02 Agustus 2015

Imam Abu Hanifah 80-150 H

Imam Abu Hanifah adalah Nu’man bin Tsabit, seorang alim yang memiliki kelebihan, pakar fikih dan, dan seorang peneliti.

Selama ini, mungkin kita hanya pernah mendengar namanya disebutkan dalam sebuah hadis . di sini kita akan mengetahui lebih dalam tentang sosok Imam Abu Hanifah.

Abu Hanfiah dilahirkan pada tahun 80 Hijriah. Dengan demikian beliau adalah imam pertama dari Imam Imam ahlu sunnah. Beliau bekecimpung dalam aktivitas menuntu ilmu sejak kecil. Beliau bisa membagi waktunya untuk menuntut ilmu dan bekerja mencari rezeki sekaligus.

Abu Hanifah bekerja sebagai penjual kain, dan barangkali inilah yang menyebabkan beliau dikemudian hari menjadi pakar dalam fiqih Muamala. Tidak lama setelah memiliki ilmu yang cukup mumpuni, beliau duduk mengajarkan ilmunya dan memberikan fatwa.

Sumber sumber yang membeberkan kehidupan Imam Abu Hanifah sepakat bahwa beliau adalah seorang alim yang mengamalkan ilmunya, bersikap zuhud terhadap dunia, ahli ibadah, wara’, bertakwa, khusyu’ dan senantiasa tunduk kepada Allah swt.
Imam Malik ketika ditanya mengenai Imam Abu Hanifah, ia mengatakan, “Ya, Aku telah melihat seorang laki-laki yang seandainya Anda meminta beliau untuk menjelaskan bahwa tiang kayu ini adalah emas, niscaya beliau dapat menegakkan alasan-alasannya bahwa tiang ini adalah emas”

Dikisahkan dari Imam Syafi’I bahwa beliau berkata,
“Semua orang ditanggung oleh lima orang. Siapa saja yang ingin mahir dalam bidang fiqih. Maka dia ditanggung oleh Abu Hanifah. Siapa saja yang ingin mahir dalam bidang syair, maka dia ditanggung oleh Zuhair bin Abi Salma. Siapa saja yang ingin mahir dalam bidang maghazi (sejarah perang) maka dia ditanggung oleh Muhammad bin Ishaq. Siapa saja yang ingin mahir dalam bidang nahwu (tata bahasa) maka dia tanggung oleh Al-Kisa’i. Siapa saja orang yang ingin mahir dalam bidang tafsir, maka dia ditanggung oleh Muqatil bin Sulaiman”

Yahya bin Ma’in menegaskan, ilmu qira’ah Al Quran menurut saya hanyalah yang diajarkan oleh Hamzah, sedangkan ilmu fiqih menurut saya hanyalah yang dibawakan oleh Abu Hanifah

Jika demikian, sikap memiliki ilmu yang deras telah diraih oleh Abu Hanifah. Namun, ilmu saja dianggap tidak cukup. Adapun ikatan Abu Hanifah dengan Rabbnya sudah sangat kuat. Oleh karena itu, dikisahkan bahwa beliau selama 40 tahun selalu melakukan shalat shubu dengan wudu salat Isya’ (artinya beliau tidak pernah tidur malam karena menyibukkan diri dengan ibadah).

Tatkala Abu Hanifah wafat, Hasan bin Umarah setelah memandikannya berkata “Semoga Allah swt merahmati dan mengampuni Anda. Anda dulu tidak pernah buka (tidak puasa) selama 30 tahun, dan Anda tidak pernah berbantalkan tangan kanan Anda di waktu malam selama 40 tahun. Anda telah melelahkan orang-orang sepeninggal Anda dan membuat malu para ahli qira’ah”

Fiqih Abu Hanifah

Jika hendak menyimpulkan dasar-dasar paling penting yang menjadi asas mazhab Abu Hanifah, kita mendapatkan bahwa beliau berpegangan pada Al Quran, sunnah Rasulullah saw, dan Ra’yi.

Abu Hanifah juga berpegangan pada kias, dan inilah yang menyebabkan orang-orang belum matang tingkat pemikiran mereka menganggap rusak pemikiran Abu Hanifah, sebagaimana mereka juga menganggap demikian karena belia berpegang pada istihsan dan ‘urf. Padahal, sikap itu menunjukkan bahwa laki laki yang mulia ini sangat luas cakrawalanya hingga mencapai derajat yang dituntut oleh Islam dari para ulama muslimin.

Islam adalah agama yang toleran, di dalamnya diperbolehkan menyesuaikan diri dengan keadaan yang di hadapi, menyesuaikan dengan logika, dan terbuka terhadap hal-hal yang baru muncul.

Setiap fatwa dan pendapat AbuHanifah tidak pernah mendahulukan sesuatu pun daripada Al Quran dan sunnah Rasulullah saw. Beliau membanta para seturunya dengan mengatakan, “Demi Allah, telah berdusta atas nama saya orang yang mengatakan bahwa saya mendahulukan kias daripada nash. Apakah dibutuhkan kias ketika ada nash?” beliau juga mengatakan, “Kami tidak memakai kias kecuali di saat sangat terpaksa saja. Ketika kami tidak mendapatkan dalil, barulah saat itu kami mengiaskan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya” beliau juga berkata pada kasus yang sama, “Pertama-tama, kami berpegang kepada Kitabullah lalu sunnah Rasulullah saw kemudian keputusan para sahabat-sahabat. Kami mengerjakan apa saja yang mereka sepakati, namun jika mereka berselisi pendapat, kami mengiaskan sebuah hukum pada hukum lainnya dengan adanya illat (alasan) yang sama antara dua masalah tersebut sehingga perkaranya menjadi jelas”

Para ulama sepeninggal Abu Hanifah terutama Imam Syafi’I telah memutuskan kias sama persis dengan metode yang dipakai Abu Hanifah. Mereka mengatakan, “Kias adalah menjelaskan hukum bagi suatu perkara yang tidak ada nashnya dengan suatu perkara lain yang ada nash hukumnya, baik dengan Kitabullah, sunnah Rasulullah saw maupuan dengan ijma (keputusan sahabat) karena kesamaan dua perkara tersebut dari segi illatnya”

Dasar mazhab Abu Hanifah senantiasa bertumpukan untuk memberikan kemudahan kepada umat islam, bukan mempersulit mereka, sebab agama islam memang berupa kemudahan. Islam senantias memudahkan umat islam dalam hal ibadah dan muamalah hingga mencapai tingkat yang  menarik perhatian.

Tatkala hukum syar’i menetapkan bahwa untuk menghilangkan najis boleh digunakan setiap benda cair yang suci, maka beliau memperbolehkan penghilangan dengan air mawar misalnya. Jika seorang tidak dapat memastikan arah kiblat ketika melakukan shalat di suatu malam gelap gulita, lalu dia menetapkan arah kiblat semampunya, kemudian melakukan salat, dan pada pagi harinya terbukti bahwa arah kiblatnya semalam keliru, maka salatnya tetaplah sah. Demikianlah kemudahan Islam.

Mengenai permasalahan zakat, Abu Hanifah berada di barisan kaum fakir miskin, dengan memfatwakan bahwa emas atau perak yang dipakai sebagai perhiasan wajib dikeluarkan zakatnya. Beliau memberi semangat untuk mengeluarkan zakat dengan tujuan memberikan kelonggaran hidup kepada kaum fakir, bahkan beliau memfatwakan bahwa zakat tidak wajib bagi orang yang menanggung utang, jika utang tersebut dapat menghabiskan seluruh hartanya.

Abu Hanifah menetapkan bahwa seorang perempuan dewasa yang berakal memiliki hak dalam menikah dengan orang yang dipilihnya. Jadi, tidak ada kekuasaan bagi siapa pun, baik bapak maupun saudara dalam masalah ini.

Beliau juga menetapkan adanya hak bagi perempuan tersebut untuk melangsungkan sendiri akad perkawinannya, sebagai mana beliau berpendapat bahwa saksi dan dua tokoh perempuan. Beliau juga berpendapat jika seorang bapak menikahkan putrinya yang telah dewasa secara paksa, tanpa persetujuan putrinya, maka pernikahan itu tidak sah.

Termasuk keunikan hukum yang ditetapkan oleh Abu Hanifah adalah beliau memang memiliki kecerdasan akal yang bersifat ekonomis dan istimewah. Fatwa beliau bahwa seorang pemimpin umat Islam berhak memberikan hak kepemilkan tanah yang nganggur kepada orang yang menggarapnya dan menjadikannya layak tanam, sebagaimana beliau memfatwakan bahwa menjadi buah sebelum masak juga dibolehkan, sebagaimana beliau juga memfatwakan bolehnya memfatwakan bolehnya mengembangkan harta anak yatim.

Jika demikian, kepribadian Abu Hanifah dan mazhabnya, bukanlah merupakan suatu hal yang aneh bahwa para penganut mazhab beliau membentuk suatu kumpulan terbesar dalam tubuh ahlu sunah dari kalangan umat islam.


Tersisa satu hal yang akan kami sebutkan, yaitu Abu Hanifah wafat pada tahun 150 hijriah, pada hari dilahirkannya Imam Syafi’i. seolah olah seorang tokoh Islam telah meninggalkan perannya agar tokoh Islam lainnya memainkan peran berikutnya. Akan tetapi, antara wafatnya imam besar ini dan kematangan ilmiahnya, telah muncul seorang imam besar lainnya yang sangat mulia kedudukannya, terhormat, dan berwibawa, yaitu Imam Malik bin Anas.

01 Agustus 2015

Imam Malik bin Anas

Imam Malik bin Anas termasuk salah satu Imam Madzhab, yaitu madzhab Maliki dengan kitabnya yang terkenal Al Muwatha'. berikut ini kami tampilkan Biografi Imam Malik bin Anas.

Pertumbuhan beliau
Nama: Mâlik bin Anas bin Mâlik bin Abi Amir bin Amru bin Al Harits bin ghailân bin Hasyat bin Amru bin Harits.
Kunyah beliau: Abu Adbillah
Nasab beliau:
Al Ashbuhi; adalah nisbah yang di tujukan kepada dzi ashbuh, dari Humair
Al Madani; nisbah kepada Madinah, negri tempat beliau tinggal.

Tanggal lahir:
Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H, bertepatan dengan tahun meninggalnya sahabat yang mulia Anas bin Malik. Ibunya mengandung dia selama tiga tahun.
Beliau adalah sosok yang tinggi besar, bermata biru, botak, berjenggot lebat, rambut dan jenggotnya putih, tidak memakai semir rambut, dan beliau menipiskan kumisnya. Beliau senang mengenakan pakaian bersih, tipis dan putih, sebagaimana beliaupun sering bergonta-ganti pakaian. Memakai serban, dan meletakkan bagian sorban yang berlebih di bawah dagunya.

Aktifitas beliau dalam menimba ilmu
Imam Malik tumbuh ditengah-tengah ilmu pengetahuan, hidup dilingkungan keluarga yang mencintai ilmu, dikota Darul Hijrah, sumber mata air As Sunah dan kota rujukan para alim ulama. Di usia yang masih sangat belia, beliau telah menghapal Al Qur`an, menghapal Sunah Rasulullah, menghadiri majlis para ulama dan berguru kepada salah seorang ulama besar pada masanya yaitu Abdurrahman Bin Hurmuz.
Kakek dan ayahnya adalah ulama hadits terpandang di Madinah. Maka semenjak kecil, Imam Malik tidak meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah dengan kehadiran ulama-ulama besar.
Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Disamping itu beliau pernah juga berguru kepada para ulama terkenal lainnya
Dalam usia yang terbilang muda, Imam Malik telah menguasai banyak disiplin ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya di salurkan untuk memperoleh ilmu.

Rihlah beliau
Meskipun Imam Malik memiliki kelebihan dalam hafalan dan kekuatan pengetahuannya, akan tetapi beliau tidak mengadakan rihlah ilmiah dalam rangka mencari hadits, karena beliau beranggapan cukup dengan ilmu yang ada di sekitar Hijaz. Meski beliau tidak pernah mengadakan perjalanan ilmiyyah, tetapi beliau telah menyangdang gelar seorang ulama, yang dapat memberikan fatwa dalam permasalahan ummat, dan beliau pun membentuk satu majlis di masjid Nabawi pada saat beliau menginjak dua puluh satu tahun, dan pada saat itu guru beliau Nafi’ hiudp. Semua itu agar dapat mentransfer pengetahuannya kepada kaum muslimin serta kaum muslimin dapat mengambil manfaat dari pelajaran yang di sampaikan sang imam

Guru-guru beliau
Imam Malik berjumpa dengan sekelompok kalangan tabi’in yang telah menimba ilmu dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan yang paling menonjol dari mereka adalah Nafi’ mantan budak Abdullah bin ‘Umar. Malik berkata; ‘Nafi’ telah menyebarkan ilmu yang banyak dari Ibnu ‘Umar, lebih banyak dari apa yang telah disebarkan oleh anak-anak Ibnu Umar,’
Guru-guru imam Malik, selain Nafi’, yang telah beliau riwayatkan haditsnya adalah;
Abu Az Zanad Abdullah bin Zakwan
Hisyam bin ‘Urwah bin Az Zubair
Yahya bin Sa’id Al Anshari
Abdullah bin Dinar
Zaid bin Aslam, mantan budak Umar
Muhammad bin Muslim bin Syihab AzZuhri
Abdullah bin Abi Bakr bin Hazm
Sa’id bin Abi Sa’id Al Maqburi
Sami mantan budak Abu Bakar

Murid-murid beliau
Banyak sekali para penuntut ilmu meriwayatkan hadits dari imam Malik ketika beliau masih muda belia. Disini kita kategorikan beberapa kelompok yang meriwayatkan hadits dari beliau, diantaranya;
Guru-guru beliau yang meriwayatkan dari imam Malik, diantaranya;
Muhammad bin Muslim bin Syihab Az Zahrani
Yahya bin SA’id Al Anshari
Paman beliau, Abu Sahl Nafi’ bin Malik
Dari kalangan teman sejawat beliau adalah;
Ma’mar bin Rasyid
Abdul Malik bin Juraij
Imam Abu Hanifah, An Nu’man bin Tsabit
Syu’bah bin al Hajaj
Sufyan bin Sa’id Ats Tsauri
Al Laits bin Sa’d
Orang-orang yang meriwayatkan dari imam Malik setelah mereka adalah;
Yahya Bin Sa’id Al Qaththan
Abdullah bin Al Mubarak
Abdurrahman bin Mahdi
Waki’ bin al Jarrah
Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i.
Sedangkan yang meriwayatkan Al Muwaththa` banyak sekali, diantaranya;
Abdullah bin Yusuf At Tunisi
Abdullah bin Maslamah Al Qa’nabi
Abdullah bin Wahb al Mishri
Yahya bin Yahya Al Laitsi
Abu Mush’ab Az Zuhri
Persaksian para ulama terhadap beliau
Imam malik menerangkan tentang dirinya; ‘aku tidak berfatwa sehingga tujuh puluh orang bersaksi bahwa diriku ahli dalam masalah tersebut.
Sufyan bin ‘Uyainah menuturkan; “Malik merupakan orang alim penduduk Hijaz, dan dia merupakan hujjah pada masanya.”
Muhammad bin idris asy syafi`i menuturkan: “Malik adalah pengajarku, dan darinya aku menimba ilmu.” Dan dia juga menuturkan; ” apabila ulama di sebutkan, maka Malik adalah bintang.”
Muhammad bin idris asy syafi`i menuturkan: “saya tidak mengetahui kitab ilmu yang lebih banyak benarnya dibanding kitab Imam Malik” dan imam Syafi’I berkata: “tidak ada diatas bumi ini kitab setelah kitabullah yang lebih sahih dari kitab Imam Malik”.
Abdurrahman bin Mahdi menuturkan; “aku tidak akan mengedepankan seseorang dalam masalah shahihnya sebuah hadits dari pada Malik.”
Al Auza’I apabila menyebut Imam Malik, dia berkata; ” ‘Alimul ‘ulama, dan mufti haramain.”
Yahya bin Sa’id al Qaththan menuturkan; “Malik merupakan imam yang patut untuk di contoh.”
Yahya bin Ma’in menuturkan; ” malik merupakan hujjah Allah terhadap makhluk-Nya.”

Hasil karya beliau
Muwaththa` merupakan hasil karya imam Malik yang paling spektakuler, dan disana masih ada beberapa karya beliau yang tersebar, diantaranya;
Risalah fi al qadar
Risalah fi an nujum wa manazili al qamar
Risalah fi al aqdliyyah
Risalah ila abi Ghassan Muhammad bin Mutharrif
Risalah ila al Laits bin Sa’d fi ijma’i ahli al madinah
Juz`un fi at tafsir
Kitabu as sirr
Risalatu ila Ar Rasyid.
Wafatnya beliau

Beliau meninggal dunia pada malam hari tanggal 14 safar 179 H pada usia yang ke 85 tahun dan dimakamkan di Baqî` Madinah munawwarah

31 Juli 2015

Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang ahli fikih sekaligus pakar hadits di zamannya. Perjuangan besarnya yang selalu dikenang sepanjang masa adalah perjuangan membela akidah yang benar. Kunyahnya Abu Abdillah, lengkapnya: Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi/ Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dikenal juga sebagai Imam Hambali.

Masa kecil
Imam Ahmad lahir pada tahun 164 H/780 M di ibu kota kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, Irak. Saat itu, Baghdad menjadi pusat peradaban dunia dimana para ahli dalam bidangnya masing-masing berkumpul untuk belajar ataupun mengajarkan ilmu. Dengan lingkungan keluarga yang memiliki tradisi menjadi orang besar, lalu tinggal di lingkungan pusat peradaban dunia, tentu saja menjadikan Imam Ahmad memiliki lingkungan yang sangat kondusif dan kesempatan yang besar untuk menjadi seorang yang besar pula.
Saat berumur 10 tahun Imam Ahmad telah mampu menghafalkan Alquran secara sempurna. Setelah itu ia baru memulai mempelajari hadits. Sama halnya seperti Imam Syafii, Imam Ahmad pun berasal dari keluarga yang kurang mampu dan ayahnya wafat saat Ahmad masih belia, sehingga  beliau tumbuh dewasa sebagai seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul Malik asy-Syaibaniy, berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau.
Di usia remajanya, Imam Ahmad bekerja sebagai tukang pos untuk membantu perekonomian keluarga. Hal itu ia lakukan sambil membagi waktunya mempelajari ilmu dari tokoh-tokoh ulama hadits di Baghdad.

Masa muda
Abu Yusuf al-Qadhi yang merupakan murid senior dari Imam Abu Hanifah adalah guru pertama Ahmad bin Hanbal saat beliau muda. Dari Abu Yusuf al-Qadhi,  Beliau belajar dasar-dasar ilmu fikih, kaidah-kaidah ijtihad, dan metodologi kias dari Abu Yusuf. Setelah memahami prinsip-prinsip Madzhab Hanafi, Imam Ahmad mempelajari hadits dari seorang ahli hadits Baghdad, Haitsam bin Bishr.
Tidak cukup menimba ilmu dari ulama-ulama Baghdad, Imam Ahmad juga menempuh safar dalam mempelajari ilmu. Ia juga pergi mengunjungi kota-kota ilmu lainnya seperti Mekah, Madinah, Suriah, dan Yaman. Dalam perjalanan tersebut ia bertemu denganImam Syafi'i di Mekah, lalu ia manfaatkan kesempatan berharga tersebut untuk menimba ilmu dari beliau selama empat tahun. Imam Syafi'i mengajarkan pemuda Baghdad ini tidak hanya sekedar mengahfal hadits dan ilmu fikih, akan tetapi memahami hal-hal yang lebih mendalam dari hadits dan fikih tersebut.
Walaupun sangat menghormati dan menuntut ilmu kepada ulama-ulama Madzhab Hanafi dan Imam Syafi'i, namun Imam Ahmad memiliki arah pemikiran fikih tersendiri. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang tidak fanatik dan membuka diri.

Menjadi Seorang Ulama
Setelah belajar dengan Imam Syafi'i, Imam Ahmad mampu secara mandiri merumuskan pendapat sendiri dalam fikih. Imam Ahmad menjadi seorang ahli hadits sekaligus ahli fikih yang banyak dikunjungi oleh murid-murid dari berebagai penjuru negeri Islam. Terutama setelah Imam Syafii wafat di tahun 820, Imam Ahmad seolah-olah menjadi satu-satunya sumber rujukan utama bagi para penuntut ilmu yang senior maupun junior.
Dengan ketenarannya, Imam Ahmad tetap hidup sederhana dan menolak untuk masuk dalam kehidupan yang mewah. Beliau tetap rendah hati, menghindari hadiah-hadia terutama dari para tokoh politik. Beliau khawatir dengan menerima hadiah-hadiah tersebut menghalanginya untuk bebas dalam berpendapat dan berdakwah.
Abu Dawud mengatakan, “Majelis Imam Ahmad adalah majelis akhirat. Tidak pernah sedikit pun disebutkan perkara dunia di dalamnya. Dan aku sama sekali tidak pernah melihat Ahmad bin Hanbal menyebut perkara dunia.”

Masa-masa Penuh Cobaan
Pada tahun 813-833, dunia Islam dipimpin oleh Khalifah al-Makmun, seorang khalifah yang terpengaruh pemikiran Mu’tazilah. Filsafat Mu’tazilah memperjuangkan peran rasionalisme dalam semua aspek kehidupan, termasuk teologi. Dengan demikian, umat Islam tidak boleh hanya mengandalkan Alquran dan sunnah untuk memahami Allah, mereka diharuskan mengandalkan cara filosofis yang pertama kali dikembangkan oleh orang Yunani Kuno. Di antara pokok keyakinan Mu’tazilah ini adalah bahwa meyakini bahwa Alquran adalah sebuah buku dibuat, artinya Alquran itu adalah makhluk bukan kalamullah.
Al-Makmun percaya pada garis utama pemikiran Mu’tazilah ini, dan ia berusaha memaksakan keyakinan baru dan berbahaya tersebut kepada semua orang di kerajaannya –termasuk para ulama. Banyak ulama berpura-pura untuk menerima ide-ide Mu’tazilah demi menghindari penganiayaan, berbeda halnya dengan Imam Ahmad, beliau dengan tegas menolak untuk berkompromi dengan keyakinan sesat tersebut.
Al-Makmun melembagakan sebuah inkuisisi (lembaga penyiksaan) dikenal sebagai Mihna. Setiap ulama yang menolak untuk menerima ide-ide Muktazilah dianiaya dan dihukum dengan keras. Imam Ahmad, sebagai ulama paling terkenal di Baghdad, dibawa ke hadapan al-Makmun dan diperintahkan untuk meninggalkan keyakinan Islam fundamentalnya mengenai teologi. Ketika ia menolak, ia disiksa dan dipenjarakan. Penyiksaan yang dilakukan pihak pemerintah saat itu sangatlah parah. Orang-orang yang menyaksikan penyiksaan berkomentar bahwa bahkan gajah pun tidak akan bisa bertahan jika disiksa sebagaimana Imam Ahmad disiksa. Diriwayatkan karena keras siksaannya, beberapa kali mengalami pingsan.
Meskipun demikian, Imam Ahmad tetap memegang teguh keyakinannya, memperjuangkan akidah yang benar, yang demikian benar-benar menginspirasi umat Islam lainnya di seluruh wilayah Daulah Abbasiah. Apa yang dilakukan Imam Ahmad menunjukkan bahwa umat Islam tidak akan mengorbankan akidah mereka demi menyenangkan otoritas politik yang berkuasa. Pada akhirnya, Imam Ahmad hidup lebih lama dari al-Makmun dan Khalifah al-Mutawakkil  mengakhiri Mihna pada tahun 847 M. Imam Ahmad dibebaskan, beliau pun kembali diperkenankan mengajar dan berceramah di Kota Baghdad. Saat itulah kitab Musnad Ahmad bin Hanbal yang terkenal itu ditulis.

Wafatnya Imam Ahmad
Imam Ahmad bin Hambal mulai sakit pada malam Rabu, dua hari dari bulan Rabi'ul Awwal tahun 241 Hijriyyah, ia sakit selama sembilan hari. Tatkala penyakitnya mulai parah dan warga sekitar mulai mengetahuinya, maka mereka menjenguknya siang dan malam.
Penyakitnya kian hari kian parah, pada hari Kamis dan sebelum wafat ia memberikan isyarat pada keluarganya agar ia diwudhukan, kemudian mereka pun mewudhukannya. Ketika berwudhu, Imam Ahmad sambil berzikir dan memberikan isyarat kepada mereka agar menyela-nyela jarinya. Beliau menghembuskan napas terakhirnya di pagi hari Jum’at bertepatan dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal 241 H (855 M) pada umur 77 tahun di kota Baghdad. Ia dimakamkan di pemakaman al-Harb, jenazah beliau dihadiri delapan ratus ribu pelayat lelaki dan enam puluh ribu pelayat perempuan.
Imam Ahmad wafat di Baghdad pada tahun 855 M. Banan bin Ahmad al-Qashbani yang menghadiri pemakaman Imam Ahmad bercerita, “Jumlah laki-laki yang mengantarkan jenazah Imam Ahmad berjumlah 800.000 orang dan 60.000 orang wanita .”
Warisan Imam Ahmad yang tidak hanya terbatas pada permasalahan fikih yang ia hasilkan, atau hanya sejumlah hadits yang telah ia susun, namun beliau juga memiliki peran penting dalam melestarikan kesucian keyakinan Islam dalam menghadapi penganiayaan politik yang sangat intens. Kiranya inilah yang membedakan Imam Ahmad dari ketiga imam lainnya.
Selain itu, meskipun secara historis Madzhab Hanbali adalah madzhab termuda dalam empat madzhab yang ada, banyak ulama besar sepanjang sejarah Islam yang sangat terpengaruh oleh Imam Ahmad dan pemikirannya, seperti: Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim, Ibnu Katsir, dan Muhammad bin Abd al-Wahhab.
Tidak sedikit perbedaan pendapat terjadi antara Imam Ahmad dengan Imam Syafi’i. Namun keduanya mengajarkan kita semua akan akhlak yang mulia. Di antaranya, Imam Ahmad selalu mendokan Imam Syafi’I hingga 40 tahun lamanya

Berkata Ahmad bin Al Laits: “Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata: “Aku akan benar-benar mendo’akan Syafi’i dalam shalatku selama 40 tahun, aku berdoa: ”Ya Allah, ampunilah diriku dan orang tuaku, dan Muhammad bin Idris Asyafi’i.” (Manaqib As Syafi’i lil Baihaqi, hal. 254, vol. 2).

30 Juli 2015

Imam Syafi`i

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i”.
NASAB BELIAU
Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syaafi’ bin As-Saai’b bin ‘Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al- Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pada Abdu Manaf, sedangkan Al-Muththalib adalah saudaranya Hasyim (bapaknya Abdul Muththalib).
TAHUN DAN TEMPAT KELAHIRAN
Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah.
PERTUMBUHANNYA
Beliau tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset.
Setelah itu beliau mempelajari tata bahasa arab dan sya’ir sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut. Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan Imam atas orang-orang
KECERDASANNYA
Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hambanya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:
1. Kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.
2. Cepatnya menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun.
3. Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy-Syafi`i.
4. Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun.
Muslim bin Khalid Az-Zanji berkata kepada Imam Asy-Syafi`i: “Berfatwalah wahai Abu Abdillah, sungguh demi Allah sekarang engkau telah berhak untuk berfatwa.”
MENUNTUT ILMU
Beliau mengatakan tentang menuntut ilmu, “Menuntut ilmu lebih afdhal dari shalat sunnah.” Dan yang beliau dahulukan dalam belajar setelah hafal Al-Qur’an adalah membaca hadits. Beliau mengatakan, “Membaca hadits lebih baik dari pada shalat sunnah.” Karena itu, setelah hafal Al-Qur’an beliau belajar kitab hadits karya Imam Malik bin Anas kepada pengarangnya langsung pada usia yang masih belia.

GURU-GURU BELIAU
Beliau mengawali mengambil ilmu dari ulama-ulama yang berada di negerinya, di antara mereka adalah:
1. Muslim bin Khalid Az-Zanji mufti Makkah
2. Muhammad bin Syafi’ paman beliau sendiri
3. Abbas kakeknya Imam Asy-Syafi`i
4. Sufyan bin Uyainah
5. Fudhail bin Iyadl, serta beberapa ulama yang lain.
Demikian juga beliau mengambil ilmu dari ulama-ulama Madinah di antara mereka adalah:
1. Malik bin Anas
2. Ibrahim bin Abu Yahya Al Aslamy Al Madany
3.Abdul Aziz Ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far dan Ibrahim bin Sa’ad serta para ulama yang berada pada tingkatannya
Beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama negeri Yaman di antaranya;
1.Mutharrif bin Mazin
2.Hisyam bin Yusuf Al Qadhi, dan sejumlah ulama lainnya.
Dan di Baghdad beliau mengambil ilmu dari:
1.Muhammad bin Al Hasan, ulamanya bangsa Irak, beliau bermulazamah bersama ulama tersebut, dan mengambil darinya ilmu yang banyak.
2.Ismail bin Ulayah.
3.Abdulwahab Ats-Tsaqafy, serta yang lainnya.
MURID-MURID BELIAU
Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah:
1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.
2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani
3. Ishaq bin Rahawaih,
4. Harmalah bin Yahya
5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi
6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.
KARYA BELIAU
Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ul Ilmi.

PUJIAN ULAMA PARA ULAMA KEPADA BELIAU
Benarlah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,
“Barangsiapa yang mencari ridha Allah meski dengan dibenci manusia, maka Allah akan ridha dan akhirnya manusia juga akan ridha kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 2419 dan dishashihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ 6097).
Begitulah keadaan para Imam Ahlus Sunnah, mereka menapaki kehidupan ini dengan menempatkan ridha Allah di hadapan mata mereka, meski harus dibenci oleh manusia. Namun keridhaan Allah akan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak. Imam Asy-Syafi`i yang berjalan dengan lurus di jalan-Nya, menuai pujian dan sanjungan dari orang-orang yang utama. Karena keutamaan hanyalah diketahui oleh orang-orang yang punya keutamaan pula.
Qutaibah bin Sa`id berkata: “Asy-Syafi`i adalah seorang Imam.” Beliau juga berkata, “Imam Ats-Tsauri wafat maka hilanglah wara’, Imam Asy-Syafi`i wafat maka matilah Sunnah dan apa bila Imam Ahmad bin Hambal wafat maka nampaklah kebid`ahan.”
Imam Asy-Syafi`i berkata, “Aku di Baghdad dijuluki sebagai Nashirus Sunnah (pembela Sunnah Rasulullah).”
Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Asy-Syafi`i adalah manusia yang paling fasih di zamannya.”
Ishaq bin Rahawaih berkata, “Tidak ada seorangpun yang berbicara dengan pendapatnya -kemudian beliau menyebutkan Ats-Tsauri, Al-Auzai, Malik, dan Abu Hanifah,- melainkan Imam Asy-Syafi`i adalah yang paling besar ittiba`nya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, dan paling sedikit kesalahannya.”
Abu Daud As-Sijistani berkata, “Aku tidak mengetahui pada Asy-Syafi`i satu ucapanpun yang salah.”
Ibrahim bin Abdul Thalib Al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As-Sarkhasi tentang Asy-Syafi`i, Ahmad, Abu Ubaid, dan Ibnu Ruhawaih. Maka ia berkata, “Asy-Syafi`i adalah yang paling faqih di antara mereka.”
PRINSIP AQIDAH BELIAU
Imam Asy-Syafi`i termasuk Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau jauh dari pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang menyimpang dalam aqidah, khususnya dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan Asma dan Shifat Allah subahanahu wa Ta’ala.
Beliau tidak meyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk, juga tidak menyepadankan, tidak menghilangkannya dan juga tidak mentakwilnya. Tapi beliau mengatakan dalam masalah ini, bahwa Allah memiliki nama dan sifat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya. Tidak boleh bagi seorang pun untuk menolaknya, karena Al-Qur’an telah turun dengannya (nama dan sifat Allah) dan juga telah ada riwayat yang shahih tentang hal itu. Jika ada yang menyelisihi demikian setelah tegaknya hujjah padanya maka dia kafir. Adapun jika belum tegak hujjah, maka dia dimaafkan dengan bodohnya. Karena ilmu tentang Asma dan Sifat Allah tidak dapat digapai dengan akal, teori dan pikiran. “Kami menetapkan sifat-sifat Allah dan kami meniadakan penyerupaan darinya sebagaimana Allah meniadakan dari diri-Nya. Allah berfirman,
“Tidak ada yang menyerupaiNya sesuatu pun, dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dalam masalah Al-Qur’an, beliau Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah kalamulah, barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.”
PRINSIP DALAM FIQIH
Beliau berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”
Beliau berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi shalallahu a’laihi wassalam maka itu adalah pendapatku meski kalian tidak mendengarnya dariku.”
Beliau mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”
SIKAP IMAM ASY-SYAFI`I TERHADAP AHLUL BID’AH
Muhammad bin Daud berkata, “Pada masa Imam Asy-Syafi`i, tidak pernah terdengar sedikitpun beliau bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidak dikenal darinya, bahkan beliau benci kepada Ahlil Kalam dan Ahlil Bid’ah.”
Beliau bicara tentang Ahlil Bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin ‘Ulayyah sesat.”
Imam Asy-Syafi`i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahlil kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, “Ini balasan orang yang meninggalkan kitab dan sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam.”
PESAN IMAM ASY-SYAFI`I
“Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”

WAFAT BELIAU
Beliau wafat pada hari Kamis di awal bulan Sya’ban tahun 204 H dan umur beliau sekita 54 tahun (Siyar 10/76). Meski Allah memberi masa hidup beliau di dunia 54 tahun, menurut anggapan manusia, umur yang demikian termasuk masih muda. Walau demikian, keberkahan dan manfaatnya dirasakan kaum muslimin di seantero belahan dunia, hingga para ulama mengatakan, “Imam Asy-Syafi`i diberi umur pendek, namun Allah menggabungkan kecerdasannya dengan umurnya yang pendek.”

KATA-KATA HIKMAH IMAM ASY-SYAFI`I
“Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (omongan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”.


29 Juli 2015

Ir KH. Salahuddin Wahid

Ir KH Salahuddin Wahid Tokoh HAM dan NU, politisi
Salahuddin Wahid lahir pada 11 September 1942, di Jombang, Jawa Timur, Indonesia. Putra dari  KH Wahid Hasyim.
Tahun 1969-1977, Setelah lulus ITB, Ir KH Salahuddin Wahid bekerja di perusahaan kontraktor, menjadi Dirut.
Tahun 1997, Ir KH Salahuddin Wahid kemudian jadi Dirut sebuah konsultan teknik.
Tahun 1998-1999, menjadi Associate Director sebuah perusahaan konsultan property internasional serta sebagai anggota MPR
Kiprahnya di dunia politik sebenarnya belum begitu lama. Hampir 30 tahun arsitek lulusan ITB ini sibuk menggeluti dunia bisnis, menjadi direktur utama sebuah konsultan teknik dan pimpinan organisasi kearsitekan di Jakarta, sebelum terjun ke politik dan menjadi aktivis hak-hak asasi manusia di era Reformasi akhir decade 1990-an.
Tetapi nama Ir KH Salahuddin Wahid alias Gus Solah  tentu bukan nama yang asing di telinga warga negeri ini. Sebagai tokoh NU sekaligus duriat (keturunan) pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, adik KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini pernah menjadi Wakil Ketua Komnas HAM, anggota MPR-RI, dan juga menjadi Calon Wapres mendampingi Capres Jenderal (Purn) Wiranto sebagai jago Partai Golkar dalam Pemilu Presiden 2004. Meskipun dalam pemilu tersebut pasangan itu gagal, us Solah tetaplah seorang tokoh yang dihormati masyarakat karena integritasnya.
Berbagai pengalaman organisasinya antara lain Kepanduan Ansor, anggota pengurus Senat Mahasiswa ITB, anggota Ikatan Arsitek Indonesia dan Ketua DPD Inkindo (Ikatan Konsultan Indonesia) DKI Jakarta. Kini Gus Solah memegang tampuk kepemimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, menggantikan pamannya KH Yusuf Hasyim yang uzur (dan kemudian wafat pada 14 Januari 2007). Gus Solah kegiatannya sekarang lebih banyak di Tebuireng. “Yaah, momong cucu sama ngopeni santri. Menikmati hidup-lah,” kata Gus Solah. Tetapi bukan berarti Gus Solah sudah tidak bergiat di luar pondok. Ia masih diundang dalam berbagai acara termasuk memberikan ceramah- ceramah, dan juga menulis di media massa.
30 Oktober 2006, Gus Solah merasa perlu mengirimkan opininya ke Jawa Pos menyangkut keputusan Pengurus Wilayah NU Jawa Timur soal penentuan 1 Syawal (Idul Fitri) yang berbeda dengan keputusan Pengurus Besar NU di Jakarta. Saat itu PW NU Jatim memutuskan Idul Fitri jatuh pada Senin karena telah ada yang melihat bulan pada Minggu, 22 Oktober 2006, sedang PB NU menetapkan Selasa, 24 Oktober 2006.
Meskipun Gus Solah mengatakan bahwa dari segi organisasi, sulit dipahami PW NU Jatim tidak mau mematuhi kebijakan PB NU, ia terkesan tidak terlalu menyalahkan dengan mengatakan perbedaan seperti itu mungkin belum diatur oleh AD/ART atau tata keija NU. “Kalau belum diatur, harus segera dibuat aturan untuk mencegah terulangnya kejadian itu,” katanya.
Gus Solah juga menyarankan, untuk mengantisipasi dan bahkan mencegah terjadinya perbedaan hari dan tanggal Idul Fitri berdasarkan rukyah, perlu diadakan pembahasan lebih teliti dan intensif di antara pihak-pihak yang berbeda hasil perhitungannya. “Meminjam pendapat Rektor ITS Muhammad Nuh, para ahli astronomi dan ahli falak perlu melakukan serangkaian diskusi dan pengamatan yang dilakukan setiap awal bulan Hijriyah sampai Ramadan 2007,” tulis Gus Solah pula.
Perhatian Gus Solah terhadap persoalan NU memang sangat besar, la selalu mengikuti secara seksama setiap perkembangan organisasi ini, termasuk ketika partai-partai politik melakukan pendekatan lebih intensi!” pada NU menjelang pemilu, la mengatakan tidak merasa heran massa NU selalu diperebutkan. Termasuk oleh PKMU yang dididrikan oleh Drs H, Choirul Anam dan sejumlah kiai NU, setelah kelompoknya kalah di Mahkamah Agung menghadapi kelompok Drs H.A. Muhaimin Iskandar, dkk menyangkut keabsahan kepemimpinan DPP PKB,
Menurut Salahuddin Wahib, rebutan massa NU adalah sebuah realitas yang tidak bisa dibantah. Mendirikan partai adalah hak setiap orang. Seberapa besar mendapat dukungan itu yang perlu dibuktikan. “Masing-masing mengklaim didukung rakyat. Tetapi rakyat yang mana? Kan harus diuji,” katanya.
Ditanya tentang konflik PKB, Gus Solah menegaskan secara hukum sedah jelas yang diakui MA dan sah secara hukum adalah DPP PKB-nya Gus Dur dan Muhaimin. Soal Cak Anam (Choirul Anam) dan Pak Alwi (Shihab) yang didukung Kiai Faqih menganggap cacat hukum dan menggugat, itu adalah hak mereka. “Itu harus dihargai. Tetapi masalah hukum sebenarnya sudah selesai,” kata Gus Solah.
la juga menyebutkan, setelah berdirinya PKNU ada yang dinilai lucu dalam konflik PKB. “Dulu ada dua PKB, Iha sekarang ada PLB dan PKNU. Cak Anam masih mengklaim sebagai Ketua PKB tetapi juga mengklaim Ketua PKNU. Masak satu orang jadi dua partai. Ini aneh,” katanya pula.
Membela Wiranto
Dalam kiprahnya di dunia politik, KH Salahuddin Wahid banyak menjadi berita ketika ia dicalonkan sebagai Cawapres berpasangan dengan Jenderal (Purn) Wiranto dari Partai Golkar dalam Pemilu Presiden 2004.
Dalam posisinya sebagai Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Gus Solah saat itu membela Wiranto, yang masih direpoti oleh tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur, la menegaskan, Tim Penyelidik Khusus Kasus Timtim yang dibentuk Komnas HAM hanya memanggil Wiranto sebagai saksi.
Menurutnya, tim tersebut tidak menemukan indikasi pelanggaran HAM yang dilakukan perwira militer Indonesia di Timtim. Ia menegaskan soal ketidak hadiran para petinggi TNI dalam klarifikasi tim khusus Komnas HAM, adalah karena menganggap keberadaan tim itu tidak berdasarkan hukum. “Saya kira itu hanya perbedaan persepsi terhadap Pasal 43 UU No 26/2002 saja Yang jelas, Komnas HAM telah menyelenggarakan tugasnya dengan melaporkan temuan kepada Kejaksaan Agung dan DPR pada Oktober 2003,” jelasnya
Meski begitu, sebagaimana dikutip Indopos 11 Mei 2004, Ketua Tim A d Hoc Penyelidikan Peristiwa Kerusuhan 13-15 Mei 1998 ini mengaku akan mempertimbangkan kembali pencalonannya bila dalam waktu empat bulan tekanan dunia internasional terhadap pengusutan dugaan pelanggaran HAM di Timtim menguat dan proses hukum yang adil memutus Wiranto bersalah. “Namun, saya kira semua itu tidak bisa dilakukan dalam waktu secepat itu,” katanya kalem.
Menurut Gus Solah, dirinya maju mendampingi Wiranto ke arena pilpres adalah tugas dari PKB dan sejumlah kiai khos yang tidak bisa ditolak. Gus Solah menegaskan sendiri persetujuan itu sedah diketahui Gus Dur. “Saya mendegnar sendiri persetujuan dari Gus Dur. Bahkan, saya yang diminta menjadi pelapis kalau pencalonan Gus Dur ditolak KPU,” ungkapnya.
Gus Solah juga menegaskan tidak akan pernah menjadi Wapres seremonial seperti citra Wapres sebelumnya. Diungkapkan, sejak DPP Partai Golkar meminangnya, dia telah mengajukan syarat kepada Wiranto, yaitu diberi tugas khusus dalam penegakan hukum dan IIAM serta pemberantasan korupsi. “Artinya, saya juga akan dilibatkan secara aktif dalam pemilihan Kapolri dan jaksa agung.” Tegasnya.
Selasa 11 Mei 2004, dalam pidato saat deklarasi di Gedung Bidakara, Jakarta, Salahuddin Wahid menegaskan komitmennya untuk memberantas korupsi. Menurutnya, upaya pemberantasan korupsi yang serius harus mulai dilakukan sekarang dan diawali dari pemerintahan tertinggi, yaitu presiden dan wakil presiden (wapres).
Ia mengajak semua elemen bangsa untuk mengikis rasa dendam. “Bangsa ini telah belajar banyak dari masa lalu. Darah telah tumpah, air mata tercurah, kekuasaan yang sesungguhnya adalah amanah menjadi alat pemecah belah. Mari kita hentikan itii semua. Kita perfu mclihar masa iaiu dengan lebih baik. Dendam harus dikikis menjadi maaf dengan mengungkap kebenaran dan member keadilan, ujarnya.

Wiranto sendiri saat itu mengakui manfaat Gus Solah sebagai pasangannya. Mantan Menhankam dan Panglima ABRI itu menyatakan, bergabungnya Gus Solah menjadi salah satu bukti bahwa dirinya selama ini termasuk sosok yang bersih. “Saya sudah sering bertemu Gus Solah. Sebelum memutuskan bergabung, tentu Gus Solah sudah melakukan pendalaman-pendalaman. Karena Gus Solah bersih, tentu tidak mau dengan barang kotor. Apalagi beliau juga Wakil Ketua Komnas HAM. Jadi, saya ini bersih,” kata Wiranto.

Addarticle