My Beloved Wife

Thanks God

My Activity

Thanks God

She and I

Togetherness

Sesuatu Yang Baru

Banyak Hal Baru yang kudapatkan bersamanya

Sidang Thesis Pasca Sarjana Universitas Hasyim Asy'ari

The other side

Tak ada batas ruang dan waktu untuk mengerti arti kehidupan

ThanksGod

My Wife

The other side

Keluarga Kecil Semoga sampai Akhir Hayat

ThanksGod

With My Wife

:-) Hidup sederhana membentuk Kebahagiaan

Bagi sebagian orang jalanan adalah sekolah untuk menjadi Dewasa

:-) The other side

10 April 2015

Biografi KH Adlan Aly Karomah Sang Wali


Judul Buku : Biografi KH Adlan Aly Karomah Sang Wali

Penulis : Anang Firdaus
Penerbit : Pustaka Tebuireng
Cetakan : Pertama, 2014

Tebal : 258 halaman
Peresensi : Muhammad Septian Pribadi, mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asyari semester V. Aktif di Tebuireng Media Group dan Penerbitan Majalah Tebuireng


Suatu ketika Kiai Adlan menaiki mobil Corola merah bersama Ma’mun putra Pak Tohir. Selesai acara Kiai Adlan Aly pulang pukul satu malam. Sesampainya di Mantingan, bensinya habis. Di daerah tersebut jam sembilan malam pom sudah tutup begitu pula para pengecer sudah menutup warungya. Sang supir pun lapor, “Mbah Yai, bensinya habis. Lalu beli di mana? Kalau sudah jam sekian, tidak ada penjual bensin yang buka, Yai…” mendengar itu, Kiai Adlan Aly pun keluar mobil dan berjalan kaki. Di pinggir jalan, beliau menjumpai seorang penjual degan, kelapa muda. Lalu beliau membeli dua. Yang satu diberikan kepada supir dan menyuruhnya meminum degan tersebut. Dan satu buah disuruh diletakkan di dekat mesin mobil. Setelah itu Kiai Adlan berkata “Ya sudah, ayo naik..” Tak disangka tiba-tiba bensinya jadi full. Subhanallah (hal. 161)

KH. Adlan Aly ulama pendiri tarekat Cukir Jombang ini, merupakan Kiai amat disegani.Selain ahli Fiqih dan hafal al-Qur’an, juga ahli dalam bidang otomotif dan perdagangan.Salah satu murid kesayangan Hadratussyaikh KH.M. Hasyim Asy’ari ini, dianggap unik, yakni mengamalkan tarekat. Padahal gurunya sangat menentang tarekat. Lantas, apa yang membuatnya memberanikan diri mendirikan tarekat di Cukir?
Buku bertajuk, “Biografi KH. Adlan Aly Karomah Sang Wali ini mengajak kita untuk menelusuri jejak hidup pendiri Tarekat Cukir. Dari mulai awal mengembara, menyantri di Pesantren Tebuireng dan tokoh tarekat. Menurut penulis, Anang Firdaus, KH. Muhammad Adlan Aly dilahirkan di Gresik pada tahun 1900 M dan wafat pada tanggal 6 Oktober 1990 M yang bertepatan pada tanggal 17 Rabiul Awwal 1441 H.
Beliau terlahir di tengah keluarga Pesantren Maskumambang, sebuah pesantren besaryang di dirikan oleh kakek beliau, KH. Abdul Djabbar pada tahun 1859. Kakek beliau adalah seroang ulama yang sangat berpengaruh dan disegani di Gresik dan sekitarnya. Beliaulah yang membuka desa Maskumambang, yang sebelumnya berupa hutan menjadi tempat dakwah dan penyebaran ilmu agama.
Organisasi Kaum Sufi
Tarekat merupakan tahapan-tahapan dalam menggapai kesempurnaan. Diawali dengan tahapan memahami syaria’at, kemudian menapaki tarekat dan tujuan akhirnya mencapai hakikat. Dalam perkembangannya perkumpulan tarekat atau yang disebut organisasi kaum sufi ini melegalisasikan kegiatan tasawuf.
Menurut sejarah Islam di Indonesia, tarekat memiliki peranan amat penting dalam membumikan islam di tanah  nusantara. Hal ini juga di dukung oleh pendapat Martin Van Bruinessen, seorang pakar kajian Islam dari Belanda, menuturkan, bahwa tarekat memainkan peranan yang sangat penting pada saat proses Islamisasi berlangsung di Indonesia. (hal. 92)
Di Indonesia sendiri tarekat bukanlah hal yang baru. Bukti nyata telah ditemukan naskah-naskah tasawuf yang ditemukan di tanah Jawa dan Sumatra. Lalu pada tulisan jawa belakangan ini yang ditemukan menunjukkan ajaran tasawuf yang lebih kental. Kemudian tarekat mulai memperoleh pengikutnya, pertama dari lingkungan kerajaan kemudian menyebar ke kalangan masyarakat luas.
Perkembangan tarekat sendiri tidak diperoleh secara instan dan cepat melainkan dilakukan dengan perjalanan setahap demi setahap. Dimulai dari para dinasti raja mengunjungi tanah Arab dan berbai’at menjadi pengikut sejumlah tarekat. Kemudian berkembang dan terus berkembang menjadi kumpulan yang besar. Seperti tarekat Syadziliyah, Kubrawiyah, Naqsabandiyah, dan Syattariyah.
Pertentangan Tarekat
KH. Adlan Aly merupakan salah satu pimpinan Tarekat. Awalnya beliau adalah pengikut tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah yang berpusat di Pesantren Rejoso Jombang. Tarekat yang bersanad pada guru besar kaum Sufi, Ahmad Khatib al-Sambasi ini kemudian mengalami perpecahan menjadi dua kubu sebab permasalahan pilihan politik oleh KH. Musta’in Romli. Satu pihak tetap bertahan dengan KH. Musta’in Romli dan satunya lagi mengangkat KH. Adlan Aly sebagai mursyid baru dengan nama Jam’iyah Ahl al-Thoriqoh al-Mu’tabaroh Al-Nahdliyah Cukir.
KH. Hasyim Asy’ari sangat menentang tarekat. Beliau pernah berdebat dengan Kiai Khalil yang merupakan pewaris pertama tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah di Jombang. Kiai Hasyim, menuduh Kiai Khalil mendakwahkan kewalian dirinya. Dan hal semacam itu sudah menyalahi konsep tarekat dan ketasawufan (hal.95)
lantas apa yang membuat Kiai Delan memberanikan diri mengikuti tarekat? Tidak cuman sampai disitu, Beliau juga malah menjadi pimpinan tarekat itu sendiri. Padahal KH. Hasyim Asy’ari adalah guru Beliau yang jelas-jelas menolak tarekat. Ada apakah demikian?
Buku biografi ini juga dilengkapi dengan kesaksian-kesaksian  para keluarga, murid dan teman-teman beliau. Sehingga banyak sekali para saksi mata karomah sang wali yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Diantaranya kesaksian KH. Abdurrahman Wahid, Gus Mus, KH. Ishaq Lathif, Habib Alwi tugu, KH. A. Hakam Choliq dan masih banyak tokoh-tokoh lainya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Kiai, panggilan prestisius yang disematkan pada seseorang yang memiliki kemampuan dalam bidang agama, pengobatan atau memiliki karomah melebihi orang lain pada umumnya. Sehingga tak jarang kiai menjadi “konsultan sosial” dari berbagai masalah yang menerpa masyarakat di sekitarnya. Menjadi pemecah kebuntuan kehidupan sosial  dalam berbagai aspek dan sendi-sendi kemasyarakatan.


Anang Firdaus, dalam buku Karomah Sang Wali. Sebuah biografi tentang jejak langkah seorang ulama kharismatik ini mengisahkan kehidupan KH Muhammad Adlan Aly yang penuh dengan karomah dan keteladanan. Melalui buku ini ia menyatakan bahwa dalam kehidupan seseorang harus memiliki akhlakul karimah dalam pergaulan sehari-hari. Setiap tindak tanduk anak adam akan memiliki arti. Arti yang akan memberikan pengaruh pada kehidupan generasi selanjutnya.



Berawal dari sebuah pesantren di daerah Maskumambang, Gresik. Adlan kecil mulai menempa pendidikan agama. Pesantren Maskumambang merupakan tanah kelahirannya dan disini pula Adlan memperoleh ilmu agama dibawah asuhan pamannya KH Faqih Abdul Jabbar yang merupakan putra dari KH Abdul Djabbar (Pendiri Pesantren Maskumambang).



Kesungguhanya dalam belajar agama membawa Adlan kecil melanjutkan rihlah Ilmiahnya  kepada KH Munawwar, Kauman, Gresik untuk menghafal Al-Qur’an saat berumur 14 tahun. Merasa haus dengan samudra ilmu ia melanjutkan tabarukkan kepada KH Muhammad Said bin Ismail di tanah Madura dan memperoleh sanad Al-Qur’an yang muttasil dengan baginda Rosul. Hingga akhirnya berguru langsung kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asyari di pesantren Tebuireng.



Saat menjadi santri di Tebuireng, Yai Delan (panggilan KH M Adlan Aly) menjadi kepercayaan dan santri kesayangan Yai Hasyim Asyari. Pasalnya beliau adalah Hafidz Al-Qu’ran dan alim. Tak jarang Yai Hasyim sering meminta pendapat kepada beliau bilamana ada permasalahan seputar fiqh. Beliau sering diminta menjadi imam mengantikan Yai Hasyim saat berhalangan hadir. Khususnya saat Ramadhan, menjadi imam shalat tarawih di masjid Tebuireng.



Sejak saat itu, KH Adlan Aly kerap menjadi qori’ dan guru dalam kegiatan belajar mengajar di Tebuireng. Hampir setiap hari kesibukannya diisi untuk mengajar kitab dan menerima setoran hafalan Qur’an para santri. Membantu pesantren gurunya yang sangat beliau kagumi. Hingga puncaknya beliau mendirikan pondok putri Walisongo di Cukir dan masih eksis sampai sekarang.



Kiai Adlan merupakan seorang wali yang memiliki banyak karomah. Diantaranya selalu turun hujan saat Yai Delan mengaji kitab Fathul Qarib bab Istisqa’. Ketika beliau membaca bab tersebut lalu mempraktekan shalat istisqa’ dan mengalungkan sorban ke pundaknya dalam seketika itu hujan turun. (hal 76)



Buku karya Anang Firdaus ini mengajarkan kepada kita, bahwa siapa yang bersungguh-sungguh dia akan menemukan jalan. Barang siapa yang menanam dia akan memanen. Dan siapa yang enggan mencicipi pahitnya mencari ilmu, maka ia akan meminum hinanya kebodohan sepanjang waktu. Sebuah karya yang memberikan contoh perilaku baik dan sayang untuk dilewatkan.

09 April 2015

Biografi K.H Adlan Aly


Nama lengkap beliau adalah Muhammad Adlan Aly, yang lahir pada tanggal 3 Juni 1900 Masehi diMaskumambang kecamatan Dukun sedayu kabupaten Gresik.Dan wafat tanggal 6 Oktober 1990 M.atau 17 Robiul awal 1411 H. yang kemudian di semakamkan di pemakaman pondok Tebuireng Jombang.
Konon di tengah–tengah Desa Sembungah kidul kecamatan Dukun ada hutan kecil yang kemudian di babat oleh KH. Abdul Djabbar dan didirikanlah sebuah rumah. Sedang beberapa tahun berikutnya beliau dengan istrinya Ibu Nyai Nur simah menunaikan ibadah haji. Setelah dua tahun berikutnya di Makkah kembali ke tanah air untuk mendirikan masjid dan pondok pesantren. Dari hutan yang tidak di pelihara menjadi daerah yang subur dan indah sebagai tempat mencari ilmu seakan –akan emas yang mengambang karena daerah sekitarnya di liputi sungai, jadilah nama Maskumambang dari kata Emas dan Kambang (mengapung).
KH.Abdul; Jabbar lahir pada tahun 1241 H, yang ketika masih mudanya pernah belajar di pondok pesantren Ngelom sepanjang Sidoarjo, kemudian meneruskan ke pondok pesantren Tugu Kedawung Pasuruan .Setelah dewasa di ambil menantu oleh KH.Idris Kebon Dalem Bourno Bojonegoro, mendapat putrinya yang bernama Nur Simah. Pada tahun 1325 H. atau 1907 KH. Abdul Djabbar menghadap Alloh SWT. Dalam usianya yang ke-84, di makamkan di desa Siraman kira-kira 700 meter dari Maskumambang. 
Pondok pesantren yang di tinggalkan di lanjutkan oleh putra-putri beliau terutama KH. Faqih . sedang putrinya nya,Ibu Nyai HJ. Muchsinah dengan KH.Aly mulai merintis mendirikan pondok pesantren di Maskumambang juga. Dari pasangan Ibu Hj.Muchsinah dengan KH.Adlan Aly mulai merintis mendirikan piondok pesantren di Maskumambang juga .Dari pasangan Ibu Hj. Muchsinah dengan KH. Adlan Aly inilah yang lahir KH. Muhammad Adlan Aly yang bersaudarakan KH.Makhsum (yang terkenal dengan ahli ilmu falaq), H.M. Mahbub, Mus’idah Rohimah.
Diusia yang sudah mencukupi KH.M.Adlan Aly menikah dengan Ibu Nyai Hj. Romlah yang kemudian lahir dua putra dan dua putrinya Nyai Hj. Mustaghfiroh, KH. Ahmad Hamdan Adlan, Ibu Nyai Hj. Sholikhah dan KH. Abdul Djabbar. Dalam perjalanan pulang dari tanah suci Mekkah pada tahun 1939M, Ibu Nyai Romlah wafat dan di makamkan di pulau We Sumatra. Sesampainya di rumah KH.M Adlan Aly di panggil oleh Hadrotus Syeh KH. Hasyim Asy’ariyang bermaksu menjodohkan dengan keponakanya yang bernama Nyai Hj. Halimah. 
Dan Kurang lebih selama 40 tahun beliau menjadi istri KH.M. Dahlan Aly dan wafat pada tahun 1982 M. kemudian Romo Kyai menikah dengan Ibu Nyai Hj. Musyafa’ah Ahmad seorang Ustadzah dari desa keras Diwek Jombang pada tahun 1982 M. Delapan tahun berikutnya Romo Kyai berpulang ke Rahmatulloh.Baik dengan Ibu Nyai Hj. Musyafa’ah, KH.M. Adlan Aly tidak di karuniai putra-putri.


KH.M.ADLAN ALY SEMASA PENJAJAHAN BELANDA
KH.M.Dahalan Aly semenjak kecil kurang lebih berusia 5 tahunbelajar agama Islam kepada pamannya yaitu KH.Fariq di pondok pesantren Maskumambang ,setelah berusia 14 tahun beliau belajar menghafal Al-Qur’an kedapa KH.Munawar Kauman Sedayu Gresik.Empat tahun kemudian beliau mengikuti kakaknya mondok di pesantren jombang .Setelah KH.Ma’shum Aly mendirikan pondok sendiri, yaitu pondok pesantren Seblak Diwek Jombang, KH.M.Dahlan Aly ikut pindah kesana walau tetap menuntut ilmu di Tebuireng.Ketika H.M.Mahbub Aly membuat rumah di Cukir dan membuka toko kitab di muka pasar Cukir, KH.M.Adlan Aly diminta membantu kakaknya mengurusi toko.
Selama di Cukir sekitar tahun 1926M. beliau bersama KH.Abdul Karim Gresik dan H.Sufri di panggil oleh Hadratus Syekh KH.Hasyim Asy’ari untuk membentuk Pengurus Ranting NU Diwek.

KH.M.ADLAN ALY PADA MASA PENJAJAHAN JEPANG dan PASCANYA
KH.M.Adlan Aly bersama H.sufri aktif mengurus Mabarrot NU, yaitu membantu keluarga NU yang kena wajib Romusha, dimana pada masa penjajahan jepang ini banyak pemuda yang dijadikan Romusha.Sementara keadaan ekonomi masyarakat serba kekurangan,baik makan maupun pakaian.Bahkan Romo Kyai pernah diambil Jepanguntuk Romusha dan semoat hilang selama empat hari,namun Alahmdulillah kembali lagi kerumah beliau.
Pasca Proklamasi 1945, tentara Belanda dengan membonceng tentara Inggris masihb ingin menjajah kembali , maka aktiflah beliau mengikuti barisan Sabilillah,juga ikut perang di Front garis depan sekitar sepanjang untuk membendung tentara Belanda yang bermaksud mengadakan terobosan keluar daerah Surabaya. Disamping itu beliau menghimpun dana dari masyarakat agar mampu mencukupi persenjataan Hisbullah dan Sabilillah.
Kemerdekaan telah sepenuhnya dimiliki bangsa kita,beliau mulai memikirkan masalah pendidikan.Diketahui banyak anak putri tamatan Madrasah Ibtidaiyyah tidak dapat melanjutkan belajar keluar daerah karena keterbatasan biaya ,dimana khususnya daerah Cukir dan sekitarnya belum ada sekolah lanjutan setingkat SLTP dan SLTA .Akhirnya diadakan musyawarah dan sepakat mendirikan Madrasah Mu’allimat Cukir.karena kedatangan siswa-siswi dari luar, maka di bangunkanlah asrama di belakang rumah beliau.
Sebagai insan yang mempunyai jiwa pejuang ,maka beliau berjuang demi tanah air dan demi agama .Hal ini tercermin pada jabatan yang pernah disandangnya setelah Indonesia merdeka, antara lain :
  1. Rois Syuriah NU wilayah Jawa Timur
  2. Mustasyar NU wilayah Jawa Timur
  3. A’wan Pengurus Besar NU
  4. Rois Syuriah cabang NU kabupaten Jomabang
  5. Anggota DPRD-II Kabupaten Jawa Timur ,hasil pemilu tahun 1987 fraksi Partai Persatuan Pembangunan bersama K.H Syamsuri Baidlawi.

Selain itu beliau pernah menjadi Rois Am Jami’iyayah Ahliath-Thariqah Al –Mu’tabarah An-Nadiyyah pada Idaroh Aliyah ,Wusthan Idaroh Syu’biyyah jomabang ,sekaligus menjadi Al-mursyid ath-Thariqah. 

08 April 2015

Penakluk Badai, Novel Biografi KH. Hasyim Asy’ari


Judul Buku     : Penakluk Badai, Novel Biografi KH. Hasyim Asy’ari
Pengarang     : Aguk Irawan MN
Tahun Terbit  : Cet. ke-I, 2012
Tebal            : xxxii + 530 halaman + lampiran
Peresensi      : KH Imam Jazuli, Lc., MA (Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (PP RMI)-PBNU Jakarta, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon)


The Hidden History (sejarah yang tersembunyi) kini telah terkuak. Munculnya karya fiksi dalam bentuk novelisasi biografi tokoh besar KH. Hasyim Asy’ari ini menggemparkan kesadaran historis kita. Bangsa Indonesia pada umumnya, dan masyarakat sejarah khususnya, perlu mempertimbangkan kembali informasi-infromasi sejarah yang tertuang dalam karya fiksi ini.
Bapak Revolusi Pendidikan Islam
Aguk Irawan mencoba menyingkap detail karisma dan keagungan KH. Hasyim Asy’ari yang selama ini hanya direduksi sebagai tokoh besar di kalangan Ormas Nahdhatul Ulama (NU) yang perannya sering hanya diketahui sekedar membela Aswaja dan menolak keras wahabisme. Lebih dari itu, dengan mengangkat perjuangan dan sumbangsihnya di bidang pendidikan, KH. Hasyim ditampilkan sebagai Bapak Revolusi Pendidikan Islam. Dimulai dari Tebuireng, KH. Hasyim mendirikan pondok pesantren di tengah-tengah masyarakat bromocorah, perampok, pemabok, suka berjudi dan prostitusi, dan asusila. Tindakan ‘nyleneh’ beliau kali ini membuat cengang para Kiai Sepuh karena dianggap tidak lazim.
Di bidang kurikulum dan metode pengajaran, gagasan KH. Hasyim Asy’ari membongkar kejumudan yang mengkarat. Materi ilmu-ilmu umum sampai metode seminari dimasukkan ke dalam Pendidikan Islam bersanding imbang dengan ilmu-ilmu agama. Sementara metode pengajaran ala salaf yang dikenal di kalangan pesantren tetap dipertahankan sisi-sisi positifnya (hlm, 171-172). Tentu saja para Kiai Sepuh terheran-heran melihat perubahan pada para santri yang mulai memperdebatkan dan kritis terhadap wacana ilmu pengetahuan. Kelak, Bahts al-Masail sebagai metode Istimbat al-Hukm dalam tradisi NU, sejatinya, adalah buah manis dari metode pengajaran yang dipopulerkan oleh beliau.
Nasionalis Sejati
Novel ini kembali menampilkan KH. Hasyim sebagai sosok kontroversial, yang gagasannya selalu melampaui zamannya. Melalui hasil istikharahnya (hlm, 320), KH. Hasyim Asy’ari mau menerima tawaran kerjasama dari Jepang. Sementara banyak para Kiai lain dan rakyat yang sempat menjadi korban kekejaman Jepang mengkhawatirkan langkah politik KH. Hasyim tersebut. Jepang sendiri melunak dan mengambil jalan koperatif terhadap pribumi lantaran cemas bahwa suatu hari nanti Belanda akan merebut kembali wilayah yang kini diduduki Jepang. Kecemasan itu terbukti. Forum Internasional di Wina pada 1942 memutuskan bahwa negara-negara sekutu sepakat akan mengembalikan wilayah-wilayah yang diduduki Jepang kepada koloni masing-masing.
Landasan logika yang dijadikan pijakan KH. Hasyim adalah kenyataan bahwa beratus-ratus tahun bangsa Indonesia dijajah Belanda, sehingga mentalitasnya rapuh dan mudah ciut. Dengan didikan dan gemblengan militer dari Jepang, bangsa Indonesia diharapkan memiliki kesiapan mental dengan suasana peperangan. Hal ini menjadi modal untuk kelak merebut kemerdekaan yang sesungguhnya. Sementara para kiai dari pesantren-pesantren lain melontarkan tuduhan bahwa KH. Hasyim Asy’ari adalah antek kolonialisme dan anti kemerdekaan (hlm, 322). Bagi mereka, cara yang tepat merebut kemerdekaan adalah dengan melawan kaum penjajah, tanpa kompromi apapun. Dengan kata lain, kubu KH. Hasyim adalah kubu nasionalis sejati sementara para kiai lain adalah nasionalis-idealis. Namun nyatanya, langkah politik yang ditempuh KH. Hasyim terbukti berbuah manis, masyarakat pribumi telah mengalami kemajuan yang pesat berkat keterlibatan Jepang.
Dalang di Balik Tercetusnya Ideologi Negara
Novel ini semakin seru tatkala menceritakan suasa politik nasional yang memanas lantaran terjadinya pertentangan kelompok dalam menentukan ideologi negara. Pada sidang BPUPKI 28 Mei-1 Juni 1945, kubu yang didalangi Soekarno dan Soepomo menghendaki negara ini bercorak nasionalis sekuler. Sedangkan kubu yang dikomandoi Muhammad Yamin menginginkan Islam sebagai landasan dasar negara Indonesia. Kedua kubu ini masih terus saling menguatkan pandangan masing-masing, sehingga nasib Indonesia masih di ambang kesuraman, apakah dijadikan negara sekuler atau negara Islam. Pertentangan tersebut baru reda setelah hadirnya Abdul Wahid Hasyim.
Abdul Wahid Hasyim yang sudah menerima gagasan dari ayahandanya, KH. Hasyim Asy’ari, tampil sebagai penengah dan mempertemukan dua kubu yang bertentangan itu. Wahid Hasyim menyampaikan pesan-pesan dari ayahandanya bahwa kondisi sosial politik bangsa Indonesia ketika itu persis dengan kondisi Madinah pada masa Rasulullah. Karena itulah, ideologi negara yang tercantum dalam Piagam Madinah layak untuk dijadikan contoh dalam merumuskan ideologi negara Indonesia. Mendengar penjelasan dari Wahid Hasyim, putra KH. Hasyim, kubu Soekarno dan kubu M. Yamin sama-sama menerima. Sejak saat itulah, Piagam Jakarta disepakati bersama (hlm, 346). Secara tidak langsung, KH. Hasyim Asy’ari adalah dalang di balik tercetusnya ideologi negara Indonesia, dan berkat gagasannya itu pertentangan ideologi dapat diredakan.
Pembela Kemerdekaan
Kadang kala, pihak yang paling mencintai negara adalah rakyat, dan pemerintah seringkali memiliki logika yang jauh dari hati nurani kaum bawah. KH. Hasyim Asy’ari atas nama hati nurani rakyat mengeluarkan fatwa jihad fi sabilillah untuk melawan tentara sekutu yang berniat kembali menguasai Indonesia. Sementara pemerintah menyepakati kesepatakan ‘gelap’ dengan pihak kolonial yang disebut Perundingan Linggarjati. ‘Kesepatakan gelap’ yang dimaksud adalah kesepatakan yang tidak mewakili seluruh suara rakyat, sehingga Perundingan Linggarjati-salah satu pointnya—membentuk Negara Republik Indoneisa Serikat (RIS). KH. Hasyim, Bung Tomo, Jenderal Soedirman, Kiai Wahab Hasbullah, dan tokoh-tokoh lainnya mengadakan kesepakatan tandingan di Tebuireng. Bagi kubu KH. Hasyim, kemerdekaan adalah harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Negara RIS dianggap sama halnya dengan menggadaikan kembali kemerdekaan. Pada saat itulah, negara menjadi ‘tak-berfungsi’. KH. Hasyim menjadi komando utama untuk menggerakkan rakyat melawan penjajah. Sayangnya, KH. Hasyim harus pergi menemui Tuhan Pencipta Kehidupan ini tepat pada saat satu persatu wilayah nusantara ini jatuh ke tangan penjajah.
Sebagai buku bermuatan sejarah, karya Aguk Irawan ini dapat dibilang sukses. Namun sebagai karya fiksi, ia menyimpan ‘kecacatan’; data-data sejarah menumpuk disana-sini, sehingga mengganggu pembaca menikmati keindahan fiksi itu sendiri. Akan tetapi, ‘kekurangan’ ini boleh jadi sebagai ‘sisi keunggulan’nya, mengingat informasi-informasi sejarah yang ditampilkan seakan-akan ingin menciptakan ‘sejarah baru’ versi si pengarang. Terbukti ketika beberapa tokoh nasional yang kita puja selama ini, malah dalam novel ini diungkap segala sisi keburukannya (hlm, 401).

07 April 2015

Biografi KH. Abdul Wahab Hasbullah


KH. Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang sangat alim dan tokoh besar dalam NU dan bangsa Indonesia. Beliau dilahirkan di Desa Tambakberas, Jombang, Jawa Timur pada bulan Maret 1888. silsilah KH. Abdul Wahab Hasbullah bertemu dengan silsilah KHM. Hasyim Asy’ari pada datuk yang bernama Kiai Shihah.
Semenjak kanak-kanak, Abdul Wahab dikenal kawan-kawannya sebagai pemimpin dalam segala permainan. Beliau dididik ayahnya sendiri cara hidup,seorang santri. Diajaknya shalat berjamaah, dan sesekali dibangunkan malam hari untuk shalat tahajjud. Kemudian K.H. Hasbullah membimbingnya untuk menghafalkan Juz Ammah dan membaca Al Quran dengan tartil dan fasih. Lalu beliau dididik mengenal kitab-kitab kuning, dari kitab yang paling kecil dan isinya diperlukan untuk amaliyah sehari-hari. Misalnya Kitab Safinatunnaja, Fathul Qorib, Fathul Mu'in, Fathul Wahab, Muhadzdzab dan Al Majmu'. Abdul Wahab juga belajar Ilmu Tauhid, Tafsir, Ulumul Quran, Hadits, dan Ulumul Hadits.
Kemauan yang keras untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tampak semenjak masa kecilnya yang tekun dan cerdas memahami berbagai ilmu yang dipelajarinya. Sampai berusia 13 tahun Abdul Wahab dalam asuhan langsung ayahnya. Setelah dianggap cukup bekal ilmunya, barulah Abdul Wahab merantau untuk menuntut ilmu. Maka beliau pergi ke satu pesantren ke pesantren lainnya. Kemudian Abdul Wahab belajar di pesantren Bangkalan, Madura yang diasuh oleh K.H. Kholil Waliyullah.
Beliau tidak puas hanya belajar di pesantren-pesantren tersebut, maka pada usia sekitar 27 tahun, pemuda Abdul Wahab pergi ke Makkah. Di tanah suci itu mukim selama 5 tahun, dan belajar pada Syekh Mahfudh At Turmasi dan Syekh Yamany. Setelah pulang ke tanah air, Abdul Wahab langsung diterima oleh umat Islam dan para ulama dengan penuh kebanggaan.
Langkah awal yang ditempuh K.H. Abdul Wahab Hasbullah, kelak sebagai Bapak Pendiri NU, itu merupakan usaha membangun semangat nasionalisme lewat jalur pendidikan. Nama madrasah sengaja dipilih 'Nahdlatul Wathan' yang berarti: 'Bergeraknya/bangkitnya tanah air', ditambah dgngan gubahan syajr-syair yang penuh dengan pekik perjuangan, kecintaan terhadap tanah tumpah darah serta kebencian terhadap penjajah, adalah bukti dari cita-cita murni Kiai Abdul Wahab Hasbullah untuk membebaskan. belenggu kolonial Belanda.
Namun demikian, tidak kalah pentingnya memperhatikan langkah selanjutnya yang akan ditempuh Kiai Wahab, setelah berhasil mendirikan 'Nahdlatul Wathan'. Ini penting karena dalam diri Kiai 'Wahab agaknya tersimpan beberapa sifat yang jarang dipunyai oleh orang lain. Beliau adalah tipe manusia yang pandai bergaul dan gampang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tetapi, beliau juga seorang ulama yang paling tangguh mempertahankan dan membela pendiriannya. Beliau diketahui sebagai pembela ulama pesantren (ulama bermadzhab) dari serangan-serangan kaum modernis anti madzhab.
Bertolak dari sifat dan sikap Kiai Wahab itulah, maka mudah dipahami apabila kemudian beliau mengadakan pendekatan dengan ulama-ulama terkemuka seperti, K.H. A. Dachlan, pengasuh pondok Kebondalem Surabaya, untuk mendirikan madrasah 'Taswirul Afkar'. Semula 'Taswirul Afkar' yang berarti 'Potret Pemikiran' itu, merupakan kelompok diskusi yang membahas berbagai masalah keagamaan dan kemasyarakatan. Dan anggotanya juga terdiri atas para ulama dan ulama muda yang mempertahankan sistem bermadzhab. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya sekitar tahun 1919, kelompok ini ditingkatkan statusnya menjadi madrasah 'Taswirul Afkar' yang bertugas mendidik anak-anak lelaki setingkat sekolah dasar agar menguasai ilmu pengetahuan agama tingkat elementer.
Bertempat di Ampel Suci (dekat Masjid Ampel Surabaya), madrasah 'Taswirul Afkar' bergerak maju. Puluhan dan bahkan kemudian ratusan anak di Surabaya bagian utara itu menjadi murid 'Taswirul Afkar', yang pada saat itu (tahun-tahun permulaan) dipimpin K.H. A. Dachlan. Namun demikian, bukan berarti meniadakan kelompok diskusi tadi. Kegiatan diskusi tetap berjalan dan bahkan bertambah nampak hasilnya, berupa 'Taswirul Afkar'. Dan madrasah ini hingga sekarang masih ada dan bertambah megah. Hanya tempatnya telah berpindah, tidak lagi di Ampel Suci, tetapi di Jalan Pegirian Surabaya.
Hingga di sini Kiai Wahab telah berada di tiga lingkungan: Syarikat Islam (SI) berhubungan dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Nahdlatul Wathan dengan K.H. Mas Mansur, dan Taswirul Afkar dengan K.H. A. Dachlan. Tiga lingkungan itu pun memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda. Tjokroaminoto lebih condong pada kegiatan politik; K.H. Mas Mansur lebih dekat dengan kelompok anti madzhab sedangkan K.H. A. Dachlan tidak berbeda dengan Kiai Wahab, yakni ulama yang mempertahankan sistem madzhab.
Dalam hubungannya dengan gerakan pembaruan itu, agaknya Kiai Wahab seringkali tidak dapat menghindari serangan-serangan mereka baik yang ada di SI maupun di K.H. Mas Mansur sendiri. Meski tujuan utamanya membangun nasionalisme, serangan-serangan kaum modernis seringkali dilancarkan hingga Kiai Wahab perlu melayaninya. Di sinilah mulai tampak perbedaan pendapat antara Kiai Wahab dengan K.H. Mas Mansur.
Peristiwa ini tampaknya sudah terbayang dalam pikiran Kiai Wahab, sehingga tidak perlu mempengaruhi semangat perjuangannya. Bahkan beliau bertekad untuk mengembangkan Nahdlatul Wathan ke berbagai daerah. Dengan K.H. Mas Alwi, kepala sekolah yang baru, Kiai Wahab membentuk cabang-cabang baru: Akhul Wathan di Semarang, Far'ul Wathan di Gresik, Hidayatul Wathan di Jombang, Far'ul Wathan di Malang, Ahlul Wathan di Wonokromo, Khitabul Wathan di Pacarkeling, dan Hidayatul Wathan di Jagalan.
Apa pun nama madrasah di beberapa cabang itu pastilah dibelakangnya tercantum nama 'Wathan' yang berarti 'tanah air'. Ini berarti tujuan utamanya adalah membangun semangat cinta tanah air. Dan syair 'Nahdlatul Wathan' berkumandang di berbagai daerah dengan variasi cara menyanyikannya sendiri-sendiri. Misalnya di Tebuireng, hingga tahun 1940-an syair tersebut tetap dinyanyikan para santri setiap kali akan dimulainya kegiatan belajar di sekolah. Dan setiap hendak menyanyikan syair tersebut, para murid santri diminta berdiri tegak sebagaimana layaknya menyanyikan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya'.
Seperti telah disinggung, bahwa selain Kiai Wahab harus memperhatikan Nahdlatu1 Wathan dan juga keterlibatannya di SI, beliau juga tidak dapat membiarkan serangan-serangan kaum modernis yang dilancarkan kepada ulama bermadzhab. Lagi pula, serangan-serangan itu tidak mungkin dapat dihadapi sendirian. Sebab itu, pada tahun 1924, Kiai Wahab membuka kursus 'masail diniyyah' (khusus masalah-masalah keagamaan) guna menambah pengetahuan bagi ulama-ulama muda yang mempertahankan madzhab.
Kegiatan kursus ini dipusatkan di madrasah 'Nahdlatul Wathan' tiga kali dalam seminggu. Dan pengikutnya ternyata tidak hanya terbatas dari Jawa Timur saja, melainkan juga ada yang dari Jawa Tengah, Jawa Barat, dan beberapa lagi dari Madura. Jumlah peserta kursus sebanyak 65 orang. Karena peserta begitu banyak, maka .Kiai Wahab meminta teman-temannya untuk membantu. Di antara teman-temannya yang bersedia mendampingi ialah KH. Bishri Syansuri (Jombang), KH. Abdul Halim Leuwimunding (Cirebon), KH. Mas Alwi Abdul Aziz dan KH. Ridlwan Abdullah keduanya dari Surabaya, K.H. Maksum dan K.H. Chalil keduanya dari Lasem, Rembang. Sedangkan dari kelompok pemuda yang setia mendampingi Kiai Wahab ialah: Abdullah Ubaid, Kawatan Surabaya, Thahir Bakri, dan Abdul Hakim, Petukangan Surabaya, serta Hasan dan Nawawi, keduanya dari Surabaya.
Dengan demikian, Kiai Wahab telah juga membangun pertahanan cukup ampuh bagi menolak serangan-serangan kaum modernis. Enam puluh lima ulama yang dikursus, agaknya dipersiapkan betul untuk menjadi juru bicara tangguh dalam menghadapi kelompok pembaru, sehingga dalam perkembangan berikutnya, ketika berkobar perdebatan seputar masalah 'khilafiyah' di beberapa daerah, tidak lagi perlu meminta kedatangan Kiai Wahab, tapi cukup dihadapi ulama-ulama muda peserta kursus tersebut.
Pada saat pemimpin-pemimpin Islam mendapat undangan dari Raja Hijaz lalu membentuk Komite Khilafat, K.H. Abd. Wahab Hasbullah mengusulkan agar delegasi ke Makkah menuntut dilindunginya madzahibul arba' ah di Makkah - Madinah. Dan setelah mengetahui usulnya kurang diperhatikan oleh tokoh-tokoh SI dan Muhammadiyah, lalu KH. Abd. Wahab atas izin KH.Hasyim Asy' ari membentuk Komite Hijaz untuk mengirim delegasi sendiri ke Makkah - Madinah. Dan Komite Hijaz inilah yang kemudian melahirkan JAM’IYAH NAHDLATUL ULAMA, sehingga kehadiran NU tidak dapat dilepaskan dari perjuangan K.H. Abd. Wahab Hasbullah.
Demikianlah selintas pintas riwayat K.H. Abdul Wahab Hasbullah dalam menegakkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia dalam rangka mengusir penjajah di tanah tercinta Indonesia. Di samping itu beliau seorang tokoh besar Islam terutama dalam mempertahankan kebenaran madzhab dari serangan kaum yang menyebut dirinya modernis Islam.


Sumber: Pendidikan Aswaja & Ke-NU-an untuk SMP/MTs. PW LP Ma’arif Jawa Timur.

Addarticle