Home » » Tuhan dalam Perspektif Spinoza, Leibniz, dan Berkeley

Tuhan dalam Perspektif Spinoza, Leibniz, dan Berkeley

Posted by As'ad Collection on 15 October 2015

Pembahasan mengenai Tuhan merupakan subject-matter yang sangat kontroversial dan tak akan pernah redup oleh zaman. Tema ketuhanan bukan saja dibahas oleh filsafat, akan tetapi menjadi objek kajian dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti antropologi, sosiologi, psikologi, dll. Pertanyaan yang sering muncul dalam pembicaraan mengenai Tuhan adalah apakah Tuhan itu merupakan Realitas yang absolute dan independen? Filsafat mendasarkan pembuktian eksistensi Tuhan dengan menggunakan akal. Dalam percaturan filsafat barat, gejala ini diawali dengan periode rennaisans di mana akal menjadi dewa yang dipuja manusia.
Sejarah persepsi umat manusia mengenai Tuhan sejak era Ibrahim ---bahkan ketika manusia tercipta, mereka sudah memiliki persepsi tersendiri mengenai Supreme Reality--- hingga kini. Gagasan manusia tentang Tuhan memiliki lika-liku sejarah yang tidak akan berakhir. Semua itu dikarenakan setiap manusia memiliki gagasan yang berbeda mengenai Tuhan yang dipengaruhi oleh pemahaman, periode waktu, kebudayaan dan komunitas.           
Rasa ingin tahu manusia terhadap The Supreme Reality merupakan fitrah manusia di mana cenderung kepada sesuatu yang lebih agung darinya. Sekalipun penganut atheis yang tidak meyakini Tuhan akan tetapi paham yang dianut oleh mereka telah menjadi Tuhan yang bersemayam dalam dirinya. Kaum atheis juga masih membahas tentang Tuhan, meskipun fokus mereka berkutat pada pembuktian bahwa Tuhan itu tidak ada.
Bagi penganut theisme yakni yang meyakini eksistensi The Supreme Reality, Tuhan merupakan suatu realitas yang bersifat transenden dan sesuatu tujuan yang bersifat imanen. Tuhan adalah zat yang menciptakan alam dunia, akan tetapi tak terbatas dalam dunia ini. Kepercayaan ini bersifat realis. Oleh karena itu, Tuhan merupakan Zat yang ada tersendiri dan tidak bersandar kepada pengetahuan kita terhadapnya.
Atas dasar argumentasi di atas, saya memutuskan untuk mengambil tema ”Tuhan” dalam perspektik Spinoza, Leibniz, dan Berkeley. Hal tersebut diharapkan bisa menambah cakrawala pengetahuan saya mengenai Tuhan dalam pandangan ketiga filosof tersebut. Terlebih lagi, argumentasi yang diajukan oleh mereka untuk menyokong eksistensi Tuhan sangat menarik untuk ditelusuri agar konsepsi kita mengenai Tuhan menjadi lebih rasional. Selain itu, sebagai makhluk yang dianugerahi akal agar diharapkan lebih kritis lagi dalam memandang sebuah bangunan argumentasi. Meskipun, dalam hal ini saya masih penuh dengan keterbatasan ilmu mengenai subject ini.
Pada makalah ini, saya akan memulai dengan pendahuluan. Pada isi makalah ini, saya akan membahas mengenai Tuhan dalam tesis saya. Selanjutnya, saya mencoba untuk memaparkan konsepsi Tuhan menurut Spinoza, Leibniz, dan Berkeley. Kemudian dilanjutkan dengan analisis pemikiran ketiga tokoh tersebut. Bab terakhir merupakan penutup yang berisi kesimpulan terhadap pembahasan dalam makalah ini.

II. Isi
II.1. Eksistensi Tuhan
Menurut saya Tuhan merupakan The Supreme Reality yang dapat dibuktikan eksistensi-Nya. Tuhan yang dimaksud adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang hidup dan riil. Penting sekali bagi kita untuk menegaskan sikap objektif karena pada zaman modern ini banyak orang yang beranggapan bahwa jika seseorang mengatakan bahwa ia percaya kepada Tuhan, ia hanya mengeluarkan perkataan yang tidak ada artinya. Tuhan adalah zat yang memberi arti kepada alam akan tetapi dapat tetap kita ketahui.
Dalam pembuktian terhadap Tuhan yang didapatkan dari alambiasanya orang memusatkan perhatiannya terhadap alam sebagai bukti. Akan tetapi, bukti tersebut bukan merupakan bukti yang kokoh. Bukti yang kuat setidaknya bias disandarkan pada bukti ontologi, kosmologi, dan teleologi.
Pada bukti ontologi mencakup hal-hal sebagai berikut yakni, kita terlebih dahulu memiliki ide mengenai Tuhan. Tuhan merupakan suatu zat yang kita tidak dapat gambarkan zat yang lebih besar daripadanya. Kemudian, suatu zat yang ada dan memiliki wujud tersendiri yakni, tidak hanya ada dalam pikiran manusia, adalah lebih besar dari zat yang hanya ada dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, Tuhan itu ada dengan wujud hakiki yang tersendiri. Ide tentang Tuhan yang tak terbatas (infinite) dan sempurna tidak dapat ditimbulkan oleh benda yang terbatas (finite). Oleh sebab itu, ide tersebut tentu telah ditimbulkan oleh Tuhan sendiri. Dalam hal ini, muncul sifat yang hanya mutlak pada Tuhan yakni, sifat bahwa Tuhan itu ada dan mengandung sebab adanya dalam dirinya sendiri.
Mengenai bukti kosmologis yang merupakan pembuktian yang paling mendapat perhatian dari para filosof. Hal tersebut karena berhubungan dengan ide tentang sebab-akibat (causality). Plato mengetakan bahwa tiap-tiap benta yang terjadi harus ada yang menjadikan. Dalam dunia, tiap-tiap kejadian harus ada yang menjadikan. Dalam benda-benda yang terbatas (finite) rangkaian sebab adalah terus menerus, akan tetapi dalam logika rangkaian yang terus menerus itu mustahil. Jadi, setelah sebab-sebab yang merupakan rangkaian tentu ada sebab yang pertama yang tidak disebabkan oleh yang lain dan sebab pertama inilah yang merupakn Tuhan. Argumen kosmologi tersebut kuat akan tetapi, pada era modern ini kesulitan yang dihadapi adalah kita tidak yakin bahwa sebab yang pertama sebagai hasil daripada bukti ini merupakan Zat yang kita maksud (Tuhan)? Walaupun begitu bukti kosmologi merupakan bukti yang penting.
Bukti teleologi merupakan pembuktian yang popular. Diawali dengan adanya keseragaman dalam alam dan diakhiri dengan perlu adanya sumber daripada keseragaman itu. Keseragaman merupakan bukti tentang rencana, dan sumber rencana itu adalah Tuhan.


II.1. Pemikiran Spinoza, Leibniz, dan Berkeley tentang Tuhan
II.1.1. Spinoza (1632-1677)

Baruch Spinoza mengucilkan diri dari agama Yahudi dan mengubah namanya menjadi Benedictus de Spinoza. Dia dipandang sebagai penyokong utama ajaran pantheisme.  yang seluruh teori filsafatnya didominasi oleh ide tentang Tuhan. Hal tersebut terlihat dari karya monumentalnya Ethics yang berbicara mengenai tiga masalah dawali dengan pembahasan metafisika. Hanya ada satu zat dalam sistem metafisika Spinoza, yakni “Tuhan atau alam”. Hal itu berdasarkan pada teorinya ---yang akan di bahas nanti--- bahwa ‘sesuatu yang terbatas tidak ada yang hidup mandiri’.
Berkaitan dengan teori di atas maka, Spinoza menolak konsep yang menyatakan bahwa pikiran dan materi adalah dua zat yang independen dan didefinisikan berturut-turut oleh sifat-sifat pemikiran dan pengembangan. Berdasarkan teori yang dikemukakan di awal, Spinoza membantah konsep yang seolah-olah ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang terbatas dapat hidup mandiri. Menurutnya, ‘pemikiran dan pengembangan adalah sifat-sifat Tuhan’. Tuhan juga memiliki sifat-sifat lainnya yang tak terbatas karena Dia tidak terbatas dalam setiap aspek-Nya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa hanya Tuhan sebagai zat tak terbatas yang dapat hidup mandiri dan independent tanpa tergantung dengan apa pun. Dengan kata lain, Tuhan di mata Spinoza adalah substansi yang nir-batas secara mutlak dan sebab bagi dirinya sendiri (causa sui).
Spinoza menambahkan bahwa jiwa individu dan potongan-potongan materi yang terpisah merupakan kata sifat. Bahkan menurutnya semua itu bukanlah ‘sesuatu’, tetapi hanya sekadar aspek-aspek dari Yang Maha Suci. Hal tersebut semakin memperkuat teori yang telah disebutkan di atas sekaligus membantah konsep ‘keabadian pribadi’ yang dipercaya oleh umat Kristiani. Akan tetapi, Spinoza tidak menafikkan adanya keabadian impersonal yang diperoleh dari penyatuan dengan Tuhan.
Selain argumen yang telah disebutkan di atas, dalam karyanya yakni, “Ethics” Spinoza mengemukakan dua teori lain untuk membuktikan bahwa Tuhan merupakan substansi yang tak terbatas. Menurutnya, “Ketiadaan kekuatan untuk eksis merupakan dalil kelemahannya dan sebaliknya kekuatan untuk eksis, merupakan dalil terhadap adanya kekuatan, sebagaimana yang terlihat jelas. Dengan demikian, apabila yang eksis secara niscaya sekarang ini hanya benda-benda terbatas, maka keniscayaannya adalah bahwa benda-benda terbatas lebih kuat dari eksistensi yang secara mutlak tak terbatas. Dan ini jelas tidak rasional. oleh karena itu, kita harus mengambil salah satu dari dua pilihan yaitu “sesuatu tidak eksis (tidak ada)” atau “eksistensi yang secara mutlak tak terbatas tersebut itu eksis secara niscaya”. Tetapi kita ada dan eksis, baik dalam diri kita sendiri ataupun dalam benda lain yang eksis secara niscaya. Dengan demikian, “eksistensi yang secara mutlak tak terbatas”, yaitu Tuhan, secara dharuri adalah eksis, relevansinya terbukti.
Selain itu, argumentasi yang ditawarkan oleh Spinoza adalah bahwa ‘sesuatu yang terbatas didefinisikan oleh batas-batasnya’. Hal tersebut berlaku pada hal fisik maupun logis, yakni oleh apa yang bukan sesuatu: “semua determinasi adalah negasi.” Dalam hal ini, Spinoza bersikukuh bahwa hanya Tuhan Maha Esa yang seluruhnya afirmasi (positif), dan niscaya Dia tidak terbatas secara absolut.
Berkenaan dengan pemaparan di awal maka, segala sesuatu diatur oleh sebuah ketentuan logis yang absolut. Dalam hal ini jelas Spinoza ingin menunjukkan bahwa tidak terdapat peluang kehendak bebas di wilayah mental atau di dunia fisik. Segala sesuatu yang terjadi merupakan menifestasi dari sifat Tuhan.
Berkaitan dengan determinisme ini, Spinoza menepis pemikiran yang berkembang bahwa apa yang bernilai positif dalam rangkaian peristiwa dinyatakan sebagai kebaikan, dan apa yang bernilai negatif dinyatakan sebagai keburukan. Spinoza menjawab hal tersebut dengan menyatakan bahwa negasi ---penilaian buruk--- hanya ada dari sudut pandang makhluk. Menurutnya, di mata Tuhan, pada suatu kenyataan yang sepenuhnya nyata (riil) tidak ada negasi (penilaian buruk). Dengan kata lain, kejahatan yang bagi kita tampak sebagai keburukan ---yang dapat mengakibatkan dosa--- tidak akan ada. Hal tersebut terjadi apabila suatu rangkaian peristiwa dilihat sebagai keseluruhan yang utuh. .”
Menurut Spinoza tidak ada hal buruk yang dapat menimpa alam semesta ini secara keseluruhan karena alam semesta tidak tunduk pada sebab-sebab eksternal. “Kita adalah bagian dari alam universal, dan kita mengikuti aturannya.” Dalam aksioma umum, “semua yang baik akan berakhir dengan baik.” Apa pun yang terjadi adalah bagian dari dunia nirwaktu yang abadi sebagaimana Tuhan melihatnya, sub specie aternitatis, di bawah aspek keabadian.
Spinoza percaya bahwa semua perbuatan salah disebabkan oleh kesalahan intelektual. Menurutnya, orang yang bijak akan memperoleh ‘kebaikan tertinggi’ karena memahami sesuatu dengan petunjuk akal. “Kebaikan tertinggi bagi pikiran adalah pengetahuan tentang Tuhan, dan kebenaran tertinggi bagi pikiran adalah mengetahui Tuhan.” Tetapi, “dia yang mencintai Tuhan tidak dapat berusaha agar Tuhan mencintainya.” Hal ini merupakan konsekuensi logis dari metafisika Spinoza.
Esensi dari sistem filsafat Spinoza, baik secara etis maupun metafisis adalah bahwa segalanya dapat didemonstrasikan. Oleh karena itu, dia memandang pentingnya membuat demonstrasi-demonstrasi. Menurutnya, kita tidak bisa meyakini bahwa interkoneksi-interkoneksi antara satu dengan yang lain di alam semesta ini berlangsung secara logis. Hal itu dikarenakan, banyak orang yang sudah teracuni empirisisme menganggap bahwa hukum-hukum ilmiah harus ditemukan dengan pengamatan, bukan dengan penalaran semata.
Padahal, bagi Spinoza, penalaran merupakan hal yang penting dalam menemukan hukum-hukum ilmiah. Dalam hal ini, Spinoza mengemukakan dalil yang kontroversial berkaitan dengan sifat dan asal-mula pikiran. Menurutnya, “pikiran manusia cukup bisa mengetahui esensi Tuhan yang abadi dan tak terbatas.” Selain itu, metode geometris juga penting karena berkaitan erat dengan bagian-bagian terpenting. Tentunya kerena berkaitan erat dengan bagian-bagian terpenting dalam pemikirannya.
Metafisika Spinoza merupakan contoh terbaik atas apa yang disebut “monisme logis” bahwa dunia secara keseluruhan adalah sebuah zat tunggal, sehingga logikanya tidak ada bagian-bagiannya yang bisa eksis sendiri. Landasan dari pandangan ini adalah kepercayaan bahwa setiap dalil memiliki sebuah subjek tunggal dan sebuah predikat tunggal. Hal tersebut menggiring kita pada kesimpulan bahwa hubungan-hubungan dan pluralitas-pluralitas pastilah sekadar ilusi. Spinoza beranggapan bahwa sifat dunia dan kehidupan manusia dapat disimpulkan secara logis dari aksioma-aksioma yang terbukti dengan sendirinya.
Menurut Spinoza, pikiran mustahil tanpa konsep substansi. Dia mencoba mendefinisikan substansi dan memahami substansi sebagai suatu kenyataan yang mandiri tapi juga terisolasi dari kenyataan-kenyataan lain. Substansi tidak berelasi dengan sesuatu yang lain (causa sui: penyebab dirinya sendiri).Spinoza mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan apa itu substansi? Apa perbedaannya dengan yang lain? Bagaimana antar substansi yang satu berinteraksi dengan yang lain? Bagaimana substansi itu muncul? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat menggelitik ruang pemikian Spinoza sehingga dia berupaya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dia menggunakan deduksi matematis yang diawali dengan definisi-definisi, aksioma-aksioma, proposi-proposisi, kemudian membuat pembuktian berdasarkan hal itu.
Dipengaruhi oleh geometri, Spinoza memulai dengan meletakkan definisi-definisi. Di bawah ini terdapat beberapa contoh definisi-definisi yang digunakannya dalam membuat kesimpulan-kesimpulan metafisis.

Beberapa Definisi

 1.    Sesuatu yang sebabnya pada dirinya sendiri, saya maksud esensina
      mengandung eksistesi, atau sesuatu  yang hanya dipahami sebagai ada.
 2.    Sesuatu dikatakan terbatas bila ia dapat dibatasi oleh sesuatu yang lain, misalnya tubuh kita terbatas.
 3.    Substansi ialah sesuatu yang ada dalam dirinya, dipahami melalui dirinya, konsep dapat dibentuk tentangnya bebas dari yang lain.
 4.    Yang saya maksud dengan atribut (sifat) ialah apa yang dapat dipahami sebagai melekat pada esensi substansi.
 5.    Yang saya maksud dengan mode ialah perubahan-perubahan pada substansi.
 6.    Tuhan yang saya maksud ialah sesuatu yang tak terbatas secara absolute (mutlak).
 7.    Sesuatu saya sebut bebas ialah sesuatu yang ada sendirian, bukan disebabkan oleh yang lain, dan tindakannya ditentukan olehnya sendiri.
 8.    Yang saya maksud dengan kekekalan ialah sifat pada eksistensi tadi.

Poin pertama menyatakan bahwa sebabnya pada dirinya sendiri sama dengan konsep penggerak pertama pada Aristoteles. Alam semesta menurut Spinoza sebagai ‘penggerak’ sementara itu, Tuhan berkenaan dengan ‘memikirkan dirinya sendiri’. Dasar permulaan seluruh sistemnya Spinoza adalah substansi. Selain itu, Spinoza juga berpendapat bahwa apa saja yang benar-benar ada, maka adanya itu haruslah abadi.
Definisi selalu diikuti oleh aksioma. Aksioma ialah suatu kebenaran yang tidak memerlukan pembelaan. Di bawah ini adalah aksioma-aksioma yang digunakan oleh Spinoza dalam merumuskan metafisikanya.

Aksioma-Aksioma
                                                                                                                    
1.   Segala sesuatu yang ada, ada dalam dirinya atau ada dalam sesuatu yang lain.
2.   Sesuatu yang tidak dapat dipahami melalui sesuatu yang lain harus dipahami melalui dirinya sendiri.
3.   Dari suatu sebab, tentu diikuti akibat; bila tidak ada sebab, tidakmungkin ada akibat yang mengikutinya.
4.   Pengetahuan kita tentang akibat deitentukan oleh pengetahuan kita tentang sebab.
5.   Sesuatu yang tidak biasa dikenal umum tidak akan dapat dipahami; konsep tentang sesuatu tidak melibatkan konsep tentang yang lain.
6.   Idea yang benar harus sesuai dengan objeknya.
7.   Bila sesuatu dapat dipahami sebagai tidak ada, maka esensinya tidak ada.

Berdasarkan definisi dan aksioma itu Spinoza mulai membuktikan proposisi-proposisinya. Di bawah ini adalah proposisi yang disusunnya.

Proposisi

Prop. I                         Substansi harus mendahului modifikasinya.
Bukti               Jelas dari definisi III dan V.
Prop. II            Dua substansi yang atributnya berbeda tidak akan
mempunyai persamaan.
                        Bukti               Juga jelas dari definisi III karena sesuatu harus ada
dalam dirinya sendiri dan dipahami melalui dirinya sendiri. Dengan kata lain, konsep tentang sesuatu tidak sama dengan konsep yang lain. Dan seterusnya.
           
            Dengan deduksi ini, maka substansi itu hanya satu menurut Spinoza. Balik kembali ke pertanyaan di awal berapa banyak substansi menurut Spinoza? Jawabnya hanya satu. Apakah substansi itu? Spinoza menjawab substansi adalah sesuatu yang tak terbatas. Substansi yang dimaksud adalah Tuhan. Akan tetapi, alam semesta juga merupakan Tuhan. Lewat proposisinya Spinoza telah membuktikan bahwa Tuhan, substansi, dan penyebab adalah identik. Menurutnya, selain Tuhan tidak ada substansi yang dapat dipahami. Oleh karena itu, menurut Spinoza, Allah atau alam adalah kenyataan tunggal. Spinoza menyebutnya Deus sive Natura (Allah atau alam). Jadi, alam semesta ini sakral dan religius. Hal ini dikenal dengan panteisme.

          II.1.2. Leibniz (1646-1716)
         
Gottfried Wilhelm Leibniz,  atau Leibnitz, Baron Gottfried Wilhelm von merupakan filosof, matematikawan dan negarawan Jerman. Dia menyuguhkan beberapa argumen filosofis tentang Tuhan. Filsafatnya yang paling termasyhur adalah mengenai monad yang berkaitan erat dengan konsep Tuhan. Dalam hal ini, monad adalah substansi yang sederhana yang dapat menyusun substansi yang lebih besar.
Dia percaya pada ketakterhinggaan jumlah materi yang disebutnya dengan monad-monad. Setiap monad akan memiliki beberapa sifat fisik, tetapi hanya ketika dianggap abstrak. Leibniz menyatakan bahwa setiap monad mencerminkan alam semesta bukan karena alam semesta mempengaruhinya. Hal tersebut karena Tuhan telah memberinya sebuah sifat yang secara spontan menyebabkan pencerminan tersebut. Ada sebuah “pre-established harmony” antara perubahan-perubahan dalam sebuah monad dan perubahan-perubahan di monad lain, yang menghasilkan kemiripan interaksi.
 Berkenaan dengan hal tersebut maka, alam semesta memiliki satu sentral. Sentral ini memiliki spirit yang paling paripurna. Spirit atau ruh tersebut itu adalah Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan di mata Leibniz merupakan ruh keseluruhan untuk keseluruhan alam semesta. Keberadaan semesta bersumber dari titik sentral ini. Tetapi poin ini dengan sendirinya merupakan sebab bagi dirinya.
Perbuatan-perbuatan Tuhan memiliki jenis kebebasan yang sama. Dia selalu berbuat yang terbaik, tetapi Dia tidak berada di bawah tentuan logis untuk melakukannya. Leibniz meyakini bahwa Tuhan tidak dapat berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hukum-hukum ligika, tetapi Dia dapat memutuskan apa pun yang mungkin secara logis, dan ini menyediakan-Nya kebebasan yang luar biasa untuk memilih. Leibniz telah menyempurnakan bukti-bukti metafisis tentang eksistensi Tuhan.
Makhluk-makhluk Tuhan merupakan hasil dari sifat penciptaan, yang bersumber dari kekayaan Tuhan Sang Pencipta. Bahkan Leibniz tidak mengelak untuk berkata bahwa Tuhan itu adalah substansi dan makhluk itu adalah aksiden. Dia juga berkata: "Pengenalan kepada Tuhan merupakan awal dari filsafat, dan realitas-realitas azali itu adalah sifat Tuhan. Sifat inilah yang membentuk tatanan hikmah yang benar. Pengenalan atau Makrifat merupakan satu cahaya esensial kalimat Tuhan yang perennial dan eternal. Dan merupakan sumber dari segala hikmat dan segala cahaya dan sejatinya sumber segala wujud dan keberadaan serta seluruh fenomena.”
Salah satu karakteristik yang paling khas dari filsafat Leibniz adalah doktrin tentang banyak dunia yang mungkin. Menurutnya, sebuah dunia itu “mungkin” jika tidak bertentangan dengan aturan-aturan logika. Ada dunia mungkin yang jumlahnya tak terhingga. Hal tersebut telah direnungkan Tuhan sebelum Dia menciptakan dunia nyata. Karena kebaikan-Nya, Tuhan memutuskan untuk mencipta dunia terbaik dari seluruh dunia yang mungkin, dan Dia menganggap dunia terbaik itu dunia yang mempunyai ekses kebaikan terbesar atas keburukan. Dia bisa menciptakan sebuah dunia yang tidak mengandung keburukan, tetapi ini tidak akan menjadi begitu baik seperti dunia nyata, karena sebagian kebaikan yang luar biasa secara logis terikat dengan keburukan-keburukan tertentu.
Berkenaan dengan kehendak bebas, Leibniz memandang bahwa tidaklah mungkin bagi Tuhan untuk menganugerahkan kehendak bebas dan pada saat yang sama menitahkan tiadanya dosa. Menurut Leibniz, hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip logika (kontradiksi). Maka, Tuhan memutuskan untuk membuat manusia bebas. Dunia yang tercipta, meski tidak mengandung keburukan, mempunyai surplus kebaikan yang lebih besar atas keburukan daripada dunia lain yang mungkin; karenanya, dunia tersebut merupakan yang terbaik dari seluruh dunia yang mungkin, dan keburukan yang dimilikinya tidak membuka argumentasi yang menentang kebaikan Tuhan.
Leibniz mengemukakan argumentasi yang berkenaan dengan eksistensi Tuhan. Leibniz mengkategorikannya ke dalam empat argumentasi: (1) argumentasi teologis, (2) argumentasi kosmologis, (3) argumentasi dari kebenaran-kebenaran abadi, (4) argumentasi dari harmoni yang telah ditetapkan.
                       
 a.              Argumentasi Teologis

 Argumentasi ini didasarkan pada perbedaan antara eksistensi dan esensi. Ada perbedaan mendasar antara zat yang terbatas dengan Tuhan. Menurut Leibniz, suatu zat yang terbatas, esensinya tidak mengimplikasikan eksistensinya. Sedangkan, dalam kasus Tuhan esensi mengimplikasikan eksistensi. Tuhan didefinisikan oleh Leibniz sebagai Zat Yang Paling Sempurna. Dia mengatakan bahwa esensi mengimplikasikannya eksistensi dengan alasan bahwa Dia yang memiliki seluruh kesempurnaan lain akan lebih baik jika Dia eksis daripada jika Dia tidak eksis, berikutnya jika Dia tidak eksis maka Dia bukanlah yang terbaik.
Pembuktian secara teologis berusaha membuktikan Tuhan berdasarkan atas definisi yang telah dilekatkan pada Tuhan terlebih dahulu. Pembuktian ini dinyatakan dalam berbagai bentuk. Dalam hal ini Leibniz menunjukkan bahwa ide tentang Tuhan dibuktikkan dengan mendefinisikan Tuhan sebagai Yang Paling Sempurna, yaitu “subjek dari seluruh kesempurnaan didefinisikan sebagai “kualitas sederhana yang positif dan absolute, dan mengungkapkan apa pun yang diungkapkan kesempurnaan tanpa batas”. Atau bias juga didefinisikan sebagai sesuatu yang memiliki segala sifat positif. Leibniz dengan mudah membuktikan bahwa tidak ada dua kesempurnaan. Menurutnya, “dipahami atau bisa dipahami adanya sebuah subjek dari keseluruhan kesempurnaan, atau Yang Paling Sempurna. Kesimpulan bahwa Dia eksis, juga bisa ditarik dari sejumlah kesempurnaannya.
                       
 b.              Argumentasi Kosmologis

Argumentasi kosmologis merupakan pembuktian yang sudah meniscayakan “Tuhan itu ada sebab jika tidak siapa yang mengawali segala sesuatu”.  Dengan kata lain, Tuhan dijadikan sebagai Pencipta alam semesta karena segala sesuatu memiliki permulaan karena Segala sesuatu memiliki sebab. Argumentasi kosmologis didasarkan pada keharusan adanya causa prima, yakni suatu sebab yang menjadi awal dari perubahan.
Menurut Leibniz, sebuah bentuk argumentasi Penyebab Pertama, berasal dari argumentasi Aristoteles tentang penggerak dari yang tidak bergerak. Argumentasi ini menyatakan bahwa segala sesuatu yang terbatas mempunyai penyebab, dan begitu seterusnya. Serangkaian penyebab ini tidak dapat menjadi tak terbatas, dan penyebab pertama pastilah tidak mempunyai penyebab lagi. Hal itu dikarenakan kalau masih mempunyai berarti bukan penyebab pertama. Oleh karena itu, ada sebuah penyebab bagi segala sesuatu, dan ini tak dapat dibantah lagi adalah Tuhan.
Leibniz berpendapat bahwa setiap di dunia ini “kontingen” (mumkin al-wujud), yakni benda itu secara logis berkemungkinan untuk tidak eksis. Tetapi segala sesuatu harus memiliki alasan yang cukup, menurut filsafat Leibniz alam semesta secara keseluruhan pasti memiliki alasan cukup, yang pasti di luar alam semesta itu sendiri. Alasan cukup ini adalah Tuhan. Dia menunjukkan sebuah perbedaan antara proposisi wajib (necessary propotion) dan proposisi bergantung (contingent propotition), bahwa hanya proposisi wajiblah yang mengikuti aturan-aturan logika, dan bahwa semua dalil yang menegaskan eksistensi adalah bergantung, dengan satu pengecualian tentang eksistensi Tuhan. Meskipun Tuhan eksis, Dia tidak dipaksa oleh logika untuk menciptakan dunia. Sebaliknya ini merupakan pilihan bebas yang didorong oleh kebaikan-Nya.

 c.              Argumentasi dari Kebenaran-Kebenaran Abadi

Argumentasi ini berbunyi: Pernyataan seperti “sekarang sedang turun salju” kadang benar dan kadang salah, tetapi “satu ditambah satu sama dengan dua” akan selalu benar. Hal tersebut berkenaan dengan esensi, konsekuensinya pasti ada yang selalu benar dan terkadang salah atau benar. Pernyataan –pernyataan yang selalu benar disebut “kebenaran-kebenaran abadi”. Inti dari argumentasi ini adalah bahwa kebenaran-kebenaran merupakan bagian dari muatan-muatan pikiran-pikiran, dan bahwa sebuah kebenaran abadi pasti merupakan bagian dari muatan sebuah pikiran abadi.
Berkaitan dengan hal tersebut, Leibniz mengutarakan argumentasinya sebagaimana argumentasi kosmologis yakni, pasti ada sebuah penyebab bagi seluruh dunia kontingen, dan penyebab ini tidak dapat dengan sendirinya bergantung, tetapi pasti ditemukan di antara kebenaran-kebenaran abadi. Namun, sebuah penyebab bagi apa yang eksis pastilah dengan sendirinya eksis; karenanya, kebenaran-kebenaran abadi pasti eksis dan kebenaran-kebenaran tersebut hanya dapat eksis sebagai pemikiran-pemikiran dalam pikiran Tuhan. Namun demikian, argumentasi membuka keberatan lebih jauh bahwa sebuah kebenaran hamper tidak bisa dikatakan “eksis” dalam pikiran yang memahaminya.

 d.              Argumentasi dari Harmoni yang Telah Ditetapkan

Argumentasi ini menyatakan bahwa berdasarkan survey tentang dunia yang diketahui, kita menemukan benda-benda yang tidak dapat dijelaskan secara logis sebagai hasil dari kekuatan-kekuatan alam yang buta, tetapi jauh lebih beralasan dianggap sebagai bukti-bukti tentang sebuah tujuan yang menguntungkan.
Segala sesuatu di alam ini bergerak dengan harmoni yang teratur menuju satu tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Hal itu dikarenakan Tuhan telah membuat rancangan sedemikian rupa terhadap alam semesta. Jika hal tersebut dimisalkan bukan Tuhan, maka alam semesta mustahil bergerak harmoni. Hal itu dikarenakan, hanya Tuhan yang mampu menetapkan harmonisasi pada alam semesta ini agar menjadi teratur. Argumentasi ini tidak memiliki cacat logika formal. Ada sebuah perbedaan penting antara argumentasi ini dan argumentasi-argumentasi lainnya, yakni bahwa Tuhan yang ditunjukkan oleh argumentasi tersebut tidak perlu mempunyai semua sifat metafisis lazimnya.

          II.1.3. Berkeley (1685-1753)
                  
Berkeley merumuskan prinsip filsafatnya yaitu ”berada berarti diamati” (tobe is tobe perceived). Artinya segala sesuatu di alam raya ini tergantung pada pengamatan kita. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa sesuatu itu tak dapat wujud tanpa pengamatan individual kita mengenai hal itu. Hal itu dikarenakan, kematian sesuatu bukan berarti sesuatu itu hilang. Sesuatu itu tetap ada sebab ia tetap berkelanjutan di dalam kuasa Tuhan .
Berkeley menyatakan bahwa penyebab segala sesuatu di alam ini tidak mungkin disebabkan oleh matter. Hal itu dikarenakan, matter tidak bisa bergerak sendiri dan tidak punya realitas metafisik. Ia mestilah produk dari suatu kuasa yang tak terbatas yakni sesuatu yang immateri, Kuasa Yang Maha Ada, yang disebut Tuhan. Berdasarkan pandangan ini, Berkeley percaya bahwa Tuhan menjadi sebab efisien dari seluruh gagasan kita.
Berkeley menolak adanya konsep-konsep universal. Dia beranggapan bahwa penerimaan konsep-konsep universal itu membuat suatu kerumitan dalam filsafat. Menurutnya, keberadaan konsep-konsep yang lepas dari segala bentuk sifat dan karakteristik adalah mustahil. Oleh karena itu, wajar bila dia dikategorikan sebagai filosof penganut empirisisme.
Menurut Berkeley, kita harus membedakan antara khayal, gambaran partikular, dan konsep-konsep universal, yakni adalah sangat jelas bahwa mustahil mengambil gambaran segitiga selain dari segitiga sama sisi, sama kaki, atau siku-siku. Konsep dan makna universal segitiga bukanlah gambaran segitiga tersebut. Dan menurutnya, yang ada itu hanyalah objek-objek eksternal, konsep-konsep partikular, dan kata-kata umum yang tidak menunjuk pada sifat-sifat khusus sesuatu. Apabila kita bisa untuk tidak memandang karakteristik-karakteristik itu, maka pasti kita bisa mencerap konsep itu. Jadi, tak mustahil kita bisa mencerap suatu konsep yang terlepas dari segala karakteristik dan partikularitas.
Akan tetapi, dengan menafikan konsep-konsep universal, tak ada alasan lagi menerima prinsip kausalitas. Pada hakikatnya,   Berkeley hanya sebatas meragukan alam materi dan bukan menolaknya. Partikular, perubahan, dan kehadiran baru konsep-konsep indriawi dan imajinasi, dikarenakan kaidah kesesuaian sebab dan akibat, maka ia juga menuntut sebab-sebab yang sesuai dan setara dengannya, yakni kemestian keberadaan sebab-sebab yang juga senantiasa berubah dan baru tercipta seperti materi itu.
Meskipun George Berkeley menafikan dan meragukan adanya konsep-konsep universal dan maujud-maujud materi, namun ia menerima eksistensi   jiwa manusia dan Tuhan. Menurutnya, Tuhan adalah penyebab kehadiran konsep-konsep indriawi, sementara jiwa manusia dipandang sebagai penyebab konsep-konsep khayali.
Dia menanggapi bahwa Tuhan selalu melihat segala sesuatu; jika tidak ada Tuhan, apa yang kita anggap sebagai objek materi akan memiliki kehidupan yang serba mendadak; mendadak hidup ketika kita memandangnya. Berkat persepsi Tuhan, benda materi memiliki eksistensi secara kontiniu sebagaimana dicerna oleh akal sehat. Ini menurutnya merupakan argumentasi yang kuat mengenai eksistensi Tuhan.
Dengan menyatakan esse est percipi, ia meyakini bahwa objek persepsi bukanlah substansi material, melainkan ‘ide-ide” atau kumpulan sensasi yang tidak mungkin ada tanpa dipersepsi. Ide-ide yang dipersepsi adalah persepsi yang dalam budi Tuhan dikomunikasikan kepada kita.
Berkeley membuktikan eksistensi Tuhan sebagai bukti a posteriori sebuah varian dari argumen sebab-akibat. Dia menyatakan dalam Philosophical Commentaries, bahwa mustahil untuk membuktikkan Tuhan lewat ide-ide. Hal itu dikarenakan, kita tidak memiliki ide mengenai Tuhan.Hal itu tercermin dalam karyanya:

And this suggest at once that Berkeley’sproof of the existence of God will be an aposteriori proof, a variant of the causal argument. When he says in the Philosophical Commentaries, ‘Absurd to argue the existence of God from his idea. We have no idea of God. ‘ It si impossible’. He is doubtless thinking primarily of his technical use of word ‘idea’. For it is obvious that there can be no idea of God, if God means a spiritual being and ‘idea’ is used for the object of sense-perception.

Berkeley dalam membuktikan Tuhan tidak menerima argumen ontologis. Pembuktiannya menggunakan argumen sebab akibat yakni, berdasarkan pada eksistensi yang benar-benar pantas sebagai sebab. Eksistensi tersebut menurut Leibniz adalah Tuhan. Dalam Dialogues bukti eksistensi Tuhan yang diajukan Leibniz sangat ringkas yakni segala sesuatu yang eksis dan merupakan pikiran yang tidak terbatas. Selain itu, dia menganggap bahwa kecantikan alam semesta yang teratur merupakan suatu sistem yang harmoni. Hal itu memperlihatkan bahwa alam semesta memperlihatkan bahwa alam semesta merupakan produk dari salah satu Zat yang tak terbatas yang Maha Bijaksana. Zat ini merupakan ruh (spirit) yang sempurna yaitu Tuhan. Tuhan menegakkan segala sesuatu dengan kekuatan-Nya.
Berkeley menjawab bahwa kesalahan moral adalah hasil dari pilihan manusia. Kita seharusnya tidak membesar-besarkan posisi manusia dalam alam semesta. Hal itu dikarenakan, manusia diatur oleh wahyu tetapi juga oleh perasaan dan hal lainnya. Akan tetapi, ini bukan berarti kehendak Tuhan sama seperti kerajaan Tuhan yang sangat buruk.

...The Laws of God’s kindom should be so ill observed by His subjects, is what can never be reconciled with thet surprassing wisdom and goodness of the Supreme Monarch. To this Berkeley answers that moral faults are a result of human choice, and also that we ought not to exaggerate the position of human beings in the universe. It seems we are led not only revelation, but by common sense, observing and inferring from the analogy of visible things, to conclude there are innumerable orders of intelligent beings more happy and more perfect than man.


II.2. Analisis terhadap Pemikiran Spinoza, Leibniz, dan
        Berkeley Berkaitan dengan Tuhan
                  
          Spinoza dan Leibniz sama-sama menjadikan ‘substansi dan definisi’ sebagai konsep sentral dalam metafisika mereka. Selain itu, keduanya memiliki persamaan karena digolongkan menjadi filosof rasionalis. Akan tetapi, menurut Spinoza alam semesta ini mekanistis dan keseluruhannya bergantung pada sebab. Sementara itu, substansi pada Leibniz adalah hidup, dan setiap sesuatu terjadi untuk suatu tujuan. Selain itu, Spinoza berpendapat bahwa hanya ada satu substansi, sedangkan Leibniz berpendapat bahwa substansi itu banyak. 
            Rasionalisme Spinoza bergerak dari definisi kepada aksioma dan proposisi. Ujungnya antara lain alam semestan yaitu Tuhan. Setelah dipikir-pikir olehnya, ia berkesimpulan bahwa Tuhan itu tidak memperhatikan sesuatu, tidak juga manusia. Menurut Spinoza, hanya itulah yang dapat diketahui oleh akal tentang Tuhan. Sementara itu, Leibniz yang merupakan filosof monad-monad memulai dengan analisis yang rumit tentang metefisiska, dan amat spekulatif. Akhirnya, ia berpendapat bahwa ruang dan waktu absolute harus ditolak. Oleh karena itu, “kapan alam semesta muncul” adalah pertanyaan yang tidak relevan.
            Definisi terbaik berkaitan dengan Tuhan Leibnizian adalah sesuatu yang mutlak sempurna. Jadi, Tuhan Leibniz adalah Tuhan yang Maha Pemurah. Penciptaan alam semesta oleh Tuhan menurut Leibniz merupakan konkekuensi dari kesempurnaan Tuhan yang tidak bias dibendung lagi. Menurutnya, dunia yang terbaik adalah dunia yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita saat ini. Namun, kesulitannya terletak pada kenyataan bahwa Leibniz berniat untuk membuat kita menerima Tuhan yang tidak lain adalah alam semesta sebagai Sang Ada Maha Tinggi. Sesungguhnya, Tuhan Monadology tidak lain adalah Sang Kebaikan Plato yang kemudian diadopsi oleh Leibniz.
            Tuhan menurut Spinoza merupakan Zat yang tak terbatas atau substansi yang merupakan “penyebab bagi dirinya sendiri” karena esensinya juga meliputi eksistensi. Keunggulan esensi dalam filsafat Spinoza begitu ditonjolkan sehingga tidak sulit untuk menangkap metafisiknya. Pertanyaannya, apakah esensi Tuhan meliputi eksistensinya dalam diri-Nya sendiri atau hanya dalam pikiran manusia saja? Sama seperti  sebuah lingkaran yang persegi  tidak mungkin eksis karena esensinya bersifat kontradiktoris. Tuhan pun tidak mungkin tidak eksis karena menurut Spinoza, “eksistensi dari substansi bersumber dari hakikatnya sendiri, sebab ia meliputi eksistensi. Dia memiliki kekuatan eksistensi yang tidak terbatas dari dirinya sendiri, Dia eksis dan secara mutlak. Namun, Tuhan yang eksis dan bertindak semata-mata  karena keniscayaan alam-Nya; tidak lebih dari suatu alam saja. Dia tidak lain adalah alam itu sendiri Deus sive Natura.   
Ada beberapa saya berkenaan dengan Panteisme yang diusung oleh Spinoza. Sebelumnya saya akan memaparkan sedikit mengenai hal yang sedikit dipahami mengenai panteisme. Panteisme berarti konsepsi tentang ketuhanan yang ada dalam alam dengan akibat-akibatnya yang amat jauh, dengan tidak disertai oleh keyakinan tentang adanya Tuhan di luar alam (Divine Trancendence). Seorang Panteisme menyamakan Tuhan dengan  dunia dan menghilangkan perbedaan antara yang menjadikan dan yang dijadikan. Menurut aliran pantheis, Tuhan tak berwujud terpisah dari wujud alam. Apa saja yang kita dapatkan dalam dunia merupakan bagian dari Tuhan.
Kelemahan yang pertama dalam Panteisme adalah Tuhan akan mati kalau dunia rusak. Kalau tidak ada beda antara Tuhan dan dunia, maka kehidupan Tuhan merupakan kehidupan yang terbatas. Tuhan yang terbatas bukan tujuan yang tertinggi. Kelemahan yang kedua adalah bahwa Panteisme tak dapat menafsirkan adanya dosa dan kejahatan. Kalau Tuhan dan dunia satu, hal ini berarti bahwa Tuhan mengandung kejahatan dalam wataknya. Berati yang bertanggung jawab atas kejahatan adalah Tuhan bukan manusia.
Penganut aliran Panteisme ini akan menyatakan bahwa baik dan buruk merupakan hal yang relative kepada kemauan manusia. Oleh sebab itu hanya merupakan ilusi jika dipakai untuk menggambarkan dunia yang objektif. Atau mereka berpendapat bahwa apa yang kelihatannya jahat sebetulnya adalah hal yang baik. Panteisme mempertahankan keyakinannya dengan menentang kejahatan di dunia ini. 
Spinoza dan Leibniz yang mendasarkan filsafatnya pada substansi dan menggunakan metode yang sama akan tetapi, pada akhirnya menghasilkan konsep Tuhan yang berbeda. Namun, Berkeley yang beraliran empirisme tidak meyakini adanya substansi. Berkeley lebih memandang Tuhan sebagai penyebab kehadiran konsep-konsep inderawi. Selain itu, Berkeley juga menafikkan dan meragukan adanya konsep-konsep universal dan maujud-maujud materi.
Gagasan lain Berkeley adalah keraguan terhadap eksistensi maujud-maujud materi, dan beranggapan bahwa apa yang kita miliki dari benda-benda hanyalah gambaran benda-benda tersebut. Apabila dikatakan, "benda tertentu berwujud", maka yang dimaksud ialah, "saya memiliki gambaran atas benda itu atau saya mempersepsi   benda itu". Dalam hal ini, iamengungkapkan dalil-dalil, diantaranya bahwa iatidak membedakan antara kualitas pertama (baca: benda eksternal) dan kedua (baca: gambaran benda dalam pikiran), kedua kualitas ini semuanya berpijak pada perasaan manusia, yakni setiap persepsi tidak lain adalah sama dan sesuai dengan persepsi lain. Menurutnya, hal ini, ialah gamblang.
Dalam pandangan Berkeley , penyebab kehadiran konsep-konsep yang nyata itu ialah suatu maujud yang non-materi, yakni iamenerima adanya prinsip kausalitas dan memandang bahwa konsep-konsep itu tidak lain adalah suatu akibat (ma'lul) dan penyebabnya ('illat) adalah suatu maujud non-materi. Dengan dasar inilah, tidak membutuhkan lagi keberadaan maujud-maujud materi sebagai penyebab kehadiran konsep-konsep tersebut. Yang dimaksud Berkeley dalam hal ini adalah Tuhan.


 III.      Penutup

Pada dasarnya ketiga filosof tersebut meyakini eksistensi dari Tuhan. Akan tetapi, dalam hal pembuktian yang digunakan berbeda-beda. Dalam hal ini, Leibniz dan Spinoza memiliki sama-sama mendasarkan pada ‘substansi’. Mereka juga menggunakan metode yang sama yakni metode rasional yang menggunakan akal. Meskipun pada akhirnya memiliki hasil yang berbeda berkenaan dengan Tuhan. Berbeda dengan Berkeley yang menjadikan Tuhan sebagai Zat immateri yang mampu mempersepsi zat immateri secara kontiniu ketika diindera.
Dari ketiga filosof tersebut diharapkan kita menjadi lebih tertantang lagi untuk membuktikan Tuhan ldengan menggunakan argument yang lebih kuat. Hal itu dimaksudkan agar bertambah keyakinan kita terhadap Tuhan. Selain itu, sebagai hujjah untuk menangkis atheisme, positivisme, dan paham-paham lain yang tidak meyakini eksistensi Tuhan.
Filsafat sebagai refleksi dan pemikiran sistematis manusia atas realitas sekitarnya. Dalam hal ini bisa digunakan untuk membuktikkan keberadaan Tuhan secara rasional. Sehingga Tuhan nbukan hanya sekadar konsep dalam pikran kita. Oleh karena itu, dalam sejarah pemikiran manusia terdapat para intelektual dan filosof yang menelurkan konsepsi mengenai Tuhan. Perjuangan belum berakhir selama akal masih eksis maka, Tuhan masih bisa dibuktikan.


DAFTAR PUSTAKA

Compleston, Frederict. A History of Philosophy Hobbes to Hume. S.J. volume V.

Gilson, Etienne, Tuhan di Mata Para Filosof. Bandung: Mizan. 2004.

Kearney, Richard. Continental Philosophy in the 20 th century, RoutledgeHistory of Philosophy of volume 8, London: Routledge. 2003.

Kenny, Anthony, A New History of Western Philosophy volume 3: The Rise of Modern
Philosophy. Oxford: Oxford University Press. 2006.

Marias, Julian. History of Philosophy. Transleted from the Spanish by Stanley
appelbaum and clarance G. Strowbridge. Newyork: Dover Publications. 1966.

Russel, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik
dari Zaman Kuno hingga Sekarang. Yogyakarta.: Pustaka Pelajar. 2002.







Thanks for reading & sharing As'ad Collection

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Komentar

Sample Text

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya.

Cari Di Blog Ini

Translate


Follow by Email

Blog Archive

Followers Google+