dipaksa minum racun cemara saat berusia 70-an tahun.
Begitu tegarnya Socrates menghadapi kematian di depan matanya saat detik-detik menjelang ajal pelaksanaan hukuman minum racun. Kekuatan yang besar hinggap pada dirinya hingga mampu menghadapinya dengan ketenangan yang luar biasa diiringi derai tangis Xanthipe (istri), anak-anak, dan sahabat-sahabatnya. Kekuatan Socrates muncul dari dasar keyakinannya akan arti dari kematian itu sendiri. Ia yakin akan mampu melampaui orang-orang mati dan bahkan para dewa sendiri. Kematian baginya merupakan pemisahan jiwa dari raga. Kematian adalah proses pemurnian dari jiwa itu sendiri. Seorang filosuf mencintai kebijaksanaan, kebijaksanaan yang hanya dapat dicapai oleh jiwa.
DAFTAR PUSTAKA
Bertens, Kees. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius. 1999.
Ferguson, Wallace K., and Geoffrey Bruun. A Survey of European Civilization (4th Ed).
Boston: Houghton Mifflin Company. 1969.
Hasan, Fuad. APOLOGIA, Pidato Pembelaan Socrates yang Diabadikan Plato. Jakarta:
Bulan Bintang. 1973.
Jahja, Muchtar. 1962. Pokok – Pokok Filsafat Yunani, Jakarta : Widjaya.
Rakhmat, Ioanes. Socrates dalam Tetralogi Plato: Sebuah Pengantar dan Terjemahan Teks.
Jakarta: Gramedia. 2009.
Solomon, Robert C. Sejarah Filsafat, New York : Yayasan Bentang Budaya. 1996.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum, Bandung : PT Remaja Rosda Karya. 2003.
Yenne, Bill. 100 Pria Pengukir Sejarah Dunia. Jakarta: PT. Pustaka Delapratasa. 2002.

22 Februari 2016

Membedah Sirâj al-Thâlibîn Karya Syeikh Ihsân Dahlân; Sebuah Studi Kajian Hadis

I.    Pendahuluan
“Likulli Rijalin Fannun” adalah sebuah adagium yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki spesialisasinya masing-masing. Jika adagium itu ditarik lebih dalam terhadap bidang kajian ilmu keislaman, maka salah satu konsekuensi logisnya adalah sebuah konklusi yang cukup menggetarkan sejumlah kalangan. Konklusi itu akan menyatakan, “Sufi belum tentu Muhaddis” atau “Fakih belum tentu Muhaddis” dan lain sebagainya, yang intinya akan bermuara pada sebuah kata kunci “setiap orang memiliki spesialisasinya masing-masing”. Jika adagium ini digenerasilasikan, maka di dunia ini tidak akan pernah muncul seorang sarjana prolifik atau multidisipliner.
Akan tetapi di era klasik juga pernah muncul sebuah jargon klasik yang –bisa dikatakan lawan dari adagium di atas- menyatakan bahwa “Man Tabahhara Ilman Wahidan, Faqad Tabahhara Jamî’ al-Ulûm”. Jika kaidah pertama menyatakan setiap orang memiliki spesialisasinya masing-masing, maka jargon kedua mengatakan bahwa orang yang telah menguasai satu disiplin ilmu maka akan dapat menguasai seluruh disiplin ilmu lainnya.
Dua kaidah di atas akan menarik untuk diuji relevansinya jika ada kajian seorang tokoh yang dikenal memiliki spesialisasi ilmu A (contoh), kemudian dikaji melalui teropong ilmu B. Atau juga mengkaji sebuah karya tertentu kemudian dikaji melalui pendekatan lainnya.
Syahdan, dalam makalah ini penulis akan mencoba mendedahkan sebuah kajian hadis dalam kitab Sirâj al-Thâlibîn karya ulama Nusantara yang murni produk pribumi dan hanya “nyantri”, Syeikh Ihsân bin Dahlân Jampes Kediri.
Elan vital dari kajian ini adalah di samping memenuhi kewajiban individual mata kuliah Kajian Kitab Hadis, juga ingin memberikan motivasi kepada generasi penerus untuk membangkitkan kembali gairah tulis-menulis putra bangsa yang kian meredup. Di sisi lain juga ingin membuktikan apakah Syeikh Ihsân yang –dengan dua karya tasawufnya- dikenal sebagai seorang sufi memiliki kapasitas dalam bidang hadis? 
II.    Biografi
1.    Kelahiran
Syeikh Ihsan dilahirkan pada tahun 1901 M. dengan nama asli Bakri, dari pasangan KH. Dahlan dan Ny. Artimah. KH. Dahlan, ayah Syeikh Ihsan, adalah seorang kiai yang tersohor pada masanya dan yang pertama kali merintis berdirinya Pondok Pesantren Jampes pada tahun 1888 M. 
Tidak banyak data yang mengurai secara detail tentang biografi Syeikh Ihsan Dahlan. Konon, Ihsan kecil, adalah termasuk seorang anak yang nakal. Dia sering kali bolos ngaji demi menonton pertunjukan wayang. Namun, kenakalan yang dilakukannya tidak berjalan lama, karena suatu ketika dia mimpi bertemu dengan kakeknya, dimana dalam mimpinya dia disuruh untuk berhenti melakukan hal-hal buruk. Syeikh Ihsan wafat pada hari senin, 25 Dzulhijjah 1371 H atau bulan September 1952 M.
2.    Rihlah Ilmiah
Suatu ketika Bakri (Syeikh Ihsân) mimpi bertemu dengan kakeknya. Dalam mimpinya tersebut, Bakri disuruh oleh kakeknya untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Mimpi inilah yang kemudian membukakan pintu hatinya untuk melakukan pengembaraan intelektualnya.
Beberapa Pesantren yang pernah disinggahi oleh Syeikh Ihsan adalah:
1.    Pondok Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin  (Paman Syeikh Ihsan)
2.    Pondok Pesantren Jamseran Solo.
3.    Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan  Semarang.
4.    Pondok Pesantren Mangkang Semarang.
5.    Pondok Pesantren Punduh Magelang.
6.    Pondok Pesantren Gondang Legi Nganjuk.
7.    Pondok Pesantren Bangkalan Madura di bawah bimbingan KH. Kholil  Bangkalan.
Penulis tidak menemukan data yang menyebutkan spesialisasi disiplin ilmu yang diambil oleh Syeikh Ihsan dalam belajar di Pesantren-pesantren di atas. Hal ini menyulitkan penulis dalam mengidentifikasi guru-guru hadis Syeikh Ihsan. Sebuah data menyatakan bahwa dari beberapa pesantren yang dia singgahi, tidak ada yang lebih dari satu tahun.  Bahkah Syeikh Ihsan tidak pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah layaknya ulama-ulama lainnya.  
3.    Karya-Karya Syeikh Ihsan
Karya-karya Syeikh Ihsan yang sudah terlacak berjumlah empat buah:
1.    Tashrîh al-Ibârat (syarah dari kitab Natîjat al-Mîqât karya KH. Sholeh Darat Semarang), terbit pada tahun 1930 setebal 48 halaman. Buku ini mengulas tentang ilmu astronomi.
2.    Sirâj al-Thâlibîn (syarah dari kitab Minhâj al-Âbidîn karya Imam al-Ghazâlî), terbit pada tahun 1932. Buku setebal 800 halaman ini mengulas tentang Tasawuf.
3.    Manâhij al-Imdâd (Syarah dari kitab Irsyâd al-‘Ibâd karya Syeikh Zainuddin al-Malibari), terbit pada tahun 1940. Buku dengan jumlah halaman sekitar 1088 ini juga mengulas Tasawuf. Terbit pada tahun 2004.
4.    Irsyâd al-Ikhwân fi Bayân Hukmi Syurbi al-Qahwah wa al-Dukhân (Sebuah karya adaptasi puitik sekaligus penjabaran dari kitab Tadzkirah al-Ikhwân fi Bayân al-Qahwah wa al-Dukhân karya KH.Ahmad Dahlan Semarang), tt. Tebal sekitar 50 halaman, sebuah buku yang mengulas tentang pro kontra hukum meminum kopi dan rokok.
III.    Membedah Sirâj al-Thâlibîn
1.    Problem Otentisitas
Problem otentisitas sebuah karya bukanlah hal yang baru. Dalam literature klasik juga terdapat beberapa kitab yang diragukan keasliannya dalam penisbatannya kepada penulisnya. Sebut saja Tafsîr Tanwîr al-Miqbas yang dinisbatkan kepada Ibn Abbâs, Misykât al-Anwâr yang konon merupakan karya al-Ghazâli, bahkan karya lama seperti tafsir al-Fawâtih al-Ilâhiyyah yang baru diterbitkan pada tahun 2009 dikatakan oleh muhaqqiqnya sebagai karya dari Syeikh Abd al-Qadîr al-Jailânî.
Pada dasarnya tidaklah tepat untuk mengatakan bahwa kitab Sirâj al-Thâlibîn mengalami problem otentisitas sebagaimana kitab-kitab yang penulis sebutkan di atas. Karena pada mulanya kitab ini sudah disepakati oleh sejumlah pihak bahwa kitab ini adalah karya dari Syeikh Ihsân Dahlân. Hanya saja pada awal tahun 2009 sebuah penerbit terkemuka di kawasan Beirut Libanon, Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, menerbitkan kitab ini dengan nama penulis lain, yakni Syeikh Zainî Dahlân. Hal ini diperparah dengan dibuangnya Taqârîdz (semacam kata pengantar) yang ditulis oleh Syeikh Hasyim Asy’arî.
Beberapa pihak menduga bahwa kekeliruan ini sengaja dilakukan oleh penerbit tersebut demi mengangkat pangsa pasar. Karena di Timur Tengah nama Syeikh Ihsan Dahlan kurang popular dibangdingkan dengan Syeikh Zaini Dahlan. Kemudian masalah ini ditindak lanjuti oleh PBNU dengan meminta klarifikasi kepada penerbit tersebut serta memintanya untuk mengganti nama penulisnya dengan nama Syeikh Ihsân Dahlân kembali.
Di samping itu ada beberapa data yang mengokohkan dan mengukuhkan bahwa Sirâj al-Thâlibin adalah benar-benar karya Syeikh Ihsân Dahlân. Pertama, dalam muqaddimah kitab tersebut ditulis ungkapan:
“Seorang hamba yang mengharap ampunan Tuhannya, yang membutuhkan rahmat-Nya; Ihsân bin al-Marhûm Muhammad Dahlân al-Jampesi al-Kadiri –semoga Allah memperbaiki keadaan dan tingkah lakunya dan menutupi aibnya di dunia dan akhirat- berkata; kitab ini (sirâj al-Thâlibîn) adalah penjabaran yang singkat nan agung atas sebuah kitab yang berjudul Minhâj al-‘Âbidîn karya Seorang imam yang enerjik dan menjadi panutan semua golongan baik orang khâs maupun orang awam. Seseorang yang digelari Hujjat al-Islâm dan memberkahi umat manusia. Ulama yang kesempurnaannya terdengar di telinga semua orang. Reputasi karyanya berada di posisi yang sangat tinggi serta membuat para ulama-ulama lainnya menundukkan wajahnya karena kekaguman mereka atas karyanya. Ulama itu bernama Syeikh Abû Hâmid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazâlî –semoga Allah menyirami kuburannya dengan ampunan yang selalu mengalir-. Aku –Syeikh Ihsan- menulis kitab ini dengan tujuan untuk mengingatkan diriku sendiri juga untuk mengingatkan orang-orang yang lemah sepertiku. Aku namakan kitab ini dengan judul, “Sirâj al-Thâlibîn ‘Alâ Minhâj al-‘Âbidîn Ilâ Jannat Rabb al-Âlamîn.”
Data tersebut dipertegas dalam penutupan kitabnya dengan mengungkapkan;
“Akhirnya penulisan ini -dengan segala kesibukan penulis- telah selesai dalam jangka waktu sekitar delapan bulan. Pada waktu siang hari selasa dan bertepatan dengan tanggal 27 Sya’ban 1351 Hijriah. Penulisan ini dirampungkan di rumahku, daerah Jampes Kediri, salah satu kota di pulau Jawa.”
Sebagaimana penulis sebutkan di atas, pada cetakan-cetakan selain yang diterbitkan oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Kitab ini diberikan Taqâridz (kata pengantar) oleh sejumlah ulama Indonesia. Hal ini bisa dilihat pada ak    hir jilid kedua dari kitab Sirâr al-Thâlibîn. Taqâridz ini juga mengukuhkan penisbatan kitab ini kepada Syeikh Ihsan, sebagaimana yang disampaikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari;
“Lembah ilmu-ilmu di sepanjang masa selalu mengalir deras. Taman-taman disiplin ilmu akan selalu berbuah dan daunnya akan selalu hijau. Duhai Allah, ilmu-ilmu itu adalah perhiasan yang amat mulia dan amat  menguntungkan. Mengangkat derajat pemiliknya kepada derajat yang tinggi. Pengkaji yang menyibukkan dengan ilmu akan memperoleh manfaat. Sementara ilmu yang paling tinggi nilainya dan paling baik penyebutannya adalah ilmu tasawuf, ilmu yang dapat menjernihkan hati dan watak. Ilmu yang merupakan pokok atau dasarnya ilmu, sementara ilmu lainnya adalah cabang. Karena ilmu ini berkaitan dengan keberadaan Tuhan, jalan menempuh kebahagiaan, dan kebagaiaan yang kekal. Dan salah satu kitab terbaik dalam bidang ini (tasawuf) dan yang dapat memberikan “pemahaman” kepada orang-orang yang berakal. Sebuah kitab yang dinamakan dengan “Sirâj al-Thâlibîn ‘Alâ Minhâj al-Âbidîn Ilâ Jannat Rabb al-‘Âlamîn” karya seorang Âlim dan Allâmat, seorang yang cerdas dan memiliki wawasan yang luas, yakni Syeikh Ihsan bin al-Marhum Muhammad Dahlan al-Jampesi al-Kadiri.”
Di samping kata pengantar yang diberikan oleh KH. Hasyim Asy’ari, ada komentar sekaligus pujian lain yang diberikan kepada Syeikh Ihsan dengan karyanya ini. Pujian tersebut datang dari seorang ulama asal Nganjuk Jawa Timur, KH. Abdurrahman bin Abdul Karim al-Sukri. Pujian lainnya juga datang dari ulama Kediri yang bernama Muhammad Yunus bin Abdullah. Ulama yang disebut terakhir ini berkata dalam kata pengantarnya:
Aku telah membaca sebagian isi dari naskah kitab ini, sebuah naskah yang merupakan penjabaran (atas karya al-Ghazali) yang sangat menawan. Aku menyambut gembira (atas naskah ini), kegembiraan yang dapat memberikan petunjuk atas kajian ini (tasawuf). Semoga Allah membalas kebaikan penulis kitab ini dan ulama-ulama semisalnya dengan sebaik-baiknya balasan.”
Kitab ini juga telah mendapat sanjungan dari beberapa ulama Jawa terkemuka lainnya, sebut saja Syeikh Khazin Bendo Pare (Paman sekaligus gurunya saat beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Bendo). Syeikh Muhammad Ma’ruf Kedunglo, Kediri.  Dan KH. Abdul Karim, Lirboyo Kediri.
Dari paparan dan data-data yang penulis peroleh, bisa penulis simpulkan bahwa karya ini (Sirâj al-Thâlibîn) adalah karya Syeikh Ihsan Dahlan bukan karya dari Syeikh Zaini Dahlan sebagaimana cetakan yang diterbitkan oleh Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah.
2.    Gambaran Umum Kitab Sirâj al-Thâlibîn
Sebagaimana sudah diketahui oleh masyarakat umum bahwa kitab ini merupakan sebuah kitab yang bergenre tasawuf. Sebuah disiplin ilmu yang mempelajari tentang etika dsb. Sebagai karya yang merupakan penjabaran dari kitab Minhaj al-Abidin, karya al-Ghazali, tentunya penulisannya mengikuti dan menyesuaikan dengan gaya dan sistematika dari kitab asalnya.
Dalam mukaddimahnya, Syeikh Ihsan mengatakan bahwa apa yang beliau tulis dalam kitab Sirâj al-Thâlibin adalah hanya kumpulan pendapat-pendapat ulama, beliau tidak melakukan apapun kecuali hanya menukil, tandasnya.  Hemat penulis, hal itu tidak lain merupakan bentuk ‘andap-asor’ (Tawadhu’) dari Syeikh Ihsan sendiri, karena di dalam kitab tersebut Syeikh Ihsan tidak hanya menukil pendapat-pendapat orang lain melainkan juga mengelaborasi bahkan mengkontekstualisasikan term-term tasawuf ke dalam eranya. Sebagai misal, Syeikh Ihsan sampai menyimpulkan bahwa zuhud di zaman ini tidak hanya dilakukan dengan meninggalkan dunia secara total. Sebagaimana hasil wawancara tim NU Online terhadap KH. Abidurahman Masrukhin, salah seorang keturunan Syeikh Ihsan yang meneruskan pengajian Sirâj al-Thâlibîn di Pondok Pesantren Jampes Kediri;
Ajaran tasawuf zaman ini dalam Sirajut Thalibin, menurut Gus Abid adalah soal zuhud. Biasanya zuhud diartikan sebagai tapa dunia atau menghindari harta benda. Syekh Ihsan mengajarkan bahwa orang yang zuhud sebenarnya adalah mereka yang dikejar harta, namun tak merasa memiliki harta itu sama sekali.“Jadi zuhud adalah tapa dunia tapi malah kaya. Nah kalau sudah kaya lantas mencari jalan yang terbaik dalam menafkahkan hartanya itu. Inilah ajaran Sirajut Thalibin. Bahkan Kiai Ihsan sendiri adalah orang yang kaya raya,” katanya. Satu lagi pelajaran dari Sirajut Thalibin adalah soal syukur, atau berterimakasih atas semua karunia dari Allah SWT. Kata Syekh Ihsan dalam juz dua kitab Sirajut Thalibin, doa yang paling tinggi adalah kalimat Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah. 
3.    Kajian Hadis dalam Kitab Sirâj al-Thâlibîn
Sebagai sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an, urgensitas hadis tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena itu bukanlah hal yang aneh apabila seluruh kajian keislaman baik fikih, ushul fikih, nahwu, balaghah, tak terkecuali tasawuf memiliki hubungan yang erat dengan kajian hadis. Sebagaimana dinyatakan secara tegas oleh Syeikh Ihsan Dahlan ketika menjelaskan definisi tasawuf dalam mukaddimahnya pada kitab Sirâj al-Thâlibîn. Syeikh Ihsân menyatakan;
Adalah sebuah kewajiban bagi setiap orang yang akan mengkaji sebuah ilmu untuk mengetahui definisi, obyek dan subyek kajian, peletak dasar dan lain sebagainya dari disiplin ilmu yang akan dibahasnya. Dalam hal ini adalah kajian tasawuf;
Definisi: Ilmu yang mengkaji tentang keadaan sebuah jiwa dan sifat-sifatnya baik yang terpuji manupun tercela
Obyek pembahasan : Hati
Hasil (yang ingin dicapai) : Sebagai pengantar untuk membersihkan jiwa yang kotor dan dapat mencapai pengetahuan terhadap Tuhan.
Hukum mempelajari : Wajib secara individual.
Keutamaannya: Di atas segala ilmu-ilmu lainnya, karena ia dapat mengantarkan seseorang yang mengkajinya mencapai pengetahuan terhadap Tuhan-Nya.
Kaitannya dengan ilmu lainnya : Adalah ilmu pokok, sedangkan ilmu lainnya adalah ilmu cabangannya.
Peletak dasar : Para imam-imam besar dan yang telah mencapai makrifat terhadap Tuhannya.
Sumber : Dari kalamullah (al-Qur’an), hadis, dan petuah-petuah orang-orang yang telah makrifat.
Kajian yang dibahas: Ketentuan-ketentuan yang di dalamnya membahas tentang sifat-sifat sebuah wujud, seperti fana’, baqa’, introspeksi diri dan lain sebagainya.

a.    Jumlah hadis dalam kitab Sirâj Thâlibîn

Perlu dikemukakan di sini bahwa sejauh pencarian data yang penulis lakukan, masih sangat langka –untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali- peneliti yang telah melakukan penelitian hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Sirâj al-Thâlibîn. Tata letak dan  penulisan hadis yang dilakukan oleh penerbit kitab Sirâj al-Thâlibîn masih terbilang sederhana. Dua hal ini menyulitkan penulis dalam penghitungan jumlah hadis yang terdapat dalam kitab ini.

b.    Metodologi Penulisan Hadis

Penulisan hadis yang dilakukan oleh Syeikh Ihsan dalam masterpiecenya, Sirâj al-Thâlibîn, tidaklah tunggal. Artinya penulisan hadis terkadang diberikan keterangan mukharrijnya, seperti ketika menyebutkan hadis:
يسروا ولا تعسروا ، و بشروا ولا تنفروا
Syeikh Ihsan mencantumkan mukharrij hadis di atas, bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Syaikhânî (Bukhari dan Muslim)

Dalam kesempatan lain pada saat menuliskan beberapa hadis tentang keutamaan Nabi Muhammad saw., Syeikh Ihsan sama sekali tidak mencantumkan mukharrijnya, seperti dalam hadis berikut;
*لا تفضلوني عن الأنبياء
*لا تفضلوني عن يونس إبن متى
*لا تخيروني على موسى
*أنا أكرم الأولين والأخرين على الله ولا فخر أعظم من ذلك

Dalam bagian yang lain dari kitab Sirâj al-Thâlibîn, Syeikh Ihsan juga mencantumkan status sebuah hadis yang ditulisnya, meskipun hanya sekedar menukil pendapat muhaddis. Sebagaimana dalam hadis berikut:
إن الله تعالى يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها أمر دينها
Syeikh Ihsan menyatakan bahwa al-Irâqî dan lainnya mengomentari hadis ini dengan status shahih.
Sumber rujukan kitab hadis yang digunakan oleh Syeikh Ihsan tidak hanya diambilkan dari kitab-kitab hadis kanonik, melainkan kitab hadis sekunder seperti Riyâd al-Shalihîn. Kutipan tersebut secara “terang-terangan” ditegaskan oleh Syeikh Ihsan, sebagaimana dalam hadis berikut:
إذا صليتم الصبح فأكثروا من الإستغفار ، فقلنا يا رسول الله علمنا شيأ نستغفر الله به، فقال قولوا اللهم إنا نستغفرك ونتوب إليك من كل ذنب علمناه أو لم نعلمه في ليل أونهار ، فمن واظب عليه فتح الله له بابا من الرزق وغلق عنه  بابا من أبواب الفقر
Di antara rujukan lainnya adalah kitab Tanqîh al-Qawl karya al-Nawâwî al-Bantânî. Yaitu pada hadis:
والملائكة يدخلون عليهم من كل باب سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار
Meskipun demikian, bukan berarti Syeikh Ihsân jarang mengutip hadis langsung dari sumber aslinya. Bahkan –hemat penulis- dengan melihat kondisi penulisan kitab ini, sekitar tahun 1930 an, referensi hadis yang digunakan oleh Syeikh Ihsan sungguh luar biasa. Apalagi beliau tidak pernah belajar ke Timur Tengah. Tentunya sangat jarang sekali orang yang memiliki kitab-kitab “langka” seperti: Nawâdir al-Ushûl karya al-Hakim, Sunan al-Baihaqî, Mu’jam al-Thabrânî, dan lain sebagainya.

Di antara kajian hadis yang dipaparkan oleh Syeikh Ihsan bin Dahlan yang terdapat dalam kitab ini adalah
1.    Perdebatan tentang periwayatan hadis secara maknawi (al-Riwâyat bi al-Ma’nâ). Dalam hal ini Syeikh Ihsan memaparkan perdebatan para ulama mengenai periwayatan secara maknawi, sebagaimana ia paparkan:
Sejumlah ulama telah memberikan sebuah keringanan atas periwayatan hadis secara maknawi di antara mereka adalah para pembesar sahabat: Sayyidina Alî bin Abû Thâlib, Sayyidina Abbâs, Anas bin Mâlik, Abû Dardâ’, Watsilah bin al-Asqa’, Abu Hurairah. Dan sejumlah tâbi’în yang sangat banyak jumlahnya seperti: Imam Hasan al-Bashrî, al-Sya’bî, Amr bin Dînar, Ibrâhîm al-Nakhâ’î, Mujâhid, Ikrimah. Data ini (menurut Syeikh Ihsan) diperoleh dari buku-buku biografi mereka. 
2.    Dengan begitu fasihnya Syeikh Ihsân juga mengetengahkan metodologi penyelesaian hadis-hadis yang kontradiktif. Sebagaimana penjelasannya dalam menjelaskan penyelesaian para ulama dalam menghadapi dua hadis yang kontradiktif, yakni larangan minum sambil berdiri dengan perbuatan nabi yang justru pernah melakukan minum sambil berdiri. Dalam hal ini dia memaparkan;
Ketahuilah bahwa dua hadis yang menjelaskan larangan Nabi  saw. tentang minum sambil berdiri dan perbuatan nabi yang pernah minum sambil berdiri adalah shahih keduanya. Jam’ al-Haditsain atau pengkompromian kedua hadis sudah saya jelaskan sebelumnya. Ketika masih dimungkinkan untuk mengkompromikan kedua hadis yang bertentangan maka penkompromian adalah keniscayaan. Tidak boleh kita menaskhnya. Sementara untuk mengatakan kedhaifan hadis larangan minum sambil berdiri tidak pernah didengar, bahkan hadis tersebut ada dalam shahih muslim, sedangkan menghukumi bolehnya minum sambil berdiri dengan menjadikan perilaku para khalifah empat (Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali) -yang pernah minum sambil berdiri- adalah tidak tepat dan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah ushul fikih, karena hadis nabi tidak bisa dibenturkan dengan prilaku sahabat.
3.    Syeikh Ihsan juga beberapa kali mengutip kitab al-Maudhû’at karya Ibn Jauzi dalam menilai kedhaifan sebuah hadis.  Yakni pada saat ia mengutip sebuah hadis yang terdapat dalam kitab al-Qût dan al-Awârif :
وإذا أكلت فابدأ بالملح واختم بالملح فإن الملح شفاء من سبعين داء الجنون والجذام والبرص ووجع الأضراس

IV.    Penutup
Sebagai sebuah karya tasawuf, Sirâj al-Thâlibîn juga memuat ratusan hadis yang sangat menarik untuk dikaji. Dengan melihat literature hadis yang digunakannya serta kajian hadis di dalamnya, setidaknya Syeikh Ihsan memiliki kemampuan dalam bidang hadis yang tidak bisa diabaikan. Meskipun untuk mengkategorikannya sebagai muhaddis masih perlu pembuktian. Karena dengan makalah yang sederhana dan keterbatasan waktu dan data yang penulis miliki. Makalah yang penulis suguhkan sungguh masih jauh dari sempurna. 
Wallahu A’lam bi al-Shawâb




Daftar Bacaan
Al-Bukhâri, Shahîh al-Bukhârî (Beirut: Dâr Ibn Katsîr,1987)

Syeikh Ihsân Dahlân, Kitab, Kopi, dan Rokok, (Jogjakarta: Pustaka Pesantren, 2009)
-----------------------, Sirâj al-Thâlibîn, (Singapore-Jeddah; al-Haramain,tt)

-----------------------,Sirâj al-Thâlibîn, (Jakarta: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, tt)
Jalâl al-Dîn al-Suyûthî, al-La’âlî al-Mashnû’ah Fi al-Ahâdits al-Maudhû’ah, (Beirut; Dâr Kutub al-Ilmiyyah,tt)
Imam Muslim bin al-Hajjâj, Shahîh al-Muslim (Beirut: Dâr Ihyâ al-Turâts al-‘Arabî,tt)


Website
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=18568

18 Februari 2016

Hadits Tentang Terpecahnya Umat Islam

Akhir-akhir ini kita sering dengar ada beberapa khatib dan penulis yang membawakan hadits tentang tujuh puluh dua golongan ummat Islam masuk Neraka dan hanya satu golongan ummat Islam yang masuk Surga adalah hadits yang lemah, dan mereka berkata bahwa yang benar adalah hadits yang berbunyi bahwa tujuh puluh golongan masuk Surga dan satu golongan yang masuk Neraka, yaitu kaum zindiq. Mereka melemahkan atau mendha’ifkan ‘hadits perpecahan ummat Islam menjadi tujuh puluh golongan, semua masuk Neraka dan hanya satu yang masuk Surga’ disebabkan tiga hal: 
  1.  Karena pada sanad-sanad hadits tersebut terdapat kelemahan. 
  2. Karena jumlah bilangan golongan yang celaka itu berbeda-beda, misalnya; satu hadits menyebutkan tujuh puluh dua golongan yang masuk Neraka, dalam hadits yang lainnya disebutkan tujuh puluh satu golongan dan dalam hadits yang lainnya lagi disebutkan tujuh puluh golongan saja, tanpa menentukan batas. 
  3.  Karena makna/isi hadits tersebut tidak cocok dengan akal, mereka mengatakan bahwa semestinya mayoritas ummat Islam ini menempati Surga atau minimal menjadi separuh penghuni Surga. 
Dalam tulisan ini, insya Allah, saya akan menjelaskan kedudukan sebenarnya dari hadits tersebut, serta penjelasannya dari para ulama Ahli Hadits, sehingga dengan demikian akan hilang ke-musykil-an yang ada, baik dari segi sanadnya maupun maknanya.
JUMLAH HADITS TENTANG TERPECAHNYA UMMAT ISLAM
Apabila kita kumpulkan hadits-hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan dan satu golongan yang masuk Surga, lebih kurang ada lima belas hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh Imam Ahli Hadits dari 14 (empat belas) orang Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu: 
1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. 
2. Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu. 
3. ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. 
4. ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu. 
5. Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu. 
6. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. 
7. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma. 
8. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.
9. Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu. 
10 Watsilah bin Asqa’ radhiyallahu ‘anhu. 
11. ‘Amr bin ‘Auf al-Muzani radhiyallahu ‘anhu. 
12. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. 
13. Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. 
14. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Sebagian dari hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut:

 HADITS PERTAMA: 
 Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
 عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan. 
Keterangan: Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Abu Dawud, Kitab as-Sunnah, I-Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafazh hadits di atas adalah lafazh Abu Dawud.
2. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, 18-Bab Maa Jaa-a fiftiraaqi Haadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata: “Hadits ini hasan shahih.” (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi VII/397-398.)
3. Ibnu Majah, 36-Kitabul Fitan, 17-Bab Iftiraaqil Umam, no. 3991.
4. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad II/332, tanpa me-nyebutkan kata “Nashara.”
5. Al-Hakim, dalam kitabnya al-Mustadrak, Kitabul Iman I/6, dan ia berkata: “Hadits ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.”
6. Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawaariduzh Zhamaan, 31-Kitabul Fitan, 4-Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834.
7. Abu Ya’la al-Maushiliy, dalam kitabnya al-Musnad: Musnad Abu Hurairah, no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut).
8. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya as-Sunnah, 19-Bab Fii ma Akhbara bihin Nabiyyu -Shallallaahu ‘alaihi wa sallam- anna Ummatahu Sataftariqu, I/33, no. 66.
9. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraaqil Umam fii Diiniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah? I/374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san Mu’thi.
10. Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fii Diinihi, I/306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman ad-Damiiji.
Perawi Hadits:
a. Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy.
• Imam Abu Hatim berkata: “Ia baik haditsnya, ditulis haditsnya dan dia adalah seorang Syaikh (guru).”
• Imam an-Nasa-i berkata: “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.”
• Imam adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang Syaikh yang terkenal dan hasan haditsnya.”
• Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Ia se-orang perawi yang benar, hanya padanya ada beberapa kesalahan.”
(Lihat al-Jarhu wat Ta’dilu VIII/30-31, Mizaanul I’tidal III/ 673 no. 8015, Tahdzibut Tahdzib IX/333-334, Taqribut Tahdzib II/119 no. 6208.)
b. Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf: Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah, Abu Zur’ah ber-kata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.”
(Lihat Tahdzibut Tahdzib XII/115, Taqribut Tahdzib II/409 no. 8177.)

Derajat Hadits
Hadits di atas derajatnya hasan, karena terdapat Muhammad bin ‘Amr, akan tetapi hadits ini menjadi shahih karena banyak syawahidnya.

Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”

Imam al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Muslim dan keduanya (yakni al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan al-Hafizh adz-Dzahabi pun menyetujuinya. (Lihat al-Mustadrak Imam al-Hakim: Kitaabul ‘Ilmi I/128.)

Ibnu Hibban dan Imam asy-Syathibi telah menshahihkan hadits di atas dalam kitab al-I’tisham (II/189).

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany juga telah menshahihkan hadits di atas dalam kitab Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah no. 203 dan kitab Shahih at-Tirmidzi no. 2128.

HADITS KEDUA:
Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan :

عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَبْدِ اللهِ بْنِ لُحَيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .

Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”

Keterangan:
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Abu Dawud, Kitabus Sunnah Bab Syarhus Sunnah no. 4597, dan lafazh hadits di atas adalah dari lafazh-nya.
2. Ad-Darimi, dalam kitab Sunan-nya (II/241) Bab fii Iftiraqi Hadzihil Ummah.
3. Imam Ahmad, dalam Musnad-nya (IV/102).
4. Al-Hakim, dalam kitab al-Mustadrak (I/128).
5. Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari’ah (I/314-315 no. 29).
6. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam Kitabus Sunnah, (I/7) no. 1-2.
7. Ibnu Baththah, dalam kitab al-Ibaanah ‘an Syari’atil Firqah an-Najiyah (I/371) no. 268, tahqiq Ridha Na’san Mu’thi, cet.II Darur Rayah 1415 H.
8. Al-Lalikaa-iy, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunah wal Jama’ah (I/113-114) no. 150, tahqiq Dr. Ahmad bin Sa’id bin Hamdan al-Ghaamidi, cet. Daar Thay-yibah th. 1418 H.
9. Al-Ashbahani, dalam kitab al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah pasal Fii Dzikril Ahwa’ al-Madzmumah al-Qismul Awwal I/107 no. 16.

Semua Ahli Hadits di atas telah meriwayatkan dari jalan:
Shafwan bin ‘Amr, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Azhar bin ‘Abdillah al-Hauzani dari Abu ‘Amr ‘Abdullah bin Luhai dari Mu’awiyah.”

Perawi Hadits
a. Shafwan bin ‘Amr bin Haram as-Saksaki, ia telah di-katakan tsiqah oleh Imam al-‘Ijliy, Abu Hatim, an-Nasa-i, Ibnu Sa’ad, Ibnul Mubarak dan lain-lain.
b. Azhar bin ‘Abdillah al-Harazi, ia telah dikatakan tsiqah oleh al-‘Ijliy dan Ibnu Hibban. Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang Tabi’in dan haditsnya hasan.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia shaduq (orang yang benar) dan ia dibicarakan tentang Nashb.” (Lihat Mizaanul I’tidal I/173, Taqribut Tahdzib I/75 no. 308, ats-Tsiqat hal. 59 karya Imam al-‘Ijly dan kitab ats-Tsiqat IV/38 karya Ibnu Hibban.)
c. Abu Amir al-Hauzani ialah Abu ‘Amir ‘Abdullah bin Luhai.
• Imam Abu Zur’ah dan ad-Daruquthni berkata: “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai).”
• Imam al-‘Ijliy dan Ibnu Hibban berkata: “Dia orang yang tsiqah.”
• Al-Hafizh adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Ia adalah seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat al-Jarhu wat Ta’dilu V/145, Tahdzibut Tahdzib V/327, Taqribut Tahdzib I/444 dan kitab al-Kasyif II/109.)

Derajat Hadits
Derajat hadits di atas adalah hasan, karena ada seorang perawi yang bernama Azhar bin ‘Abdillah, akan tetapi hadits ini naik menjadi shahih dengan syawahidnya.

Al-Hakim berkata: “Sanad-sanad hadits (yang banyak) ini, harus dijadikan hujjah untuk menshahihkan hadits ini. dan al-Hafizh adz-Dzahabi pun menyetujuinya.” (Lihat al-Mustadrak I/128.)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Hadits ini shahih masyhur.”
(Lihat kitab Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah I/405 karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany, cet. Maktabah al-Ma’arif.)

HADITS KETIGA:
Hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu 'anhu.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِيْ الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.

Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’

Keterangan
Hadits ini telah diriwayatkan oleh:
1. Ibnu Majah, dalam kitab Sunan-2. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitab as-Sunnah I/32 no. 63.nya Kitabul Fitan bab Iftiraaqil Umam no. 3992.

3. Al-Lalikaa-i, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunah wal Jama’ah I/113 no. 149.

Semuanya telah meriwayatkan dari jalan ‘Amr, telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Yusuf, telah menceritakan kepadaku Shafwan bin ‘Amr dari Rasyid bin Sa’ad dari ‘Auf bin Malik.

Perawi Hadits:
a. ‘Amr bin ‘Utsman bin Sa’ad bin Katsir bin Dinar al-Himshi.
An-Nasa-i dan Ibnu Hibban berkata: “Ia merupakan seorang perawi yang tsiqah.”
b. ‘Abbad bin Yusuf al-Kindi al-Himsi.
Ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban. Ibnu ‘Adiy berkata: “Ia meriwayatkan dari Shafwan dan lainnya hadits-hadits yang ia menyendiri dalam meriwayatkannya.”
Ibnu Hajar berkata: “Ia maqbul (yakni bisa diterima haditsnya bila ada mutabi’nya).”
(Lihat Mizaanul I’tidal II/380, Tahdzibut Tahdzib V/96-97, Taqribut Tahdzib I/470 no. 3165.)
c. Shafwan bin ‘Amr: “Tsiqah.” (Taqribut Tahdzib I/439 no. 2949.)
d. Raasyid bin Sa’ad: “Tsiqah.” (Tahdzibut Tahdzib III/195, Taqribut Tahdzib I/289 no. 1859.)

Derajat Hadits
Derajat hadits ini hasan, karena ada ‘Abbad bin Yusuf, tetapi hadits ini menjadi shahih dengan beberapa syawahidnya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani mengatakan hadits ini shahih dalam Shahih Ibnu Majah II/364 no. 3226 cetakan Maktabut Tarbiyatul ‘Arabiy li Duwalil Khalij cet. III thn. 1408 H, dan Silisilah al-Ahaadits ash-Shahihah no. 1492.

HADITS KEEMPAT:

Hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73 golongan diriwayatkan juga oleh Anas bin Malik dengan mempunyai 8 (delapan) jalan (sanad) di antaranya dari jalan Qatadah diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3993:

Lafazh-nya adalah sebagai berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اِفْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً؛ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang semuanya berada di Neraka, kecuali satu golongan, yakni “al-Jama’ah.”

Imam al-Bushiriy berkata, “Sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah.[1]

Hadits ini dishahih-kan oleh Imam al-Albany dalam shahih Ibnu Majah no. 3227.
(Lihat tujuh sanad lainnya yang terdapat dalam Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah I/360-361)

HADITS KELIMA:
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dalam Kitabul Iman, bab Maa Jaa-a Fiftiraaqi Haadzihil Ummah no. 2641 dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash dan Imam al-Laalika-i juga meriwayatkan dalam kitabnya Syarah Ushuli I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/111-112 no. 147) dari Shahabat dan dari jalan yang sama, dengan ada tambahan pertanyaan, yaitu: “Siapakah golongan yang selamat itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

مَاأَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ

“Ialah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para Shahabatku.”

Lafazh-nya secara lengkap adalah sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِيْ مَا أَتَى عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِيْ أُمَّتِيْ مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh akan terjadi pada ummatku, apa yang telah terjadi pada ummat bani Israil sedikit demi sedikit, sehingga jika ada di antara mereka (Bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, maka niscaya akan ada pada ummatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya bani Israil berpecah menjadi tujuh puluh dua millah, semuanya di Neraka kecuali satu millah saja dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga millah, yang semuanya di Neraka kecuali satu millah.’ (para Shahabat) bertanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.’”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2641, dan ia berkata: “Ini merupakan hadits penjelas yang gharib, kami tidak mengetahuinya seperti ini, kecuali dari jalan ini.”)

Perawi Hadits
Dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang lemah, yaitu ‘Abdur Rahman bin Ziyad bin An’um al-Ifriqiy. Ia dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in, Imam Ahmad, an-Nasa-i dan selain mereka. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: “Ia lemah hafalannya.”
(Tahdzibut Tahdzib VI/157-160, Taqribut Tahdzib I/569 no. 3876.)

Derajat Hadits
Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan, karena banyak syawahid-nya. Bukan beliau menguatkan perawi di atas, karena dalam bab Adzan beliau melemahkan perawi ini.
(Lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah no. 1348 dan kitab Shahih Tirmidzi no. 2129.)

KESIMPULAN
Kedudukan hadits-hadits di atas setelah diadakan penelitian oleh para Ahli Hadits, maka mereka berkesimpulan bahwa hadits-hadits tentang terpecahnya ummat ini menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk Neraka dan satu golongan masuk Surga adalah hadits yang shahih, yang memang sah datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak boleh seorang pun meragukan tentang keshahihan hadits-hadits tersebut, kecuali kalau ia dapat membuktikan berdasarkan ilmu hadits tentang kelemahannya.

Hadits-hadits tentang terpecahnya ummat Islam menjadi tujuh puluh tiga golongan adalah hadits yang shahih sanad dan matannya. Dan yang menyatakan hadits ini shahih adalah pakar-pakar hadits yang memang sudah ahli di bidangnya. Kemudian menurut kenyataan yang ada bahwa ummat Islam ini berpecah belah, berfirqah-firqah (bergolongan-golongan), dan setiap golongan bang-ga dengan golongannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang ummat Islam berpecah belah seperti kaum musyrikin:

“Artinya : Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama me-reka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rum: 31-32]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jalan keluar, jalan selamat dunia dan akhirat. Yaitu berpegang kepada Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

ALASAN MEREKA YANG MELEMAHKAN HADITS INI SERTA BANTAHANNYA
Ada sebagian orang melemahkan hadits-hadits tersebut karena melihat jumlah yang berbeda-beda dalam penyebutan jumlah bilangan firqah (kelompok) yang binasa tersebut, yakni di satu hadits disebutkan sebanyak 70 (tujuh puluh) firqah, di hadits yang lainnya disebutkan sebanyak 71 (tujuh puluh satu) firqah, di hadits yang lainnya lagi disebutkan sebanyak 72 (tujuh puluh dua) firqah, dan hanya satu firqah yang masuk Surga.

Oleh karena itu saya akan terangkan tahqiqnya, berapa jumlah firqah yang binasa itu?

Pertama, di dalam hadits ‘Auf bin Malik dari jalan Nu’aim bin Hammad yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam kitab Musnad-nya (I/98) no. 172, dan Hakim (IV/ 430) disebut tujuh puluh (70) firqah lebih, dengan tidak menentukan jumlahnya yang pasti.

Akan tetapi, sanad hadits ini dha’if (lemah), karena di dalam sanadnya ada seorang perawi yang bernama Nu’aim bin Hammad al-Khuzaa’i.

Ibnu Hajar berkata, “Ia banyak salahnya.”

An-Nasa-i berkata, “Ia orang yang lemah.”

(Lihat Mizaanul I’tidal IV/267-270, Taqribut Tahdzib II/250 no. 7192 dan Silsilatul Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhuu’ah I/148, 402 oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.)

Kedua, di hadits Sa’ad bin Abi Waqqash dari jalan Musa bin ‘Ubaidah ar-Rabazi yang diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam kitab asy-Sya’riah, al-Bazzar dalam kitab Musnad-nya sebagaimana yang telah disebutkan oleh al-Hafizh al-Haitsami dalam kitab Kasyful Atsaar ‘an Zawaa-idil Bazzar no. 284. Dan Ibnu Baththah dalam kitab Ibanatil Kubra nomor 263, 267. Disebutkan dengan bilangan tujuh puluh satu (71) firqah, sebagaimana Bani Israil.

Akan tetapi sanad hadits ini juga dha’if, karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Musa bin ‘Ubaidah, ia adalah seorang perawi yang dha’if.
(Lihat Taqribut Tahdzib II/226 no. 7015.)

Ketiga, di hadits ‘Amr bin ‘Auf dari jalan Katsir bin ‘Abdillah, dan dari Anas dari jalan Walid bin Muslim yang diriwayatkan oleh Hakim (I/129) dan Imam Ahmad di dalam Musnad-nya, disebutkan bilangan tujuh puluh dua (72) firqah.

Akan tetapi sanad hadits ini pun dha’ifun jiddan (sangat lemah), karena di dalam sanadnya ada dua orang perawi di atas.
(Taqribut Tahdzib II/39 no. 5643, Mizaanul I’tidal IV/347-348 dan Taqribut Tahdzib II/289 no. 7483.)

Keempat, dalam hadits Abu Hurairah, Mu’awiyah, ’Auf bin Malik, ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Ali bin Abi Thalib dan sebagian dari jalan Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh para imam Ahli Hadits disebut sebanyak tujuh puluh tiga (73) firqah, yaitu yang tujuh puluh dua (72) firqah masuk Neraka dan satu (1) firqah masuk Surga.

Dan derajat hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

TARJIH
Setelah kita melewati pembahasan di atas, maka dapatlah kita simpulkan bahwa yang lebih kuat adalah yang menyebutkan dengan 73 (tujuh puluh tiga) golongan.

Kesimpulan tersebut disebabkan karena hadits-hadits yang menerangkan tentang terpecahnya ummat menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan adalah lebih banyak sanadnya dan lebih kuat dibanding hadits-hadits yang menyebut 70 (tujuh puluh), 71 (tujuh puluh satu), atau 72 (tujuh puluh dua).

MAKNA HADITS
Sebagian orang menolak hadits-hadits yang shahih karena mereka lebih mendahulukan akal daripada wahyu, padahal yang benar adalah wahyu yang berupa nash al-Qur’an dan Sunnah yang sah lebih tinggi dan jauh lebih utama dibanding dengan akal manusia. Wahyu adalah ma’shum sedangkan akal manusia tidak ma’shum. Wahyu bersifat tetap dan terpelihara sedangkan akal manusia berubah-ubah. Dan manusia mempunyai sifat-sifat kekurangan, di antaranya:

Manusia ini adalah lemah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Artinya : Dan diciptakan dalam keadaan lemah.” [An-Nisaa’: 28]

Dan manusia itu juga jahil (bodoh), zhalim dan sedikit ilmunya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesung-guhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” [Al-Ahzaab: 72]

Serta seringkali berkeluh kesah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Artinya ; Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” [Al-Ma’aarij : 19]

Sedangkan wahyu tidak ada kebathilan di dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji.” [Al-Fushshilat : 42]

Adapun masalah makna hadits yang masih musykil (sulit difahami), maka janganlah dengan alasan tersebut kita terburu-buru untuk menolak hadits-hadits yang sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena betapa banyaknya hadits-hadits sah yang belum dapat kita fahami makna dan maksudnya.

Permasalahan yang harus diperhatikan adalah bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui daripada kita. Al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih tidak akan mungkin bertentangan dengan akal manusia selama-lamanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa ummatnya akan mengalami perpecahan dan perselisihan dan akan menjadi 73 (tujuh puluh tiga) firqah, semuanya ini telah terbukti.

Dan yang terpenting bagi kita sekarang ini ialah berusaha mengetahui tentang kelompok-kelompok yang binasa dan golongan yang selamat serta ciri-ciri mereka berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah yang sah dan penjelasan para Shahabat dan para ulama Salaf, agar kita termasuk ke dalam “Golongan yang selamat” dan menjauhkan diri dari kelompok-kelompok sesat yang kian hari kian berkembang.

Golongan yang selamat hanya satu, dan jalan selamat menuju kepada Allah hanya satu, Allah Subahanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada-mu agar kamu bertaqwa.” [Al-An’am: 153]

Jalan yang selamat adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sha-habatnya.

Bila ummat Islam ingin selamat dunia dan akhirat, maka mereka wajib mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

Mudah-mudahan Allah membimbing kita ke jalan selamat dan memberikan hidayah taufiq untuk mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

Wallahu a’lam bish shawab.

MARAJI’
1. Al-Qur-anul karim serta terjemahannya, DEPAG.
2. Shahih al-Bukhari dan Syarah-nya cet. Daarul Fikr.
3. Shahih Muslim cet. Darul Fikr (tanpa nomor) dan tarqim: Muhammad Fuad Abdul Baqi dan Syarah-nya (Syarah Imam an-Nawawy).
4. Sunan Abi Dawud.
5. Jaami’ at-Tirmidzi.
6. Sunan Ibni Majah.
7. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, cet. Daarul Fikr, th. 1398 H.
8. Sunan ad-Darimi, cet. Daarul Fikr, th. 1389 H.
9. Al-Mustadrak, oleh Imam al-Hakim, cet. Daarul Fikr, th. 1398 H.
10. Mawaariduzh Zham-aan fii Zawaa-id Ibni Hibban, oleh al-Hafizh al-Haitsamy, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah.
11. Musnad Abu Ya’la al-Maushiliy, oleh Abu Ya’la al-Maushiliy, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah, th. 1418 H.
12. Kitaabus Sunnah libni Abi ‘Ashim, oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Al-Maktab al-Islamy, th. 1413 H.
13. Al-Ibanah ‘an Syari’atil Firqatin Najiyah (Ibaanatul Kubra), oleh Ibnu Baththah al-Ukbary, tahqiq: Ridha bin Nas’an Mu’thi, cet. Daarur Raayah, th. 1415 H.
14. As-Sunnah, oleh Imam Ibnu Abi ‘Ashim.
15. Kitaabusy Syari’ah, oleh Imam al-Ajurry, tahqiq: Dr. ‘Ab-dullah bin ‘Umar bin Sulaiman ad-Damiji, th. 1418 H.
16. Al-Jarhu wat-Ta’dil, oleh Ibnu Abi Hatim ar-Raazy, cet. Daarul Fikr.
17. Tahdziibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqa-lani, cet. Daarul Fikr.
18. Taqriibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqa-lani, cet. Daarul Fikr.
19. Mizaanul I’tidaal, oleh Imam adz-Dzahabi.
20. Shahiih at-Tirmidzi bi Ikhtishaaris Sanad, oleh Imam al-Albani, cet. Maktabah at-Tarbiyah al-‘Arabi lid-Duwal al-Khalij, th. 1408 H.
21. Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Makatabah al-Ma’arif.
22. Al-I’tisham, oleh Imam asy-Syathibi, tahqiq: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly, cet. II-Daar Ibni ‘Affan, th. 1414 H.
23. Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunah wal Jama’ah, oleh Imam al-Lalikaa-iy, tahqiq: Dr. Ahmad bin Sa’id bin Hamdan al-Ghamidi, cet. Daar Thayyibah, th. 1418 H.
24. Al-Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, oleh al-Ashbahani, tah-qiq: Syaikh Muhammad bin Rabi’ bin Hadi ‘Amir al-Madkhali, cet. Daarur Raayah, th. 1411 H.
25. Ats-Tsiqaat, oleh Imam al-’Ijly.
26. Ats-Tsiqat, oleh Imam Ibnu Hibban.
27. Al-Kasyif, oleh Imam adz-Dzahaby.
28. Silsilatul Ahaadits adh-Dhai’fah wal Maudhuu’ah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
29. Shahih Ibnu Majah, oleh Syaikh Muhammad Nashirud-din al-Albany, cetakan Maktabut Tarbiyatul ‘Arabiy lid-Duwalil Khalij, cet. III, thn. 1408 H.
30. Mishbahuz Zujajah, oleh al-Hafizh al-Busairy.
31. Kasyful Atsaar ‘an Zawaa-idil Bazzar, oleh al-Hafizh al-Haitsami.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
_______
Footnote
1] Lihat kitab Mishbahuz Zujajah (IV/180). Secara lengkap perkataannya adalah sebagai berikut: Ini merupakan sanad (hadits) yang shahih, para perawinya tsiqah, dan telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad juga dalam Musnad-nya dari hadits Anas pula, begitu juga diriwayatkan oleh Abu Ya'la al-Maushiliy.