Home » » Saleh Ritual Saleh Sosial

Saleh Ritual Saleh Sosial

Posted by As'ad Collection on 17 November 2016

Judul Buku     : Saleh Ritual Saleh Sosial
Penulis            : K.H. A. Mustofa Bisri
Penerbit           : Diva Press
Cetakan           : I, Mei 2016
Tebal               : 204 halaman
ISBN              : 978-602-279-203-1

Dalam Islam kesalehan ritual dan kesalehan sosial merupakan satu kesatuan ibadah yang terpadu, tidak bisa dipisahkan. Kita tidak diperbolehkan hanya mementingkan ibadah sosial atau kesalehan sosial, dan melupakan ibadah ritual atau kesalehan individu, atau sebaliknya, hanya mementingkan ibadah ritual atau kesalehan individu, dan melupakan kesalehan sosial. Kesalehan individu atau ritual identik dengan hubungan seseorang secara pribadi kepada Allah swt.Sementara ibadah sosial identik dengan hubungan seseorang dengan sesama manusia, dan sekaligus hubungan manusia dengan Allah. Ibadah sosial lebih mengutamakan kepentingan orang lain, tetapi berdampak positif juga bagi dirinya sendiri.

Oleh karena itu, walaupun banyak perintah untuk beribadah dalam agama ditunjukan kepada individu tetapi harus berdampak dalam kehidupan sosial yang nyata, termasuk dalam ibadah puasa yang sedang dijalankan kaum muslimin. Puasa bukan sekedar kewajiban tahunan yang diperintahkan Allah bagi orang-orang beriman agar mereka menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa memiliki implikasi terhadap individu maupun sosial. Puasa merupakan bentuk ibadah yang memancarkan hikmah bukan saja bagi pembinaan kesalehan individual, melainkan juga bagi peningkatan kesalehan sosial. Merupakan media pengabdian dan sarana ibadah untuk meningkatkan kualitas diri. Merupakan wahana penyucian diri, pembinaan moral, dan penambahan kualitas spiritual manusia. Karena selama berpuasa kaum muslimin dituntut untuk menjaga diri dari segala macam perbuatan yang dapat menodai kesucian jiwa raga dan melemahkan kekuatan moral spritualnya.

Oleh karena itu, dalam salah satu esai yang terkumpul dalam buku ini,K.H. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, penulis buku ini,menandaskan bahwa bulan puasa adalah momentum terbaik untuk mengoreksi diri. Pada bulan penuh berkah tersebut, suasana di luar dan terutama di dalam batin kita rasanya sangat mendukung untuk peningkatan mutu keimanan, keberagamaan, dan kemanusiaan kita. Pada saat seperti itu, kita memiliki peluang sangat baik untuk membuat jarak dengan diri sendiri, lalu mengadakan dialog yang sangat pribadi. Kita dapat melakukan koreksi agak lebih detail adn lebih teliti bagi peningkatan kualitas kekhalifahan dan sekaligus kehambaan kita. Tanpa membuat jarak terhadap diri sulit rasanya melakukan penilaian-penilaian yang mendekati obyektif (hal.13).

Dengan begitu tujuan ibadah puasa tercapai, yakni untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Dan, seorang baru dikatakan bertaqwa bila dirinya telah memantulkan kesalehan individual dan kesalehan sosial. Kesalehan individual tercermin dari perilaku keseharian kita, yang jujur, amanah, bersikap rendah hati, tawadhu, sederhana dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari kedermawanan kita, tanggungjawab sosial kita, perhatian kita, atensi kita, empati kita, simpati kita kepada orang lain. Terutama kepada orang-orang yang berada dalam posisi sulit dalam kehidupannya.

Sehubungan dengan itu, kiranya kisah Kiai Basuni Rembang yang diangkat Gus Mus dalam buku ini bisa menjadi cermin.Kiai Basuni kenal siapa saja dan dikenal oleh siapa saja, karena hobinya menyapa orang. Kehidupan sehari-harinya dimulai dengan shalat Subuh, lalu jalan-jalan. Disinggahi rumah-rumah famili dan kenalannya, sekedar menengok dan menanyakan keselamatan dan kesehatan mereka. Lalu ke rumah sakit, menyusuri los-los. Ini dilakukan tiap hari, sehingga hampir tidak ada sanak famili dan kenalan, yang sakit yang tidak diketahuinya, untuk ditengok dan diinformasikan pada yang lain. Belaiu berprinsip, kalau bisa, senangkanlah orang lain. Kalau tidak, sebis-bisa jangan menyusahkan orang. (hal.91-93).

Dari kisah Kiai Basuni kita bisa menarik hikmah bahwa seorang yang telah mampu menyatukan kesalehan ritual dan sosial dalam satu tarikan nafas, hati dan dirinya selalu diliputi rasa cinta kepada sesama, dan sebagai imbalanya semua orang pun akan mencintainya. Sementara menurut sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Abu Hurairah yang dinukil dalam buku ini dijelaskan bahwa ketika warga bumi telah mencintai seseorang, maka warga langit pun akan ikut mencintai, begitu pula sebaliknya. (hal.57).

Agaknya dicintai warga langit inilah motif yang mulai lekang dan usang dari hati kita sekarang. Sehingga kita sulit peduli dan empati bahkan pada penderitaan saudara-saudara yang ada di depan hidung kita sendiri. Oleh karena itu, ibadah puasa layak kita jadikan kawah candradimuka untuk “menggodok” diri kita agar menjadi insan yang bertaqwa, yang darinya memancar kesalehan ritual sekaligus sosial.

Thanks for reading & sharing As'ad Collection

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Komentar

Sample Text

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya.

Cari Di Blog Ini

Translate


Follow by Email

Blog Archive

Followers Google+