Home » » KOMPARASI EPISTEMOLOGI PLATO DAN ARISTOTELES: Pertarungan antara Dua Kiblat Epistemologi

KOMPARASI EPISTEMOLOGI PLATO DAN ARISTOTELES: Pertarungan antara Dua Kiblat Epistemologi

Posted by As'ad Collection on 15 October 2015

PENDAHULUAN Kajian epistemologi dewasa ini masih merajai kancah filsafat. Fenomena ini merupakan respon dari api pertikaian antar pandangan dunia (baca: -isme) yang tak kunjung padam. Pertarungan dahsyat tersebut dilandaskan pada basis epistemologis. Pengusung pelbagai pandangan tersebut saling berbertikai atas nama kebenaran “epistemologi”. Klaim kebenaran pun digulirkan; masing-masing menganggap bahwa “kebenaran” berada di kubu mereka. Padahal, pandangan dunia berdasarkan landasan epistemologi yang valid dapat mengarahkan seseorang mencapai titik-kulminasi peradaban; sebaliknya akan membuatnya terpuruk hingga titik-nadir peradaban. Atas dasar itu, kajian epistemologi sangat relevan untuk diketengahkan sebagai upaya untuk menguak kebenaran (realitas).
Hal tersebut tidak hanya membawa dampak positif bagi dunia filsafat, tetapi juga merupakan pemuas dahaga bagi umat manusia yang haus kebenaran. Manusia lambat laun menyadari bahwa bangunan epistemologi sangat esensial dalam kehidupan. Terlebih lagi, hakikat manusia adalah makhluk berakal yang senantiasa melakukan perjalanan menuju kebenaran. Dalam menapaki perjalanan, tak ada salahnya bila manusia menengok kembali ke awal--- saat epistemologi pertama kali diusung oleh para filosof agung Yunani.
Pada makalah ini, penulis bermaksud memaparkan sekilas mengenai pandangan “Epistemologi Plato dan Aristoteles”. Diharapkan agar kita bisa mempelajari basis epistemologis yang dibangun oleh kedua filosof tersebut. Dalam konteks ini, penulis pertama kali mencari perbedaan di antara keduanya. Namun, penulis sesungguhnya tidak berpretensi untuk membenturkan pemikiran mereka. Melalui komparasi keduanya, penulis justru bermaksud mensitesiskan pandangan epistemologis Plato dan Aristoteles agar mengantarkan kita pada pengetahuan mengenai realitas (kebenaran).

ISI
1.      Selayang Pandang Epistemologi
Salah satu cabang filsafat yang menggeluti pertanyaan yang bersifat menyeluruh (komprehensif) dan mendasar tentang pengetahuan disebut Epistemologi.[1] Secara etimologis, epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episçmç yang bermakna knowledge (pengetahuan), dan logos yang berarti teori. Episteme berarti pengetahuan; logos biasanya digunakan untuk menunjuk pengetahuan sistematis. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa epistemologi adalah pengetahuan sistematis tentang pengetahuan. Dengan kata lain, epistemologi merupakan disiplin filsafat yang hendak memperoleh pengetahuan tentang pengetahuan.[2] Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1854 oleh J.F. Ferrier yang membuat garis demarkasi antara dua cabang filsafat, yaitu ontologi dan epistemologi.[3]
Pada awalnya, cikal bakal epistemologi didasari oleh kaum Sofis Yunani yang selalu mempertanyakan realitas. Bahkan, mereka menjadi skeptis terhadap realitas (meragukan kebenaran). Kemudian, hadir kalangan filosof yang merespon dari kedigdayaan kaum Sofis, diantaranya adalah Socrates, Plato, dan Aristoteles. Pada konteks itu, epistemologi erat kaitannya dengan “Critica”[4], yaitu pengetahuan sistematik mengenai kriteria (parameter) dalam menentukan pengetahuan yang benar dan yang tidak benar.[5]
Sebagai cabang filsafat yang mengetengahkan masalah filosofis terkait dengan teori ilmu pengetahuan, epistemologi mempunyai pelbagai pokok bahasan. Adapun hal-hal yang dibahas dalam epistemologi adalah tentang terjadinya pengetahuan, apa itu pengetahuan, bagaimana memperoleh pengetahuan, instrumen pengetahuan, dasar-dasar pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, nilai pengetahuan, validitas pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan. Oleh karena itu, epistemologi tidak hanya berkutat pada “pengetahuan”, tapi juga “kebenaran”.

1.      Epistemologi Plato (428 – 347 SM)
Plato bisa dikategorikan sebagai filosof pertama yang secara jelas mengemukakan epistemologi dalam filsafat.[6] Meskipun ia belum menggunakan term “epistemologi”. Pemikiran mengenai episteme berlandaskan pada pandangan “Idea”-Plato. Ia meyakini bahwa ide merupakan sesuatu yang “objektif”, adanya ide terlepas dari subjek yang berpikir. Dengan kata lain, ide tidak diciptakan oleh pemikiran individu, tetapi pemikiran itu tergantung dari ide-ide. Terkait dengan ini, Plato memberikan beberapa contoh, salah satunya adalah segitiga yang digambarkan di papan tulis dalam berbagai bentuk; itu merupakan gambaran yang berupa tiruan tak sempurna dari ide tentang segitiga. Jadi, berbagai segitiga itu mempunyai satu ide tentang segitiga yang mewakili semua segitiga yang ada.[7]
Berkenaan dengan pembagian dunia, Plato sesungguhnya mengusung teori “dua dunia”, yaitu dunia jasmani dan dunia ide. Dunia jasmani adalah dunia yang mencakup benda-benda fisikal yang dapat diindera. Adapun sifat dari dunia ini adalah tidak tetap, terus berubah, tidak abadi, dan tidak sempurna. Sedangkan, dunia ide adalah dunia yang mendasari benda-benda jasmani. Adapun sifat dari dunia ide adalah tetap, tidak berubah, abadi dan sempurna.
Dalam pandangan Plato, benda-benda jasmani tidak bisa “ber-ada” tanpa pendasaran ide yang ada pada dunia idea. Relasi keduanya melalui tiga cara; pertama, ide hadir pada benda-benda konkrit. Kedua, benda konkrit mengambil bagian dalam ide; filsafat mengambil peranan penting pada relasi ini. Ketiga, ide merupakan model atau contoh bagi benda-benda konkrit. Benda-benda konkrit itu merupakan gambaran tak sempurna yang menyerupai model tersebut.[8]
            Dunia ide memuat bentuk-bentuk (forms) yang merupakan prototipe dari hal-hal yang dapat diindera pada dunia jasmani; itu merupakan salinan dari dunia ide. Selain itu, bentuk-bentuk tersebut adalah universalitas terhadap realitas partikular pada dunia jasmani. Menurutnya, bentuk-bentuk pada dunia ide merupakan obyek-obyek pengetahuan yang riil. Sedangkan. sensible things (entitas inderawi) pada dunia jasmani hanyalah obyek-obyek opini yang berdasarkan pada persepsi manusia.
Lalu, Plato membedakan antara “knowledge dan true belief. Perbedaan ini dirumuskan oleh Plato pada karyanya, yaitu “Meno” (Yunani Kuno: Μένων).  Pada awalnya, ia menjelaskan bahwa doktrin epistemologi merupakan suatu penjelasan pengetahuan manusia tentang kebenaran-kebenaran apriori. Sedangkan pada Phaedo, Plato menggunakan doktrin epistemologi untuk menjelaskan bagaimana kita melihat hal-hal yang dapat diinderai (sensible things), sebagai contoh dari bentuk-bentuk, dengan mengingatkan jiwa (remembering) tentang apa yang sudah diketahui dan apa yang tidak dapat diketahui dari pengalaman indera. Lebih lanjut, Plato menyatakan bahwa jawaban yang benar terhadap suatu masalah bukan merupakan pengetahuan tetapi hanya merupakan true belief. Pengetahuan mensyaratkan suatu kemampuan untuk memberikan landasan-landasan (logoi) yang menjadi dasar jawaban. Meskipun demikian, Plato menyatakan bahwa true belief dalam pengaruh praktisnya sama baiknya dengan pengetahuan.[9]
Pembedaan antara knowledge dan true belief masih berlanjut dalam karya Plato, misalnya dalam Republic”. Plato menunjukkan bahwa jiwa (soul) dapat dimunculkan oleh pendidikan menjadi a true knowledge of the Forms, yang mana tahap akhir dalam proses ini disebut Plato sebagai “dialektika. Pada permulaan karyanya tersebut, Plato membedakan antara knowledge, ignorance, dan belief. Masing-masing keadaan ini disebut sebagai suatu obyek. Obyek knowledge adalah apa yang ada (eksistensi), obyek ignorence adalah apa yang tidak ada (non-eksistensi), dan obyek belief adalah antara eksistensi dan non eksistensi. Plato tampaknya menganggap keadaan-keadaan akal ini (states of mind) sebagai forms of acquitance (bentuk-bentuk pengenalan) dengan beberapa jenis obyek, meskipun penentuan obyek-obyek itu masih menjadi diskursus yang diperdebatkan.[10]
Selain itu, Plato membahas mengenai “knowledge dan sense perceptions”. Plato menyatakan bahwa kita tidak bisa mendapatkan dan memiliki pengetahuan dari dunia yang dapat diinderai (baca: dunia jasmani). Adapun argumentasi yang diutarakan Plato adalah kita akan terperosok ke dalam kesalahan jika kita mengatributkan properties (sifat-sifat) kepada hal-hal yang dapat diinderai secara absolut. Misalnya, entitas itu merupakan sesuatu yang indah, berat atau baik, tapi itu terkait dengan hal-hal lain. Maka, Plato menyimpulkan bahwa tidak ada yang benar-benar indah, berat, atau baik kecuali standar-standar keindahan, berat dan kebaikan itu sendiri, dan semuanya itu tidak dapat diindera (sensible things).[11]
            Kemudian, Plato juga mengetengahkan pembahasan mengenai belief dan logoi. Pada bagian terakhir Theaetetus”, Plato menyatakan bahwa pengetahuan dapat terdiri dari true belief bersama dengan pemberian suatu logos. Sementara, dalam “Meno”, ia menyatakan bahwa pengetahuan diasosiasikan dengan kemampuan memberikan logos. Menurutnya, pengetahuan proposional harus tergantung pada suatu pengetahuan melalui pengenalan sesuatu (knowledge by acquaintance), yang dalam pandangan Plato merupakan pengetahuan bentuk-bentuk (knowledge of forms). Persoalan yang dihadapi lebih lanjut adalah apakah logos, yang disertai dengan belief, dapat mengarah/ beralih pada pengetahuan?
Ada tiga hal yang diajukan terkait dengan pemaparan pada paragraf sebelumnya, yaitu: pertama, bahwa suatu logos hanyalah manifestasi dari penilaian dalam tuturan (suatu makna yang mungkin dari kata), jadi kurang memadai menjadi pengetahuan. Kedua, logos mencakup perhitungan kembali unsur-unsur sesuatu yang diketahui, sehingga tidak memadai; karena logos tidak sama dengan pengetahuan tentang bagaimana unsur-unsur itu disatukan. Ketiga, bahwa logos mencakup identifikasi hal yang dinyatakan, ditolak berdasarkan pada landasan sirkularitas, karena untuk mengetahui sesuatu mensyaratkan bahwa seseorang mengetahui tanda yang menunjukkan pada sesuatu tersebut, serta pemaparannya dimanifestasikan secara sirkular. Dalam konteks ini, logos yang disertai belief memadai untuk menjadi pengetahuan. Sebagaimana pengetahuan selalu merupakan a state of mind”, serta harus diperhitungkan melalui dialektika, teknik-teknik pembagian dan klasifikasi logis.[12]

2.      Epistemologi Aristoteles (384 – 322 SM)
           Aristoteles menyatakan bahwa pengetahuan bersifat universal. Namun, berbeda dengan Plato, universal yang dimaksud mesti inheren dalam hal-hal yang khusus (partikular). Aristoteles menolak gagasan Plato tentang dunia universal yang terpisah atau bentuk-bentuk (forms).[13] Pengecualian terjadi pada keterlekatan bentuk dalam zat dan Tuhan, serta nalar dalam pengertian yang tinggi. Oleh karena itu, pengetahuan manusia tergantung pada penerimaan jiwa atau akal tentang bentuk-bentuk benda. Jiwa sebagaimana dijelaskan dalam “De Anima, bukanlah entitas kejiwaan, melainkan fakultas-fakultas yang dimiliki oleh badan.
Pengetahuan bersifat universal melalui bentuk-bentuk; maka, pengetahuan yang dapat diekspresikan dalam penilaian harus mencakup suatu pengertian, suatu hubungan esensial di antara bentuk-bentuk. Oleh karena itu, konsepsi  pengetahuan Aristoteles dalam pengertian yang menyeluruh adalah pengetahuan saintifik (scientific knowledge). Bagi Aristoteles, pengetahuan menunjukkan keteraturan (order). Sedangkan, pengalaman indera tanpa keteraturan, bukan merupakan pengetahuan.
           Lebih lanjut, Aristoteles berpandangan bahwa tiap indera dipengaruhi cara yang khusus. Sehingga, tiap indera memiliki rasa khusus terhadap obyeknya; misalnya, mata mempunyai warna, telinga mempunyai bunyi, dan lain-lain. Aristoteles lebih lanjut menyatakan, baik yang dapat diindera secara khusus seperti warna, maupun yang dapat diindera secara umum seperti bentuk, dipandang sebagai hal yang esensial bagi panca indera masing-masing. Selain itu, masih ada yang bersifat incidental sensibles; jika kita menggunakan mata kita, kita cenderung melihat warna (aksiden), maka tidak penting bahwa kita melihat suatu obyek tertentu (substansi). Aristoteles menunjukkan bahwa kita dapat mengenal secara tidak langsung bahwa gula itu manis, apabila kita tahu bahwa apa yang dilihat itu adalah manis; hal ini bukanlah persepsi incindental sensibles.[14]
Kemudian, kombinasi penilaian pasif dan penilaian aktif menurut Aristoteles merupakan fakultas-fakultas imajinasi dan ingatan. Kegiatan yang kontinui dari fakultas indera setelah aktualisasinya melalui obyek indera mendorong terbentuknya citra. Namun, imajnasi tidak akan ada dalam arti sepenuhnya tanpa berbagai bentuk pertimbangan. Begitu juga, ingatan mesti bergantung tidak hanya kepada adanya citra tetapi juga kepada rujukan masa yang lalu. Ingatan juga menekankan bahwa panca indera itu sendiri adalah kapasitas-kapasitas yang dapat membedakan sesuatu.[15]
Pembahasan intelek yang paralel dengan persepsi indera tampak lebih jelas. Pertama, penerimaan bentuk, dalam hal ini bukan bentuk yang dapat diinderai, tetapi bentuk yang masuk akal, jadi merupakan konsep bentuk. Kedua, terdapat kombinasi konsep-konsep dengan penilaian, dan di pada tataran inilah kemungkinan kesalahan dapat terjadi, karena fakultas yang lebih tinggi keberadaanya bergantung kepada fakultas yang lebih rendah. Aristoteles menyatakan bahwa jiwa tidak pernah berpikir tanpa suatu citra. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai dasar empirisme. Ketiga, Aristoteles membedakan antara intelek aktif dan intelek pasif. Intelek sejauh ini diuraikan sebagai intelek pasif. Sementara itu, intelek aktif merupakan sesuatu yang murni aktual, tanpa potensilaitas; hal itu diperlukan untuk aktualisasi fakultas jiwa.[16]
Hubungan pemikiran Aristoteles, antara pengetahuan dan klasifikasi dalam bentuk genus dan species, menunjukkan suatu hubungan antara pengetahuan dan definisi; karena definisi itu sendiri adalah bentuk-bentuk genus dan species. Aristotels menyatakan bahwa kita dapat memperoleh pengetahuan dalam pengertian primer, apabila kita dapat memberikan sebab pada sesuatu hal. Hal itu mencakup penunjukan esensi dari prinsip-prinsipnya; ini merupakan fungsi sains. Oleh karena itu, Aritoteles memberikan suatu konsep ideal dari pengetahuan saintifik. Kemudian, perbedaan antara pengetahuan dan true belief menurut Aristoteles tergantung pada yang dituntutnya apakah secara esensial benar, dalam artian bahagian dari sains yang dapat diinderai. Tetapi, pada konteks ini, Aristoteles hanya memberikan sekilas justifikasi bahwa pengetahuan sama sekali mungkin.
Kemudian, Aristoteles berpandangan bahwa pengetahuan baru dapat dihasilkan melalui dua jalan, yaitu: induksi dan deduksi. Induksi adalah metode mendapatkan pengetahuan yang berpijak pada hal-hal khusus (partikular), lalu menghasilkan pengetahuan yang umum. Dengan kata lain, induksi bertitik tolak pada beberapa contoh, kemudian berdasarkan itu menyimpulkan suatu hukum umum yang berlaku juga pada kasus-kasus yang belum diselidiki.[17] Sedangkan deduksi adalah metode mendapatkan pengetahuan yang berpijak pada hal-hal umum (universal), lalu menghasilkan pengetahuan yang khusus (partikular). Dengan kata lain, deduksi bertitik tolak pada dua kebenaran yang tidak disangsikan sebagai dasar penyimpulan kebenaran selanjutnya.[18] Penarikan kesimpulan secara deduktif menggunakan pola berpikir, yakni silogisme.[19]
Nah, dari kedua cara kerja (metode) tersebut, Aristoteles lebih condong pada metode induksi. Menurutnya, kita tidak mungkin menangkap hal-hal universal, selain dengan jalan induksi. Sementara induksi dapat diperoleh melalui persepsi inderawi karena dapat menangkap hal-hal yang bersifat partikular pada realitas eksternal. Jadi, pengetahuan ilmiah harus melalui cara kerja induksi yang berdasarkan pada persepsi inderawi untuk mendapatkan pengetahuan yang universal.[20]
Selain itu, Aristoteles merumuskan sebuah metode dalam penelitian, yaitu metode investigasi. Cara memulai metode ini adalah dengan mengadakan observasi terhadap sejumlah hal-hal partikular terlebih dahulu. Selanjutnya, peneliti memperhatikan unsur-unsur yang sama--- berlaku secara umum, kemudian dirumuskan dalam bentuk “definisi”. Dalam hal ini, definisi senantiasa bersifat umum (universal).[21]
Selanjutnya, Aristoteles juga mengajukan adanya pengetahuan yang bersifat a priori (pre existent). Pengetahuan a priori mencakup dua hal: pertama, pengakuan akan adanya fakta; kedua, pemahaman terhadap makna istilah yang dipakai. Sebagai contoh, jika kita menyebut tentang lingkaran  ini atau itu sebagai konsep umum; maka otomatis kita memiliki dua asumsi, yakni adanya “makna” dan “eksistensi” dari lingkaran tersebut. Nah, pengetahuan berdasarkan pada kenyataan yang dilihat (baca: diindera) akan mengantarkan pada “pengetahuan” yang sesungguhnya.[22]
Menurut Aristoteles, pengetahuan ilmiah tidak hanya berasal dari memahami dan merumuskan hal universal dari hal-hal partikular, tapi juga harus mampu mengidentifikasi sebab. Ada empat sebab yang membuat sesuatu itu menjadi ada (eksis). Pertama, sebab materi, misalnya kayu dibentuk menjadi kursi. Kedua, sebab bentuk, seperti bentuk kursi. Ketiga, sebab penyiap, dari materi kayu dibentuk menjadi kayu. Keempat, sebab tujuan, seperti orang membuat kursi bertujuan agar kursi menjadi tempat duduk.[23]

PENUTUP
Plato bisa dikatakan sebagai filosof pertama yang secara tegas membahas epistemologi dalam filsafatnya, meskipun belum menggunakan istilah “epsitemologi”. Selanjutnya, langkah Plato dilanjutkan oleh muridnya di Akademia, yaitu Aristoteles. Pada pemaparan di atas, penulis telah memaparkan sekilas menganai epistemologi dalam perspektif Plato dan Aristoteles. Pembahasan tersebut akan lebih gamblang dan ringkas dengan cara membandingkan keduanya, sebagaimana tertuang pada tabel di bawah ini.
Tabel Komparasi Epistemologi Plato dan Aristoteles
Topik Pemikiran
Plato
Aristoteles
Pandangan tentang Dunia
Ada dua dunia: dunia ide dan dunia jasmani (sekarang).
Hanya ada satu dunia, yaitu dunia nyata yang sedang dijalani sekarang.
Kenyataan yang sejati
Ide-ide yang berasal dari dunia ide.
Segala sesuatu yang berada di alam yang bisa diindera.
Asal Pengetahuan
Dunia ide, tapi tertanam dalam jiwa yang ada pada diri manusia.
Kehidupan sehari-hari dan alam dunia nyata.
Cara Mendapatkan Pengetahuan
Pengingatan kembali (Remembering) atau mengeluarkan dari dalam diri (Anamnesis) dengan metoda bidan.
Observasi dan abstraksi, diolah dengan logika.

Plato beranggapan terdapat dua dunia, yakni  dunia ide dan dunia yang sedang dialami manusia (baca: dunia jasmani/ semu). Pandangan tentang dunia Plato ini berbeda dengan Aristoteles yang menegaskan hanya ada satu dunia, yaitu dunia nyata yang sedang dijalani manusia. Pandangan tentang dunia ini mempengaruhi pandangan kedua filosof tersebut terkait dengan kenyataan (realitas) yang sejati. Bagi Plato, kenyataan sejati adalah ide yang berasal dari dunia ide. Sedangkan, bagi Aristoteles, kenyataan sejati adalah segala sesuatu yang ada di alam (dunia yang ditempati kita sekarang) dan dapat ditangkap oleh indra.
Kemudian, pandangan kedua filosof tersebut berbeda dalam memandang “asal pengetahuan”.  Bagi Plato, pengetahuan berasal dari dunia ide. Namun, pada saat manusia lahi,  ide sebagai pengetahuan sejati tertanam dalam jiwa yang ada dalam tubuh manusia. Untuk mendapatkan pengetahuan manusia, maka kita harus mengeluarkannya dari dalam diri (anamnesis) dengan metoda ‘bidan’ yang sudah digunakan oleh Sokrates, berupa kegiatan dialektik tanya-jawab. Mr. Abbaci menyebut hal ini dengan pengingatan kembali (remembering) yang bisa dicapai melalui penyucian diri (tazkiyatun nafs). Di sisi lain, bagi Aristoteles asal pengetahuan adalah kehidupan sehari-hari dan alam dunia nyata (dunia jasmani). Pengetahuan dapat diperoleh melalui kegiatan observasi dan abstraksi terhadap entitas-entitas pada dunia yang ditempati sekarang, kemudian diolah dengan logika (analitika dan dialektika).
Melalui penjelasan-penjelasan di atas mengindikasikan bahwa epistemologi Aristoteles---yang membedakan dengan Plato--- adalah dia berangkat dari hal-hal material, partikular dan indrawi, kemudian diabstraksikan sebagai sebuah konsep pengetahuan yang ada dalam pikiran. Dalam hal ini ada semacam penyelidkan indrawi dahulu sebelum mengkonstruknya menjadi sebuah pengetahuan. Ini berbeda dengan ide universalnya Plato yang menyatakan bahwa pengetahuan manusia didapatkan dari pengingatan kembali konsep-konsep dan nama-nama yang sudah ada dan matang di dalam dunia ide. Manusia tidak perlu mengabstraksikan atau menyelidiki, melainkan cukup mengingat dan membuka kembali file-file ide di dunia itu.
Perbedaan epistemologi Plato dan Aristoteles ini memiliki pengaruh besar terhadap para filosof Islam dan Barat. Seyogyanya kita mensitesiskan kedua pandangan epistemologis Plato dan Aristoteles. Sehingga, kita dapat memperoleh pengetahuan hakiki mengenai realitas. Kita tidak bisa menafikkan dunia ide, serta dunia jasmani (realitas eksternal) sebagai sesuatu yang riil. Berkenaan dengan cara memperoleh pengetahuan, metode yang ditawarkan Plato dan Aristoteles merupakan jalan yang harus ditempuh, tanpa menegasikan yang lainnya. Atas dasar itulah, terdapat “ilmu hushuli” melalui perantara konsep yang identik dengan epistemologi Aristoteles. Di lain sisi, terdapat “ilmu hudhuri” tanpa perantara konsep yang identik dengan epistemologi Plato. Maka, langkah yang arif bila kedua epistemologi tersebut dipadankan dalam mencari “pengetahuan”, bukan malah dibenturkan.






[1] J. Sudarminta, Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 18.
[2] Webster Third New International Dictionary mengartikan epistemologi sebagai “The Study of method and ground of knowledge, especially with reference to its limits and validity”. Paul Edwards, dalam The Encyclopedia of Philosophy, menjelaskan bahwa epistemologi adalah “the theory of knowledge.” Pada tempat yang sama ia menerangkan bahwa epistemologi merupakan “the branch of philosophy which concerned with the nature and scope of knowledge, its presuppositions and basis, and the general reliability of claims to knowledge.”
[3] A. M. W. Pranarka. Epistemologi Dasar : Sebuah Pengantar. Jakarta: CSIS. 1987. Hlm. 4. 
[4] Critica berasal dari kata Yunani, krimoni, yang artinya mengadili, memutuskan, dan menetapkan.
[5] Mengadili pengetahuan yang benar dan yang tidak benar memang terkait dengan “episteme” sebagai suatu tindakan kognitif intelektual untuk mendudukkan kebenaran.
[6] Kita tidak bisa menafikkan pengaruh Socrates pada filsafat Plato, terutama dipengaruhi oleh pencarian Socrates terhadap esensi-esensi dari moral, misalnya mengenai keadilan. Menurutnya, bentuk keadilan dapat diketahui melalui nalar, bukan panca indera.
[7] Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Tintamas. 1986. Hal. 97.
[8] Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Tintamas. 1986. Hal. 102.
[9] Lihat Catatan Perkuliahan Greek-Western Philosophy, Dr. Vincent Jolasa.
[10] Lihat Catatan Perkuliahan Greek-Western Philosophy, Dr. Vincent Jolasa.
[11] Lihat Catatan Perkuliahan Greek-Western Philosophy, Dr. Vincent Jolasa.

[12] Lihat Catatan Perkuliahan Greek-Western Philosophy, Dr. Vincent Jolasa.

[13] Lihat Catatan Perkuliahan Comparative Philosophy, Dr. A. Abbaci.

[14]  Lihat Catatan Perkuliahan Greek-Western Philosophy, Dr. Vincent Jolasa.
[15]  Lihat Catatan Perkuliahan Greek-Western Philosophy, Dr. Vincent Jolasa.
[16]  Lihat Catatan Perkuliahan Comparative Philosophy, Dr.A. Abbaci.
[17] Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani: Edisi Revisi. Yogyakarta: Kanisius. 1999. Hal. 168.
[18] Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani: Edisi Revisi. Yogyakarta: Kanisius. 1999. Hal. 168
[19] Silogisme biasanya tersusun dari dua buah pernyataan (premis) dan sebuah kesimpulan.
[20] Lihat catatan perkuliahan Comparative Philosophy, Dr. A. Abbaci.
[21] Lihat catatan perkuliahan Comparative Philosophy, Dr. A. Abbaci.
[22] Lihat catatan perkuliahan Greek-Western Philosophy, Dr. Vincent J.
[23] Lihat catatan perkuliahan Comparative Philosophy, Dr. A. Abbaci.

Thanks for reading & sharing As'ad Collection

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Komentar

Sample Text

Sebuah catatan kecil perjalanan dokumen dan artikel tentang pendidikan, agama sosial, agama, budaya, Kesehatan serta beberapa biografi tokoh-tokoh dunia. Kami juga menyediakan beberapa tulisan tentang trik-trik membuat blog yang baik serta peluang-peluangnya.

Cari Di Blog Ini

Translate


Follow by Email

Blog Archive

Followers Google+