Home » » SOCRATES DAN APOLOGIA

SOCRATES DAN APOLOGIA

Posted by As'ad Collection on 23 February 2016

Filsafat “Antroposentris” lahir dari rahim seorang buruk rupa yang bernama Socrates. Berkat dirinya, filsafat Yunani mengalami transformasi signifikan dari filsafat alam ke filsafat manusia. Bahkan, filsafatnya telah menjadi landasan bagi perkembangan filsafat selanjutnya, seperti filsafat yang diusung oleh murid-muridmya, Filsafat Barat, dan Filsafat Islam.  
Konon, dewa yang berada di tempat peribadatan bagi orang Yunani, di Delphi, menyatakan bahwa ia adalah orang yang arif di negeri Yunani.  Ia menafsirkan bisikan itu sebagai persetujuan atas cara acnoticism yang menjadi titik tolak di filsafatnya : “one thing only I know, and that is I know nothing”. Lebih lanjut ia menyatakan, “Aku disebut bijaksana, oleh karana mereka yang mendengarkan pernyataan-pernyataanku selalu mendapat kesan bahwa aku ini memiliki kebijksanaan yang tak dapat ditemukaan pada orang lain; akan tetapi, tun-tuan dari Athena, yang sebenarnyalah ialah bahwasanya  tuhanlah satu-satunya yang bijaksana. Oleh apa yang disabdakannya itu kiranya hendak ditunjukkan bahwa kebijaksanaan manusiawi itu sedikit atau sama sekali tidak ada harganya.” 
Meskipun kearifan dan kebijaksanaan Socrates tidak dapat disangsikan lagi oleh sebagian masyarakat Yunani, tetapi ia tidak pernah mengaku memiliki hal tersebut; hal itu tercermin dari kata-kata yang Socrates yang dipaparkan di atas. Ia hanya menyadari bahwa dirinya adalah penggemar kearifan atau amateur kebijaksanaan (pecinta kebijaksanaan). Pribadi Socrates sangat bertentangan dengan kaum sofis yang menganggap dirinya bijaksana, serta menjadikan kemahirannya dalah bermain kata-kata sebagai jalan untuk mencari kenikmatan duniawi.
Sayangnya, buah perenungan filosofis Socrates tidak tertuang dalam tulisan. Hal itu karena ia tidak pernah diketahui menuliskan pemikirannya dalam sebuah karya. Pada akhirnya, pemikiran Socrates yang sampai pada kita saat ini pada dasarnya berasal dari catatan-catatan Plato, Xenophone (430-357) SM, dan siswa-siswa lainnya. Adapun karya mengenai Socrates yang fenomenal adalah “Apologia”. Buku ini berisi pidato pembelaan Socrates dimuka sidang pengadilan Athena yang mengantarkannya pada hukuman mati. Karya yang ditulis oleh Plato ini akan diulas sekilas oleh penulis dalam makalah ini.
A. RIWAYAT HIDUP SOCRATES
Socrates lahir dari rahim seorang bidan yang bernama Phaenarete, tepatnya di Athena (470 – 399 S.M). Ayahnya bukanlah keturunan bangsawan atau orang berkedudukan tinggi, melainkan seorang pemahat bernama Sophroniscus. Pada usia muda, Socrates mendapat pendidikan formal di bidang sains, musik dan gimnastik. Semua ini merupakan subyek pelajaran yang berlaku umum dalam periode Yunani klasik. Ia juga dikenal sebagai pemahat, melanjutkan pekerjaan ayahnya setelah wafat. Beberapa buah karyanya pernah ditampilkan di salah satu tempat di jalan menuju ke Acropolis di Athena.
Namun, Socrates mengambil langkah untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pemahat. Socrates dikenal sebagai seorang yang tidak tampan, berpakaian sederhana, tanpa alas kaki dan berkelilingi mendatangi masyarakat Athena berdiskusi soal filsafat. Dia melakukan ini, pada awalnya, didasari satu motif religius untuk membenarkan suara gaib yang didengar seorang kawannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. 
Merasa diri tidak bijak dia berkeliling membuktikan kekeliruan suara tersebut. Dia mendatangi orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu. Setelah itu, dia mengajak mereka berdiskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode berfilsafatnya inilah yang dia sebut sebagai metode kebidanan. Dia memakai analogi seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi dengan caranya berfilsafat yang membantu lahirnya pengetahuan melalui diskusi panjang dan mendalam. Dia selalu mengejar definisi absolut tentang satu masalah kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut meskipun kerap kali orang yang diberi pertanyaan gagal melahirkan definisi tersebut. 
Pada akhirnya Socrates membenarkan suara gaib tersebut berdasar satu pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana. Sepanjang sisa kehidupannya ia dibimbing oleh suara surgawi. Ia menggambarkan hubungannya dengan Tuhan secara demikian intim seperti hubungan yang diajarkan oleh beragama yang hidup di zaman modern. Socrates sangat meyakini “suara” tersebut dan tidak pernah menentangnya karena beranggapan bahwa suara tersebut selalu menunjukkan kepadanya segala kebenaran dan kebaikan.
Hampir pembicaraan biografis tentang Socrates dimulai dengan melukiskannya sebagai orang yang jelek penampilannya; rupa dan parasnya tidak selaras dengan ukuran ideal orang Yunani. Ia bak hantu yang sehari-hari berkeliaran menyusuri jalanan di kota Athena, dipasar-pasar, dan di alun-alun. Dimana saja ia bisa menemui manusia yang dapat diajak bercakap-cakap dengan caranya yang terkenal, yaitu bertanya-tanya tentang segala sesuatu sampai ke akar-akarnya, sekadar menguji sejauh dan sedalam mana pengetahuan mereka. 
Namun, di balik penampilan lahiriahnya yang tidak sempurna, ia memiliki bathin yang sempurna. Socrates adalah pemilik jiwa yang luhur, menusia pencari kebenaran sejati yang tak gentar oleh pendapatnya yang berbeda dengan khalayak ramai. Dialah manusia sederhana yang bertekad menerjang segala keangkuhan. Dengan kata lain, Socrates merupakan seorang manusia yang membawa pesan-pesan nubuwah atau profetis. 
Ia sebenarnya memiliki derajat dalam masyarakat meski ia menghindari politik karena dianggap akan mengganggu missi keruhaniannya. Dalam jabatan yang dipegangnya ia selalu bersikap berani dan terkadang berdiri sendiri mempertahankan apa yang dianggapnya sebagai tindakan yang benar. Contohnya antara lain saat ia menentang sendirian proposal terhadap para pemenang Arginusae pada tahun 406 s.M. Dua tahun kemudian ia menunjukkan pembangkangan terhadap Tirani Tigapuluh selama masa pemerintahan teror mereka.
Pada masa Socrates, kaum sofis menguasai panggung pemikiran Yunani. Mereka menganggap bahwa kebenaran itu relatif. Dengan kata lain, kaum sofislah penentu kebenaran dengan keahlian mereka bersilat lidah. Dengan sekuat tenaga Socrates menentang ajaran para sofis. Ia membela yang benar dan yang baik sebagai nilai obyektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang. Dalam sejarah umat manusia, Socrates bisa disebut sebagai figur teladan yang jujur dan berani menegakkan kebenaran.
Kejujuran, keberanian, serta cara berfilsafat Socrates telah mengancam eksistensi orang-orang yang dianggap bijak pada masa itu. Rasa sakit hati inilah yang nantinya akan berujung pada kematian Sokrates melalui peradilan dengan tuduhan resmi merusak generasi muda, sebuah tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dipatahkan melalui pembelaannya sebagaimana tertulis dalam Apologia karya Plato. Socrates pada akhirnya wafat pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan dengan hasil voting, 280 mendukung hukuman mati dan 220 menolaknya.
B. FILSAFAT SOCRATES
Peninggalan pemikiran Socrates yang paling penting ada pada cara dia berfilsafat dengan mengejar satu definisi absolut atas satu permasalahan melalui satu dialektika. Pengejaran pengetahuan hakiki melalui penalaran dialektis menjadi pembuka jalan bagi para filosof selanjutnya. Perubahan fokus filsafat dari pembicaraan mengenai alam beralih menjadi manusia juga merupakaan dari Socrates. Manusia menjadi objek filsafat yang penting setelah sebelumnya dilupakan oleh para pemikir hakikat alam semesta. Pemikiran tentang manusia ini menjadi landasan bagi perkembangan filsafat etika dan epistemologis di kemudian hari.
Selain itu, kebangkitan filsafat Socrates sebagai upaya untuk mengkritisi ajaran kaum Sofis. Socrates berusaha mendobrak keyakinan masyarakat Athena yang dipengaruhi oleh kaum sofis bahwa kebenaran itu relatif. Socrates berpandangan bahwa ada kebenaran umum yang dapat dipegang oleh semua orang, yakni kebenaran absolut. 
Menurut pendapat Socrates ada kebenaran obyektif, yang tidak bergantung pada saya atau pada kita. Ini memang pusat permasalahan yang dihadapi oleh Socrates. Untuk membuktikan adanya kebenaran obyektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan – percakapan. Ia menganalisis pendapat-pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat mengenai salah dan tidak salah, misalnya ia bertanya kepada negarawan, hakim, tukang, pedagang, dsb. Menurut Xenophon, ia bertanya tentang salah dan tidak salah, adil dan tidak adil, berani dan pengecut dll. Socrates selalu menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban–jawaban lebih lanjut dan menarik kensekuensi–konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban–jawaban tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil, maka hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain, lalu hipotesis kedua ini diselidiki dengan jawaba –jawaban lain, dan begitulah seterusnya. Sering terjadi percakapan itu berakhir dengan aporia (kebingungan). Akan tetapi, tidak jarang dialog itu menghasilkan suatu definisi yang dianggap berguna. Metode yang biasa digunakan Socrates biasanya disebut dialektika yang berarti bercakap – cakap atau berdialog. Metode Socrates dinamakan dialektika karena dialog mempunyai peranan penting di dalamnya. Selin itu, bagi Socrates sangat meneknkn pada penemuan definisi. Hal itu karena definisi sebagai alat untuk menghantam relativisme kaum sofis.
Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada orang sofis bahwa pengatahuan yang umum ada, yaitu definisi itu. Jadi, orang sofis tidak seluruhnya benar, yang benar ialah sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian bersifat khusus, yang khusus itulah pengetahuan yang kebenaranya relatif. Misalnya contoh ini :
Apakah kursi itu? kita periksa seluruh, kalau bisa seluruh kursi yang ada di dunia ini. Kita menemukan kursi hakim ada tempat duduk dan sandaran, kakinya empat, dari bahan jati. Lihat kursi malas, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya dua, dari besi anti karat begitulah seterusnya. Jadi kita ambil kesimpulan bahwa setiap kursi itu selalu ada tempat duduk dan sandaran. Kedua ciri ini terdapat pada semua kursi. Sedangkan ciri yang lain tidak dimilki semua kursi. Maka, semua orang akan sepakat bahwa kursi adalah tempat duduk yang bersandaran. Berarti ini merupakan kebenaran obyektif–umum, tidak subyektif–relatif. Jadi, memang ada pengetahuan yang umum, itulah definisi.
Adapun tujuan utama bagi Socrates adalah menciptakan suatu reformasi susila dalam tata hidup masyarakat Athena; ia bisa disebut sebagai ethikus. Selain itu, bagi Socrates pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan tentang diri sendiri. Semboyan yang paling digemarinya ialah tulisan yang tertera di kuil Delphi, yaitu: Kenalilah dirimu sendiri! Maka dijadikanlah diri manusia oleh Socrates menjadi sasaran filsafat, dengan mempelajari substansi dan sifat – sifat diri itu. Dengan demikian menurut Socrates filsafat hendaklah berdasarkan kemanusiaan, atau dengan kata lain, hendaklah berdasarkan akhlak dan budi pekerti.
Menurut filsafat Socrates segala sesuatu kejadian yang terjadi di alam adalah karena adanya “akal yang mengatur” yang tidak lalai dan tidak tidur. Akal yang mengatur itu adalah Tuhan yang pemurah. Dia bukan benda, hanya wujud yang rohani semata – mata. Pendapat Socrates tentang Tuhan lebih dekat kepada akidah tauhid. Dia menasehatkan supaya orang menjaga perintah–perintah agama, jangan menyembah berhala dan mempersekutukan Tuhan.
Kemudian, sumbangsih Socrates yang terpenting bagi perkembangan filsafat adalah metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat secara umum.
C. APOLOGIA
Dakwah Socrates yang dilakukan secara intensif dalam rangka mengkritisi pandangan kaum sofis ternyata malah dianggap sebagai ancaman. Selain itu, cara berfilsafat Socrates, dengan menggunakan metode dialektik, telah meruntuhkan harga diri orang-orang yang menganggap diri mereka bijaksana. Oleh karena itu, pada tahun 399 S.M. Socrates ditangkap oleh pengadilan tinggi Athena. Adapun orang-orang yang menjadi pendakwanya adalah Meletus (seorang penyair), Anytus (politisi) dan Lycon (orator). 
Adapun tuduhan yang ditujukan pada Socrates adalah “Socrates adalah seorang yang jahat, orang yang serba nau tahu, yang bermenung tentang hal-hal di balik awan dan di bawah bumi, serta menampilkan hal-hal yang sesat dalaam bentuk-bentuk yang lebih baik; dan ajaran-ajarannya ini diteruskan kepada orang lain.” Selain itu, Socrates juga dituduh sebagai pembuat kejahatan, yang merusak para pemuda, dan tak percaya terhadap tuhan-tuhan yang diabdi oleh Negara melainkan mempunyai tuhan-tuhannya sendiri.
Pengadilan sebagai penilai hukum memberi kesempatan bagi sokrates untuk melakukan pembelaan. Sokrates tidak ingin bersikeras membela dirinya, melainkan ia akan menghadapi tuduhan Meletus yang kontradiksi tersebut. Menurut penuturan Plato, Socrates menolak memberikan argumentasi rhetorikal untuk membela dirinya dan menggunakan cara yang lebih santun. Menurut apologi Plato, ia mengawali pembelaan dirinya dengan kata-kata berikut: Kalau begitu aku harus mengajukan pembelaan diri dan mencoba menjernihkan fitnah yang sudah berlangsung lama atas diriku. Dan dengan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan, sesuai dengan kepatuhan kepada hukum, aku sekarang akan mengajukan pembelaan diriku. 
Pada hari pengadilan yang dihadiri, setidaknya, duapertiga warga Athena, Socrates menyampaikan tiga buah pidato. Pada pagi hari, Socrates membacakan pledoi. Siang harinya, usai pemungutan suara yang memutuskan hukuman mati (280 suara meghukum Socrates dan 220 suara membebaskan) Socrates maju kembali menyampaikan pidato dan diijinkan meminta pengampunan atau alternatif hukuman. Dan sore harinya, setelah pemungutan suara yang kedua menolak alternatif hukuman yang diajukan Socrates, Socrates kembali maju menyampaikan pidato perpisahan.
Tiga buah pidato Socrates, yang ditulis ulang oleh Plato menjadi buku Apologia itu, merupakan salah satu rujukan intelektual paling tua dan sempurna.    Apologia disebut juga sebagai rujukan atas konsepsi the art of principle karena tiga buah pidato di hari terakhir Socrates. Pidato tersebut sebagai contoh teoritis sekaligus praksis dari laku memertahankan prinsip-prinsip secara lugas, benderang, dan berani.
Pembelaan pertama pada tuduhan Sokrates sebagai seorang koruptor atau perusak atau pengacau orang muda : Socrates tidak setuju dirinya dikatakan sebagai perusak orang muda. Kenyataan yang ada bahwa orang muda senang melihat Socrates menguji mereka yang menyebut dirinya bijak. Jika Sokrates mengajarkan yang tidak baik, maka kenyataan yang akan terjadi anak muda tersebut akan menjadi pekacau dan perusak. Adakah bukti bahwa anak muda yang senang mendengar ajaran kebijaksanaan Socrates itu perusak atau pengacau? Pembelaan kedua pada tuduhan Sokrates yang mengajarkan kaum muda untuk tidak percaya pada para dewa polis: tuduhan Meletus membingungkan Socrates. Meletus menuduh Sokrates tidak percaya pada dewa-dewa yang dipercaya oleh polis (dewa matahari dan dewa bulan) tetapi mengajarkan hal-hal spiritual ilahi yang lain. Matahari cuma batu dan bulan cuma tanah seperti yang pernah digagas oleh anxagoras. Socrates berpendapat bahwa kita harus beribadat menurut peraturan yang ditetapkan oleh polis bersangkutan. Socrates tidak menolak politeisme yang diterima umum dalam polis Yunani, biarpun ia kerapkali berbicara tentang Tuhan dengan cara menyerupai monoteisme. Sehingga bagi Socrates, perbedaan politeisme dan monoteisme bagi orang Yunani tidak dipermasalahkan dan tidak ada bukti apapun bahwa Socrates mendirikan suatu golongan religius yang baru. Dengan demikian Meletus nenunjukkan ketidaktahuannya dengan mengungkapkan suatu dakwaan kuno yang tidak relevan dengan kepercayaan atau perilaku Socrates.
Berbeda dengan beberapa kaum sofis yang diadili, yang menyampaikan pledoi seperti anak SD sedang berdeklamasi, penuh dengan kalimat yang mengharu-biru, kadang dengan rengekan, dengan gerak tangan dan mimik yang dramatik, terkadang dengan tetesan air mata, Socrates menyampaikan semua pembelaan dirinya dengan kalimat yang terus terang, menyebut nama lawannya tanpa inisial, menghantam lawannya (terutama Meletos) dengan lugas, dengan tanpa rasa takut sekaligus tanpa kehilangan sedikitpun cira rasa kerendah-hatian dirinya yang sudah dikenal di delapan penjuru Athena.
Socrates diadili oleh hakim Athena. Ia dijatuhi hukuman mati. Seandainya Socrates memilih hukuman dibuang keluar kota, tentu hukuman itu diterima oleh hakim tersebut, tetapi Socrates tidak mau meninggalkan kota asalnya. Socrates menawarkan hukuman denda 30 mina ( mata uang Athena waktu itu ). Pilihan itu ditolak oleh para hakim karena dianggap terlalu kecil, terutama Socrates didalam pembelaannya dirasakan menghina hakim – hakimnya. Biasanya hukuman mati dirasakan dalam tenggang waktu 12 jam dari saat diputuskannya hukuman itu akan tetapi, pada waktu itu ada satu perahu layar Athena yang keramat sedang melakukan perjalanan tahunan kekuil dipulau Delos, dan menurut hukum Athena hukuman mati baru boleh dijalankan bila perahu itu sudah kembali oleh karena itu, satu bulan lamanya Socrates tinggal didalam penjara sambil bercakap–cakap dengan para sahabatnya. Salah seorang diantara mereka yaitu Kriton, mengusulkan supaya Socrates melarikan diri, tetapi Socrates menolak. Dan pada waktu senja dengan tenang Socrates meminum racun, dikelilingi oleh para sahabatnya. Sekalipun Socrates mati, ajarannya tersebar justru dengan cepat karena kematiannya itu. Orang mulai mempercayai adanya kebenaran umum.
Socrates tidak gentar dalam menghadapi kematian. Ia berkata di depan pengadilan bahwa seorang yang benar-benar berbudi luhur tidak selaayaknya memperhitungkan soal hidup atau mati; dalma berbuat sesuatu hendaknya ia hanya mempertimbangkan baik atau buruknya perbuatan itu. Dia menambahkan bahwa sepatutnya manusia tidak berpikir tentang kematian atau perihal lainnya, melainkan semata-mata tentang kehormaatan dirinya. Inilah akhlak yang seluhur-luhurnya. Kata-kata inilah yang menjadi prinsip dalam hidupnya hingga akhir hayatnya. Pidato pembelaannya ditutup dengan sepenggal kalimat, “Tibalah kini saat kita berpisah: aku menjelang mati, dan kalian menempuh hidup. Mana yang lebih baik, hanya Tuhanlah mengetahui.” 
Bagi Socrates, dalam kematian jiwa dan tubuh terpisah, tubuh menjadi hancur dan jiwa meneruskan “perjalanannya”, karena jiwa bersifat langgeng. Seperti dikenal dalam legenda kuno Yunani, bahwa jiwa-jiwa orang mati akan kembali ke rumah Hades, dan kelak di kemudian hari akan dihidupkan lagi dari kematian. Menurutnya hal tersebut berarti orang-orang yang hidup adaalah mereka yang dibangunkan kembali dari kematiannya. Ini membuktikan bahwa jiwa memang benar-benar ada di sana, dan tak mungkin dihidupkan lagi apabila jiwa tersebut tidak ada. Hal ini sudah merupakan bukti bahwa orang-orang yang kini hidup datang dari mereka yang sebelumnya telah mati dan dibangunkan kembali. 
Jika drama Antigone karya Sophocles bisa disebut sebagai puncak warisan seni drama kebudayaan Athena, Apologia sebagai epilog kehidupan Socrates adalah versi lain dari semangat dramaturgi kebudayaan Athena dalam kehidupan nyata dan bukan semata di panggung Parthenon yang agung. Keberaniannya dalam menghadapi maut digambarkan dengan indah dalam Apologia karya Plato. Kematian Socrates dalam ketidakadilan peradilan menjadi salah satu peristiwa peradilan paling bersejarah.
KESIMPULAN
Seumur hidup Socrates melewati penghidupan yang berat, namun tetap memusatkan seluruh perhatiannya dengan melakukan penelitian ilmiah. Doktrin Socrates memiliki warna mistisisme. Dia menganggap, bahwa keberadaan pada hal ihwal di langit dan bumi, perkembangan dan kehancuran semuanya merupakan rencana Tuhan. Ia menentang riset naturalis, menganggap bahwa hal itu adalah menghina dewa. Ia mendorong orang-orang memahami logikanya sebagai manusia, hidup pada kehidupan yang bermoralitas. Riset utama filsafatnya adalah masalah etika moral.                          
Metode penyampaian pemikiran filosofis Socrates dengan melalui proses yang disebut “pembidanan.” Artinya membantu orang untuk “melahirkan” wawasan yang benar. Metode ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan (berdiskusi) kepada setiap orang yang ditemuinya di setiap pelosok kota Athena di mana ia lewat. Socrates acap kali berdebat dengan orang. Dalam perdebatan, ia menggunakan sindiran agar pihak lawan bertentangan sendiri, mengakui tidak tahu sama sekali terhadap pertanyaan tersebut. 
Dengan demikian orang akan dapat menangkap kebenaran filosofis dengan menggunakan rasionya sendiri. Menggunakan akal atau rasio ini berarti masuk ke dalam diri sendiri dan memanfaatkan apa yang ada di sana. Prinsip berpikir tiada henti, kritis, mempertanyakan segala sesuatu yang bertentangan dengan kekuasaan masyarakat dengan mengecam segala bentuk ketidakadilan inilah yang akhirnya mengakibatkan Socrates kehilangan nyawanya dengan dipaksa minum racun cemara saat berusia 70-an tahun.
Begitu tegarnya Socrates menghadapi kematian di depan matanya saat detik-detik menjelang ajal pelaksanaan hukuman minum racun. Kekuatan yang besar hinggap pada dirinya hingga mampu menghadapinya dengan ketenangan yang luar biasa diiringi derai tangis Xanthipe (istri), anak-anak, dan sahabat-sahabatnya. Kekuatan Socrates muncul dari dasar keyakinannya akan arti dari kematian itu sendiri. Ia yakin akan mampu melampaui orang-orang mati dan bahkan para dewa sendiri. Kematian baginya merupakan pemisahan jiwa dari raga. Kematian adalah proses pemurnian dari jiwa itu sendiri. Seorang filosuf mencintai kebijaksanaan, kebijaksanaan yang hanya dapat dicapai oleh jiwa.
DAFTAR PUSTAKA
Bertens, Kees. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius. 1999.
Ferguson, Wallace K., and Geoffrey Bruun. A Survey of European Civilization (4th Ed).
Boston: Houghton Mifflin Company. 1969.
Hasan, Fuad. APOLOGIA, Pidato Pembelaan Socrates yang Diabadikan Plato. Jakarta:
Bulan Bintang. 1973.
Jahja, Muchtar. 1962. Pokok – Pokok Filsafat Yunani, Jakarta : Widjaya.
Rakhmat, Ioanes. Socrates dalam Tetralogi Plato: Sebuah Pengantar dan Terjemahan Teks.
Jakarta: Gramedia. 2009.
Solomon, Robert C. Sejarah Filsafat, New York : Yayasan Bentang Budaya. 1996.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum, Bandung : PT Remaja Rosda Karya. 2003.
Yenne, Bill. 100 Pria Pengukir Sejarah Dunia. Jakarta: PT. Pustaka Delapratasa. 2002.

Thanks for reading & sharing As'ad Collection

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Komentar

Sample Text

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya.

Cari Di Blog Ini

Translate


Follow by Email

Blog Archive

Followers Google+