Home » » Pemberian gelar Doctor Honoris Causa (HC) Kepada Ir.K.H Shalahuddin Wahid

Pemberian gelar Doctor Honoris Causa (HC) Kepada Ir.K.H Shalahuddin Wahid

Posted by As'ad Collection on 12 Desember 2011

Dalam sambutan pada acara penganugerahan gelar kehormatan kepada Ir.KH.Salahuddin Wahid di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, saya selaku rektor menyampaikan bahwa kunci keberhasilan dalam mengelola lembaga pendidikan terletak pada dua hal yaitu leadership dan managerial. Kepemimpinan dan kemampuan menata institusi itulah sebenarnya yang menjadi kunci terjadinya kemajuan.
Seringkali orang mengira bahwa kunci kemajuan itu adalah tersedianya dana. Memang, kecukupan dana adalah penting. Tanpa ketersediaan dana yang cukup, maka lembaga pendidikan tidak bisa berbuat banyak. Tanpa uang yang cukup maka lembaga pendidikan tidak akan bisa memenuhi kebutuhan sarana dan prasarananya, penyediaan guru yang berkualitas, perpustakaan, laboratorium, lingkungan pendidikan yang baik, dan lain-lain.
Namun demikian, ternyata bahwa, banyak lembaga pendidikan yang sebenarnya telah didukung oleh dana yang cukup, fasilitas dan juga tenaga yang berpengalaman, tetapi secara mendadak justru merosot dan bahkan gulung tikar. Institusi yang mengalami keadaan seperti itu tidak sulit didapatkan, baik yang berupa lembaga pendidikan tingkat dasar, menengah, dan bahkan juga perguruan tinggi. Akhir-akhir ini, di berbagai daerah dikabarkan, banyak perguruan tinggi yang mengalami kesulitan mendapatkan calon mahasiswa, akhirnya institusi itu tutup.
Dalam kesempatan itu, saya sampaikan bahwa Dr.(Hc) Ir. KH Salahuddin Wahid ketika menerima amanah memimpin lembaga pendidikan Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang tampak tidak memiliki kelebihan dana. Beliau tidak membawa sejumlah dana besar dari Jakarta, tempat domisilinya semula. Lembaga pendidikan yang dipimpinnya juga tidak mendapatkan DIPA sebagaimana institusi pemerintah. Beliau menerima amanah memimpin lembaga pendidikan pesantren tersebut hanya bermodalkan kepercayaan, kemampuan memimpin, dan manajerial. Atas dasar bekal dan kemampuannya itu, ternyata dalam waktu yang belum terlalu lama, pesantren Tebu Ireng, Jombang tumbuh dan berkembang.
Demikian pula, saya juga memberikan contoh lagi, yaitu dari pengalaman terlibat dalam mengembangkan STAIN Malang hingga menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pada awalnya kampus ini dikenal sebagai perguruan tinggi kecil dan tidak terlalu maju. Kampus Islam yang semula hanya memiliki 43 orang dosen tetap dan belasan karyawan, jumlah mahasiswa yang tidak terlalu banyak, serta fasilitas yang serba sederhana, ternyata kemudian menjadi besar seperti sekarang ini. Jumlah anggaran yang diterima dari pemerintah ketika itu juga tidak besar. Saya masih ingat, bahwa anggaran pembangunan yang berasal dari pemerintah dalam setahun, pada awal saya memimpin kampus ini, hanya berjumlah 175 juta. Sementara kampus-kampus lainnya, termasuk IAIN di berbagai daerah sudah milyaran rupiah.
Namun sejak awal, saya berkeyakinan bahwa, manakala kampus ini dipimpin dan dikelola secara benar, maka akan tumbuh dan berkembang. Pada waktu itu, apa yang selalu saya sampaikan, tidak semua orang mempercayainya. Dikatakan oleh sementara orang bahwa perguruan tinggi Islam sejak dulu hingga saat itu tidak ada yang maju. Faktor utama penyebabnya adalah keterbatasan dana yang tersedia. Oleh karena itu, banyak di antara mereka merasa sulit menerima dan mempercayai bahwa lembaga ini akan maju tanpa ketersediaan dana yang cukup.
Ketika itu, saya tidak pernah peduli tatkala mendapatkan sanggahan dari berbagai pihak. Saya hanya meminta agar semua warga kampus membangun kebersamaan, cita-cita, bahkan mengkhayal untuk maju. Saya selalu mengajak kepada semuanya agar cara berpikir dan bekerja sebagaimana yang dialami selama itu, seperti selalu menunggu, menerima apa adanya, tidak memperhatikan kualitas dan seterusnya, segera diubah menjadi berpikir dan bekerja terbaik, dibangun kebersamaan, membuka diri untuk maju, menjalin kerjasama, mensosialisasikan ide-ide kemajuan ke berbagai pihak, dan seterusnya.
Atas usaha keras yang dilakukan bersama-sama, dalam waktu yang tidak terlalu lama, ternyata kampus ini berubah. Kelembagaannya yang semula hanya berupa sekolah tinggi, berhasil diubah menjadi bentuk universitas. Kepercayaan pihak luar segera tumbuh hingga dengan cepat berhasil meningkatkan jumlah tenaga dosen, pendanaan yang diperlukan, dan bahkan juga kesediaan IDB memberikan bantuan dana sebagai biaya untuk melengkapi sarana dan prasarana pendidikan yang dibutuhkan. Demikian pula aspek lainnya selalu dikembangkan, sehingga jumlah calon mahasiswa baru yang masuk ke kampus ini, semakin tahun selalu bertambah.
Lewat contoh sederhana tersebut, saya ingin menyatakan bahwa ketersediaan dana adalah penting untuk mengembangkan institusi pendidikan. Akan tetapi dana itu akan datang dengan sendirinya, tatkala di dalam lembaga itu terdapat kekuatan leadership dan manajerial yang kokoh. Banyak lembaga pendidikan yang maju oleh karena adanya kememimpinan dan manajerial yang kokoh. Demikian pula sebaliknya, tidak sedikit lembaga pendidikan yang memiliki dana cukup dan SDM yang banyak, tetapi ternyata masih sulit berkembang oleh karena belum menemukan pemimpin yang mampu menggerakkan seluruh orang yang ada di institusi pendidikan dimaksud. Oleh karena itu, saya berani mengatakan bahwa kunci kemajuan lembaga pendidikan adalah terletak pada leadership dan manajerial. Dan bahkan, problem ummat selama ini sebenarnya adalah terletak pada dua hal tersebut. Wallahu a’lam
Lihat selengkapnya di http://www.uin-malang.ac.id/

Thanks for reading & sharing As'ad Collection

Previous
« Prev Post

1 komentar:

Komentar

Sample Text

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya.

Cari Di Blog Ini

Translate


Follow by Email

Arsip Blog

Followers Google+