My Beloved Wife

Thanks God

My Activity

Thanks God

She and I

Togetherness

Sesuatu Yang Baru

Banyak Hal Baru yang kudapatkan bersamanya

Sidang Thesis Pasca Sarjana Universitas Hasyim Asy'ari

The other side

Tak ada batas ruang dan waktu untuk mengerti arti kehidupan

ThanksGod

My Wife

The other side

Keluarga Kecil Semoga sampai Akhir Hayat

ThanksGod

With My Wife

:-) Hidup sederhana membentuk Kebahagiaan

Bagi sebagian orang jalanan adalah sekolah untuk menjadi Dewasa

:-) The other side

13 Januari 2015

Biografi presiden Soeharto


Soeharto dikenal sebaga satu-satunya Presiden di Indonesia yang memiliki masa jabatan terlama yaitu sekitar 32 Tahun. Dikenal dengan sebutan "Bapak Pembangunan", Soeharto di bawah pemerintahannya sukses mengantarkan Indonesia menjadi negara Swasembada dimana sektor dibidang pertanian amat berkembang dengan pesatnya melalui Program Rapelitanya. Tulisan kali ini akan mengulas tentang profil kehidupan atau biografi presiden Soeharto. Mantan Presiden Indonesia kedua ini dilahirkan di Kemusuk, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921 dari rahim seorang ibu yang bernama Sukirah dan ayah beliau yang merupakan seorang pembantu lurah dalam bidang pengairan sawah dan juga sekaligus seorang petani yang bernama Kertosudiro. Ketika berumur delapan tahun Soeharto mulai bersekolah tetapi ia sering berpindah-pindah sekolah. Awalnya ia sekolah di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean kemudian ia pindah ke SD Pedes dikarenakan keluarganya pindah ke Kemusuk, Kidul. Setelah itu kemudian ayahnya Kertosudiro memindahkan Soeharto ke Wuryantoro. Beliau kemudian dititipkn dan tinggal bersama Prawirohardjo seorang mantri Tani yang menikah dengan adik perempuan Soeharto.
Ditahun 1941 tepatnya di Sekolah Bintara, Gombong di Jawa Tengah, Soeharto terpilih sebagai Prajurit Telatan, sejak kecil ia memang bercita-cita menjadi seorang tentara atau militer. kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945 setelah Indonesia merdeka, Soeharto kemudian resmi menjadi anggota TNI. Setelah itu kemudian Soeharto menikahi Siti Hartinah atau Ibu Tien yang merupakan anak seorang Mangkunegaran pada tanggal 27 Desember 1947 dimana usia Soeharto etika itu 26 tahun dan Siti Hartinah atau Ibu Tien berusia 24 tahun. Dari pernikahannya kemudian ia dikarunia enam orang anak yaitu Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.
Jalan panjang dan berliku dilalui Soeharto ketika merintis karier militer dan juga karier politiknya. Dalam bidang militer Soeharto memulainya dengan pangkat sersan tentara KNIL, dari situ ia kemudian menjadi Komandan PETA pada zaman penjajahan Jepang, setelah itu ia menjabat sebagai komandan resimen berpangkat mayor kemudian menjabat komandan batalyon dengan pangkat Letnan Kolonel. 
Sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peristiwa yang dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949, itu merupakan peristiwa yang menjadi catatan penting dalam sejarah bangsa ketika resmi merdeka dari penjajahan bangsa Belanda selama tiga setengah abad. Banyak versi mengatakan bahwa Peranan Soeharto ketika merebut Yogyakarta yang waktu itu sebagai Ibukota Republik Indonesia dalam Serangan Umum 1 Maret tidak bisa dipisahkan. Tujuan dari serangan umum 1 Maret adalah menunjukan pada dunia internasional tentang eksistensi dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) ketika itu dalam membela Bangsa Indonesia. Dalam kepemimpinannya, Soeharto berhasil merebut kota Yogyakarta dari cengkraman penjajah Belanda pada waktu itu. Pada waktu itu beliau juga menjadi pengawal dari Panglima Besar Jendral Sudirman. Dalam operasi pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda ketika itu beliau yang menjadi panglima Mandala yang dipusatkan di Makassar.
Ketika peristiwa G-30-S/PKI meletus pada tanggal 1 Oktober 1965, Soeharto kemudian bergerak cepat mengambil alih kendali pimpinan Angkatan Darat ketika itu dan kemudian mengeluarkan perintah yang cepat untuk mengatur dan mengendalikan keadaan negara yang kacau akibat dari kudeta oelh PKI. Setelah peristiwa G-30-S/PKI, Soeharto kemudian menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat menggantikan Jendral Ahmad Yani yang gugur di tangan PKI. Selain sebagai Panglima Angkatan Darat, Soeharto juga menjabat sebagai Pangkopkamtib yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno pada waktu itu. Puncak karier Soeharto ketika ia menerima Surat Perintah Sebelas Maret atau yang dikenal sebagai "Supersemar" oelh Presiden Soekarno pada bulan maret 1966 dimana tugasnya adalah mengendalikan keamanan dan juga ketertiban negara yang kacau setelah kudeta yang dilakukan oleh PKI dan mengamalkan ajaran Besar Revolusi Bung Karno.
Setelah peristiwa G-30-S/PKI keadaan politik dan juga pemerintahan Indonesia makin memburuk, kemudian pada bulan maret 1967 dalam sidang istimewa MPRS yang kemudian menunjuk Soeharto sebagai Presiden Kedua Republik Indonesia yang menggantikan Presiden Soekarno, dimana pengukuhan dilakukan pada Maret 1968. Masa pemerintahan presiden Soeharto dikenal dengan masaOrde Baru dimana kebijakan politik baik dalam dan luar negeri diubah oleh Presiden Soeharto. Salah satunya adalah kembalinya Indonesia sebagai anggota PBB (Perserikatan Bangsa Bansa) pada tanggal 28 September 1966 setelah sebelumnya pada masa Soekarno, Indonesia keluar sebagai anggota PBB.
Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Pengucilan politik dilakukan terhadap orang-orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat "dibuang" ke Pulau Buru bahkan sebagian yang terkait atau masih pendukung dari Partai PKI dihabisi dengan cara dieksekusi massal di hutan oleh militer pada waktu itu. Program pemerintah Soeharto diarahkan pada upaya penyelamatan ekonomi nasional, terutama stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi. Yang dimaksud dengan stabilisasi ekonomi berarti mengendalikan inflasi agar harga barang-barang tidak melonjak terus. Dan rehabilitasi ekonomi adalah perbaikan secara fisik sarana dan prasarana ekonomi. Hakikat dari kebijakan ini adalah pembinaan sistem ekonomi berencana yang menjamin berlangsungnya demokrasi ekonomi ke arah terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Program stabilsasi ini dilakukan dengan cara membendung laju inflasi. Dan pemerintahan Soeharto berhasil membendung laju inflasi pada akhir tahun 1967-1968, tetapi harga bahan kebutuhan pokok naik melonjak. Sesudah dibentuk Kabinet Pembangunan pada bulan Juli 1968, pemerintah mengalihkan kebijakan ekonominya pada pengendalian yang ketat terhadap gerak harga barang khususnya sandang, pangan, dan kurs valuta asing. Sejak saat itu ekonomi nasional relatif stabil.
Setelah berhasil memulihkan kondisi politik bangsa Indonesia, maka langkah selanjutnya yang ditempuh pemerintah Orde Baru adalah melaksanakan pembangunan nasional. Pembangunan nasional yang diupayakan pemerintah waktu itu direalisasikan melalui Pembangunan Jangka pendek dan Pembangunan Jangka Panjang. Pambangunan Jangka Pendek dirancang melalui Pembangunan Lima Tahun (Pelita). Setiap Pelita memiliki misi pembangunan dalam rangka mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sedangkan Pembangunan Jangka Panjang mencakup periode 25-30 tahun. Pembangunan nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam upaya mewujudkan tujuan nasional yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945.
Pada masa orde baru, pemerintah menjalankan kebijakan yang tidak mengalami perubahan terlalu signifikan selama 32 tahun. Dikarenakan pada masa itu pemerintah sukses menghadirkan suatu stablilitas politik sehingga mendukung terjadinya stabilitas ekonomi. Karena hal itulah maka pemerintah jarang sekali melakukan perubahan-perubahan kebijakan terutama dalam hal anggaran negara. Pada masa pemerintahan orde baru, kebijakan ekonominya berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ekonomi tersebut didukung oleh kestabilan politik yang dijalankan oleh pemerintah. Hal tersebut dituangkan ke dalam jargon kebijakan ekonomi yang disebut dengan Trilogi Pembangungan, yaitu stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan pemerataan pembangunan. Dari keberhasilannya inilah sehingga Presiden Soeharto kemudian disebut sebagai "Bapak Pembangunan".
Titik kejatuhan Soeharto, ketika pada tahun 1998 dimana masa tersebut merupakan masa kelam bagi Presiden Soeharto dan masuknya masa reformasi bagi Indonesia, Dengan besarnya demonstrasi yang dilakukan oleh Mahasiswa serta rakyat yang tidak puas akan kepemimpinan Soeharto serta makin tidak terkendalinya ekonomi serta stabilitas politik Indonesia maka pada tanggal 21 Mei 1998 pukul 09.05 WIB Pak Harto membacakan pidato "pernyataan berhenti sebagai presiden RI” setelah runtuhnya dukungan untuk dirinya. Soeharto telah menjadi presiden Indonesia selama 32 tahun. Sebelum dia mundur, Indonesia mengalami krisis politik dan ekonomi dalam 6 sampai 12 bulan sebelumnya. BJ Habibie melanjutkan setidaknya setahun dari sisa masa kepresidenannya sebelum kemudian digantikan oleh Abdurrahman Wahid pada tahun 1999. Kejatuhan Suharto juga menandai akhir masa Orde Baru, suatu rezim yang berkuasa sejak tahun 1968 atau selama 32 Tahun.
Presiden RI Kedua HM Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Jenderal Besar yang oleh MPR dianugerahi penghormatan sebagai Bapak Pembangunan Nasional, itu meninggal dalam usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari (sejak 4 sampai 27 Januari 2008) di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Berita wafatnya Pak Harto pertama kali diinformasikan Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta, Minggu (27/1). Kemudian secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi organ.
Kemudian sekira pukul 14.40, jenazah mantan Presiden Soeharto diberangkatkan dari RSPP menuju kediaman di Jalan Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta. Ambulan yang mengusung jenazah Pak Harto diiringi sejumlah kendaraan keluarga dan kerabat serta pengawal. Sejumlah wartawan merangsek mendekat ketika iring-iringan kendaraan itu bergerak menuju Jalan Cendana, mengakibatkan seorang wartawati televisi tertabrak.
Di sepanjang jalan Tanjung dan Jalan Cendana ribuan masyarakat menyambut kedatangan iringan kendaraan yang membawa jenazah Pak Harto. Isak tangis warga pecah begitu rangkaian kendaraan yang membawa jenazah mantan Presiden Soeharto memasuki Jalan Cendana, sekira pukul 14.55, Minggu (27/1).
Sementara itu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri yang tengah mengikuti rapat kabinet terbatas tentang ketahanan pangan, menyempatkan mengadakan jumpa pers selama 3 menit dan 28 detik di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (27/1). Presiden menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya mantan Presiden RI Kedua Haji Muhammad Soeharto.
Jika direnungkah banyak jasa-jasa besar yang dilakukan Soeharto untuk pembangunan dan perkembangan Indonesia dimata dunia Internasional, sebagan rakyat yang pernah hidup di zaman Presiden Soeharto menganggap zaman Soeharto merupakan zaman keemasan ndonesia, karena harga-harga kebutuhan pokok yang murah dimasa itu yang berbanding terbalik dengan zaman sekarang ini, pertumbuhan ekonomi yang stabil, Presiden Soeharto berhasil merubah wajah Indonesia yang awalnya menjadi negara pengimpor beras menjadi negara swasembada beras dan turut mensejahterahkan petani. Sektor pembangunan dimasa Presiden Soeharto dianggap paling maju melalui Repelita I sampai Repelita VI.
Keamanan dan kestabilan negara yang terjamin serta menciptakan kesadaran nasionalisme yang tinggi pada masanya. Di bidang kesehatan, upaya meningkatkan kualitas bayi dan masa depan generasi ini dilakukan melalui program kesehatan di posyandu dan KB, sebuah upaya yang mengintegrasikan antara program pemerintah dengan kemandirian masyarakat. Di jamannya, program ini memang sangat populer dan berhasil. Banyak ibu berhasil dan peduli atas kebutuhan balita mereka di saat paling penting dalam periode pertumbuhannya. itulah sekelumit jasa-jasa atau prestasi dari presiden Soeharto meskipun disamping jasa-jasanya tersebut banyak juga kegagalan di pemerintahannya seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme di masanya, pembangunan yang tidak merata antara pusat dan daerah sehingga memunculkan kecemburuan dari daerah seperti Papua.
Dari banyaknya jasa presiden Soeharto tersebut sehingga banyyak yang mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan nasional Indonesia. Terlepas dari sejumlah pihak yang masih mempermasalahkan sejumlah kasus hukum Soeharto, fakta di dalam sejarah Indonesia menunjukkan bahwa Soeharto memiliki jasa besar kepada Indonesia. “Perjuangan Soeharto untuk Indonesia yang tercatat dalam buku sejarah bangsa ini, antara lain, pada masa revolusi fisik antara 1945 hingga 1949, pascarevolusi fisik antara 1962 hingga 1967 dan masa kepemimpinannya sebagai presiden.
Sosok Soeharto masih menjadi kontroversi hingga saat ini. Rakyat kecil mengingatnya sebagai pahlawan yang menyediakan bensin murah dan beras yang bisa dijangkau. Mereka yang ketika itu tak bersentuhan dengan politik dan pergerakan, akan langsung mengangguk setuju jika ditanya zaman Soeharto lebih enak. Polemik soal gelar pahlawan bagi Soeharto pun masih penuh perdebatan. Sebagian setuju, sebagian menolak mentah-mentah. Sebagian menganggap Soeharto pahlawan pembangunan dan penyelamat Pancasila. Sebagian lagi menganggap Soeharto berlumuran darah atas berbagai aksi pembantaian selama peralihan Orde Lama ke Orde Baru dan seterusnya. Itulah artikel mengenai biografi presiden soeharto semoga bisa menjadi referensi dan juga sebagai bahan pelajaran bagi pembaca sekalian.

Biografi Soekarno


Artikel kali ini akan membahas Profil atau Biografi Presiden Soekarno. Mungkin sampai sekarang beliau adalah sosok yang paling banyak dikagumi orang di Indonesia. Presiden pertama Republik Indonesia yang lebih akrab di panggil Bung Karno ini berasal dari Blitar, dia merupakan pahlawan Proklamasi bersama dengan Mohammad Hatta. Presiden Soekarno sangat disegani oleh para pemimpin negara-negara di dunia pada waktu itu. Soekarno dilahirkan di Surabaya tepatnya pada tanggal 6 Juni 1901 dengan nama asli bernama Koesno Sosrodihardjo, karena sering sakit yang mungkin disebabkan karena namanya tidak sesuai maka ia kemudian berganti nama menjadi Soekarno. Ayah beliau bernama Raden Soekemi Sosrodihardjon dan ibu bernama Ida Ayu Nyoman Rai. Ketika hidup, Presiden Pertama Indonesia ini diketahui memiliki tiga orang istri dimana masing-masing istrinya memberinya keturunan. Istrinya yang pertama yang bernama fatmawati memberinya lima orang anak yakni Megawati, Sukmawati, Rachmawati, Guntur dan Guruh, kemudian dari istrinya yang lain yang bernama Hartini memberinya dua orang anak yaitu Taufan dan juga Bayu.
Istri yang lain dari Presiden Soekarno merupakan wanita keturunan Jepang yang bernama Naoko Nemoto dimana ia kemudian berganti nama menjadi Ratna Sari Dewi, dari pernikahannya dengan Naoko Nemoto atau Ratna Sari Dewi, Presiden Soekarno dikarunia seorang anak yang bernama Kartika. Mengenai kisah hidup Presiden Soekarno, semasa kecilnya ia tidak tinggal bersama dengan orang tuanya yang berada di Blitar. Sejak SD hingga ia kemudian lulus sekolah ia tinggal atau indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto di Surabaya, dimana Haji Oemar Said Tokroaminoto ini merupakan pendiri dari Serikat Islan (SI). Setelah lulus, Soekarno kemudian melanjutkan pendidikannya di Hoogere Burger School atau HBS. Disana ia mendapat banyak ilmu atau pengetahuan dan jiwa nasionalismenya akan bangsa Indonesia menjadi sangat besar. 
Pada tahun 1920 setelah lulus dari Hoogere Burger School atau HBS, Soekarno muda kemudian masuk ke Technische Hoogeschool (THS), sekolah inilah yang kemudian berubah nama menjadi ITB sampai sekarang ini. Soekarno belajar disana selama enam tahun dimana ia kemudian mendapatkan gelar Insinyur (Ir) pada tanggal 25 Mei. Setelah lulus, Soekarno kemudian mendirikan Partai Nasional Indonesia pada tanggal 4 Juli 1927 dan kemudian mulai mengamalkan ajaran Marhaenisme. Tujuan dari pembentukan partai Nasional Indonesia adalah agar bangsa Indonesia bisa merdeka dan terlepas dari Jajahan Belanda. 
Dari keberaniannya ini kemudian pemerintah kolonial Belanda menangkapnya dan kemudian memasukkannya ke penjara Suka Miskin. Dalam penjara ini kebutuhan hidupnya semua berasal dari istrinya. Inggit yang juga dibantu oleh kakak ipranya bernama Sukarmini sering membawakan makanan kepada Soekarno di penjara Suka Miskin, hal itulah yang kemudian membuat pengawasan di penjara Suka Miskin makin diperketat. 
Soekarno dikenal belanda sebagai seorang tahanan yang mampu menghasut orang lain agar berpikir untuk merdeka sehingga ia kemudian dianggap cukup berbahaya. Beliau kemudian diisolasi dengan tahanan elit tujuannya agar tidak bisa mendapatkan informasi yang berasal dari luar penjara. Tahanan elit ini sebagian besar merupakan warga Belanda yang mempunyai kasus seperti penggelapan, korupsi dan juga penyelewengan, inilah yang menjadi tujuan Belanda agar topik pembicaraan mengenai bagaimana caranya untuk memerdekakan Indonesia tidak sesuai karena rata-rata tahanan elit yang bersama Soekarno adalah orang Belanda. topik yang biasa ia dengar sama sekali tidak penting seperti soal makanan dalam penjara dan juga cuaca. Selama berbulan-bulan di Suka Miskin menngakibatkan Soekarno putus komunikasi dengan teman-teman seperjuangannya, namun itu bukanlah hal yang sulit baginya untuk mendapatkan informasi dari luar. 
Akhirnya Soekarno menemukan ide baru, dimana ia menggunakan telur sebagai media untuk berkomunikasi dengan istrinya. Jika teman Soekarno mengalami musibah atau mendapat kabar buruk maka telur yang dibawa oleh istrinya adalah telur asin, itupun beliau hanya dapat menduga-duga sebab ia tidak tahu secara pasti apa yang terjadi diluar sana. Untuk berbicara dengan Inggit, Soekarno diawasi secara ketat dan juga barang bawaan yang dibawa oleh inggit dari luar penjara selalu diperiksa secara teliti.
Kemudian Soekarno dan inggit akhirnya menemukan cara yang dianggapnya paling mudah dalam berkomunikasi agar tidak diketahui oleh Belanda yakni dengan media yang sama sebelumnya yaitu Telur dimana cara yang digunakan sedikit berbeda yaitu dengan menusuk jarum ke telur. Jika satu tusukan pada telur berarti kabar baik, jika tusukan sebanyak dua kali pada telur artinya seorang teman Soekarno tertangkap namun jika terdapat tiga tusukan berarti aktivis kemerdekaan yang ditangkap cukup besar.
Soekarno dibebaskan dari penjara Suka Miskin pada bulan desember 1931 dimana ia dipenjara pada tahun 1929. Selama berada dipenjara, orag tuanya tidak pernah sekalipun mengunjungi Soekarno alasannya adalah orang tua Soekarno tidak sanggup melihat Soekarno dipenjara, Ia kurus dan hitam selama berada di penjara karena itulah yang menurut ibu Wardoyo sehingga orang tua soekarno tidak mau menjenguk Soekarno. Agar orang tuanya tidak panik Soekarno sering beralasan bahwa ia sering bekerja dibawah teriknya sinar matahari sehingga kulit-kulitnya menghitam selain itu dalam penjara ia ingin memanaskan tulang-tulangnya karena dalam penjara, ruangannya sangat gelap, lembab dan juga dingin karena sinar matahari tidak ada. Kasusnya disidangkan oleh Belanda ketika sudah delapan bulan berlalu. Soekarno dalam pembelaanya membuat judul bernama "Indonesia Menggugat" dimana ia mengungkapkan bahwa bangsa Belanda sebagai bangsa yang serakah yang telah menindas dan merampas kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dari pembelaannya itu kemudian sehingga membuat Belanda semakin marah sehingga PNI bentukan Soekarno dibubarkan pada bulan Juli 1930. Setelah keluar dai penjara, ia kemudian bergabung dengan Partindo karena ia sudah tidak memiliki partai lagi dimana ia kemudian didaulat sebagai pemimpin Partindo namun ia kembali ditangkap oleh Belanda dan kemudian diasingkan ke Flores dan empat tahun kemudian ia dibuang ke Bengkulu, setelah itu kemudian Soekarno bertemu dengan Mohammad Hatta yang akan menjadi teman seperjuangannya yang kemudian keduanya akan memproklamasikan Kemerdekaan bangsa Indonesia.

Pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Juga Moh Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Jepang dimana pada tanggal tersebut juga diperingati sebagai Hari kemerdekaan bangsa Indonesia dimana pancasila kemudian dibentuk oleh Soekarno sebagai dasar dari negara Indonesia. Proklamasi kemerdekaan inilah yang kemudian membawa Ir. Soekarno bersama dengan Moh Hatta diangkat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia dalam sejarah bangsa Indonesia.
Diluar sosoknya sebagai Bapak bangsa Indonesia, tidak banyak yang tahu jika Soekarno pernah menikah sebanyak sembilan kali, kharisma yang luar biasa dimiliki oleh Soekarno melalui penuturan orang-orang yang dekat dengannya, itulah mengapa wanita-wanita cantik dapat dengan mudah terpikat dengannya dan dijadikan isterinya. Beliau tertarik dengan wanita yang sederhana dan juga berpakaian sopan.

Istrinya yaitu Fatmawati pernah bertanya pada presiden Soekarno mengenai wanita yang berpenampilan seksi namun beliau menjawab bahwa wanita dengan penampilan yang sopan dan sederhana dan juga tampil apa adanya lebih menarik untuk disukai sebab kecantikan seorang wanita terlihat dari keaslian atau kesederhanaannya. Soekarno tak menyukai wanita yang berpenampilan seksi seperti memakai rok pendek yang ketat dan memakai lipstik seperti orang yang modern pada umumnya, percaya atau tidak artis Amerika Marylin Monroe sangat menyukai kharisma dari seorang Presiden Soekarno.
Wanita idaman Soekarno yaitu wanita yang setia, konservatif dan jugabisa menjaganya. Beliau sangat senang ketika wanita itu bisa melayaninya dan menjaganya, Pandangannya tentang wanita-wanita Amerika yang menyuruh suaminya mencuci piring membuatfatmawati menjadi terkesima dan juga terpesona akan kesederhanaan dari seorang Soekarno sehingga fatmawati rela menemaninya hingga akhir hayatnya.
Pada tahun 1960an pergolakan politik yang amat hebat terjadi di Indonesia, penyebab utamanya adalah adanya pemberontakan besar oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) yang dikenal dengan sebutan G30-S/PKI dimana dari peristiwa ini kemudian membuat pemerintahan Presiden Soekarno dan juga orde lama berakhir ditandai dengan adanya "Supersemar" atau Surat Perintah Sebelas Maret ditahun 1966 yang berisi himbauan dari Soekarno ke Soeharto agar bisa mengendalikan Keamanan dan juga ketertiban negara yang ketika itu sedang kacau dan menjadikan Soeharto sebagai Presiden yang baru bagi bangsa Indonesia.
Setelah jabatannya sebagai Presiden berakhir, ia kemudian banyak menghabiskan waktunya di istana Bogor, lama-kelamaan kesehatannya terus menerus menurun sehingga ia mendapat perawatan oleh tim dokter kepresidenan hingga tepatnya pada tanggal 21 Juni 1970 Soekarno atau Bung Karno menghembuskan nafas terakhirnya di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Kepergian sang Proklamator sekaligus Bapak Bangsa Indonesia ke pangkuan Yang Maha Kuasa menyisakan luka yang dalam bagi rakyat Indonesia pada waktu itu. Jenazah dari bung Karno kemudian dibawa di Wisma Yaso, Jakarta setelah itu jenazahnya kemudian dibawa ke Blitar, Jawa Timur untuk dikebumikan dekat dengan makam ibunya Ida Ayu Nyoman Rai.  Gelar "Pahlawan Proklamasi" diberikan oleh pemerintah karena jasa-jasanya kepada bangsa Indonesia. Kisah perjuangan Bung Karno kemudian diangkat ke dalam layar lebar yang berjudul "Soekarno : Indonesia Merdeka" yang digarap oleh sutradara terkenal Hanung Bramantio dimana Ario Bayu berperan sebagai Tokoh Soekarno, Inggit yang diperankan oleh Maudy Koesnaedi dan Fatmawati yang diperankan oleh Tika Bravani.

Isu bahwa kematian Soekarno  karena di bunuh secara perlahan

Banyak yang berpendapat dan yakin bahwa Ir. Soekarno dibunuh secara perlahan-lahan dimana presiden Soeharto secara ketat mengawasi dan mengatur pengobatan Ir Soekarno ketika ia sakit. Di Wisma Yaso di Jln gatot Subroto ia ditahan sehingga ketika sakit ia tidak bisa kemana-mana sehingga penahanan inilah yang kemudian membuat ia menderita lahir dan batin, keluarganya pun tidak diperbolehkan secara bebas untuk menjenguk Soekarno.

Ketika sakit, banyak resep obat yang tidak dapat ditukar dengan obat dimana resep itu diberikan oleh dr. Mahar Mardjono yang memimpin tim dokter ketika itu. Sehingga banyak tumpukan resep ketika itu di meja penahanan Ir. Soekarno. resep tersebut dibiarkan saja dan tidak pernah ditukarkan dengan obat. Banyak yang mengatakan penguasa yang baru memang sengaja membiarkan soekarno sakit dan makin parah sehingga mempercepat kematiannya. Alat-alat kesehatan yang berasal dari Cina untuk menyembuhkan Soekarno ditolak oleh Presiden Soeharto ketika itu. Rachmawati Soekarnoputri menuturkan bahkan sekedar menebus obat sakit gigi pun harus seizin presiden Soeharto.
Saat anda berkunjung atau berwisata ke Bangkok, Thailand cobalah berkunjung ke Museum Madame Tussauds disana terdapat Patung lilin Soekarno. Patung yang terbuat dari lilin tersebut dibuat menyerupai sosok Presiden Soekarno. Patung ini dibuat sebagai salah satu bentuk penghormatan oleh mus Madame Tussauds kepada Presiden Soekarno sebagai salah satu Proklamator dan sebagai Bapak Bangsa Indonesia dan juga peranan Soekarno bagi dunia internasional selama menjabat sebagai Presiden Soekarno.

1.      Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak. [Pidato HUT Proklamasi, 1963]
2.      Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961)
3.      Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.
4.      Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
5.      Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.
6.      Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.
7.      ……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……
8.      Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.
9.    Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia
10.  Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya.
11. Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.

06 Januari 2015

Biografi Tan Malaka

Tan Malaka adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia, filsuf kiri, pemimpin Partai Komunis Indonesia, pendiri Partai Murba, dan Pahlawan Nasional Indonesia. Dia lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897. Tan Malaka menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia pada 28 Maret 1963 atas Keppres No. 53 Tahun 1963. 
Nama lengkap Tan malaka adalah Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka, Ibrahim adalah Nama aslinya, sedangkan Tan Malaka adalah nama semi-bangsawan yang ia dapatkan dari garis ibu. Tanggal kelahirannya tidak dapat dipastikan, dan tempat kelahirannya sekarang dikenal sebagai Nagari Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ayahnya bernama HM. Rasad, seorang karyawan pertanian, dan Rangkayo Sinah, putri orang yang disegani di desa. Di tempat kelahirannya, Tan Malaka mempelajari ilmu agama dan berlatih pencak silat.
Tan malaka belajar ilmu pendidikan di Kweekschool (sekolah guru negara) di Fort de Kock pada tahun 1908. Menurut gurunya GH Horensma, Malaka adalah murid yang pintar meskipun kadang-kadang tidak patuh. Di sekolah ini, ia menyukai pelajaran bahasa Belanda, sehingga Horensma menyarankan agar ia menjadi seorang guru di sekolah Belanda. Selain pintar, Ia juga adalah seorang pemain sepak bola yang hebat. Setelah lulus dari Kweekschool pada tahun 1913, Ketika ditawari gelar datuk dan seorang gadis untuk menjadi tunangannyan Ia hanya menerima gelar datuk. Dan gelar tersebut diterimanya dalam sebuah upacara tradisional pada tahun 1913.
Pendidikan di Belanda 
Pengangkatannya menjadi datuk tidak membuatnya berdiam diri, pada bulan Oktober 1913 ia meninggalkan desanya untuk belajar di Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru pemerintah), yang didanai oleh para engku dari desanya. Di Belanda, pada 1915, ia menderita pleuritis (Pleuritis merupakan peradangan dari lapisan sekeliling paru- paru (pleura) disebabkan penumpukan cairan dalam rongga pleura).
Pengetahuannya tentang revolusi mulai meningkat selama kuliah ditambah dengan membaca de Fransche Revolutie, yang diterimanya dari Horensma sebelum keberangkatannya ke Belanda. Setelah Revolusi Rusia pada Oktober 1917, ia semakin tertarik pada komunisme dan sosialisme, Sejumlah buku yang dibacanya yang berhubungan dengan hal tersebut adalah buku-buku karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin. Friedrich Nietzsche. Saat itulah ia mulai membenci budaya Belanda dan terkesan oleh masyarakat Jerman dan Amerika. Dia kemudian mendaftar ke militer Jerman namun ditolak karena Angkatan Darat Jerman tidak menerima orang asing. Saat itulah ia bertemu Henk Sneevliet, salah satu pendiri Indische Sociaal dari-Democratische Vereeniging (ISDV, pendahulu dari Partai Komunis Indonesia). Ia juga tertarik bergabung dengan Sociaal Democratische-Onderwijzers Vereeniging (Asosiasi Demokrat Sosial Guru). Tan malaka lulus dan menerima ijazahnya yang disebut hulpactie pada bulan November 1919.
Kembali ke Hindia Belanda
Mengajar
Selepas pendidikannya di Belanda, ia kembali ke desanya. Ia kemudian menerima tawaran Dr. C. W. Janssen untuk mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Utara. Ia tiba di sana pada Desember 1919; dan mulai mengajar anak-anak itu bahasa Melayu pada Januari 1920. Selain mengajar, Tan Malaka juga menulis beberapa propaganda subversif untuk para kuli, dikenal sebagai Deli Spoor. Selama masa ini, dia belajar dari kemerosotan dan keterbelakangan hidup kaum pribumi di Sumatera. Ia juga berhubungan dengan ISDV dan terkadang juga menulis untuk media massa. Salah satu karya awalnya adalah "Tanah Orang Miskin", yang menceritakan tentang perbedaan mencolok dalam hal kekayaan antara kaum kapitalis dan pekerja, yang dimuat di Het Vrije Woord edisi Maret 1920. Ia juga menulis mengenai penderitaan parakuli kebun teh di Sumatera Post. Tan Malaka menjadi calon anggota Volksraad dalam pemilihan tahun 1920, mewakili kaum kiri. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri pada 23 Februari 1921. Madilog dan Gerpolek
Madilog dan Gerpolek kerduanya acapkali dianggap merupakan karya penting dari Tan Malaka. Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.
Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.
Gerpolek Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia. Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya. Pahlawan Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu. Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai Murba, 7 November 1948 di Yogyakarta. Pada bulan Februari tahun 1949 Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949. 
Tan malaka dalam Cerita fiksi
Dengan julukan Patjar Merah Indonesia, Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman picisan yang terbit di Medan. Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional. Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul Spionnage-Dienst. Nama patjar merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang seorang pahlawan Revolusi Perancis. Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu Musso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono (Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat). Kisah-kisah fiksi ini turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di Sumatera. Tiga buku pertama ditulis oleh Matu Mona, sementara yang keempat dan kelima ditulis oleh Yusdja:
  • Spionnage-Dienst (1938)
  • Rol Patjar Merah Indonesia cs(1938)
  • Panggilan Tanah Air (1940)
  • Moetiara Berloempoer: Tiga Kali Patjar Merah Datang Membela (1940)
  • Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)

Tan malaka meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun, berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 Tan malaka dtetapkan menjadi pahlawan kemerdekaan Nasional. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Biografi K.H.Abdurrahman Wahid (GusDur)


Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia. Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. 
Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya. Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya. Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya. 
Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia. Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkimpoiannya dilaksanakan ketika ia berada di Mesir. 
Pengalaman Pendidikan Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Qur’an. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca al-Qur’an. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda. Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gu Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris. Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma’shum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersamadengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya. Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. 
Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo. Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. 
Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki. Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Perjalanan Karir Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak. Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri. Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula ia merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-’aqdi yang diketuai K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid..
* 1993 Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar.
* 10 Maret – 20 Mei 1998 Wakil Presiden Republik Indonesia
* 21 Mei 1998 – Oktober 1999 Presiden Republik Indonesia

27 Desember 2014

Tafsir Mujahid

Al-Qur’an adalah sebuah kitab petunjuk tentang kehidupan bagi manusia dari berbagai apeknya. Namun sampai saat ini kitab petunjuk itu masih belum bisa dimaksimalkan manfaatnya oleh manusia, umat Islam khususnya. Sejak awal turun, al-Qur’an sudah diiringi oleh penjelasannya, baik yang datang dari al-Qur’an itu sendiri ataupun yang diterangkan oleh Rasulullah SAW selaku orang yang diberi otoritas penuh oleh Sang pemilik al-Qur’an untuk tugas tersebut. 
Upaya untuk memahami al-Qur’an itu tidak berhenti hanya pada masa Rasulullah Secara kronologis, orang yang paling dipandang dan menjadi sorotan setelah Nabi dalam menjalankan tugas kenabiannya sebagai pemimpin umat adalah sahabat-sabat beliau. Seketika itu sahabat harus bertindak demi menjaga kelangsungan hidup umat Islam selanjutnya, salah satu usaha yang dilakukan mereka adalah dengan mencoba menjelaskan ulang sekaligus menambahnya karena pada masa itu dinamika masyarakat Islam juga bertambah kompleks, banyak kasus terjadi yang tidak pernah ada sebelumnya.
Koleksi tafsir al-Qur’an pun bertambah, yang hanya tafsir Nabi, pada masa ini terdapat Tafsir sahabat. Di antara banyak sahabat itu ada beberapa nama yang menonjol dalam urusan menafsirkan al-Qur’an yang juga menjadi icon mufasir dari kota yang mereka tempati. Para penafsir terkemuka itu adalah Abdullah bin Abbas di Makkah, Ubay bin ka’ab di Madinah dan Abdullah bin Mas’ud di Irak. Masing-masing dari sahabat itu dapat dikatakan sukses dalam menjalankan misinya terbukti dengan berhasil mendidik beberapa muridnya dari generasi tabi’in yang kepopulerannya tidak jauh beda dengan guru-gurunya. Murid-murid mereka yang fenomenal itu adalah, Sa’id bin Jubair, Mujahid binJabr, Ikrimah, Thawus bin Kisan al-Yamany dan Atha’ bin Rabah, mufasir dari kalangan tabi’in didikan Ibnu Abbas di Makkah, Abu al-‘Aliyah, Zaid bin Aslam dan Muhammad bin Ka’ab al-Qurdly, tokoh-tokoh penafsir tabi’in murid Ubay bin Ka’ab di madinah dan Alqamah bin Qais, Masruq, al-Aswad bin Yazid, Murrah al-Hamdany, Amir al-Syu’by, al-Hasan al-Bashry dan Qatadah bin Di’amah al-Sadusy, para mufasir tabi’in murid Ibnu Mas’ud di madinah. Nama-nama ini yang kemudian mengemban amanat melaksanakan tugas menggantikan gurunya. Sampai pada periode ini berarti tafsir al-Qur’an semakin berkembang dan beragam, dokumen tafsir al-Qur’an bertambah satu lagi, tafsir Nabi, Sahabat dan tafsir tabi’in. penafsiran mereka tidak terlalu berbeda dari penafsiran guru-gurunya, sebagian besar masih bercampur dengan riwayat hadis, namun demikian satu hal yang menjadi poin utama yang membedakan tafsir tabi’in dengan tafsir periode sebelumnya. Pada kurun tabi’in penafsirannya sangat kental dengan nuansa penafsiran gurunya masing-masing sehingga tafsir pada masa ini mulai muncul benih-benih perbedaan dan aliran-aliran di samping juga mulai ada upaya untuk menulis tafsir menjadi satu kitab tafsir yang mandiri.
Seperti para sahabat, mufasir tabi’in ini tidak semuanya memiliki kemampuan yang sama, hal ini berdampak pula pada penafsiran yang ia hasilkan. Kendati demikian, produk penafsiran para tabi’in ini banyak dijadikan sumber rujukan oleh para mufasir berikutnya, seperti Ibnu Jarir al-Thabary dan teman-temannya yang lain yang berlanjut hingga mufasir masa modern bahkan juga abad kontemporer. Akan tetapi sangat disayangkan, generasi muda Islam sekarang banyak yang tidak begitu mengenal tafsir karya generasi ketiga dalam dunia Islam ini padahal hal yang satu ini merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam yang sangat berharga. Mereka lebih asyik dengan tafsir-tafsir yang banyak bertebaran di depannya yang lebih mudah dijangkau dan melupakan hal-hal yang tersembunyi ditelan sejarah dan enggan untuk mengungkapnya. Sebagai contoh, sebut saja Tafsir Mujahid, Tafsir Muqatil bin Sulaiman dan yang lainnya. Berdasarkan realita tersebut, sangat tepat apabila ada inisiatif untuk mengangkat tema kajian terhadap kitab tafsir karya para tabiin ini. Disebabkan hal itu pula tulisan yang ada di depan pembaca ini mengangkat tema pembahasan tentang salah satu karya tafsir dari salah seorang mufasir tabi’in, yaitu Tafsir Mujahid. Selain untuk memperkenalkan ulang, kajian ini diharapkan pula akan membawa kekritisan para konsumen tafsir dalam mempelajarinya

PEMBAHASAN MUJAHID BIN JABR

A. Biografi Penulis
Nama lengkapnya adalah Mujahidbin Jabr al-Makki Abul Hajjaj al-Makhzumi al-Muqri’, Maula as-Sa’ib bin Abus Sa’ib. Ia banyak meriwayatkan dari Ali, Sa’ad bin Abi Waqqas, empat orang Abdullah, Rafi’ bin Khudaij, Aisyah, Ummu Salamah, Abu Hurairah, Suraqah bin Malik, Abdullah bin as-Sa’ib al-Makhzumi, dan lain-lain. Sedang yang meriwayatkan darinya adalah ‘Ata’, Ikrimah, Amr bin Dinar, Qatadah, Sulaiman al-Ahwal, Sulaiman al-Masy, Abdullah bin Kasir al-Qari’ dan lain-lain. Beliau termasuk ahli dalam bidang fiqih, beliau mendapat kemasyhuran karena menempatkan rasio di tempat yang mulia. Ia dilahirkan pada 21 H. Pada masa Khilafah Umar, dan wafat pada tahun 102 atau 103 H. Tetapi menurut Yahya al-Qattan ia wafat pada tahun 104 H.

B. Kondisi Kehidupan
Beliau berkeliling ke kota-kota Islam yang membuat para ulama banyak menimba ilmu darinya. Beberapa waktu juga ia tinggal di Kufah dan mengajar Tafsir al-Qur’an disana. Selama bertahun-tahun ia dibenci oleh Bani Umayyah dan keluar masuk tahanan. Dia mendekam dipenjara Hajjaj bin Yusuf hingga akhirnya mati pada tahun 96 H, dan semenjak itulah Mujahid bebas dari penjara. Dia adalah Mujahid al-Makky salah seorang perawi terpercaya, murid ibnu Abbas. Para ahli tafsir klasik mengakui bahwa tafsir-tafsirnya adalah versi tafsir yang paling absah. Mujahid adalah pemimpin atau tokoh utama mufassir generasi tabi’in, sehingga ada yang mengatakan bahwa ia adalah orang yang paling mengetahui tentang tafsir diantara mereka. Ia belajar tafsir dari ibnu Abbas sebanyak tiga kali. Diriwayatkan dari Mujahid ia berkata: “Saya menyodorkan Mushaf kepada ibnu Abbassebanyak tiga kali. Saya berhenti pada setiap ayat untuk menanyakan makna dan maksudnya, bagaimana konteksnya saat ia diturunkan?”. Sehubungan dengan ini ats-Tsauri berkata: “Jika datang kepadamu Tafsir dari Mujahid, cukuplah itu bagimu”. Oleh karena itu, menurut ibnu Taimiyah, Bukhari dan ahli ilmu lainnya banyak berpegang pada tafsirnya.

C. Sistematika Penulisan
Mengenai karyanya, tercatat bahwa tafsir Mujahid ini adalah satu-satunya karya tulis beliau. Kitab yang menjadi bahasan dalam tulisan ini berjudul Tafsir Mujahid dinisbatkan kepada pengarangnya. Kitab karya Mujahid ini awalnya berbentuk manuskrip-manuskrip yang ditemukan sekitar tahun 1149 M di penerbit Dar al-Kutub al-Missriyyah. Manuskrip ini berjumlah sebanyak delapan volume versi Fu’ad Sayyid dengan susunan sebagai berikut:
Jilid 1 memuat surat al Baqarah sampai ayat 43 surat an Nisa’ 
Jilid 2 memuat dari ayat 44 surat an Nisa’ sampai surat al-Anfal
Jilid 3 memuat dari surat at-Taubah sampai ayat 24 surat Bani Israil 
Jilid 4 memuat dari ayat 25 surat Bani Israil sampai ayat 25 surat al Furqan 
Jilid 5 memuat dari ayat 27 surat al-Furqan sampai akhir surat Yasiin 
Jilid 6 memuat dari surat as-Shaffat sampai akhir surat an-Najm 
Jilid 7 memuat dari surat al-Qamar sampai akhir surat ’Amma Yatasaalun 
Jilid 8 memuat dari surat an-Nazi’at sampai akhir surat an-Nas. 

Data-data ini diriwayatkan oleh Abu al-Qasim Abd Rahman ibn Ahmad ibn Muhammad ibn 'Ubayd al-Hamadzani dan sampai pada Mujahid melalui Ibrahim dari Adam dari Warqa' dari Abu Najih. Permulaan dan akhir dari kumpulan manuskrip-manuskrip yang ditemukan di penerbit Dar al-Kutub al-Missriyyah tersebut berhubungan dengan catatan yang berdasarkan riwayat Abu Mansur Muhammad ibn Abd Malik ibn Hasan Ibnu Khayrun dari pamannya yakni Abu Fadl Ahmad ibn Hasan ibn Khayrun dari Abu Ali Hasn ibn Ahmad ibn Ibrahim ibn Hasan ibn Muhammad ibn Shadhan, dari Abu al-Qasim Abd al-Rahman ibn Hasan. Permulaan pembahasan-pembahasan riwayat ini mengenai jilid pertama yang dimulai pada 1 Rajab 538 H dan rampung pada hari Selasa 18 Rabi’ul Awwal 544 H. Versi ini merupakan ringkasan dari penafsiran-penafsiran Mujahid yang telah diringkas oleh kolektor dari sebuah naskah di tangannya. Dia telah berusaha dalam resensi ini untuk menahan diri dari menceritakan legenda dari Ahl al-Kitab dan pembaca jarang yang menemukan segala sesuatu yang berkaitan dengan apa yang disebut Israiliyyat. Sebuah jiplakan manuskrip ini dibuat oleh masyarakat untuk penelitian Islam di Pakistan. Hal ini telah diedit dan diberi pengantar oleh Abd. Rahman al-Surati Tahir dalam dua volume di bawah perlindungan Emir Qatar, Syekh Hamd bin Khalifah Al-Thani. Teks editan ini kemudian dicetak oleh penerbit al-Manshurat al-Ilmiyyah, Beirut. Ini dapat dikatakan bahwa dalam catatan kaki editor menyebutkan variasi dalam teks penafsiran serta sebagai bahan tambahan yang ditemukan di dalam komentar al-Tabari dan telah menyelesaikan pekerjaan yang sulit dan berguna.

D. Metodologi Tafsir
Mujahid merupakan penafsir al-Qur’an dengan metode rasional. Mujahid menampakkan kecenderungannya pada tafsir rasional dalam menafsirkan surat al-Baqarah: 65 pada maksud cerita bahwa Allah akan merubah orang-orang yang telah melampaui batas pada hari Sabtu menjadi “Kera-kera yang merugi”. Mengenai hal ini Mujahid mengatakan bahwa perubahan ini tidak terjadi pada jasad mereka tetapi pada hati mereka, dalam artian mereka tetaplah mausia namun berjiwa kera. 

E. Pendapat Ulama Mengenai Tafsirnya
 Qotadah berkata, "Orang terakhir yang paling tahu akan halal dan haram adalah Az Zuhri, dan orang yang terakhir yang paling tahu akan tafsir adalah Mujahid." Sufyan Ats Tsauri berkata, " Ambillah tafsir dari empat orang : Mujahid, Sa'id bin Jubair, 'Ikrimah dan Adl Dlohak." Ibnu Taimiyyah berkata, "Oleh karena itu Asy Syafi'i dan Bukhori serta banyak lagi yang lainnya yang mengandalkan tafsir beliau." Ats Tsauri berkata,"Jika datang kepadamu tafsir dari Mujahid, maka cukuplah itu bagimu. Ats Tsauri berkata, dari Salamah bin Kuhail berkata, " Aku tidak pernah melihat orang yang dengan ilmunya menginginkan wajah Alloh kecuali tiga orang : 'Atho', Thowus dan Mujahid." Diriwayatkan dari Al A'masy, ia berkata, "Mujahid seperti seorang kuli yang apabila beliau berbicara seakan-akan dari mulut beliau keluar mutiara." Ibnu Juraij berkata, "Seandainya aku mendengarkan (belajar) dari Mujahid, aku akan berkata, 'aku mendengar (belajar) dari Mujahid lebih aku sukai dari pada keluarga dan hartaku." 

PENUTUP

A. Kesimpulan
Tafsir Mujahid adalah salah satu produk tafsir periode tabi’in, tepatnya lagi karya dari seorang tabi’in yang bernama Mujahid bin Jabr. Nama lengkapnya adalah Mujahid bin Jabr al-Makki Abul Hajjaj al-Makhzumi al-Muqri’, Maula as-Sa’ib bin Abus Sa’ib. Ia dilahirkan pada 21 H. Pada masa Khilafah Umar, dan wafat pada tahun 102 atau 103 H. Tetapi menurut Yahya al-Qattan ia wafat pada tahun 104 H. Ia banyak meriwayatkan dari Ali, Sa’ad bin Abi Waqqas, empat orang Abdullah, Rafi’ bin Khudaij, Aisyah, Ummu Salamah, Abu Hurairah, Suraqah bin Malik, Abdullah bin as-Sa’ib al-Makhzumi, dan lain-lain.
Mengenai karyanya, tercatat bahwa tafsir Mujahid ini adalah satu-satunya karya tulis beliau. Kitab yang menjadi bahasan dalam tulisan ini berjudul Tafsir Mujahid dinisbatkan kepada pengarangnya. Kitab tafsir tersebut kini diterbitkan oleh penerbit al-Manshurat al-Ilmiyyah, Beirut. Beberapa pendapat ulama tentang tafsir beliau yaitu, Qotadah berkata, "Orang terakhir yang paling tahu akan halal dan haram adalah Az Zuhri, dan orang yang terakhir yang paling tahu akan tafsir adalah Mujahid." Sufyan Ats Tsauri berkata, " Ambillah tafsir dari empat orang : Mujahid, Sa'id bin Jubair, 'Ikrimah dan Adl Dlohak." Ibnu Taimiyyah berkata, "Oleh karena itu Asy Syafi'i dan Bukhori serta banyak lagi yang lainnya yang mengandalkan tafsir beliau." 

 DAFTAR PUSTAKA

Al-Qaththan, Syaikh Manna, 2006. Pengantar Studi Ilmu Al Qur’an. Jakarta: Pustaka Al Kautsar 
Al Qattan, Manna Khalil, 2009, Studi Ilmu Al Qur’an. Bogor, Pustaka Litera: Antar Nusa
Goldziher, Ignas, 2010, Madzhab Tafsir Dari Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: el-SAQ Press

alhakimluqman.blogspot.com/2011/11/mujahid-bin-jabr.html
coretananakpulau.blogspot.com/2010//tafsir-mujahid-bin-jabr_08.html
quran.al-shia.org/id/tafsir/05.html

Sejarah Al-Barzanji dan perkembangannya


Al-Barzanji asalnya adalah nama orang yang mengarang kitab prosa dan puisi tentang Nabi Muhammad SAW. Kitab itu sesungguhnya lebih merupakan karya sastra ketimbang karya sejarah, karena lebih menonjolkan aspek keindahan bahasa (sastra). Kitab ini ada dua macam, yang satu disusun dalam bentuk prosa dan lainnya dalam bentuk puisi. Isinya sama-sama menceritakan riwayat hidup nabi Muhammad SAW terutama peristiwa kelahirannya. Prosa dan puisi tentang riwayat Rasulullah SAW ini sering dibacakan dalam banyak munasabah (momentum) seperti maulid nabi bahkan dalam perayaan kelahiran bayi umumnya. Tentu saja kegiatan seperti ini tidak ada perintahnya dari Rasulullah SAW, bahkan juga tidak dari para shahabat dan generasi sesudahnya. Karena ketika beliau masih hidup, prosa dan puisi ini belum lagi disusun oleh Al-barzanji.
Sebagian dari umat Islam mengaku bahwa bila dibacakan prosa/puisi ini dalam sebuah munasabah, akan hadir ke tengah mereka ‘nur’ Muhammad. Tentu saja ini tidak ada dasar keterangannya. Bila kita melakukan kritik sastra secara mendalam, memang ada beberapa ungkapan yang terkesan berlebihan dan keluar dari batas syariah bahkan aqidah. Namun demikianlah gaya bahasa dalam sastra, sering terlalu hiperbola dan melebih-lebihkan. Sehingga terkadang keluar dari kontrol yang bisa diterima secara syar‘i. Namun demikian, karena ini kritik sastra, tentu ada yang mendukung dan ada pula yang tidak. Termasuk hukum membacanya dalam peringatan maulid nabi dan seterusnya.
Barangkali dari segi prinsip dan tujuan sudah cukup baik, yaitu ingin memberi penghargaan kepada Rasulullah SAW dengan cara membacakan riwayat hidupnya. Namun ritualitas yang terlanjur menjadi rutinitas ini perlu lebih diperdalam maknanya. Agar tidak terkesan sekedar pembacaan yang kosong dari makna, tetapi harus dikaji dan dianalisa secara mendalam tentang sirah nabawiyah itu sendiri. Agar kita bisa mengambil pelajaran lebih dalam dari peri kehidupan beliau SAW. Karena kebanyakan anggota masyarakat melakukannya sebagai sesuatu yang mereka warisi dari orang-orang tua mereka tanpa pernah tahu mengapa mereka harus melakukan itu. Bahkan bukan tidak mustahil bahwa mereka pun kurang memahami lafaz-lafaz yang dibacanya karena lafaz itu berbahasa arab. Padahal kajian sirah nabawi itu sendiri kurang mendapat tempat.

Barzanji merupakan kegiatan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini dilakukan pada waktu Maulid Nabi untuk memperingati hari kelahiran Nabi dan dalam berbagai upacara yang lain.  
1. Asal-usul

Kebudayaan Melayu yang bersinggungan dengan Islam menghasilkan akulturasi budaya yang unik di antara keduanya. Beberapa tradisi yang dilakukan di tanah Arab, wilayah asal agama ini, tidak jarang juga merupakan bagian dari tradisi masyarakat Melayu. Salah satu di antaranya adalah pembacaan kitab karya Ja’far Al-Barzanj, yang kemudian biasa disebut barzanji (sebagian orang menyebut “berzanji” atau “berjanji”).
Kata “barzanji” dalam kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai isi bacaan puji-pujian yang berisi riwayat Nabi Muhammad SAW. Jika mendengar kata “barzanji”, orang akan beranggapan bahwa awalan “ber” merupakan imbuhan. Padahal, kata “barzanji” berasal dari kata Al-Barzanj, nama belakang penulis prosa dan puisi terkenal yang mempunyai nama lengkap Ja’far Al-Barzanj.[1]
Syekh Ja’far Al-Barzanj bin Husin bin Abdul Karim lahir di Madinah tahun 1690 dan wafat tahun 1766. Al-Barzanj berasal dari sebuah daerah di Kurdistan, Barzinj. Nama asli kitab karangan yang kemudian lebih dikenal dengan nama Al-barzanji adalah ‘Iqd al-Jawahir yang berarti “kalung permata”. Kitab tersebut disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab Al-Barzanji berisi tentang kehidupan Nabi Muhammad dari masa kanak-kanak hingga diangkat menjadi Rasul, silsilah keturunannya, sifat mulia yang dimilikinya, dan berbagai peristiwa yang dapat menjadi teladan umat Islam.[2]
Kitab karangan Ja’far Al-Barzanj dikenal mulai dari Maroko di belahan bumi sebelah barat hingga Papua di belahan bumi sebelah timur. Sebagai karya yang menceritakan tokoh terbesar dalam Islam, yakni Nabi Muhammad, boleh dikatakan pertunjukan pembacaan karya Ja’far Al-Barzanj ini tidak boleh dipandang sebagai pertunjukan biasa. Bahkan, pembacaan kitab Al-barzanji merupakan tradisi yang acap kali bahkan pasti dilakukan di bulan kelahiran Nabi Muhammad, yaitu Bulan Maulud menurut penanggalan Hijriah.
Sebagai pertunjukan yang didasarkan pada riwayat kehidupan Nabi, tentunya pertunjukan barzanji banyak mengandung nilai-nilai keagamaan. Pada mulanya, kitab karya Ja’far Al-Barzanj khusus dikarang dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Peringatan itu sendiri, waktu kitab tersebut ditulis, belum menjadi tradisi Islam. Baru pada tahun 1207 M, Muzaffar ad-Din di Mosul, Irak, merayakannya dan tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai daerah termasuk hingga ke Riau.[3]
Tradisi barzanji telah dilakukan sejak Islam masuk ke Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, masuknya Islam memberi pengaruh besar pada kebudayaan Melayu. Pola perpaduan ini bukan hanya terlihat pada tradisi barzanji, namun juga tradisi Melayu yang lain, semisal tabot, burdah, ghazal, dan lain sebagainya. Tentu saja perpaduan antara budaya Islam dan Melayu berbeda-beda tergantung pada kultur awal masyarakat setempat.
Tradisi barzanji di Riau rutin dilakukan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad. Namun, tidak sebatas peringatan itu saja, tradisi barzanji juga digelar pada hari-hari besar Islam yang lain seperti Idul Fitri, Idul Adha, tahun baru Hijriah, dan lain sebagainya. Barzanji juga diselenggarakan dalam kegiatan kemasyarakatan, misalnya pada saat upacara pernikahan, memperingati kelahiran anak, dan sebagainya.
Tradisi barzanji memadukan berbagai kesenian, antara lain seni musik, seni tarik suara, dan keindahan syair kitab Al-Barzanji itu sendiri. Syair-syair dalam kitab Al-Barzanji tersebut dilantunkan dengan lagu-lagu tertentu, dan kadang diiringi alat musik rebana. Setelah pembacaan hikayat Nabi dari kitab karya Ja’far Al-Barzanj dan shalawat kepada beliau, akan dilanjutkan pembacaan syair Sinar Gemala Mestika Alam karya Raja Ali Haji.  

2. Syair Barzanji

Kitab Barzanji terdiri dari dua bagian besar, yaitu natsar dan nadhom. Natsar berupa prosa liris yang menceritakan kehidupan Nabi maupun silsilah beliau. Bagian ini terdiri dari 19 sub. Sedangkan nadhom berbentuk puisi yang ditulis dalam bentuk bait-bait. Nadhom terdiri dari 205 untaian syair. Bagian ini menyatu ke dalam 16 sub bagian.
Seperti halnya penulisan syair, Ja’far Al-Barzanj juga menggunakan berbagai idiom dan metafor sebagai ungkapan kecintaan dan kekagumannya pada Nabi Muhammad. Misalnya gambaran Ja’far Al-Barzanj mengenai Nabi Muhammad yang seperti bulan, matahari, dan ungkapan cahaya di atas cahaya pada bagian nadhom.[4]
Berikut ini contoh natsar dalam kitab Al-Barzanji yang diterjemahkan oleh Raja Haji Muhammad Sa’id sebagaimana termaktub dalam buku Seni Pertunjukan Tradisional Daerah Riau karya Amanriza & Junus.[5]
Mereka itulah penghulu yang besar-besar yang berjalan cahaya nubuwat itu pada beberapa dahi mereka itu yang elok dan zahirlah cahaya nur itu pada dahi Abdul Muthalib dan anaknya Abdullah.
Ya Allah semerbakkan oleh-Mu akan kuburnya yang mulia dengan bauan yang sangat harum daripada selawat dan salam. Hai Tuhanku selawatkan dan salam dan karuniakan berkat atasnya.
Beberapa fragmen dalam Al-Barzanji yang berupa nadhom berisi sanjungan dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad.[6] Contoh nadhom dalam kitab Al-Barzanji adalah:
Keselamatan bagimu wahai junjunganku
Keluasan bagimu wahai cahaya mataku
Engkaulah menenda Husin, Nabi pemalu
Luaslah kesejahteraan tetap bagimu
Wahai Nabi Rasul yang mulia
Wahai kekasih, Rasul utama
Rahmat selamat sejahtera sempurna
Tetaplah bagimu, Rasul semesta
Syair Sinar Gemala Mestika Alam mulai dibaca pada akhir rangkaian kegiatan barzanji. Pembacaan syair ini dimulai pada dasawarsa terakhir abad ke-19 di Kesultanan Riau-Lingga. Syair ini menceritakan kehidupan Nabi Muhammad sejak dari kandungan hingga masa kerasulannya. Berikut ini adalah penggalan Syair Gemala Mestika Alam[7].
Malam Isnain dua belas harinya
Dahulu sedikit daripada fajarnya
Masa diperanakkan oleh bundanya
Beberapa mukjzat zahir padanya
Setengah daripada irhash ikram
Menerangi cahaya tempat-tempat yang kelam
Masyrik dan magrib tempat yang balam
Teranglah cahaya sayidil anam
setengah daripada cahaya irhash ter’ala
habis tersungkur segala berhala
yang disembah oleh kafir yang cela
ibadatnya batal tiada pahala

3. Nilai-nilai

Tradisi barzanji dan pembacaan shalawat merupakan kegiatan yang sarat nilai-nilai positif. Beberapa nilai yang terkandung dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut:
a. Nilai Religius
Pembacaan kitab Al-Barzanji merupakan bentuk bukti kecintaan penganut agama Islam terhadap Nabi Muhammad. Syair dan hikayat yang tertulis dalam kitab tersebut memaparkan nilai-nilai yang baik yang dapat meningkatkan kadar religiusitas seseorang. Selain itu, masyarakat juga dapat mengambil hikmah dari kehidupan Nabi Muhammad seperti yang dibacakan dalam kitab tersebut.
b. Nilai Sosial
Tradisi barzanji yang digelar pada perayaan hari besar Maulid Nabi dan dalam berbagai upacara lainnya di masyarakat, seperti perkawinan, kelahiran anak, khitanan, dan lain-lain. Kegiatan tradisi ini merupakan ruang bagi masyarakat untuk bersosialisasi antara satu dengan yang lain. Kegiatan barzanji mempertemukan mereka yang jarang bertemu, sehingga akan mempererat tali persaudaraan dan ikatan sosial dalam masyarakat.
c. Nilai Budaya
Syair-syair yang terangkum dalam kitab Barzanji, meskipun menceritakan kehidupan Nabi Muhammad, merupakan karya yang bernilai sastra tinggi. Sebagaimana yang kita ketahui, bangsa Arab mempunyai tradisi penulisan sastra yang kuat. Hal ini sejalan dengan budaya Melayu yang juga mempunyai tradisi sastra yang tidak bisa dikatakan bermutu rendah. Kedua budaya ini, budaya Arab yang dibawa agama Islam dan budaya Melayu, berpadu sehingga menghasilkan bentuk budaya baru. Perpaduan ini memperkaya kebudayaan Indonesia.

4. Perkembangan Tradisi Barjanji

Perkembangan tradisi Al Barzanji terkait erat dengan seremonial perayaan hari kelahiran (Maulid) Nabi yang juga masih menjadi kontroversi. Berdasar catatan Nico Captein, peneliti dari Universitas Leiden, Belanda dipaparkan bahwa perayaan Maulid Nabi pertama kali diselenggarakan oleh penguasa muslim Syi’ah dinasti Fatimiyah (909 - 117 M) di Mesir untuk menegaskan jika dinasti itu benar-benar keturunan Nabi. Bisa dibilang, ada nuansa politis dibalik perayaannya sehingga kurang direspon khalayak luas. Perayaan Maulid baru kembali mengemuka ketika tampuk pemerintahan Islam dipegang Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi pada 580 H/1184 M. Ia melangsungkan perayaan Maulid dengan mengadakan sayembara penulisan riwayat dan puji-pujian kepada Nabi SAW. Tujuannya adalah untuk membangkitkan semangat Jihad (perjuangan) dan Ittihad (persatuan) umat muslim terutama para tentara yang tengah bersiap menghadapi serangan lawan dalam medan pertempuran fenomenal, Perang Salib.
Dalam kompetisi ini, kitab berjudul Iqd al Jawahir (untaian permata) karya Syekh Ja`far al-Barzanji tampil sebagai pemenang. Sejak itulah Iqd al Jawahir mulai getol disosialisasikan pembacaanya ke seluruh penjuru dunia oleh salah seorang gubernur Salahudin yakni Abu Sa`id al-Kokburi, Gubernur Irbil, Irak. Di Indonesia kitab ini populer dengan sebutan nama pengarangnya Al Barzanji sebab lidah orang kita agak sulit bila harus mengucapkan sesuai lafal judul aslinya.
Al Barjanji sendiri merupakan karya tulis berupa puisi yang terbagai atas 2 bagian yaitu Natsar dan Nazhom. Bagian natsar mencakup 19 sub-bagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi ah pada tiap-tiap rima akhir. Keseluruhnya merunutkan kisah Nabi Muhammad SAW, mulai saat-saat menjelang Nabi dilahirkan hingga masa-masa tatkala beliau mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian Nazhom terdiri dari 16 subbagian berisi 205 untaian syair penghormatan, puji-pujian akan keteladanan ahlaq mulia Nabi SAW, dengan olahan rima akhir berbunyi nun.
Lalu bagaimanakah kondisi pro-kontra Al Barjanji? Pihak yang pro menganggap pembacaan Al Barzanji adalah refleksi kecintaan umat terhadap figur Nabi, pemimpin agamanya sekaligus untuk senantiasa mengingatkan kita supaya meneladani sifat-sifat luhur Nabi Muhammad SAW. Kecintaan pada Nabi berarti juga kecintaan, ketaatan kepada Allah. Adapun pihak kontra memandang Barjanji hanyalah karya sastra yang walau mungkin mengambil inspirasi dari 2 sumber hukum haq Islam yakni Al Qur’an dan hadist tetap saja imajinasi fiktif sang pengarang lebih dominan disuguhkan. Namun faktanya pembacaan Barjanji di berbagai kesempatan malah jauh disakralkan, diutamakan ketimbang pembacaan Al Quran. Belum lagi pembacaan Barjanji sering tanpa diikuti pemahaman arti syair dalam tiap baitnya.
Wajarlah bila kemudian pihak kontra menghukumi pembacaan Barjanji juga bacaan sejenis lainya semisal Diba', Burdah, Simthuddurar itu Bid’ah atau mengada-ada dalam ibadah yang justru sangat jelas dilarang agama. Sebuah hadist Nabi riwayat Bukhari Muslim menyatakan,”Barang siapa melakukan amalan tidak sebagaimana sunnahku,maka amalan itu tertolak”. Wallahu ‘alam bisshowab. Hanya Allahlah yang Maha Mengetahui.[8]


a)    Keturunan dan Kelahirannya
Nama beliau ialah Ja'afar ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Sayyid Muhammad ibn al Qutb al Arif Sayyid Rasul ibn Abdus Sayyid ibn Abdur Rasul ibn Qalandar ibn Abdus Sayyid ibn Isa ibn al Hussain ibn Bayazid ibn al Mursyid Abdul Karim ibn al Qutb al A'zam al Ghauth al Fard al Jami' Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn AbduLlah ibn Ismail al Muhaddith ibn al Imam Musa al Kazim ibn al Imam Ja'afar al Sodiq ibn al Imam Muhammad al Baqir ibn al Imam Ali Zainal Abidin al Sajjad ibn al Imam al Syahid al Husain ibn al Imam Amirul Mukminin Ali ibn Abu Talib.
b)    Tarikh Kelahiran
Pada hari Khamis awal bulan Zulhijjah 1126 Hijrah di Madinah al Munawwarah.Perkataan 'Barzanji' yang dinisbahkan kepada namanya diambil dari nama kampung asal keturunannya.
c)    Latar Belakang Pendidikannya
Beliau dibesarkan di bawah didikan dan asuhan ayahandanya. Beliau mempelajari al Quran daripada Syeikh Ismail al Yamani radiyaLlahu 'anhu. Kemudian mempelajari ilmu tajwid daripada syeikh Yusuf al Sa'idi radiyaLLahu 'anhu dan Syeikh Syams al din al Misri radiyaLlahu 'anhu. Di antara guru-gurunya di Madinah ialah :
1.    Sayyid Abdul Karim Haidar al Barzanji radiyaLlahu 'anhu
2.    Sayyid Yusuf al Kurdi radiyaLLahu 'anhu
3.    Sayyid 'AtiyyatuLlah al Hindi radiyaLlahu 'anhu
Setelah itu, beliau mendalami ilmunya dengan ulama' yang berada di Makkah dan menetap di sana selama 5 tahun. Di antara guru-gurunya di Makkah ialah :
1.    Syeikh 'AtaiLlah ibn Ahmad al Azhari
2.    Syeikh Abdul Wahhab al Tontowi al Ahmadi
3.     Syeikh Ahmad al Asybuli dan lain-lain lagi.
Oleh karena kepakarannya yang tinggi di dalam persada ilmu, beliau telah diijazahkan dengan sanad-sanad ilmu oleh masyaikh pada zamannya. Di antara guru-gurunya yang pernah menganugerahkan sanad kepadanya ialah :
1.    Syeikh Muhammad Tayyib al Fasi
2.    Sayyid Ahmad al Tobari
3.    Syeikh Muhammad ibn Hasan al 'Ujaimi
4.    Sayyid Mustafa al Bakari
5.    Syeikh Abdullah al Syubrawi al Misri
Beliau telah belajar daripada mereka pelbagai ilmu pengetahuan. Di antaranya ilmu saraf, nahu. mantiq, ma'ani, bayan, adab, fiqh, usul fiqh, faraidh, matematik, hadith, mustalah hadith, tafsir, dakwah, kejuruteraan, arudh, kalam, bahasa, sirah, qiraat, suluk, tasawwuf dan sebagainya.
Apa yang berlaku pada zaman mutakhir ini, sesetengah ahli masyarakat melemparkan tuduhan bahawa beliau bukan seorang ilmuwan Islam. Anggapan yang tidak berasas ini, menyebabkan kitab maulid karangannya yang selama ini diterimapakai di dalam Majlis Sambutan Maulid Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam di kebanyakan negara Islam dituduh mengandungi banyak perkara khurafat dan bertentangan dengan Al Quran dan Hadith.
Oleh kerana itu, untuk meneutralkan tanggapan negatif ini, adalah wajar diketengahkan sanad beliau yang menghubungkan ilmunya dengan dua buah kitab hadith yang muktabar; al Bukhari dan Muslim sehingga kepada Rasulullah Saw bagi membuka mata dan meyakinkan kita bah wa pengarang Kitab Maulid Barzanji yang kita baca selama ini bukanlah calang-calang ulama.
1.    Sanad Jami' Al Sahih Imam Bukhari
1.    Sayyid Ja'far al Barzanji belajar daripada,
2.    Syeikh Muhammad Tayyib al Fasi, belajar daripada
3.    Syeikh Ibrahim al Dir'i, belajar daripada,
4.    Syeikhah Fatimah binti SyukriLLah al Uthmaniyyah, bonda nendanya Sayyid Muhammad ibn Abdur Rasul, belajar daripada,
5.    Al Syams Muhammad ibn Ahmad al Ramli, belajar daripada,
6.    Syeikh al Islam al Qadhi Zakaria ibn Muhammad al Ansari, belajar daripada,
7.    Al Hafiz Ahmad ibn Ali ibn Hajar al Asqalani, belajar daripada,
8.    Syeikh Ibrahim ibn Ahmad al Tanukhi, belajar daripada,
9.    Syeikh Abi al Abbas Ahmad ibn Abi Talib al Hajjar al Dimasyqi, belajar daripada,
10.  Al Siraj al Husain al Mubarak al Zaibidi, belajar daripada,
11.  Abdil awwal ibn Isa al Harawi, belajar daripada,
12.  Abdir Rahman ibn Muzaffar al Dawudi, belajar daripada,
13.  Abi Muhammad AbduLLah ibn Hamawih al Sarkhasi, belajar daripada,
14.  Syeikh Abdi AbdiLlah Muhammad ibn Yusuf ibn Matar al Farabri, belajar daripada,
15.  Pengumpulnya, Amirul Mukminin al Imam al Hafiz al Hujjah Abu AbdiLLah Muhammad ibn Ismail al Bukhari.
2.        Sanad Sohih Muslim
1.    Sayyid Ja'far al Barzanji, belajar daripada,
2.    Syeikh AbduLlah al Syubrawi al Misri, daripada,
3.    Syeikh Muhammad Zurqani ibn Abdul Baqi al Maliki al Azhari, daripada,
4.    Al Hafiz Muhammad ibn 'Ala' al Babili, daripada,
5.    Syeikh Abi al Naja Salim ibn Muhammad al Sanhuri, daripada,
6.    Al Najm Muhammad ibn Ahmad al Ghaiti, daripada,
7.    Syeikh al Islam Zakaria ibn Muhammad al Ansari, daripada,
8.    Abi al Nu'aim Ridhwan ibn Muhammad, daripada,
9.    Syeikh Abi Tahir Muhammad ibn Muhammad, daripada,
10.     Abi al Faraj Abdur Rahman ibn Abdul Hamid al Maqdisi, daripada,
11.     Syeikh Abi al Abbas Ahmad ibn Abdud Daim al Nablusi, daripada,
12.     Syeikh Muhammad ibn Ali al Harani, daripada,
13.     Faqih al Haram Muhammad ibn al Fadhl al Farawi, daripada,
14.     Syeikh Abi al Husain Abdul Ghafir ibn Muhammad al Farisi, daripada,
15.     Abi Ahmad Muhammad ibn Isa al Jaludi, daripada,
16.     Syeikh Abi Ishaq Ibrahim ibn Muhammad ibn Sufyan al Zahid, daripada,
17.     Pengumpulnya al Imam al Hujjah Muslim ibn al Hajjaj al Qusyairi al Naisaburi.
Kepakarannya di dalam bidang keilmuwan telah menarik ramai orang datang menemuinya untuk mempelajari ilmu. Beliau mengikuti dan menyelami jalan ahli tasawwuf dan meninggalkan kerehatan dan tidur lebih dari 20 tahun sehingga beliau mempunyai kemahiran di dalam ilmu naqli (berasaskan al Quran dan Sunnah) dan aqli. Beliau pernah mengambil tariqat daripada Sayyid 'AtiyatuLlah al Hindi dan Sayyid Mustafa al Bakari.
Beliau telah mengarang banyak kitab yang menakjubkan dan bermanfaat. Di antaranya ialah kitab Maulid Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam yang tidak pernah ditulis oleh pengarang sebelumnya yang dinamakan dengan 'Iqd al Jauhar fi Maulid al Nabi al Azhar sallallahu 'alaihi wasallam.
d)   Hubungan Sosial
Beliau juga mempunyai kredibiliti yang tinggi dalam masyarakat sehingga dilantik sebagai Mufti Mazhab Syafie radiyaLLahu 'anhu di al Madinah al Munawwarah. Beliau memegang jawatan tersebut sehingga kewafatannya dan dianugerahkan dengan kebesaran yang tinggi sehingga kata-katanya diperkenankan dan dilaksanakan oleh raja-raja dan pemerintah-pemerintah di Haramain (Makkah dan Madinah), Mesir, Syam, Rom dan sebagainya.
Kata-katanya juga diterima pakai oleh Jemaah Menteri Kerajaan Uthmaniyyah dan pembesar-pembesar negara tersebut. Suaranya tersebar seperti burung yang berterbangan di seluruh pelusuk dunia hingga hampir tiada sesiapa yang tidak mengenalinya. Karyanya tersebar luas dan kelebihan kitabnya tiada tolok bandingnya pada zamannya.
e) Akhlaknya
Beliau mempunyai akhlak yang mulia, bersifat tawadhu', hati yang bersih, cepat memaafkan orang lain dan tidak mengabaikan hak orang lain. Beliau merupakan keturunan dari keluarga RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam dan di kalangan ketua yang menjadi tempat rujukan keturunan Baginda sallaLlahu 'alaihi wasallam pada zamannya. Beliau juga merupakan seorang yang zuhud, wara', berpegang dengan al Quran dan Sunnah, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mengorbankan harta dan jiwa untuk melakukan kebaikan serta banyak bersedekah sehingga dikenali sebagai seorang dermawan.
Beliau juga mempunyai karamah yang dizahirkan oleh ALlah subahanahu wa Ta'ala. Di antaranya, beliau pernah dipanggil dari tempat solatnya pada Hari Jumaat menaiki mimbar RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam. Pada masa tersebut, sedang berlaku kemarau yang panjang. Maka orang bertawassul dengannya supaya diturunkan hujan. Dengan kehendak Allah subahanahu wa Ta'ala, maka hujan pun turun dengan lebatnya dan tanah yang kering kontang menjadi subur. Ramai di kalangan ulama' yang memujinya sebagaimana yang dirakamkan di dalam syair gubahan mereka. Di antaranya :

سقى الفاروق بالعباس قدما

    و نحن بجعفر غيثا سقينا
    فذاك وسيلة لهم وهذا
    وسيلنا إمام العارفينا
 "Dahulu sayyiduna Umar Radiyallahu 'anhu pernah bertawassul meminta hujan dengan Sayyiduna al Abbas radiyallahu 'anhu, dan kini kami bertawassul dengan Ja'far radiyallahu 'anhu, maka diturunkan hujan kepada kami"
            Khalifah Umar ibn al Khattab radiyallahu 'anhu sepertimana yang diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim daripada Anas radiyaLlahu 'anhu pernah bertawassul dengan bapa saudara Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam, iaitu Abbas ibn Abdul Muttalib ketika berlaku musim kemarau. Umar Radiyallahu 'anhu berdoa :
اللهم إنا كنا إذا قحطنا توسلنا إليك بنبينا فتسقنا وإنا نتوسل إليك بعم نبينا محمد صلى الله عليه وسلم فاسقنا, قال : فيسقون
Ya Allah! Sesungguhnya apabila kami menghadapi kemarau, kami bertawassul kepadaEngkau dengan Nabi kami (Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam) maka Engkau menurunkan hujan kepada kami. Dan sekarang ini, kami bertawassul kepada Engkau dengan bapa saudara Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam, maka turunkanlah hujan kepada kami." Anas radiyaLlahu 'anhu menyebut, "Maka hujan pun diturunkan ke atas mereka."
f)       Kewafatannya
Beliau wafat pada Hari Selasa selepas Asar 4 Sya'ban 1177 Hijrah.[9]


1. Pendapat Yang Mendukung

Sultan Salahudin al Ayyubi yang meresmikan Syair Barzanji untuk memacu semangat tentara Muslim dalam perang salib. Seorang gubernur dynasty Fahtimiyah di Palestina, Salahudin Al Ayyubi , yang memohon kepada dinasti Abbasiyah , dynasti Islam di tanah Bangsa Arya (Arab , Turki ,Eropa Timur dan Asia Tengah, Iran) , dan pelayan dua kota suci Mecca dan Madinah, untuk menyebarkan luaskan syair Iqa Al Jawahir pada jamaah haji yang datang dari seluruh penjuru dunia. Maka mulai saat itu peringatan Maulud Nabi dengan pembacaan Iqa al Jawahir dimulai yang kemudian di kenal dengan Barzanji.
Begitu dahsyatnya pengaruh Barzanji ini pada Salahudin al Ayyubi, sehingga beliau menggunakan syair ini untuk memompa semangat rakyatnya dalam perang salib.
Begitu hebatnya pengaruh Barzanji dalam zaman modern  sehingga Ulama Besar Banten  Nawawi , menulis khusus tentang Syarah ( analisis ) tentang Barzanji.  Tulisan ini seperti  tafsir Al Qur’an telah  menjadi rujukan di Universitas Al Azhar dan universitas lainnya. Demikian juga penyair dan dramawan besar  Burung Merak Indonesia , W.S. Rendra, terpesona oleh keindahan Barzanji , sehingga mementaskan   drama tari Barzanji  yang sangat terkenal tahun 70 an.
Begitu lengkap nya catatan tentang nabi Muhammad SAW dalam barjanji sampai sampai seorang ahli sejarah modern Amerika Samuel Jacobson, seorang  raksasa sejarah menulis dalam bukunya the Venture of Islam….dokumentasi nabi Muhammada yang tersebar dikalangan ummat Islam sangat terperinci……dan dapat dijadikan dasar penulisan ilmiah.

2. Pendapat Yang Menentang

Menurut ulama’ muda Tidak ada secuil hadist pun yang memerintahkan Maulid Nabi. Itu bid’ah, sedangkan menurut ulama’ yang lain tidak menyebutnya bid’ah tapi itu adalah budaya bukan agama dan adapun membaca sholawat dengan dikeraskan adalah bid’ah yang tidak diperintah oleh rosulullah dan tidak pernah beliau kerjakan sekalipun dimasa hidupnya.[10] 
Rasul Dahari didalam buku yang berjudul  Cercaan Terhadap Barzanji Dan Maulid Nabi S.A.W, ini mencerca amalan bacaan Barzanji sebagai mungkar. Begitu juga amalan maulid Nabi juga sebagai amalan mungkar. Juga terdapat satu topik yang membicarakan emak bapa Nabi sebagai kafir dan tidak islam.Sedangkan para ulama telah menganggap ibu bapa Nabi adalah dari ahli fatrah. Juga tidak kurang cercaannya terhadap isu Nur Muhammad, sedangkan persoalan ini adalah bersifat khilafiyyah. Beliau juga mendakwa didalam barzanji terdapat ucapan-ucapan yang katanya sebagai mempertuhankan Nabi. Sedangkan Barzanji ini adalah merupakan karangan Sheikh Ja’far al-Barzanji, Mufti Shafei di Madinah al-Munawwarah.
Begitu pula menurut abu bakar ibnu ‘Arabi sangat keras menentang hal ini, bahkan sering membodoh-bodohkan orang yang melakukannya.
Wahai hamba Alloh, menambahkan dari yang diajarkan rosulullah adalah bid’ah yang tidak akan mendekatkan kalian kepada Alloh,kepada rahmat dan ridho-Nya, karena menyembah kepada Alloh haruslah dengan yang disyariatkan bukan dengan amalan yang di ada-adakan dan bid’ah.
Wahai hamba Alloh, apakah kalian menganggap bahwa sholawat dan salam yang dikarang oleh syaikh-syaikh itu lebih utama daripada yang diajarkan oleh rosulullah yang ma’sum itu?mungkin kalian sependapat dengan syaikh-syaikh itu. Jika tidak, mengapa kalian tidak bersholawat kepada nabi berdasarkan riwayat dalam kitab shahih dan sunan yang ada, bahkan tidak memahaminya? Apakah kalian lebih mengistimewakan syaikh kalian daripada nabi kalian (padahal, kalau musa masih hidup maka tidak ada pilihan untuk mengikutinya). Kata musa:”kalau saja turun seorang wali,lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan nabi,maka kalian tersesat”.
Wahai hamba Alloh, ketahuilah, jika kalian menghafal satu lafaz shalawat dari yang ada dalam kitab shahih atau kitab sunan, lalu kalian mengamalkannya sepanjang hidupmu,dan tidak lagi perlu terhadap karangan manusia, pasti Alloh akan memberi pahala yang besar dan hal ini adalah sesuatu yang pasti. Kalau kalian berpaling dari shalawat-shalawat ciptaan manusia, bahkan membakar kitab ad-dala’il dan semua kitab kumpulan sholawat lalu membuangnya ke laut,kalian tidak akan terkena hukuman sedikitpun. Apakah Alloh akan menghukum orang yang mengamalkan sunnah dan meninggalkan bid’ah? Demi Alloh,pasti tidak.[11]  

KESIMPULAN

Tradisi barzanji merupakan tradisi Melayu yang berlangsung hingga kini. Tradisi terus mengalami perkembangan dengan berbagai inovasi yang ada. Misalnya penggunaan alat musik modern untuk mengiringi lantunan barzanji dan shalawat. Barzanji menghubungkan praktik tradisi Islam masa kini dengan tradisi Islam di masa lalu. Selain itu, melalui barzanji masyarakat Melayu Islam dapat mengambil pelajaran dari kehidupan.
Adapun terdapat perbedaan pendapat itu pada intinya tentang cara bersholawat dan kecintaan terhadap nabi yang tergantung caranya dan sesungguhnya pada hakekatnya, ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yg diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yg dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yg mustahab (yg dicintai).

DAFTAR PUSTAKA

Asy-Syakiry,Muhammad Abdussalam Khadr.2006. Bid’ah-Bid’ah Yang Dianggap Sunnah. Jakarta: Qisthi Press
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Ediruslan Pe Amanriza dan Hasan Junus, 1993. Seni Pertunjukan Daerah Riau. Pekanbaru: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Riau.
Ipmaba.2009. Tentang Syair Al-Barzanji. [Online] http://ipmaba.wordpress.com [Diunduh pada 17 Februari 2011].
Muhamad Thohiron, 2007. Indahnya Syair-syair Al-Barzanji [Online] http://kubah-senapelan.blogspot.com [Diunduh pada 17 Februari 2011].
Raja Ali Haji, 1894. Syair Sinar Gemala Mestika Alam. [Online] http://www.rajaalihaji.com [Diunduh pada 17 Februari 2011].
Haji Muhammad Fuad Kamaluddin al Maliki. 2008. Al Bayan 8,Sekretariat Menangani Isu-isu Akidah Dan Syariah . Malaysia: Majlis Agama Islam Negeri Johor
Sang Petualang. 2010. Mengupas Tradisi Pembacaan Berjanji [online] http://www.Majelisrasulullah.org/


[1] Departemen Pendidikan Nasional,2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia
[2] Muhamad Thohiron, 2007. “Indahnya Syair-syair Al-Barzanji”http://kubah.senapelan blogspot.com
[3] Ediruslan Pe Amanriza dan Hasan Junus, 1993,hal :19
[4] Ipmaba, 2009. “Tentang Syair Al-Barzanji”. [Online] http://ipmaba.wordpress.com
[5] Ediruslan Pe Amanriza dan Hasan Junus, 1993,hal :22
[6] Ibid.hal.29
[7] www.RajaAliHaji.com
[8]Sang Petualang, Mengupas tradisi pembacaan berjanji.2010.(online)
[9] Haji Muhammad Fuad Kamaluddin al Maliki, 2008.
[10] Asy-syaqiry,muhammad abdussalam khadr,2006,hal.254
[11] Ibid,hal.268-269

Addarticle