Home » » Biografi Luqman Al-Hakim

Biografi Luqman Al-Hakim

Posted by As'ad Collection on 28 November 2015

Nama lengkapnya adalah Luqman bin `Anqo’ bin Sadun, anaknya bernama Tsaron. Ia seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi. Karena keshalihan­nya dan untaian nasihatnya bagaikan mutiara, namanya diabadikan dalam al-Qur’an, yaitu dalam surat Luqman, surat ke-31. la telah mendapat­kan ilmu hikmah sehingga dijuluki al-Hakim (ahli hikmah). Bahkan dalam banyak riwayat shahih dikatakan, ia seorang budak belian, berkulit hitam, berparas pas-pasan, hidung pesek, kulit hitam legam. Namun demikian, namanya diabadikan oleh Allah menjadi nama salah satu surat dalam al-Qur’an, surat Luqman. Penyebutan ini tentu bukan tanpa maksud. Luqman diabadikan namanya oleh Allah, karena memang orang shaleh yang patut diteladani. Allah tidak menilai seseorang dari gagah tidaknya, juga tidak dari statusnya, jabatannya, warna kulitnya dan lainnya. Akan tetapi Allah menilai dari ketakwaaan dan kesalehannnya.
Pendapat sejarawan tentang lukman hakim
1.       Dalam Tarikhnya, Ibnu Ishak menuturkan, bahwa Luqman bernama Luqman bin Bau’raa bin Nahur bin Tareh, dan Tareh bin Nahur merupakan nama dari Azar, ayah Nabi Ibrahim as.
2.       Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa Luqman adalah putra dari saudari kandung Nabi Ayyub as. Muqatil menuturkan, Luqman adalah putra dari bibinya Nabi Ayyub as.Imam Zamakhsyari menguatkan dengan mengatakan: Dia adalah Luqman bin Bau’raa putra saudari perempuan Nabi Ayyub atau putra bibinya.
3.       Riwayat lain mengatakan, Luqman adalah cicit Azar, ayahnya Nabi Ibrahim as. Luqman hidup selama 1000 tahun, ia sezaman bahkan gurunya Nabi Daud. Sebelum Nabi Daud diangkat menjadi Nabi, Luqman sudah menjadi mufti saat itu, tempat konsultasi dan bertanya Nabi Daud as.
4.       Luqmanul Hakim dalam sebuah riwayat dikatakan seorang yang bermuka biasa, tidak ganteng. Qatadah pernah menuturkan dari Abdullah bin Zubair bahwasannya ia pernah bertanya kepada Jabir bin Abdullah tentang Luqman. Jabir menjawab: “Dia berbadan pendek dan berhidung pesek, orang Nubi, Mesir”.
5.       Sa’id bin al-Musayyib juga menuturkan bahwa Luqman termasuk orang berkulit hitam dari Mesir, akan tetapi sangat mulia, dan Allah memberikan hikmah kepadanya, juga Luqman menolak untuk diangkat sebagai Nabi. Seorang laki-laki berkulit hitam datang mengadu kepada Said bin al-Musayyib. Sa’id kemudian berkata: “Janganlah bersedih lantaran kulit kamu hitam, karena di antara manusia pilihan itu, ada tiga orang semuanya berkulit hitam: Bilal, Mihja’ budak Umar bin Khatab dan Luqmanul Hakim”.
Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang profesinya. Sebagian mengatakan, profesinya adalah tukang jahit. Sebagian lainnya mengatakan, tukang kayu, yang lainnya menuturkan tukang kayu bakar, dan terakhir mengatakan sebagai penggembala.
Riwayat lain menuturkan bahwa Luqman adalah qadhi pada masa Bani Israil, sekaligus konsultannya Nabi Daud as. Bahkan riwayat lain menuturkan Luqman adalah seorang budak belian dari Habasyi yang berprofesi sebagai tukang kayu.
Khalid ar-Rib’i menuturkan: “Luqman adalah seorang budak belian dari Habasyi yang berprofesi sebagai tukang kayu. Suatu hari majikannya berkata: “Wahai Luqman sembelih kambing ini lalu keluarkan dua dagingnya yang paling enak. Luqman lalu menyembelih dan mengeluarkan lidah dengan hati.
Keesokan harinya, majikannya kembali berkata: “Luqman, sembelih domba ini, dan keluarkan dua daging yang paling tidak enak”. Luqman kembali mengeluarkan lidah dengan hati. Majikannya lalu bertanya, wahai Luqman, saya meminta kamu mengeluarkan daging yang paling enak dan paling tidak enak, kamu mengeluarkan yang sama, lidah dengan hati. Kenapa demikian?
Luqman menjawab: “Tidak ada yang seenak keduanya, apabila dipakai dengan sebaik mungkin, dan tidak ada yang sejelek dari keduanya, manakala dipakai tidak pada tempatnya”. SubhanAllah sungguh bijak sekali Luqman ini, karena itulah Allah memberikan nama Luqmanul Hakim (Luqman yang sangat bijak). Dalam sejarahnya Luqman menikah dan dikaruniai banyak anak, akan tetapi semuanya meninggal dunia ketika masih kecil, tidak ada yang sampai dewasa, namun Luqman tidak menangis, karena hidupnya yang sudah yakin dengan Allah.
Betapa banyak contoh-contoh kemulian Luqmanul Hakim ini yang tentunya tidak mungkin penulis sampaikan dalam kesempatan kali ini.

2.2  Pendidikan Luqman Al – Hakim Terhadap Anaknya
Berikut ini adalah pesan-pesan pendidikan luqman kepada anaknya:
1.        Pendidikan aqidah.
Luqman menyadari bahwa pendidikan aqidah perlu di tanamkan pada anak sejak dini. Pendidikan tauhid amat sangat penting sekali sebagai modal dasar bagi anak dalam menjalani kehidupan. Pesan ini beliau sampaikan seperti dalam firman Allah SWT: “ Dan ingatlah ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepada anaknya: “hai anakku, janganlah kamu mensekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar.”(QS.Luqman: 13)   Tanggung jawab pendidikan terhadap anak didiknya dalam islam meliputi tanggung jawab untuk menyelamatkan hidupnya kelak di akhirat. Karena itulah pendidikan tauhid menempati kedudukan yang utama. Dengan prinsip tauhid ini sang anak akan bisa beramal hanya hanya untuk Allah SWT semata, tanpa di campuri dengan tujuan yang lain.
       Syirik merupakan dosa terbesar dan Allah SWT  tidak akan mengampuninya, Allah SWT  berfirman : “ sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang di kehendaki-Nya.(QS.An-Nisa’:116)
       Sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk menanamkan dalam mendidik anak-anaknya akan  ke tauhidan kepada Allah SWT, agar anak-anak ini kelak menjadi generasi yang muwahhid (mengesakan Allah SWT), kita harus mengawali sejak sedini mungkin sebelum terlambat, untuk akhiryna menyesal.

2.        Pendidikan untuk berbuat baik kepada ke dua orang tua meskipun orang tuanya adalah kafir (hanya saja, perintah berbakti kepada orang tua terbatas pada hal-hal yang ma’ruf)
Luqman mendidik anaknya untuk berbuat baik kepada orang tua sedini mungkin. Pesan ini Allah abadikan dalam firman-Nya : “Dan kami perintahkan kepada manusia(berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang beertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun”.(QS.Luqman:14)
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.(QS.Luqman : 15)
 Akan tetapi kalau kita melihat kehidupan modern sekarang, banyak anak yang tidak mengerti sopan santun kepada orang tua bahkan tidak sedikit yang mendurhakainya. Berani kepadanya dan melawan keduanya, bahkan tidak sedikit anak yang memperbudak orang tuanya. Mengucapkan terima kasih kepada seseorang  yang  telah berjasa adalah suatu sikap sopan, apalagi kepada kudua orang tua, yang oleh Allah SWT telah dijadikan washilah lahirnya seorang anak, lalu mengasuhnya,membesarkannya dengan kasih sayang. Tetapi jika anak tidak dididik untuk biasa hormat kepada orang tua,anak ini tidak akan bisa berbuat baik kepada orang tuanya.
Birrul walidain menempati kedudukan yang istemewa dalam ajaran islam, di antaranya:
1)      Perintah berbuat baik kepada kedua orang tua di tempatkan oleh Allah SWT di al qur’an langsung sesudah perintah beribadah kepada-Nya semata-mata atau sesudah larangan mempersekutukan-Nya. Allah SWT berfirman : “Dan ingatlah ketika kami mengambil janji dari bani israil yaitu: “ janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibi bapak...”(QS.Al-Baqarah:83)
2)      Allah SWT mewasiatkan kepada umat manusia untuk berbuat ihsan kepada ibu bapak. Allah SWT berfirman: “ Dan  kami wasiatkan (wajibkan) kepada umat manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapak ...”(QS.Al-ahqaf:15)
3)      Allah SWT meletakkan perintah berterima kasih kepada ibu bapak langsung sesudah perintah berterima kasih kepada-Nya. Allah SWT berfirman : “Dan kami perintahkan kepada manusia(supaya berbuat baik) kapada dua orang ibu bapaknya; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yag semakian lemah, dan menyusukannya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”(QS.Luqman:14)

3.        Pendidikan untuk menanamkan rasa cinta amal sholeh dan  muroqobah (selalu diawasi oleh Allah)
Luqman menanamkan keyakinan kepada anaknya bahwa apa saja yang di kerjakan manusia, betapapun halus dan kecilnya, tidak luput dari pengawasan Allah SWT. Semuanya akan mendapatkan balasan dari Allah SWT meskipun hanya seberat biji sawi. Allah SWT berfirman : “(Luqman berkata) : “hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau langit atau dalam bumi, niscaya Allah akan membalasnya. sesungguhnya Allah maha halus lagi mengetahui.”(QS.Luqman:16)
Menanamkan kebiasaan beramal shalih pada diri anak haruslah dilakukan sejak dini. ketika anak mengerti bahwa Allah SWT akan membalas semua jerih payahnya, maka ia akan selalu berusaha untuk mengamalkan kebaikan. Ia akan senantiasa meningkatkan amalnya dan selalu taat kepada perintah-Nya serta selalu berbakti kepada kedua orang tuanya.

4.        Pendidikan untuk beribadah kepada Allah SWT. serta sabar dalam menghadapi cobaan
Setelah menanamkan aqidah, Luqman mengajarkan kepada anaknya untuk mengerjakan apa yang telah di perinhkan oleh Allah SWT. Luqman menyuruh anaknya mendirikan sholat, berdakwah serta bersabar terhadap apa yang menimpa anaknya. Allah SWT berfirman : “Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa  yang menimpamu. sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang di wajibkan (oleh Allah)”.(QS.Luqman: 17)
Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun,serta pisahkanlah antara mereka (anak laki dan perempuan) di tempat tidur mereka.”
        Nabi yang paling mulia serta Rasul yang paling agung mewasiatkan umatnya dan memerintahkan para orang tua untuk mendidik anak-anaknya di atas prinsip-prinsip dan nilai-nilai islam. Rasulullah SAW mewasiatkan kepada para bapak agar memerintahkan anak-anaknya untuk mengerjakan shalat. Karena, shalat merupakan penghubung anatara seorang hamba dan Rabb-nya.

5.        Pendidikan tentang akhlaq
Luqman mendidik anaknya bagaimana cara berinteraksi pada manusia dengan baik, yaitu dengan mengajarkan sikap tawadhu’ agar ia tidak sombong. Allah SWT berfirman: “dan janganlah kamu memalinglan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angku, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.sesungguhnya seburuk-buruknya suara adalah suara keledai”.(QS, Luqman: 18-19)
       Ibnu Hatim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah SAW Bersabda: “ Luqman al-hakim berkata kepada anaknya seraya menasehatinya,’ wahai anakku janganlah kamu menutup muka dengan topeng (untuk penyamaran) karena hal itu dapat menakut-nakuti manusia di malam hari dan menjelekkan diri sendiri di siang hari.
       Sikap tawadhu’ terhadap sesama manusia  merupakan sifat mulia yang lahir dari kesadaran akan kemahakuasaan Allah SWT  atas segala hamba-Nya. Manusia adalah makhluk lemah yang tidak berarti apa-apa di hadapan Allah SWT. Orang yang tawadhu’ menyadari bahwa apa saja yang dia miliki , baik bentuk rupa yang cantik atau rupa yang tampan, ilmu pengetahuan, harta kekayaan, maupun pangkat dan kedudukan, dan lain-lain sebagainya, semuanya itu adalah karunia dari Allah SWT.
        Sikap tawadhu’ tidak akan membuat derajat seseorang menjadi rendah, malah dia akan dihormati dan disegani. Masyarakat akan senang dan tidak ragu bergaul dengannya. Bahkan lebih dari itu derajatnya di hadapan Allah SWT semakin tinggi. Rasulullah SAW bersabda: “Tawadhu’, tidak ada yang bertambah bagi seorang hamba kecuali ketinggian derajat. Oleh sebab itu tawadhu’lah kamu, niscaya Allah akan meninggikan derajatmu...(HR.Dailami)

2.3 Wasiat-Wasiat luqman Lain Yang Tidak Tercantum dalam Al Qur’an
Selain dalam ayat al-Qur’an, Luqman juga mempunyai banyak wasiat. Wahab bin Munabbih pernah menuturkan: “Saya membaca hikmah Luqman yang jumlahnya lebih dari 10 ribu bab”.
Di bawah ini beberapa wasiat-wasiat Luqman lainnya yang tidak tercantum  dalam al-Qur’an, akan tetapi sangat luar biasa kandungannya.
Dalam bukunya Min Washaya al-Qur’an al-Karim (1/31-33), Muhammad al-Anwar Ahmad Baltagi, mengutip sebuah riwayat dari Malik bin Anas bahwasannya Luqman pernah menasehati putranya di bawah ini:
1.      Hai anakku: ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama takwa, isinya adalah iman dan layarnya adalah tawakal kepada Allah.
2.      Orang – orang yang sentiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat penjagaan dari Allah. Orang yang insaf dan sadar setelah menerima nasihat orang lain, dia akan sentiasa menerima kemulian dari Allah juga.
3.      Hai anakku; orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada Allah, maka dia tawadduk kepada Allah, dia akan lebih dekat kepada Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepadaNya.
4.      Hai anakku; seandainya ibubapamu marah kepadamu kerana kesilapan yang dilakukanmu, maka marahnya ibubapamu adalah bagaikan baja bagi tanam tanaman.
5.      Jauhkan dirimu dari berhutang, kerana sesungguhnya berhutang itu boleh menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.
6.      Dan Berharaplah selalu kepada Allah tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak mendurhakaiNya. Takutlah kepada Allah dengan sebenar benar takut ( takwa ), tentulah engkau akan terlepas dari sifat berputus asa dari rahmat Allah.
7.      Hai anakku; seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rusak akhlaknya akan sentiasa banyak melamun hal-hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mahu mengerti.
8.      Hai anakku; engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih lagi dari semua itu, yaitu manakala engkau mempunyai tetangga (jiran) yang jahat.
9.      Hai anakku; janganlah engkau mengirimkan orang yang bodoh sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdik, sebaiknya dirimulah saja yang layak menjadi utusan.
10.  Jauhilah bersifat dusta, sebab dusta itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit sahaja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.
11.  Hai anakku; bila engkau mempunyai dua pilihan, takziah orang mati atau menghadiri majlis perkawinan, pilihlah untuk menziarahi orang mati, sebab hal itu akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan menghadiri pesta perkawinan hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi sahaja.
12.  Janganlah engkau makan sampai kenyang yang berlebihan, kerana sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu alangkah lebih baik apabila diberikan kepada binatang sekalipun.
13.  Hai anakku; janganlah engkau langsung menelan sahaja kerana manisnya barang dan janganlah langsung memuntahkan saja pahitnya sesuatu barang itu, kerana manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kesengsaraan.
14.  Makanlah makananmu bersama sama dengan orang orang yang takwa dan musyawarahlah urusanmu dengan para alim ulama dengan cara meminta nasihat dari mereka.
15.  Hai anakku; bukanlah satu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah bagaikan orang yang mencari kayu bakar, maka setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih ingin terus menambahkannya.
16.   Hai anakku; bilamana engkau mahu mencari kawan sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan berpura pura membuat dia marah. Bilamana dalam kemarahan itu
dia masih berusaha menginsafkan kamu,maka bolehlah engkau mengambil dia sebagai kawan. Bila tidak demikian, maka berhati hatilah.
17.  Selalulah baik tuturkata dan halus budibahasamu serta manis wajahmu, dengan demikian engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga.
18.  Hai anakku; bila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.
19.   Jadikanlah dirimu dalam segala tingkah laku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain kerana itu adalah sifat riya~ yang akan mendatangkan cela pada dirimu.
20.  Hai anakku; janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan olah dunia kerana engkau diciptakan Allah bukanlah untuk dunia   saja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya.
21.   Hai anakku; usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata kata yang busuk dan kotor serta kasar, kerana engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.
22.  Hai anakku; janganlah engkau mudah ketawa kalau bukan kerana sesuatu yang menggelikan, janganlah engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah
engkau bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu, janganlah menyia-nyiakan hartamu.
23.  Barang sesiapa yang penyayang tentu akan disayangi, siapa yang pendiam akan selamat daripada berkata yang mengandung racun, dan siapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan menyesal.
24.  Hai anakku; bergaullah rapat dengan orang yang alim lagi berilmu. Perhatikanlah kata nasihatnya karena sesungguhnya hati akan tentram mendengarkan nasihatnya, sehingga hati ini akan hidup dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya sebagaimana tanah subur yang disirami air hujan.
25.  Hai anakku; ambillah harta dunia sekadar keperluanmu sahaja, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekalan akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang atau bakul sampah kerana nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya kerana sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah engkau berteman dengan orang yang bermuka dua, karena kelak akan membinasakan dirimu.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Nama lengkap Luqman adalah Luqman bin `Anqo’ bin Sadun, anaknya bernama Tsaron. Ia seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi. Karena keshalihan­nya dan untaian nasihatnya bagaikan mutiara, namanya diabadikan dalam al-Qur’an, yaitu dalam surat Luqman, surat ke-31. la telah mendapat­kan ilmu hikmah sehingga dijuluki al-Hakim (ahli hikmah). Dalam riwayat shahih dikatakan, ia seorang budak belian yang berasal dari tanah habasyi (Ethiopia) berkulit hitam, berparas pas-pasan, hidung pesek, kulit hitam legam.
 Nilai-nilai pendidikan yang diberikan luqman terhadap anaknya adalah :
1.         Pendidikan aqidah.
Pesan ini beliau sampaikan seperti dalam firman Allah SWT: “ Dan ingatlah ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepada anaknya: “hai anakku, janganlah kamu mensekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar.”(QS.Luqman: 13)
2.        Pendidikan untuk berbuat baik kepada ke dua orang tua meskipun orang tuanya adalah kafir (hanya saja, perintah berbakti kepada orang tua terbatas pada hal-hal yang ma’ruf)
Pesan ini Allah abadikan dalam firman-Nya : “Dan kami perintahkan kepada manusia(berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang beertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun”.(QS.Luqman:14)
3.        Pendidikan untuk menanamkan rasa cinta amal sholeh dan  muroqobah (selalu diawasi oleh Allah)
Allah SWT berfirman : “(Luqman berkata) : “hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau langit atau dalam bumi, niscaya Allah akan membalasnya. sesungguhnya Allah maha halus lagi mengetahui.”(QS.Luqman:16)
4.        Pendidikan untuk beribadah kepada Allah SWT. serta sabar dalam menghadapi cobaan
Allah SWT berfirman : “Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa  yang menimpamu. sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang di wajibkan (oleh Allah)”.(QS.Luqman: 17)
5.        Pendidikan tentang akhlaq
Allah SWT berfirman: “dan janganlah kamu memalinglan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angku, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.sesungguhnya seburuk-buruknya suara adalah suara keledai”.(QS, Luqman: 18-19)
            Selain pendidikan-pendidikan Luqman terhadap anaknya yang tercantum dalam Al Qur’an masih banyak pendidikan-pendidikan yang diajarkan Luqman terhadap anaknya seperti yang tercantum di atas.

Thanks for reading & sharing As'ad Collection

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Komentar

Sample Text

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya.

Cari Di Blog Ini

Translate


Follow by Email

Blog Archive

Followers Google+